
Bu Yati tersenyum mendengar Lorena menyebutkan namanya.
“Laura, nama yang cantik seperti orangnya, kau sangat cantik,” kata Bu Yati, menatap wanita blasteran itu. Dia bisa menebak dari penampilannya wanita yang bernama Laura itu bukan orang biasa. Lorena hanya tersenyum mendapat pujian itu.
Bu Yati bangun dari duduknya, keluar dari kamar itu beberapa saat kemudian sudah kembali lagi dengan membawa baskon berisi air hangat dan handuk kecil.
“Aku tidak terlalu bisa mengurus bayi, aku tidak pernah punya anak, tapi aku akan mengganti selimutnya saja,” kata Bu Yati, dia juga membawa sebuah kain yang lebar.
Dibukanya jaket yang menjadi selimut bayi yang masih tersambung ari-ari itu.
“Bayimu sudah tertidur, apa kau sudah menyusuinya tadi?” tanya Bu Yati, sambil mengganti selimut bayi pelan-pelan.
“Sudah,” jawab Lorena, sambil menoleh pada bayinya yang tertidur.
Bayi itu begitu tampan, dia sangat mirip dengan ayahnya, Sean. Mengingat suaminya lagi, Lorena kembali merasa sedih, dia yakin sekarang Sean pasti sedang kebingungan mencarinya.
“Apa kau sudah memberi nama bayimu?” tanya Bu Yati.
Ditanya begitu, Lorena terdiam. Dia merasa bingung. Sean sudah menyiapkan nama untuk bayinya tapi tidak mungkin dia menunggu Sean untuk memberinya nama dalam kondisi seperti ini. Terpaksa dia harus mencari nama sendiri, tapi siapa namanya?
Lorena kembali menoleh pada bayinya, melihat jagoannya yang tertidur dengan lucunya. Disaat banyak yang mengancam nyawanya semenjak dalam kandungan bahkan sampai proses melahirkannya yang sulit tapi bayi itu begitu kuat dan tetap bertahan sampai sekarang.
“Aku akan memberi nama Earlangga,” jawab Lorena.
“Earlangga? Nama yang bagus, sangat gagah,” kata Bu Yati.
“Iya,dia sangat gagah karena dia bayi yang hebat, jagoanku, juga jagoan suamiku,” jawab Lorena sambil tersenyum. Tangannya memeluk bayinya yang sudah berganti selimut, lalu diciumnya.
“Baby Earl, namamu Earlangga,” ucapnya.
Ditengah penderitaannya, ada rasa bahagia yang amat sangat, bahagia melihat bayinya sudah lahir selamat meskipun belum mendapatan perawatan medis.
Bu Yati duduk disamping tempat tidur itu.
“Sekarang aku akan membersihkanmu,” ucapnya.
“Terimakasih,” jawab Lorena.
Dengan telaten Bu Yati melap wajahnya Lorena yang kotor oleh tanah dan daun daun kering dirambutnya juga melap kedua tangannya. Lorena tidak banyak bicara lagi karena tubuhnya sangat lemas, dia sangat berterimakasih atas pertolongan suami istri ini.
Tidak berapa lama terdengar suara kendaraan terparkir di depan rumah.
“Itu sepertinya bidannya sudah datang!” kata Bu Yati, sambil berdiri dan menoleh kearah pintu.
Suaminya, Pak Aping ditemani oleh dua orang wanita yang sepertinya Bidan dan asistennya masuk ke dalam kamar itu.
__ADS_1
“Mana pasiennya?” tanya wanita yang baru datang itu.
“Tolong dibantu Bu, kami menemukannya melahirkan di kebun,” kata Bu yati.
Bidan itu langsung bertindak cepat, begitu juga dengan asistennya yang segera mengurus Baby Earl.
Setelah melakukan tindakan medis pada ibu dan bayi, Bu Bidan itu akan berpamitan pulang.
“Bu Bidan, bisakah kita bicara sebentar?” tanya Lorena.
“Iya, katakan saja,” jawab Bidan Eno, sambil beridiri menatapnya sedangkan asistennya membawa peralatannya keluar dari ruangan itu.
“Aku mau meminta tolong, supaya kalau besok atau kapanpun ada yang mencari wanita yang melahirkan, bisakah kau merahasiakan keberadaanku?”pinta Lorena.
Bidan Eno mengerutkan keningnya, bersamaan dengan Bu Yati masuk ke dalam ruangan itu dan ikut terkejut mendengar permintaan Lorena.
“Ada orang yang ingin mencelakai bayiku. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan bayiku, aku harus melindungi bayiku,” lanjut Lorena, menatap Bu Bidan Eno dan Bu Yati bergantian.
Bidan Eno saling pandang dengan Bu Yati.
“Baiklah, aku akan merahasiakannya,” jawab Bidan Eno, menganggukkan kepalanya.
“Terimakasih,” jawab Lorena, sambil tersenyum.
Setelah itu Bidan Eno berpamitan pulang.
“Bu, aku sangat berhutang budi pada kalian. Aku sangat berterimakasih,” ucap Lorena.
“Iya sama-sama. Sementara kau belum pulih, kau bisa tinggal dirumah ini bersama bayimu. Disini juga tidak ada siapa-siapa, hanya kami berdua. Aku senang ada bayi dirumahku, jadi rumahku tidak lagi sepi,” kata Bu Yati.
“Terimakasih Bu,” jawab Lorena lagi, dimatanya kembali berkaca-kaca, dia tidak menyangka kalau dia akan terlunta-lunta seperti ini dengan bayinya.
“Bagaimana kalau suamimu mencarimu?” tanya Bu Yati.
“Aku tahu suamiku sedang mencariku, tapi unutuk sementara ini adalah jalan terbaik buat keselamatan putraku,” jawab Lorena.
Bu Yati tidak bicara lagi, dia menoleh pada bayi Earl yang sekarang terbangun dan merengek, menggerak-gerakkan matanya mencoba membuka matanya.
“Sayang, kau bangun!” seru Lorena, tersenyum senang. Bu Yati langsung menghampiri dan duduk disamping tempat tidur, dia ikut senang melihat bayi itu terlihat sehat.
“Lihatlah, dia membuka matanya, matanya sangat indah,” seru Bu Yati.
“Iya, matanya mirip ayahnya,” gumam Lorena, sambil menepuk-nepuk bayinya supaya berhenti menangis. Hatinya langsung teringat lagi pada Sean. Dia sangat merindukan suaminya.
“Sean bayimu sudah lahir, dia sangat tampan dan lucu, dia sangat mirip denganmu,” batinnya, dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Ingin hatinya saat itu ada Sean disampingnya, ikut menyambut kelahiran Baby Earl.
__ADS_1
***********
Di rumah Sean…
“Tidaaak!” teriak Sean tiba-tiba dan langsung terbangun dari tidur malamnya. Dilihatnya jam di dinding pukul 12 malam. Sampai sekarang orang-orangnya belum menemukan Lorena, membuatnya tidak tenang sampai ketiduran dan bermimpi buruk.
Sean bangun dari sofa itu, berjalan menuju meja yang ada didekat tempat tidurnya. Diraihnya foto dirinya memeluk Lorena yang sedang hamil besar, foto yang diambilnya beberapa hari yang lalu, dia ingin mengabadikan kehamilan istrinya sebelum melahirkan.
“Sayang, kau dimana? Aku sangat cemas,” gumamnya, mengusap wajah istrinya di foto itu.
Sean duduk dipinggir tempat tidur sambil terus memandang foto itu.
“Aku sangat merindukanmu dan bayi kita,” gumamnya lagi, lalu mencium foto itu.
Dia ingin segera menemukan Lorena, dia tidak akan memaafkan siapapun yang mencoba mencelakai istri dan anaknya. Dengan bayak fikiran yang melayang- layang dibenaknya, Seanpun tertidur sambil memeluk foto itu dan terbangun saat ada suara Sam yang mengetuk pintu kamarnya.
“Sean! Apa kau sudah bangun? Hari sudah siang!” panggil Sam.
“Masuklah,” jawab Sean dengan malas dan masih mengantuk.
Sam membuka pintu kamar itu, didapatinya Sean masih berbaring ditempat tidur dengan foto Lorena disampingnya.
“Kita akan menemui Pak Tedi lagi?” tanya Sam.
“Iya, jam berapa sekarang?” jawab Sean, sambil bangun, duduk ditempat tidur kembali melirik bingkai foto itu. Melihatnya membuat Sam merasa sedih.
“Semoga istri dan anakmu baik-baik saja,” ucap Sam.
“Beberapa hari lagi istriku akan melahirkan, aku sangat cemas,” kata Sean.
Sam mengangguk, dia masih berdiri sambil melipat kedua tangannya menatap Sean.
“Kapan penyerahan warisan itu?” tanya Sam.
“Dua atau tiga bulan lagi,” jawab Sean.
“Penculik itu benar-benar ingin menggagalkan penyerahan warisan itu,” ucap Sam.
“Iya, siapa lagi kalau bukan Pak Tedi? Apa kau sudah mendapatkan informasi kira-kira siapa kaki tangannya Pak Tedi?” tanya Sean.
“Belum. Bersiap-siaplah, kita temu Pak Tedi lagi, kita harus secepatnya mendapatkan informasi keberadaan Lorena,” jawab Sam.
“Ya, aku akan mandi sebentar,” jawab Sean, sambil turun dari tempat tidurnya, bergegas ke kamar mandi sedangkan Sam keluar dari kamar itu.
*********
__ADS_1
Up pukul 01.52 dini hari