
Sepulang dari rumah sakit itu hari sudah malam karena beberapa tes yang menyita waktu. Lorena sangat murung, dia tidak banyak bicara, kakinya melangkah terus berjalan menuju kamarnya. Sean menatapnya dengan bingung, dia sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasasan Lorena, hanya ibunya memintanya untuk meyakinkan kalau semua baik-baik saja dan sesuai dengan persyaratan menerima warisan itu.
Sean menyusul langkah Lorena, tapi sebelum dia masuk, Lorena sudah menutup pintunya. Sean berdiri didepan pintu itu.
“Sayang, kau masih marah?” tanya Sean, mengetuk pintu kamar Lorena beberapa kali. Tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya Sean beranjak meninggalkan kamarnya Lorena, diapun masuk ke kamarnya dengan bingung.
Malam itu tidak ada music biola yang Sean dengar, membuat hatinya sangat gelisah. Diapun keluar kamar, pergi munuju kamarnya Lorena. Diketuknya pintu kamar itu.
“Sayang, kau belum tidur?” tanyanya. Dia terus mengetuk pintu itu, masih tidak ada jawaban meskipun sudah mengetuknya beberapa kali.
Terpaksa Sean akan meninggalkan depan kamar Lorena saat terdengar suara pintu dibuka.
“Ada apa?” tanya Lorena, menatap Sean.
“Aku tidak mendengar biolamu, apa kau baik-baik saja?” tanya Sean.
“Ya aku baik baik saja, aku hanya lelah, mau istirahat,” jawab Lorena dengan lesu.
Sean meraih tanganya Lorena.
“Apa kau sakit?” tanya Sean, tangan satunya menyentuh keningnya Lorena, lalu pipinya, juga lehernya, Lorena bergerak menjauh.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya, membuat Sean terdiam.
“Baiklah kalau begitu, kau istirahat, selamat malam,” kata Sean.
“Malam,” jawab Lorena, lalu menutup pintu kamarnya tanpa menunggu Sean pergi. Pria itu tertegun melihatnya, gadis itu sama sekali tidak tersenyum padanya, Lorena benar-benar marah padanya.
Lorena terduduk dipinggir tempat tidur, dia kecewa pada Sean, seharusnya tanpa tahu dia subur atau tidak, mereka bisa langsung menikah, kenapa harus ada tes kesuburan segala? Dia merasa Sean tidak mencintainya. Sean hanya berfikir untuk mendapatkan warisan itu saja tanpa memikirkan perasaannya.
Keesokan harinya Lorenapun tidak menemani Sean sarapan membuat Sean cemas saja. Bahkan Lorena tidak keluar kamar saat Sean akan pamitan berangkat bekerja. Sikap Lorena itu membuat Sean kefikiran terus, dia melamun saja di kantornya.
“Ada apa lagi? Tumben sekali kau tidak bicara-bicara,” tegur Sam, sambil menyerahkan sebuah map diatas mejanya Sean.
“Itu laporan pengeluaran biaya biaya selama kontes,” kata Sam.
Sean mengambil map itu lalu dibukanya dan dibacanya lalu ditutupnya kembali dan disimpan di sebelah kanannya, diapun melanjutkan pekerjaannya tadi menandatangani berbagai macam urusan kerjaan yang ada di mejanya.
“Katakan padaku apa ada sesuatu yang buruk yang terjadi?” tanya Sam sambil duduk didepan Sean.
“Lorena marah padaku,” ucap Sean.
“Marah? Kenapa?” tanya Sam.
“Dia tidak suka melakukan tes kesuburuan,” jawab Sean.
“Dia marah?” tanya Sam.
“Dia tidak bicara-bicara padaku,” jawab Sean.
“Kalau begitu, buatlah dia bicara padamu,” kata Sam.
“Aku sudah mencoba bicara, tapi dia menghindar terus. Bahkan pagi ini dia tidak sarapan bersamaku,” keluh Sean.
“Mungkin dia hanya shock saja, tapi nanti juga biasa lagi,” hibur Sam.
Sean melihat handphone-nya.
“Aku sudah mengirim pesan berkali-kali tapi dia tidak membalasnya,” ucap Sean.
Tiba-tiba dia bangun.
“Kau mau kemana?” tanya Sam.
__ADS_1
“Pulang, aku tidak bisa bekerja kalau begini,” jawab Sean, tanpa bicara apa-apa lagi langsung keluar di ruangan itu, membuat Sam bengong. Pria itu pergi begitu saja meninggalkannya.
Sesampainya dirumah, Sean mendengar dentingan piano diruang tamu. Sepertinya Lorena sedang bermain piano. Tapi nada yang dimainkan hanya tuts tuts satuan saja, seakan mau tidak mau bermain pianonya.
Sean menghentikan langkahnya berdiri menatap Lorena. Hatinya sedih melihat wanita yang dicintainya itu murung terus dan menghindarinya.
Merasa ada yang memperhatikan, Lorena melihat kearah Sean. Dia sangat terkejut melihatnya.
Sean menghampiri Lorena.
“Ada apa kau pulang?” tanya Lorena.
“Aku tidak bisa bekerja, aku teringat terus padamu,” jawab Sean. Lorena pun terdiam, tidak bicara lagi, kembali menekan tuts tuts piano mengacuhkan Sean.
Sean berjalan lebih dekat meraih tangan Lorena supaya berdiri. Lorena terpaksa berdiri berhadapan dengan Sean. Pria itu menatapnya.
“Aku minta maaf kalau kau merasa tidak nyaman dengan tes itu,” ucap Sean.
“Aku merasa bersalah kau diam begini,” lanjutnya.
“Aku kecewa kau seperti tidak benar-benar mencintaiku, kau hanya memikirkan warisanmu,” ucap Lorena, membuat Sean terkejut.
“Tidak sayang, kau salah, aku hanya ingin menikah dengan wanita yang aku cintai bukan karena warisan itu. Warisan itu hanya hak yang harus aku terima,” kata Sean. Lorena terdiam.
“Tolong jangan berfikir seperti itu, aku sangat gelisah karena kau marah padaku,” ucap Sean lagi, tangannya langsung menarik Lorena dalam pelukannya.
“Aku tidak apa-apa, aku hanya khawatir saja,” kata Lorena, menyandarkan kepalanya ke dadanya Sean.
“Khawatir apa?”tanya Sean.
“Aku khawatir bagaimana kalau hasilnya tidak bagus?” jawab Lorena.
“Kau kan sudah bersusah payah mengadakan kontes untuk mendapatkan warisan itu kan? Bagaimana kalau ternyata hasil tes itu tidak bagus, semua akan sia-sia,” lanjut Lorena.
“Aku hanya takut saja,” gumam Lorena.
“Jangan meragukan cintaku, “ kata Sean, mempererat pelukannya.
“Aku minta maaf seharusnya kita memang tidak perlu melakukan tes itu jika akhirnya membuatmu merasa khawatir,” lanjut Sean. Lorena tidak bicara apa-apa.
“Ibu menanyakan kapan bisa bertemu dengan orang tuamu untuk membicarakan acara pernikahan kita,” kata Sean.
“Aku sudah memberitahu orangtuaku, secepatnya orangtuaku akan pulang,” jawab Lorena.
“Nanti sore hasil tesnya keluar, kita ke rumah sakit, kau bisa memegang janjiku, aku tidak akan mundur untuk menikah denganmu, kau lupakan saja soal tes itu, anggap saja tidak pernah terjadi,” kata Sean.
Lorena tidak menjawab lagi, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Dia takut apa yang menjadi trauma dimasa lalu terjadi, ditinggalkan orang yang dicintainya.
***********
Sore harinya sepulang bekerja, Sean mengajak Lorena datang lagi ke rumah sakit tempat mereka melakukan tes kesuburan.
“Bagaimana hasilnya? Apakah sudah keluar?” tanya Sean saat berada diruangan Dokter itu.
“Sudah Pak Sean, silahkan dibaca,” jawab Dokter itu lalu memberikan dua buah amplop, satu untuk Sean dan satu untuk Lorena.
Sean membuka amplop itu lalu membacanya, dia tersenyum saat membacanya, ternyata tidak seperti yang dirisaukan Lorena, semua baik-baik saja, hasil tes nya menyatakan dia sehat dan bisa langsung program mempunyai anak.
Sean menoleh kearah Lorena yang duduk disampingnya, dia terkejut saat melihat raut wajah Lorena yang pucat.
“Sayang, ada apa sayang?” tanya Sean. Lorena tidak menjawab.
__ADS_1
Sean segera mengambil kertas yang ada ditangan Lorena lalu dibacanya. Dia sangat terkejut saat membacanya, Lorena tidak subur. Jantungnya langsung saja berdebar kencang, dia menoleh lagi pada Lorena yang terdiam membisu, matanya memerah berkaca-kaca, lalu menoleh pada Dokter.
“Dok, ini tidak salah kan Dok?” tanya Sean.
“Memang itu hasilnya Ibu Lorena tidak sehat, tapi bukan berarti tidak bisa hamil hanya mungkin butuh waktu lama, selama kita terus berusaha tentu tidak ada yang mustahil untuk mendapatkan keturunan,” jawab Dokter.
Sean akan bicara lagi dengan Dokter, tapi terhenti saat Lorena beranjak dari kursi itu dan keluar ruangan.
“Sayang, kau mau kemana? Sayang!” panggil Sean, dia pun buru-buru keluar mengikuti Lorena.
Di taman yang ada di halaman rumah sakit itu, Lorena terduduk lesu di kursi taman diapun menangis. Ternyata apa yang di khawatirkannya terjadi, hasil tes menunjukkan kalau dia tidak sehat dan kemungkinan tidak bisa memberikan keturunan.
Sean terpaku melihat Lorena menangis sambil duduk di kusi taman itu. Diapun berjalan mendekat, duduk disamping Lorena lalu memeluknya.
“Ternyata benar apa yang aku khawatirkan, aku merasa punya firasat buruk dengan tes ini,” kata Lorena, sambil terisak.
Sean memeluknya erat, mencium rambutnya berkali-kali. Dia merasa sedih melihat Lorena menangis seperti ini.
“Mungkin hasiI tes itu salah, kau tidak perlu khawatir,” kata Sean.
“Kenyataannya memang seperti itu hasil tesnya, aku tidak sehat, aku tidak akan bisa memberimu keturunan,” kata Lorena.
Lorena menjauhkan tubuhnya dari Sean, melepas pelukan pria itu lalu menatapnya.
“Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kau tidak bisa menikahi wanita yang tidak bisa memberimu keturunan,” kata Lorena.
Sean memegang kedua bahunya Lorena, menatapnya lekat-lekat.
“Kau salah, aku tidak peduli dengan hasil tes itu, aku akan tetap menikahimu. Kita akan melakukan tes medis lainnya, kita bisa melakukan apa saja supaya kau bisa hamil, kau jangan khawatir,” ucap Sean. Dia juga sebenarnya shock dengan hasil tes itu, kalau Lorena tidak sehat dan kemungkinan akan sulit memberikan keturunan untuknya tapi dia berusaha untuk tenang.
“Kau tidak bisa menikahiku,” ucap Lorena, menatap Sean.
“Tidak sayang, jangan bicara begitu. Aku sudah berjanji aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi, aku tidak akan ingkar janji,” ucap Sean, tangannya kembali menarik Lorena dalam pelukannya lagi.
Sean juga sedih dengan hasil tes itu, tapi untuk berpisah dengan Lorena, dia sudah terlanjur mencintainya, dia tidak mungkin meninggalkan Larena karena tidak bisa memberinya keturunan.
Sementara itu di dalam ruang kerja Dokter Roni…
Handphone Dokter Roni berdering nyaring, Dokter itu segera menerimanya.
“Bagiamana?” tanya suara di sebrang.
“Aku sudah melakukan apa yang kau suruh, aku sudah mengganti hasil tes kesuburannya Lorena,” jawab Dokter Roni.
“Bagus kalau begitu,” ucap suara di sebrang itu.
“Sekarang kau juga harus menepati janjimu mencabut tuntutan kasus malprakak pada pasienku yang dulu,” kata Dokter Roni.
“Tentu saja, kau jangan khawatir, aku senang kau bisa diajak bekerja sama,” ucap orang disebrang itu.
“Baiklah, pekerjaanmu sudah selesai,” lanjut suara di sebrang.
“Tunggu Pak Tedi!” panggil Dokter Roni.
“Apa lagi?” tanya suara di sebrang itu yang ternyata Pak Tedi.
“Aku harap ini yang pertama dan terakhir kalinya kau memanfaatkanku, aku tidak mau bekerjasama denganmu lagi,” kata Dokter Roni.
“Ya ya aku rasa memang kau tidak dibutuhkan lagi,” jawab Pak Tedi sambil tertawa.
Pak Tedi merasa puas pastilah Sean gagal untuk menikah dengan Lorena, dan itu artinya Sean akan kesulitan lagi mencari pengganti wanita yang harus dinikahinya secepatnya. Diapun teringat putrinya, ini adalah saatnya mendesak Sean untuk secepatnya mendapatkan calon untuk menggantikan Lorena.
****************
__ADS_1