Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-104 Bayiku masih hidup


__ADS_3

Earlangga pulang ke rumahnya langsung mencari Neneknya.


“Earl!” panggil Sean yang sedang ada di ruang keluarga. Dia keheranan melihat putranya hanya melewatinya saja dan buru-buru naik ke atas.


Muncul istrinya keruangan itu, diapun langsung bertanya.


“Sayang, ada apa ini? Kenapa dengan Earl?” tanya Sean.


“Valerie ada dirumahnya Darren,” jawab Lorena membuat Sean terkejut.


“Apa maksudmu di rumahnya Darren?” tanya Sean, tidak mengerti.


“Siapa Darren?” tanya Earlangga semakin tidak mengerti.


“Darren itu pria yang mengambil mobil sportnya Earlangga, dia itu kakaknya Jeni, putranya Nisa,” jawab Lorena.


Mendengarnya sungguh membuat Sean terkejut bukan main.


“Kenapa Valerie bisa ada dirumahnya Darren?” tanya Sean.


“Itu yang sedang kita cari tahu. Mereka akan menikah. Valerie sekarang mengurus gugatan cerainya lewat pengacara,” jawab Lorena.


“Tidak bisa dipercaya, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Sean lagi.


“Earlangga curiga Ibu tahu sesuatu, karena aku pernah melihat Ibu bicara dengan Darren dulu sekali, itu artinya mereka saling kenal,” jawab Lorena.


Sean melihat ke lantai atas, dia langsung beranjak.


“Coba kita tanya Ibu,” kata Sean, sambil naik ke tangga diikuti Lorena.


Ternyata pintu kamarnya Ny.Grace sudah terbuka, terdengar ada suaranya Earlangga didalam kamar itu.


“Nenek, aku tidak tahu cara mendapatkan informasi darimu, tapi sungguh aku sangat membutuhkannya,” kata Earlangga.


Ny.Grace hanya diam menatapnya, Neneknya Earlangga itu sedang duduk bersandar ditempat tidurnya.


Earlangga menatap neneknya.


“Valerie pergi, Nenek tahu dia dimana?” tanya Earlangga.


Ny.Grace menggerakkan kepalanya sedikit.


“Dia ada dirumahnya Darren,” jawab Earlangga, membuat Ny.Grace terkejut.


“Nenek kaget? Nenek mengenal Darren kan? Valerie sekarang ada di rumahnya Darren,” kata Earlangga, menahan kesalnya.


“Dia akan menikah dengan Darren, dia sedang mengajukan gugatan cerai padaku. Aku akan kehilangan dia Nek, dia sudah tidak mau aku ajak pulang,” ucap Earlangga, dengan sedih.


Ny.Garce terdiam menatap cucunya.


“Aku sangat mencintainya Nek, meskipun Jordan tidak ada bersama kami, tapi aku sangat mencintainya, aku mencintainya,” kata Earlangga berulang-ulang, lalu duduk dikursi denga lesu dan menunduk.


“Aku tidak bisa membahagiakannya, dia kecewa padaku,” keluh Earlangga.


Terdengar suara langkah-langkah kaki mendekati kamarnya Ny.Grace.


Earlangga menoleh kearah pintu, ternyata Sean dan Lorena yang masuk.


Sean menatap Earlangga yang tampak muram.


“Sayang, ayah turut prihatin karena Valerie akan menikah dengan Darren, ayah yakin ini pasti ada suatu kesalahan, pasti ada sesuatu yang menyebabkan Valerie bersikap seperti itu,” kata Sean.


Sean menoleh pada Ny.Grace lalu pada Lorena.


“Bagaimana cara kita bicara dengan ibu?” tanya Sean.


Semuapun diam.


Ny.Grace terdiam, dia kaget Valerie akan menikah dengan Darren. Dia tahu Valerie sangat mencintai Earlangga. Jangan-jangan, ada sesuatu yang terjadi? Jangan-jangan yang dijumpai Valerie itu adalah Darren? Valerie pulang dan mengetahui soal bayi itu, jadi apakah bayi itu…bayi itu diculik oleh Darren? Darren yang merampok orang-orang suruhannya dan membawa bayinya Earlangga? Ny.Grace terus beropini. Ya sepertinya seperti itu! Darren yang sudah menculik bayi itu.


Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus mengatakan jujur soal ini? Ny.Gracepun berfikir lagi. Sean pasti marah padanya juga Earlangga, semua orang akan benci padanya yang telah berbuat kejatahan pada cucunya sendiri.


Dilihatnya Earlangga yang terduduk lesu menunduk dan bersedih, hatinya semakin merasa bersalah, mungkin memang dia harus jujur meskipun akhirnya semua orang akan membencinya, dia harus jujur.


“Ng..h..ng..h..” Ny. Grace mencoba bicara membuat semua orang menatapnya.


“Ng..h..ng..h..” Ny.Grace berusaha bersuar meskipun dengan tidak jelas.


“Ibu mau bicara apa?” tanya Sean.


“Ng..h..ng..h..” tetap saja tidak ada yang mengerti.


Lorena menoleh kearah lemari, tiba-tiba dia punya ide, diapun pergi ke lemari itu dan menarik sebuah laci. Diambilnya kertas dan ballpoint di laci itu.


“Sayang, coba kita tulis saja kira-kira ibu mau bicara apa,” kata Lorena.


Sean mengambil kertas itu lalu mendekati ibunya dan duduk disamping tempat tidur. Sean menuliskan sesuatu dikertas itu.


“Ibu mau bicara?” tulis Sean lalu diperlihatkan pada Ibunya.


“Ng..h..ng..h..” jawab Ny,Grace dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Semua hening.


Lorena pergi keluar kamar, menuju ruang kerjanya, lalu diambilnay satu pak hvs, dan kembali lagi ke dalam kamarnya Ny.Grace.


Diberikannya satu lembar yang kosong pada Sean.


Earlangga berdiri menghampiri ayahnya supaya lebih dekat dan lebih jelas apa yang ingin dibicarakan oleh neneknya.


“Nenek mau bicara soal apa?” tanya Earlangga.


Sean menulis lagi. “Soal Valerie?” tanya Sean pada Ny.Grace sambil memperlihatkan tulisannya.

__ADS_1


“Ng..h..gg..h..” Ny.Grace bersuara tidak jelas.


“Bukan?” tulis Sean. Ny.Grace diam.


“Darren?” Sean menulis lagi.


“Ng..h..ng..h..” Ny.Grace masih saja seperti itu.


“Bukan juga,” gumam Sean, putus asa, tidak ada hasilnya.


“Soal apa ya?” gumamnya lagi.


“Alasan Valerie pergi?” tanya Sean sambil menulis dan diperlihatkan pada ibunya.


Ny.Grace diam saja, menatap tulisan itu.


Sean menulis lagi.


“Jadi Ibu tahu alasan Valerie pergi?”


Ny.Grace diam lagi.


Sean menulis lagi, “Karena Ibu,” diperlihatkannya pada Ny.Grace. Ibunya diam, kedua matanya berkaca-kaca.


Melihat reaksi itu, Sean semakin semangat bertanya.


“Apa? Apa yang telah ibu lakukan pada Valerie?” tanya Earlangga dengan nada tinggi.


“Sayang, sabar,” kata Sean.


Earlanggapun diam. Sean berusaha bicara lagi pada ibunya.


“Apa yang telah Ibu lakukan? Ibu menyakiti Valerie?” tanya Sean.


Lalu dia menuliskan dikertas itu iya dan satu lembar tidak. Diperlihatkannya yang bertuliskan Iya.


Ny.Grace berusaha mengangguk.


“Apa yang telah Ibu lakukan?” tanya Sean.


“Ng..h.ng..h..” Mata Nyonya Grace melirik pada Earlangga.


“Ada kaitannya denganku?” tanya Earlangga. Ny.Grace berusaha mengangguk.


“Apa yang Ibu lakukan?” tanya Sean, menatap ibunya.


Ny.Grace bingung bagaimana memberi kode pada anak cucunya.


Sean pun menulis.


“Memarahi Valerie, mengusirnaya, dan sebagainya…” Tidak ada yang Ny.Grace anggukkan.


“Memangnya Ibu sudah melakukan apa?” tanya Sean bingung.


Lorena menoleh kearah pintu.


“Ada apa?” tanya Lorena.


“Koper yang Bu Valerie bawa dari London yang berisi baju baju bayi, mau dibiarkan dikoper atau dimasukkan lemari, Bu? Dari datang dari London belum dibereskan,” jawab pelayan yang datang itu.


“Biarkan saja dikoper itu. Nanti kalau Valerie pulang baru tanyakan padanya, mau disimpan dimana baju baju bayi itu,” jawab Lorena.


“Baik Bu,” jawab pelayan itu lalu pergi


Semuapun kembali melihat pada Ny,Grace.


Ny.Grace yang mendengar perkataan pelayan tadi, langsung bersuara.


“Ng..h..ng..h..” ucapnya sambil metanya menoleh kearah pintu, semuapun menoleh kearah pintu.


“Apa?” tanya Sean tapi hanya Ng..h..ng..h saja yang keluar dari mulutnya Ny.Grace.


Sean pun mulai menebak.


“Pelayan?” tanya Sean. Ny.Grace diam.


“Koper?” tanya Sean lagi. Ny.Grace mencoba menggeleng.


“Baju!” tebak Lorena. Ny.Grace mencoba mengangguk.


“Iya?” tanya Sean.


“Baju? Baju apa?” Sean bingung.


“Baju bayi? Kenapa dengan baju bayinya Valerie?” tanya Lorena.


“Ng..h..ng..h..” Ny.Grace berusaha menyebutkan bayi.


“Pelayan, koper, baju bayi…bayi!” Lorena mencoba ngeja ulang.


“Ibu mau bicara soal bayinya Valerie?” tanya Lorena tiba-tiba.


Ny,Grace mencoba mengangguk, semua menatap Ny.Grace.


“Apa yang ingin ibu katakan?” tanya Sean.


“Bayi? Jordan?” tanya Sean lagi, Ny.Grace  diam.


“Apa yang Nenek ketahui soal Jordan? Bayi itu sudah meninggal,” tanya Earlangga.


Ny,Grace diam dia malah menangis, membuat semua orang keheranan, sebenarnya apa yang ingin disampaikan Ny.Grace soal bayi Jordan?


“Nenek tahu sesuatu tentang Jordan? tanya Earlangga, dengan pelan.

__ADS_1


Ny,Grace menatap Earlangga, dan terus menangis.


“Jordan sudah meninggal, itu sudah takdirnya, bukan salah siapa-siapa, dia keracunan air ketuban, aku melihatnya,” ucap Earlangga.


“Ng..h.ng.h..” Ny.Grace berusah lagi bicara.


“Ibu mau bicara apa?” tanya Sean bingung.


Ny.Grace berusaha menggeleng.


“Kenapa ibu menggeleng terus?” tanya Sean kembali bingung.


“Nenek tahu kenapa Jordan meninggal?” tanya Earlangga.


“Ng..ng..” Hanya itu suara Ny.Grace.


Sungguh sangat membingungkan, mereka tidak bisa mengerti apa yang ingin disampaikan Ny.Grace.


“Jadi maksud Nenek, Valeri pergi karena Jordan meninggal?” tanya Earlangga.


“Ng..ng..h..” Ny.Grace berusaha menggelang.


“Kenapa Nenek menggeleng? Itu alasan paling masuk akal yang Valerie katakan padaku, karena Jordan meninggal jadi dia tidak ada ikatan apa-apa lagi denganku,” kata Earlangga.


“Ng..h…h..” Ny.Grace  malah berusaha menggeleng lagi.


“Kenapa Nenek menggeleng terus? Valerie tidak mungkin pergi karena Jordan masih hiudp kan?” ucap Earlangga asal saja bicara, tapi tidak disangka Ny.Grace berusah mengangguk, membuat semua orang terkejut.


“Apa maksud ibu? Kenapa Ibu mengangguk?” tanya Sean.


Diambilnya kertas dan menuliskan Jordan masih hidup.


Ternyata Ny,Grace berusaha mengangguk.  Semua terdiaam dan sangat terkejut.


“Bu, sebenarnya apa yang terjadi? Apa benar Jordan masih hidup?” tanya Sean.


“Nek, apa Nenek mau mengatakan bayiku masih hidup?”tanya Earlangga, menebak saja.


Dan lebih tidak disangka  lagi Ny.Grace berusaha mengangguk.


“Nek, bayiku sudah dikuburkan, aku yang menguburkannya,” kata Earlangga.


“Ng..h…ng..h..” Ny.Grace berusaha menggelengkan kepalanya.


 “Apa lagi ini Nek? Apa ini?” tanyanya dengan putus asa.


Sean menuliskan kata Jordan masih hidup, lalu diperlihatan pada ibunya.


Ny.Grace berusaha mengangguk dan kembali menangis. Sean dan Lorena saling pandang.


Kaki Earlangga seketika terasa lemas, diapun duduk dikursi yang ada di dekat tempat  tidur itu.


“Apa aku tidak salah menebak?” tanya Earlangga, membuat Sean dan Lorena menatapnya.


“Apa aku tidak salah menebak, kalau bayiku masih hidup dan ada bersama Darren sehingga Valerie mau tinggal bersama Darren? Apa benar begitu?” ucapnya dengan lesu.


Sean dan Lorenapun terdiam. Itu adalah alasan yang sangat masuk akal.


Ny.Grace terus saja menangis, Sean dan Lorena menoleh kearahnya.


“Apa benar dugaannya Earlangga?” tanya Sean.


Ny.Grace berusaha mengangguk dengan airmata yang terus membasahi pipinya. Semakin menguatkan dugaan mereka.


Sean menatap ibunya.


“Jangan katakan ibu menyuruh orang untuk menukar bayinya Earlangga dengan bayi yang sudah meninggal?” tanya Sean.


Melihat Ny.Grace semakin terisak menangis, semakin jelas jawabannya.


Sean dan Lorenapun terdiam dan bersedih. Mau marah juga, yang membuat mereka marah sudah tidak berdaya.


“Bu, apa benar begitu? Kenapa ibu begitu jahat?” tanya Sean, diapun jadi menangis dan sedih karena ibunya begitu tega berbuat seperti itu.


Lorena tampak terisak-isak, kalau benar begitu, betapa kejamnya ibu mertuanya itu. Sedangkan Valerie begitu telaten merawatnya dengan baik.


Earlangga tiba-tiba menatap ibunya.


“Bu!” panggil Earlangga.


“Apa?” tanya Ibunya.


“Bayi itu,” jawab Earlangga.


“Bayi apa?” tanya Lorena.


“Suara bayi, kita mendengar suara bayi di rumahnya Darren kan?” jawab Earlangga, membuat Lorena terkejut.


Earlangga benar, kalau waktu pulang mereka samar-samar mendengar suara tangis bayi.


“Sudah jelas sekarang, kalau bayiku masih hidup, bayi itu ada dirumah Darren, bayiku ada disana, itu yang menyebabkan Valerie tinggal disana,” seru Earlangga. Diapun bangun dan keluar dari kamar itu,


“Earlangga kau mau kemana?” tanya Sean.


“Aku mau kerumah Darren, bayiku ada disana!” jawab Earlangga.


“Ayah ikut!” ucap Sean, segera menyusul Earlangga.


“Sayang, kau jaga ibu dirumah!” teriaknya pada Lorena.


Diapun bergegas mengejar Earlangga yang sudah belari keluar rumah duluan.


*************

__ADS_1


__ADS_2