
Di toko perhiasan…
Sean bicara dengan pemiliki perhisaan itu, entah apa yang dibicaraannya, sedangkan Lorena berjalan kearah yang berbeda melihat-lihat perhiasan yang ada di etalase.
“Baiklah, tunggu sebentar,” kata pemilik toko itu.
Sean melihat bayang bayang seseorang disampingnya yang melihat ke etalase.
“Sayang, ada yang yang kau suka?” tanya Sean. Tidak ada jawaban.
Pemilik toko datang membawa sebuah kotak perhiasan yang berukuran cukup besar.
“Bapak mau perhiasan yang sudah jadi atau akan memesan modelnya? Barangkali ingin diberi insial,” kata pemilik toko.
“Lihat yang jadi saja dulu, kau ukur dulu jari kekasihku,” kata Sean. Bersamaan dengan suara telpon disakunya berdering, diapun menerima panggilan telepon, berjalan agak menjauh dari etalase.
Setelah berbicara agak lama di telpon, Sean kembali ke dekat etalase, dilihatnya pemilik toko sedang mengukur jari seorang wanita yang sudah berumur yang juga mencoba cincin-cincin yang dibawanya tadi.
Sean menatap pemilik toko itu.
“Cincin ini bagus sekali,” gumam wanita itu, sambil melihat cincin yang di pakaikan di jarinya.
“Itu sangat bagus, Nyonya, maaf nona,” kata pemilik toko.
“Aku memang terliaht selalu muda kan, makanya kau panggil aku nona,” kata wnaita itu dengan genitnya.
Sean hanya memperhatikan saja, dia kebingungan kemana Lorena?
“Kau benar, ini sangat cantik,” ucap wanita itu sambil menoleh pada Sean.
“Sayang kau benar-benar pria yang royal, kita baru juga bertemu kau membelikanku cincin yang mahal," kata wanita itu dengan genit.
"Ternyata tidak sia-sia aku pasang susuk ke dukun kemarin ternyata bisa mengaet pria semuda dan setampan ini,” batinnya sambil tersipu sipu malu.
Sean langsung memberengut, apa maksud wanita itu?
“Sudah saya ukur Pak, jadi cincin itu saja yang akan dibeli atau mau pesan model yang lain?”tanya pemilik toko.
Sean menatap pemilik toko, keheranan.
“Apa maksudmu? Kau sudah mengukur jari kekasihku?” tanya Sean.
“Sudah,” jawab pemilik took.
“Yang ini saja, ini sangat cantik, aku suka, terimakasih ya sayang,” kata wanita itu, sambil tangannya menyentuh dadanya Sean, membuat Sean ilfeel. Dia langung menutup dadanya dengan kedua tangannya.
“Kau sangat tampan juga tajir,” ucap wanita itu lagi, tersenyum manis.
“Bagaimana Pak?” tanya pemilik toko.
“Kau sudah mengukur jari kekasihku?” tanya Sean, memastikan.
“Sudah, dan itu contoh cincinnya sudah dipakai, sangat pas dan terlihat cantik,” kata pemilik toko, matanya menatap cincin yang ada dijarinya wanita itu.
Wanita itu senyum-senyum sendiri sambil melihat jari-jarinya yang bercincin sangat cantik.Susuk yang
__ADS_1
sangat manjur, fikirnya.
Sean menatap wanita itu lalu pada pemilik toko.
“Apa maksudmu?” tanya Sean.
“Nyonya, eh nona sedang memakai cincin contoh itu,” jawab pemilik toko.
Sean menatap wanita itu lagi.
“Apa maksudmu Nyonya ini?” tanya Sean.
“Iya, bukankah Nyonya eh nona ini kekasih Bapak? Tadi Bapak minta saya mengukur jarinya,” jawab pemilik toko.
Wajah Sean langsung saja memerah. Ternyata Pemilik toko salah mengira.
“Aku tidak mengenalnya! Dia bukan kekasihku, yang benar saja? Kekasihku masih muda dan sangat cantik,” gerutu Sean.
Wanita itu langsung menatap Sean.
“Sayang, aku juga masih muda dan cantik,” ucapnya dengan genit, membuat Sean bergidik.
Pemilik toko kaget, lalu dia menatap wanita itu.
“Maaf Nyonya, kembalikan cincinnya! Saya salah orang!” kata pemilik toko.
“Tidak mau, tadi katanya si tampan ini yang akan memberikan cincinnya,” kata wanita itu, membuat pemilik toko sebal.
Wanita itu menoleh pada Sean yang meringis, ngapain dia membelikan cincin buat wanita tua yang lebih tua dari ibunya, dia langsung cemberut.
“Sayang!” teriak Sean lagi. Gadis itu berebut saling celingukan menoleh kearah Sean, karena tidak ada gadis yang menjawab panggilan pria tampan itu.
Lorena yang sedang melihat perhiasan di sebelah tiang tembok itu, mendengar suara orang memanggil-manggil sayang , tapi dia tidak mengira kalau yang dipanggil sayang itu dirinya, jadi dia tidak menjawab, santai saja melihat lihat ke etalase.
“Kau memanggilku?” tanya seorang gadis dengan percaya dirinya.
Sean mengacuhkannya tidak menoleh sedikitpun.
“Sayang!” panggil Sean lagi, berjalan kearah tiang tembok itu karena toko itu sangat luas, ada beberapa local ruko yang digunakan. Gadis tadi langsung cemberut saat Sean melewatinya.
“Sayang kau..” Sean menghentikan langkahnya saat melihat Lorena sama sekali tidak menoleh.
“Sayang kau tidak mendengar aku memanggilmu?” tanyanya, setelah dekat. Lorena menoleh kearah Sean.
“Ada apa? Kapan kau memanggilku, ada juga yang memanggil ..sayang…” Lorena baru tersadar ternyata yang memanggil manggilnya sayang itu Sean, diapun langsung menahan tawa merasa lucu.
“Kau selalu begitu, buat apa aku memanggil orang lain sayang,” gerutu Sean, Lorena hanya tersenyum saja. Tangan pria itu menarik tangannya, mengajaknya ke tempat pemilik toko tadi.
Lorena menatap tangannya yang dipegang Sean. Tangan pria itu terasa begitu kokoh.
Saat ke tempat pemilik toko, wanita tadi masih ada disana, dia cemberut karena harus melepas cincinnya, matanya melirik pada Lorena, dia merasa iri pria muda yang tampan itu menggenggam tangan gadis itu dengan mesra, diapun mencibir. Sean buru-buru memeluk pinggang Lorena menjauh dari wanita itu.
Lorena tampak tidak mengerti dengan sikap Sean juga sikap si ibu itu yang mendandak judes saat melihatnya.
“Mana tanganmu?” tanya Sean langsung meraih tangan kiri Lorena, memegang jarinya seakan takut jarinya akan lari.
__ADS_1
“Pak Ini kekasihku, ini jarinya,” kata Sean pada pemilik toko, kata-katanya terdengar lucu. Lorena mengerutkan dahinya pasti telah terjadi sesuatu. Sampai-sampai Sean memegang jarinya terus diatas etalase.
“Kenapa kau terus memegang jariku?” tanya Lorena, menatap Sean.
“Biar pemilik toko itu tidak salah mengukur lagi,” jawab Sean. Lorena malah kebingungan mendengarnya.
Pemilik toko segera mengahampiri, diapun mengukur jari Lorena sambil memperlihatkan model model cincin dari kota itu.
Wanita tadi masih berdiri dekat Lorena, melirik lirik iri karena Lorena yang akan dibelikan cincin oleh pria muda itu. Sean semakin sebal saja pada tingkah wanita itu.
“Ada apa sih?” tanya Lorena berisik pada Sean.
“Masa pemilik toko mengira wanita tua itu kekasihku, mengukur jarinya segala, ih,” jawab Sean setengah menggerutu. Lorena menoleh kearah wanita tadi, diapun jadi menahan tawa. Pemilik toko ga kira-kira, masa Sean pacaran dengan wanita paruh baya? Lorenapun tidak bisa menahan tawanya lagi.
“Kenapa kau tertawa?” gerutu Sean.
“Ternyata kau sangat laku buat yang muda juga yang tua,” bisik Lorena, mendekatkan bibirnya ke telinga Sean, sambil tersenyum.
“Kau malah menggodaku,” kata Sean, sambil menoleh pada bibir merah yang tadi berbisik makin menjauh. Melihat bibir tipis itu ingin sekali dia menciumnya untuk menghentikan tawa gadis yang mengejeknya itu.
Lorena memilih-milih model cincin dalam sebuah tabloid.
“Apa yang kau mau?” tanya Sean sambil memeluk pinggang Lorena, merapat ketubuhnya. Sampai-sampai Lorena merasakan tegapnya dada pria itu.
“Yang ini sangat cantik,” jawab Lorena menunjuk sebuah cincin.
“Kau mau yang itu?” tanya Sean. Lorena mengangguk.
“Itu sangat bagus,” kata Pemilik toko.
“Kapan selesainya?” tanya sean.
“Sekitar satu minggu,” jawab pemilik toko.
Sean terdiam, dia tampak berfikir, tapi kemudian dia mengangguk.
“Dari sini kita cari baju pengantin ya,” kata Sean.
“Iya,” jawab Lorena, sembil beranjak dari sana. Tapi saat dia keluar dari toko perhiasan itu, ternyata Sean tidak sedang bersamanya, pria itu tampak bicara dengan pemilik toko. Tidak berapa lama barulah Sean menghampirinya, memeluk pinggangya Lorena mengajak ke parkiran.
“Ayo,” ajak Sean sambil membuka pintu mobilnya.
“Kenapa kau lama sekali disana?” tanya Lorena.
“Aku lupa minta kartu namanya,” jawab Sean.
Lorena tidak bicara lagi, diapun masuk ke dalam mobilnya Sean.
Sekarang mobil itu meluncur menuju sebuah butik khusus pakaian untuk pernikahan.
*****
Reders maaf baru up, episodenya sedikit dan kurang seru. Nulis barusan langsung up, asal up dulu ya, author potong ke episode selanjutnya.
************
__ADS_1