
Earlangga mengendarai mobilnya dengan kencang menuju alamat yang disebutkan oleh Jeni. Dia tidak mengerti kenapa Valerie sampai ada dirumah Darren yang ternyat adalah kakaknya Jeni.
“Jadi Jeni itu punya kakak?” tanya Lorena.
“Aku tidak mengerti kenapa Valerie ada dirumahnya Darren? Pasti Darren sudah melakukan hal buruk,” jawab Earlangga.
“Apa kau ada masalah dengan Darren itu?” tanya Lorena.
“Dia yang merampas mobilku, Bu,” jawab Earlangga.
“Mobil Sportmu itu?” tanya Lorena.
“Iya, dia juga yang membawa Valerie ke club itu untuk diberikan pada kami,” jawab Earlangga, membuat Lorena terkejut.
“Jahat sekali dia,” keluh Lorena.
“Sayang, Darren itu yang waktu itu kerumah membawa mobilmu itu kan?” tanya Lorena.
“Iya Bu, dia mencoba memerasku,” jawab Earlangga.
“Waktu itu ibu melihat Darren bicara dengan Ibu, Nenekmu,” kata Lorena membuat Earlangga mengerem mobilnya mendadak.
“Sayang, hati-hati,” ucap Lorena.
Earlangga menoleh pada Ibunya.
“Mereka saling kenal?” tanya Earlangga.
“Tidak tahu juga sih, cuma kata Ibu, Ibu hanya menegurnya karena mengganggumu,” jawab Lorena.
Earlangga kembali menjalankan mobilnya.
“Jangan- jangan Nenek juga tahu sesuatu Bu, Cuma nenek sekarang tidak bisa bicara kita tidak bisa menanyainya,” kata Earlangga.
“Sayang, maafkan Nenekmu, “ ucap Lorena, mengusap punggungnya Earlangga.
Dia tahu ibu mertuanya itu suka membuat ulah.
Earlangga tidak menjawab, mobilnya terus meluncur dijalan raya.
************
Valerie sudah berganti pakaian dan berdandan cantik malam ini. Darren mau mengajak makan malam diluar. Dilihatnya bayinya yang sedang tidur diatas tempat tidur bayi itu. Diapun tersenyum melihatnya. Mlihat buah hatinya yang tampan, asal selalu bisa melihatnya dia akan rela melakukan apa saja, termasuk makan malam sekarang.
Terdengar suara diketuk beberapa lagi.
“Masuk,” ucap Valerie.
Surti masuk kedalam kamar itu.
“Pak Darren meminta saya menemani Baby Al,”kata Surti.
“Iya surti, tolong jaga bayiku,” ucap Valerie.
Diapun bangun dan berjalan mendekati ranjang bayi itu. Dilihat lagi wajahnya yang tidur lelap.
“Ibu bahagia bisa melihatmu, ibu akan melakukan apa saja untukmu,” gumam Valerie, mencondongkan tubuhnya mencium pipinya Al. Terbersit rasa sedih dihatinya, Earlangga tidak tahu kalau bayi mereka masih hidup.
Mobilnya Earlangga sudah memasuki halaman rumah nya Darren. Hingga sampailah mereka di depan rumahnya Darren. Mereka melihat ada dua orang bodyguard di depan gerbang itu.
Lorena menoleh pada Earlangga, dia merasa itu alasannya kenapa ada penjaga lain selain satpam pasti ada sesuatu yang disembunyikan.
Earlangga menghentikan mobilnya didepan gerbang, dan membunyikan klakson.
Dua bodyguard itu menyapanya.
“Aku ingin bertemu Darren!” teriak Earlangga, sudah tidak sabar.
“Kau siapa?” tanya penjaga itu.
“Earlangga!” jawab Earlangga.
Penjaga itu menoleh pada satpam yang langsung menelpon Darren. Tidak berapa lama diapun berteriak.
“Masuk!” teriak satpam. Penjaga itu langsung membuka gerbangnya.
Earlanggapun melajukan mobilnya masuk kedalam halaman rumah itu, lalu menghentikannya di depan rumahnya Darren.
Tanpa menunggu lama lagi, Earlangga bergegas turun, tidak dihiraukannya Lorena memanggil manggil, dia khawatir putranya aka anarkis pada pria itu.
__ADS_1
Earlangga langsung membuka pintu yang bereukuran tinggi itu.
“Darren!” teriaknya dengan kencang.
“Darren! Keluar kau!” teriak Earlangga lagi.
Valerie yang masih berada dalam kamarnya, keheranan, dia merasa ada suara yang sangat dikenalnya memanggil Darren.
“Earlangga!” gumamnya. Hatinya langsung senang saja Earlangga datang, tapi bagaimana Earlagga bisa tahu kalau dia ada di rumahnya Darren?
Valerie pun segera keluar dari kamarnya menuju ruangan bawah tapi di lorong dia bertemu dengan Darren.
Pria itu menatapnya. Terdengar lagi suara Earlangga berteriak-teriak memenggil Darren.
“Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan, kau tidak bisa kembali ke rumah itu atau kau tidak akan melihat bayimu lagi, selamanya,” kata Darren. Valeriepun diam terpaku. Apakah dia benar-benar harus berpisah dengan Earlangga? Tapi dia juga tidak mau berpisah dengan bayinya.
Darren segera menlangkahkan kakinya menuruni tangga. Sedangkan Valerie diam mematung dan bersembunyi dibalik tembok melihat kearah bawah.
Darren turun menuruni tangga.
“Kau datang seenaknya ke rumahku dan berteriak- teriak sangat-sangat tidak sopan!” kata Darren.
Lorena menatap pria muda tampan yang turun dari tangga itu, jadi ini putranya Nisa? Pria yang pernah dilihatnya bicara dengan ibu mertuanya.
“Dimana Valerie?” tanya Earlangga.
Mendengar pertanyaan Earlangga sebenarnya Darren terkejut dari mana Earlangga tahu kalau Valerie ada dirumahnya? Mungkin Earlangga hanya menebak-nebak saja, fikirnya.
“Katakan dimana?” tanya Earlangga lagi menatap tajam Darren, hatinya sudah mendidih ingin memukul pria itu.
“Kau begitu yakinnya mengira Valerie ada dirumahku?” tanya Darren, balas menatap Earlangga.
“Tentu saja, karena Jeni yang memberitahuku,” jawab Earlangga.
Darren merasa kesal mendengarnya ternyata biang keroknya Jeni, yang membocorkan keberadaannya Valerie?
“Sayang! Keluarlah!” teriak Darren.
Earlangga sangat terkejut Darren memanggil sayang, siapa sayang? Valerie? Kenapa Valerie dipanggil sayang? Ada apa ini? Bukan Earlangga saja yang kaget, Lorena juga, hatinya semakin tidak karuan saja, melihat gelagat yang tidak baik hubungan putranya dengan Valerie.
Valerie yang bersembunyi dibalik tembok, terdiam sejenak, dia tidak sanggup bertemu dengan Earlangga. Terdengar lagi Darren memanggilnya.
Earlangga semakin terkejut mendengar perkataannya Darren.
“Kami ada acara makan malam diluar, kau sudah mengganggu waktu kami,” ucap Darren.
“Sayang! Cepatlah!” teriak Darren lagi, melihat kearah atas tangga begitu juga Earlangga dan Lorena.
Dengan berat hati dan mencoba untuk tidak menangis, Valerie muncul diatas tangga dan mulai menurun tangga itu.
Earlangga yang melihat istrinya turun sudah menggunakan gaun malamnya, terasa sakit hatinya. Ada apa ini? Apakah Valerie akan berkencan dengan Darren?
Valerie sebenarnya ingin menangis saat itu juga tapi dicoba ditegarkannya hatinya, dia sudah memilih, ya sudah memilih.
“Sayang!” panggil Earlangga menatap Valerie.
Valerie juga menatap Earlangga saat sudah tiba dibawah.
“Kau pergi begitu saja dari rumah, aku mencarimu, aku kesini untuk menjemputmu pulang,” kata Earlangga.
Valerie bisa melihat tatapan kecewa dan sedih di matanya Earlangga, tapi dia juga berat kalau harus kehilangan Aldric lagi. Dia sudah tidak mau bersetru dengan Ny.Grace. Dia ingin mengakhiri semuanya.
“Aku sudah menulis surat untuk tidak mencariku,” kataValerie.
“Tidak sayang, jangan begitu, kita pulang, ayo kita pulang,” ucap Earlangga sambil meraih tangannya Valerie.
“Tidak Earl, aku sudah memutuskan untuk meninggalkanmu, maaf,” ucap Valerie.
Lorena yang mendengar pertanyaan Valerie langsung mendekat.
“Sayang, jangan begitu, kau dipaksa oleh pria itu? Katakan saja! Kita bisa melaporkannya ke polisi,” kata Lorena.
“Tidak Bu ini sudah menjadi keputusanku. Aku tinggal dirumah itu hanya sampai aku melahirkan saja, Sekarang bayiku sudah tidak ada jadi tidak ada gunanya lagi aku tinggal disana,” ucap Valerie, dengan hati ingin berontak terhadap kata-katanya yang lain dibibir lain dihati. Dikuat-kuatkannya hatinya untuk tidak menangis.
“Sayang, aku mencintaimu, ada Jordan maupun tidak ada Jordan,” kata Earlangga.
Terdengar suara Darren bicara.
“Aku dan Valerie akan menikah, kami sedang mengurus surat gugatan cerai buatmu,” kata Darren , membuat Earlangga terkejut lalu menoleh pada Darren.
__ADS_1
“Menikah? Kalian mau manikah?” tanya Earlangga. Yang langsung meraih kerah bajunya Darren.
“Jangan emosi dulu, kau tanyakan saja pada Valerie, benar atau tidak,” jawab Darren.
Earlangga pun melepaskan cengkramannya lalu menoleh pada Valerie.
“Apa yang dikatakan Darren itu benar?” tanya Earlangga.
“Iya, aku sudah memberikan surat kuasa pada pengacaranya Darren untuk perceraian kita,” kata Valerie, membuat Earlangga semakin terkejut tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Kau, kau bicara bohong kan?” tanya Earlangga.
“Aku bicara sejujurnya,” jawab Valerie.
Lorena menatap Valerie.
“Sayang, Nenek sudah sakit sekarang, kau tidak perlu takut lagi bersama Earlangga, percayalah Nenek tidak akan mengganggumu, kalian bisa hidup bahagia. Kalian bisa punya bayi lagi,” kata Lorena.
Valerie menatap ibu mertuanya.
“Sudah terlalu banyak kepahitan dirumah itu, aku tidak bisa kembali kesana, maaf,” ucap Valerie.
Earlangga menatap Valerie dengan kecewa.
“Sayang, aku sangat kehilanganmu, aku mencarimu kemana-mana, aku ingin kau pulang, ikutlah pulang bersamaku, kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku,” kata Earlangga.
“Maaf, aku tidak bisa,” kata Valerie, membuat Earlangga terdiam.
Darren menatap Earlangga.
“Kau sudah dengar sendiri kan?” tanya Darren.
“Kau pasti yang memaksanya kan?” bentak Earlangga mulai emosi.
“Kau memaksanya!” teriak Earlangga, dia akan memukul Darren tapi tangannya sudah ada yang memegangnya, pria kekar penjaga tadi yang mengikutinya masuk kerumah.
“Jangan membuat dirimu tidak bisa pulang dengan selamat dari rumah ini,” kata pria kekar itu.
“Earl!” Lorena yang merlihatnya merasa takut dan khawatir, dia langsung memegang tangannya Earlangga.
“Sayang, sabarlah, mungkin memang sudah keputusannya Valerie meninggalkanmu,” kata Lorena.
Earlangga menepiskan tangan penjaga itu.
Darren menoleh pada Valerie.
“Sayang, kita sudah terlambat, ayo,” ajaknya, tangannya meraih pinggangnya Valerie, lalu menatap Earlangga.
“Kau tahu jalan keluar kan? Atau penjagaku yang akan mengantarmu,” ucapnya, lalu melirik pada Valerie mengajaknya pergi.
Earlangga benar- benar marah tapi tangany dipegang terus oleh Lorena, dia tidak mau kalau putranya sampai berkelahi .
Earlangga hanya melihat istrinya itu dibawa Darren keluar rumah. Dia benar-benar merasa jadi pecundang, menjadi suami yang tidak berguna, tidak bisa menjaga istrinya.
“Sayang, kita juga pulang, ayo!” ajak Lorena, saat didengarnya mobilnya Darren keluar dari rumah itu.
Tidak ada yang bisa dilakukan Earlangga salain dia memang harus pulang, meskipun dia tidak bisa menerima kalau Valerie pergi bersama Darren tapi dia juga tidak bisa memaksa kalau Valerie memutuskan meninggalkannya.
Hatinya tetap merasa curiga ada yang dilakukan Darren sehingaa Valerie mau pergi bersama Darren. Valerie bukanlah tipe wanita yang gampang pindah ke laki-laki lain apalagi perilaku Darren yang buruk, pasti sesuatu telah terjadi, dia harus mencari tahu.
“Ayo sayang!” ajak Lorena.
“Kita harus menanyai Nenek Bu, aku yakin Nenek tahu sesuatu, aku yakin,” ucap Earlangga.
“Kita bicarakan di rumah, sekarang kita pulag,” sahut Lorena.
Mereka berduapun melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.
Saat mereka sampai ditera luar, terdengar samar-samar suara bayi menangis di lantai atas.
Tapi mereka tidak berfikir macam-macam soal suara bayi itu, merekapun masuk ke mobilnya Earlangga, dan meninggalkan rumah Dareen secepatnya.
********
Readers quotaku habis lagi, barusan aku ngisi lagi 60.000 aku ga tahu kenapa begini.
Aku sudah coba pindah provider yang quota lebih besar tapi ternyata loading lebih lama quota banyak juga ga kepake.
Jadi maaf jika besok tidak ada novelku yang up berarti quotaku habis lagi. Mungkin tanda tandannya aku harus hiatus..maaf kalau ternyata nulisnya tidak sampai tamat.
__ADS_1
***********