
Valeri tertegun melihat baju Earlangga yang kotor, saat tersadar cepat-cepat mengambil tisu yang ada di meja.
“Maaf Pak, maaf, saya tidak sengaja,” kata Valerie, sambil melapkan tisu itu ke bajunya Earlangga.
“Kau benar-benar ceroboh!” keluh Earlangga, dengan kesal, melihat tangan Valerie yang membersihkan bajunya dari kotoran makanan itu.
“Sudah sudah biar aku saja!” kata Earlangga, sambil menepis kan tangan Valerie.
Valerie langsung pucat pasi, karena ini hari pertamanya bekerja dan dia menumpahkan makanan itu pada pelanggannya.
Valerie terdiam melihat Earlangga melap kotoran di bajunya.
“Tolong Pak, jangan laporkan saya pada atasan saya, nanti saya dipecat, Ini hari pertama saya bekerja, “ kata Valerie.
Earlangga tidak menjawab, dia masih melap bajunya yang kotor.
“Bagaimana kalau saya mencucikan bajunya Bapak, sebagai permintaan maaf saya asal jangan laporkan kepada atasanku ya Pak? Ini hari pertama saya bekerja,” kata Valerie.
Earlangga menatap Valerie yang juga menatapnya.
“Saya serius Pak, saya akan mencucikan baju Bapak, saya minta maaf ya Pak,” kata Valerie.
Earlangga masih menatap gadis itu.
“Baiklah! Bu Riska!” Earlangga memanggil sekretarisnya Sean.
Bu Riska langsung masuk dan dia terkejut saat melihat bajunya Earlangga yang kotor kena makanannya.
“Hei apa yang kau laukukan?” bentaknya pada Valerie.
“Saya tidak sengaja menumpahkannya Bu, sebagai gantinya saya akan mencucikan bajunya Bapak ini,” kata Valerie. Dia tidak mau mengecewakan Nella yang sudah berbaik hati memberikan pekerjaan padanya.
“Ada baju ganti ayah? Aku pakai baju ayah saja,” tanya Earlangga pada Bu Riska.
“Ada Pak!” jawab Bu Riska, lalu menuju sebuah pintu yang masih diruang itu keluar lagi dengan membawa setelan jas lalu diberikan pada Earlangga.
“Kau tunggu disini!” kata Earlangga pada Valerie.
“Baik Pak,” jawab Valerie.
“Kau ceroboh, kau baru kerja ya?” tanya Bu Riska.
Valerie mengangguk
.
“Apa kau tidak tahu, dia bos besar disini, pemilik perusahaan ini! Kalau dia komplen pada Restomu kau akan langsung di pecat,” kata Bu Riska.
“Maaf Bu, saya tidak sengaja,” jawab Valerie.
Bu Riska memanggil cleaning servis untuk membersihkan makanan yang tumpah. Di lantai. Valerie hanya berdiri menunggu Earlangga selesai berganti pakaian. Tidak berapa lama pria itu keluar dari balik tembok yang ada dirungan itu, sudah berganti pakaian.
Valerie mencoba mengangkat wajahnya melihat pria itu, dia tertegun saat melihatnya ternyta pria itu terlihat sangat gagah menggunakan stelan jasnya, senangnya kalau punya pacar setampan itu, tapi dia kembali menunduk lagi dia ingat perkataan sekretaris tadi kalau pria itu bos besar disini, tidak mungkin dia memiliki pacar seorang bos besar.
“Ini bajunya!” Earlangga menyodorkan bajunya pada Valerie yang segera mengambilnya.
__ADS_1
“Saya permisi, Pak,” jawab Valerie.
“Tunggu tunggu tunggu!“ kata Earlangga.
“Apa lagi Pak?” tanya Valerie, kini menatap wajah Earlangga.
“Dimana alamat Resto ini, jauh tidak?” tanya Earlangga, balas menatap Valerie.
“Tidak Pak, hanya beberapa blok dari sini,” jawab Valerie.
“Kalau begitu kau bawakan aku makanan lagi, aku lapar,” kata Earlangga.
“Makanan yang tadi?” tanya Valerie.
“Iya,” jawab Earlangga.
“Baiklah,” jawab Valerie, lalu berbalik badan akan keluar dari ruangan itu.
Valerie membalikkan badannya, hampir saja dia bertabrakan dengan dua orang pria bule yang masuk keruangan itu. Dia sempat terkejut, karena adanya bule itu mengingatkannya pada kejadian tadi malam.
Semalam Valerie melihat sekilas ada pria bule juga di club itu meskipun remang- remang dia tahu ada pria bule karena memang warna kulitnya sangat kontras dengan yang lain. Tapi dia juga tidak begitu jelas apakah pria bule itu yang ada di club tadi malam, tapi ah buat apa mengungkit-ungkit hal itu, tidak ada guna.
Kalau seandainya dia bertemu pria yang menodainyapun apakah dia akan menuntut dinikahi? Bagaimana kalau pria itu adalah pria beristri? Matanya langsung berkaca-kaca saja memikirkan hal itu. Dia sangat sedih dengan kejadian ini.
Valerie cepat-cepat keluar dari ruangan itu, mengingat kejadian malam itu semakin membuatnya merasa sedih, kotor dan tepuruk, seandainaya waktu bisa dikembalikan, dia ingin malam itu tidak pernah datang ke club itu.
Earlanga masih kesal bajunya kotor, untung badannya sama dengan ayahnya jadi dia bisa memakai baju ayahnya.
“Earl, kalau kau sibuk, kami pulang duluan,” kata Josh.
“Oke!” jawab Nick, merekapun keluar kembali dari ruangan itu.
Karena langkah kaki mereka panjang-panjang, membuat mereka bisa menyusul Valerie dan masuk satu lift.
Valeri melirik pria pria itu tapi tidak berkata apa-apa, sayang sekali dia tidak hafal wajah bule-bule di club itu karena Darren sudah memukul kepalanya sampai tidak sadarkan diri.
Sampai di lobypun Valerie hanya melihat mereka pergi ke mobilnya sedangkan dia ke motornya, dia harus secepatnya membawakan makanan ganti buat pria yang ada di dalam itu.
Di Restaurant, Valerie menemui kasir yang bernama Bimo.
“Mana bukti penerimaannya? Ini langganan eksklusif jadi bayar bulanan,” tanya Bimo.
“Belum ditandatangan, makanannya tumpah, orang itu minta lagi makanan yang sama,” jawab Valerie.
“Kau tahu, kau akan dipotong gaji karenanya,” kata Bimo.
“Berapa harga makanan itu?” tanya Valerie.
“Tiga ratus ribu,” jawab Bimo.
“Apa? Mahal sekali hanya satu porsi makan,”keluh Valerie.
“Itu makanan luar,” jawab Bimo.
“Ini hari pertamaku bekerja dan aku harus mengganti makanan yang harganya sangat mahal,” keluh Valerie.
__ADS_1
“Lain kali kau harus hati-hati,” kata Bimo, sambil membuatkan struk pemesaan lalu diberikan pada Valerie.
Valeriepun menuju loket dapur dan memberikan struk yang bewarna merah sedangkan warna putih dipegangnya. Dia merasa lelah sekali hari ini, tapi dia harus mengurus pelanggan satu itu, apalagi pelanggan itu adalah seorang Presdir, pasti dia akan komplen nanti, bisa bisa dia tidak bisa bekerja lagi.
Meskipun lelah Valerie mencoba bersikap biasa saja dan kembali ke gedung itu untuk memberikan makanan yang sama buat Earlangga. Karena terlalu dipaksakan, kepalanya terasa begitu pusing.
Valerie kembali datang ke kantornya Earlangga, dia bertemu lagi dengan Bu Riska yang menatapnya dengan tidak bersahabat.
“Kau bawa masuk sendiri saja,” kata Bu Riska.
Valerie kembali ke pintu ruangan Presdir itu dan kembali mengetuk pintunya.
“Masuk!” terdengar suara yang sama menjawab dari dalam. Valerie membuka pintu, melangkah masuk. Dilihatnya pria itu sedang duduk dikursi kerjanya. Pria itu terlihat sangat bekharisma duduk disana.
Earlangga menoleh sekilas pada Valerie yang berdiri didekat pintu dengan membawa bungkusan, kemudian pria itu kembali menulis tanpa bicara. Dibiarkannya gadis itu mematung, membuat kepalanya Valerie semakin pusing saja harus berdiri lama, itu Presdir benar-benar mengerjainya.
“Pak!” panggil Valerie.
Earlangga tidak menjawab masih menulis.
“Pak, ini disimpan dimana? Saya harus segera kembali!” kata Valerie, dia sudah tidak kuat lagi berdiri lama-lama, selain pegal kepalanya juga sangat pusing.
“Simpan disitu!” kata Earlangga, menujuk keatas meja sofa, barulah dia bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Valerie.
Valerie menyimpan makanan itu, lalu berdiri menatap Earlangga dan menyodorkan sesuatu pada pria itu.
“Apa itu?” tanya Earlangga menatap struk itu.
“Bukti penerimaan makanannya,“ kata Valerie.
Earlangga menerimanya dan dibacanya.
“Ko dua lembar?” tanya Earlangga.
“Kan dua kali pesanan Pak,” jawab Valerie.
“Yang tadi itu restomu yang ganti, masa aku harus bayar dua?” protes Earlangga.
“Iya satu saja Pak,” jawab Valerie.
“Kau ini kerja tidak profesional, aku bisa komplen ke Restomu,” kata Earlangga.
“Jangan Pak, satu saja, satunya masuk potongan gaji saya,” jawab Valerie, dengan lesu, dia semakin merasakan kepalanya pusing saja,
“Aku harus tandatatangan dimana?” tanya Earlangga.
Valerie semakin tidak kuat menahan pusing dikepalanya, tapi ditahan-tahannya. Diapun mendekati dan menunjukkan dimana Earlangga harus tandatangan.
“Disini,” jawab Valerie, dan dia sudah tidak bisa menahan pusing dikepala lagi.
Earlangga terkejut saat tubuh Valerie tiba-tiba oleng akan terjatuh, diapun segera menangkapnya dan memeluknya jangan sampai Valerie terjatuh kelantai.
“Hei kau kenapa?” tanyanya terkejut, sambil menahan tubuh itu.
Saat memeluknya dia lebih terkejut lagi, kenapa dia seperti pernah merasakan pernah memeluk tubuh ini? Dia tertegun. Tubuh ini mengingatkannya pada kejadian semalam, tapi… ah itu hanya perasaannya saja, karena dia terlalu memikirkan kejadian itu.
__ADS_1
********