
Sean lebih dulu turun menemui Sam, sedangkan Lorena sedang menyiapkan pakaian yang akan dia bawa ke rumahnya Sean.
Begitu melihat Sean, Sam langsung menghampiri dan menariknya menjauh dari Indri yang sedang duduk diruang tamu itu.
“Ada apa?” tanya Sean, saat mereka sudah berada diteras.
“Ibunya sudah tahu pernikahanmu. Dia menanyakan keberadaanmu pada ayahku, jadi ayahku terpaksa mengatakannya,” jawab Sam.
“Ya biarkan saja, memang lambat laun ibuku juga harus tahu. Aku akan membawa Lorena sekarang,” kata Sean.
Sam menatap wajahnya Sean dengan serius.
“Kenapa?” tanya Sean.
“Ibumu marah,” jawab.Sam.
“Aku masih butuh bantuanmu, kau terpaksa tidak bisa secepatnya manikah dengan Indri,” kata Sean.
“Tidak masalah bagiku,” jawab Sam.
Lorena yang sudah beres dengan pekerjaannya, memasuki ruang tamu. Matanya melihat Sean dan Sam yang berbicara diteras diluar, hatinya merasa tidak nyaman saja.
“Apa kau sudah siap?” tanya Indri.
“Apa yang mereka bicarakan?” tanya Lorena.
“Aku tidak tahu. Kau tahu kan, Sam jarang bicara padaku, dia hanya seperlunya saja,” jawab Indri.
Melihat Lorena ada diruang tamu, Sean segera masuk diikuti Sam.
“Sayang kau sudah siap? Kita berangkat sekarang,” ajak Sean. Lorena hanya mengangguk.
Setelah berpamitan pada orangtua Lorena, mereka berempat kembali ke ibukota. Perjalanan yang jauh itu terasa begitu lambat. Meskipun ini hari-hari awal pernikahannya dengan Sean, Lorena tidak merasa sebahagia pengantin pada umumnya, karena dalam benaknya masih ada berbagai aral melintang yang akan menghantam rumahtangganya.
Dia tidak banyak bicara, hanya malihat kearah luar melihat pada pemandangan jalan yang mereka lewati. Sam yang membawa mobil duduk didepan bersama Indri.
Sean menggeser duduknya lebih dekat, tangannya merangkul bahunya Lorena.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Sean, menatap wajah istrinya.
“Iya, aku baik-baik saja,” jawab Lorena menoleh pada Sean dan tersenyum.
Sean mencium kening Lorena, memeluknya semakin erat. Dia juga tahu kalau Lorena pasti sangat gelisah, dia sudah bertekad dalam hati tidak akan membuat Lorena bersedih. Dia tidak akan membiarlan Lorena menghadapi masalah sendiri.
Lorena menatap wajahnya Sean, kalau seandainya Sean tidak begitu gigih memperjuangkannya, dia tidak mau menikah dalam tekanan. Semau orang ingin pernikahannya bahagia.
“Kenapa?” tanya Sean, mendapati istrinya menatapnya.
“Aku mencintaimu,” jawab Lorena.
Sean langsung tersenyum senang mendengarnya.
“Sering-seringlah mengatakannya,” ucap Sean, kembali mencium keningnya Lorena.
Sam yang melihat mereka begitu mesra cuma garuk-garuk kepala saja sambil menyetir.
“Focus nyetir,Sam!” ucap Sean. Sam hanya tersenyum kecut.
“Nanti juga kita seperti itu,” kata Indri. Sam tidak menjawab. Indri memang cantik, tapi dia terlalu agresif malah membuatnya takut saja.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Sean langsung membawa Lorena menemui ibunya yang ada diruang kerja. Melihat kedatangan Sean dan Lorena, Ny.Grace memita Pak Deni dan karyawan lainnya keluar dari ruangan itu.
“Kau ingat pulang juga?” hardik Ny.Grace. Dia terlihat sangat marah kerena Sean menikah tanpa bicara dulu dengannya.
“Aku sudah menikah dengan Lorena,” ucap Sean, tangannya menggenggam tangannya Lorena, berdiri menatap ibunya.
Ny.Grace menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya dan menatap Sean.
“Aku tidak peduli kau menikah dengannya atau tidak. Yang pasti kau tetap harus menikah dengan Nisa,” kata Ny.Grace.
“Aku tidak mau! Aku sudah menikah, aku sudah punya istri sekarang,” bantah Sean.
“Sudah aku katakan aku tidak peduli kau menikah dengan siapapun, tapi yang aku butuhkan adalah menantu yang bisa memberiku cucu,” kata Ny.Grace dengan nada keras, dia merubah sikap duduknya menjadi tegak terlihat sekali kalau dia marah.
Melihat reaksi Ny. Grace, hati Lorena mulai terasa sakit, dia kembali merasa sedih tidak bisa memberi keturunan buat Sean.
“Aku dan Lorena akan berusaha supaya bisa mempunyai keturunan secepatnya,” kata Sean.
“Secepatnya bagaimana? Jelas-jelas dia tidak sehat! Sudah tidak ada waktu lagi! Hamil itu membutuhkan waktu 9 bulan, hanya tinggal satu tahunan lebih saat penyerahan warisan itu!” teriak Ny.Grace dengan kesal.
“Aku sudah tidak peduli dengan warisan itu! Aku muak dengan semua uang-uang yang terus mengalir padaku! Aku tidak bahagia dengan uang itu!” ucap Sean, dia juga mulai tersulut emosi.
“Aku ingin hidup bahagia. Sudah cukup waktuku terbuang hanya untuk mengurus uang uang itu!” lanjut Sean, wajahnya langsung memerah, bicaranya sudah mulai tinggi. Lorena langsung memeluk lengannya, mencoba menyabarkan Sean.
Ny.Grace bangun dari kursinya, berjalan mendekati Sean dan menatap putranya itu.
“Warisan yang diberikan kakekmu ini sangat besar Sean, seluruh kekayaannya menjadi milikmu, jangan sampai warisan itu jatuh ketangan orang lain yang tidak berhak!” kata Ny.Grace, masih dengan nada kesal.
“Aku tahu, tapi aku sudah tidak menginginkannya, aku tidak peduli warisan itu jatuh ketangan siapa, aku tidak peduli!” jawab Sean, lalu menarik tangan Lorena supaya keluar dari ruangan itu tapi Ny.Grace memanggilnya.
“Sean! Aku masih mau bicara!” bentak ibunya.
Sean menghentikan langkahnya tapi tidak menoleh pada ibunya.
Sekarang Sean membalikkan badannya menatap ibunya.
“Aku tau itu aku akan berusaha supaya aku bisa mendapatkan keturunan,” ucap Sean.
Ny. Grace menatap Sean lalu pada Lorena.
“Tapi istrimu tidak bisa memberikannya, kau mau menunggu sampai kapan?” tanya Ny.Grace.
Mendangar ucapan-ucapan itu hati Lorena semakin terasa sakit saja, kata-kata itu menusuk-nusuk dihatinya, kata-kata yang selalu mengingatkannya kalau dia tidak bisa menjadi ibu.
“Aku ingin membuat pesta pernikahanku dengan Lorena,” kata Sean.
“Tidak bisa,” jawab ibunya.
“Kenapa tidak bisa?” tanya Sean.
“Karena akan sangat aneh kalau kau membuat pesta pernikahan sekarang kemudian satu atau dua bulan lagi kau menikah dengan Nisa. Masa harus membuat pesta lagi?” kata Ny.Grace.
“Tidak ada pernikahan dengan Nisa, aku sudah menikah,” sanggah Sean, dia semakin kesal saja pad ibunya.
“Kau harus jaga-jaga kalau dua bulan ini istrimu tidak hamil, kau harus segera membuat Nisa hamil. Tidak ada salahnya kalau kau langsung punya dua istri, Nisa juga tidak keberatan,” kata Ny.Grace, lalu menoleh pada Lorena.
“Kau mengerti kan sayang? Kau harus menerima kalau suamimu menikahi wanita lain supaya segera memiliki keturunan. Kau tidak perlu cemas, kau bisa mendapatkan hak-hakmu sebagi istrinya Sean, tapi maaf aku membutuhkan menantu yang bisa memberiku cucu,” ucap Ny.Grace. Nada bicaranya pelan dan sangat manis tapi rasanya begitu pahit.
Mendengar kata-kata Ny,Grace, rasanya sudah tidak bisa dibendung lagi hancurnya hati Lorena.
__ADS_1
“Aku tidak mau berbagi suami,” kata Lorena, matanya langsung saja berkaca-kaca.
Sean langsung memeluk bahunya.
“Tidak akan berbagi sayang, aku tidak akan menikah dengan siapapun,” hibur Sean.
Ny.Grace kembali menatap Lorena.
“Aku mengerti perasaanmu, tapi kau juga harus menerima kenyataan. Kau harus merelakan suamimu menikah lagi. Kalau misalkan Sean bisa memiliki anak dari wanita lain, kau juga bisa mengurus anaknya Sean seperti anakmu sendiri, itu juga kurasa sangat bagus, daripada seumur hidupmu kau tidak punya anak,” kata Ny.Grace.
Sakit hati Lorena sudah tidak tertahankan lagi, airmata mulai menetes dipipinya.
Ny.Grace menoleh pada Sean.
“Kau tetap harus menikah dengan Nisa,” kata Ny.Grace.
Sean tidak bicara lagi, sebenarnya dia masih ingin membantah tapi melihat Lorena yang menangis, dia memilih lebih baik membawa Lorena keluar dari ruang kerjanya itu daripada harus bertengkar dengan ibunya.
“Ayo sayang,” ajak Sean, manarik bahunya Lorena keluar dari ruangan itu.
“Jangan dengarkan kata-kata ibuku, aku tidak akan menikah dengan Nisa,” kata Sean.
“Besok kita temui Vanessa, saudaraku yang Dokter itu, coba kita tanya dia progam kehamilan apa yang bagus buat kita,” lanjut Sean, sambil mencium pipinya Lorena, dia sangat menyayangi istrinya.
Sambil berjalan menuju kamarnya, tangan kiri Sean langsung saja menelpon Vanessa.
“Ada apa tumben kau menelpon?” tanya Vanessa.
“Aku ingin bertemu, apa kita bisa bertemu?” tanya Sean.
“Memangnya ada apa?” Vanessa balik bertanya.
“Aku ingin konsul progam kehamilan dengan istriku!” jawab Sean.
“Kau sudah menikah?” tanya Vanessa, terkejut.
“Iya,” jawab Sean.
“Kenapa kau tidak mengundangku?” keluh Vanessa.
“Ceritanya panjang, aku harap aku bisa membantuku supaya aku dan istriku cepat puna anak,” kata Sean.
“Aku ini Dokter umum Sean, tidak mengurus ibu hamil. Tapi kau datang saja ke tematku praktek, aku ada teman Dokter spesialis kandungan, mungkin dia bisa membantumu nanti,” kata Vanessa.
“Oke, besok kau ada waktu? Aku baru datang, istriku butuh istirahat,” jawab Sean.
“Ada, datang saja. Ngomong-ngomong kau menikah dengan siapa?” tanya Vanessa.
“Dengan Lorena, kau pernah bertemu dengannya di rumah kontrakanku dulu,” jawab Sean.
“Oh dengan kekasih satu rumahmu itu?” ucap Vanessa sambil mengingat-ingat Lorena yang pernah ditemuinya saat menengok Sean sedang sakit itu.
“Kau bilang bukan kekasih, ternyata kau menikahinya juga, dasar pembohong,” keluh Vanesaa.
Sean malah tertawa mendengarnya. Dia mana tahu kalau akhirnya akan jatuh cinta pada Lorena dan menikahinya sekarang. Dia menutup telponnya lalu mencium rambutnya Lorena.
“Kita menemui Vanessa besok,” ucap Sean. Lorena menatap Sean yang juga menatapnya sambil tersenyum.
“Kau jangan bersedih, semua akan baik-baik saja, kita pasti akan cepat dapat keturunan,” hibur Sean.
__ADS_1
Lorena hanya mengangguk dan langsung memeluk Sean. Hanya satu yang membuatnya harus kuat menghadapi masalahnya adalah karena Sean sangat mencintainya. Suaminya balas memeluknya dengan erat.
**************