
Lorena menghentikan taxinya di depan sebuah rumah mewah. Dilihatnya kembali handphonenya, dibaca kembali alamat yang diberikan Ny.Grace tadi. Setelah Chek Out dari hotel yang sudah dibooking oleh Pak Sandy, Lorena menghubungi Ny.Grace untuk menindaklanjuti pekerjaan selanjutnya, untuk tampil di acara ulangtahun putranya.
Ny.Grace langsung memberikan alamat rumahnya, dan mengijinkan Lorena untuk langsung tinggal di rumahnya, karena Ny.Grace sedang ada di luar kota dan pulang saat hari ulangtahun putranya.
Seorang satpam bertanya di balik gerbang.
“Apa anda tamu Ny.Grace?” tanya satpam menggunakan bahasa Inggris.
“Iya,” jawab Lorena, masih di dalam taxi, hanya membuka kaca jendela taxinya.
Gerbang tinggi itu langsung dibuka. Taxi memasuki halaman rumah mewah itu.
Seorang kepala pelayan sudah menyambutnya di depan rumah bersama dua orang yang berseragam, mungkin pekerja di rumah itu. Disambut seperti itu serasa akan memasuki hotel saja.
Dua orang berseragam itu langsung menghampiri Lorena.
“Apa ada barang yang harus kami bawa?” tanya salah seorang dari mereka.
“Iya, koperku ada di bagasi,terimakasih,” jawab Lorena.
Mereka langsung menuju bagasi, mengeluarkan koper yang Lorena bawa, setelah itu taxi pergi meninggalkan halaman rumah itu.
“Selamat datang, saya Velix, kepala pelayan disini,” sapa kepala pelayan itu.
“Terimakasih, Mr.Velix,” ucap Lorena, tersenyum ramah pada Mr.Velix.
“Silahkan, saya akan menunjukkan kamar anda,” kata Mr.Velix.
“Baiklah, terimakasih,” ucap Lorena lagi, lalu dia mengikuti langkahnya Mr.Velix memasuki rumah besar itu. Ruang tengah itu ukurannya sangat luas dan lapang, tidak banyak barang di ruang tengah itu, hanya beberapa set sofa saja. Jika bicara diruang tengah itu akan terdengar bergema karena tingginya langit langit rumah itu. Rumah itu terasa sunyi senyap, benar-benar hening.
“Siapa saja yang tinggal disini?” tanya Lorena.
“Hanya Ny. Grace itu juga jika sedang ada pekerjaan di Paris saja,” jawab Mr.Velix.
“Putranya tidak tinggal disini?” tanya Lorena, kakinya masih mengikuti langkahnya Mr.Velix.
“Tidak, tapi putranya ada datang baru dua hari yang lalu,” jawab Mr.Velix.
“Acara ulangtahunnya akan diadakan disini?” tanya Lorena lagi.
“Tidak, Mr. Andre sudah menyiapkan EO untuk acara itu,” jawab Mr.Velix.
Lorena tidak bicara lagi, dia menghentikan kakinya di depan sebuah pintu yang terbuka. Dua pelayan berseragam itu sudah menyimpan kopernya didalam kamar itu.
“Silahkan, ini kamar anda. Untuk makan malam sudah disiapkan pukul 7,” kata Mr.Velix.
__ADS_1
“Iya terimakasih,” jawab Lorena. Setelah itu Mr.Velix meninggalkan Lorena di depan kamarnya.
Lorena memasuki kamar yang luas itu. Sepertinya Ny.Grace itu sangat kaya, lihat saja rumahnya begitu megah, perabotannya juga sangat bagus. Ny.Grace tidak menawar tarif yang ditetapkannya untuk tampil di ulangtahun putranya, bahkan memberikan tambahan uang untuk tambahan beberapa lagu. Sepertinya Ny.Grace sangat menyukai penampilannya hingga mau membayarnya mahal. Kalau tiap tampil dia menetapkan tarif semahal ini uangnya pasti sudah banyak terkumpul dan bisa mengurus mobil mewahnya yang ada di kepolisian. Hampir saja dia lupa belum menebus mobilnya itu.
Tidak ada yang bisa dikerjakan Lorena di rumah besar ini. Dia juga tidak bisa seenaknya mengajak ngobrol pelayan-pelayan yang bekerja disini. Akhirnya seharian ini dia hanya berlatih biola di kamarnya, mencari-cari lagu baru yang akan dia tampilkan.
Di kantornya Sean tampak sangat sibuk , menandatangani banyak berkas di mejanya sambil ditunggu oleh dua orang pria yang satu duduk di depannya, satu lagi berdiri tidak jauh dari meja kerjanya.
“Apa ada lagi?” tanya Sean pada pria yang duduk itu.
“Ini berkas terakhir,” jawab pria itu, sambil menyodorkan berkasnya ke dapan Sean. Sean menghela nafas panjang, tangannya merasa pegal, dari tadi harus menandatangani dan menulis berkas berkas penting, kepalanya terasa sudah mulai pusing dengan banyaknya pekerjaan ini.
Setelah dibaca sebentar, dia menandatangani berkas itu lalu diberikan pada pria itu.
“Sudah semua, saya mohon diri,” kata Pria yang duduk itu. Sean hanya mengangguk, dia merentangkan kedua tangannya sambil bersandar dikursinya. Dia merasa lelah sekali. Beberapa hari mengurusi perusahaan peninggalan kakeknya benar-benar membuatnya lelah, sangat lelah.
“Jam berapa sekarang?” tanya Sean pada pria yang berdiri itu.
“Jam 9 malam,” jawab pria itu.
“Aku lelah sekali, aku mau pulang,” ucap Sean.
“Mobil sudah saya siapkan,” kata Pria itu.
“Ya terimakasih,” jawab Sean, sambil memejamkan matanya. Tidak terasa saking sibuknya, hari sudah malam lagi, dia benar-benar merasa lelah.
Beberapa tahun terakhir dia sudah tidak pacaran dengan siapapun, karena tiap tahun dia terus menerima warisan dari kakeknya yang berupa perusahaan dan poperty, itu semua membuatnya sangat sibuk. Kenapa kakeknya kaya sekali, warisan itu sepertinya tidak pernah habis-habisnya. Sampai-sampai untuk urusan pribadi saja dia tidak sempat mengurusnya termasuk memiliki seorang istri.
Untuk sekedar pacar dia akan dengan mudah mendapatkannya, tapi karena saking banyak dan mudahnya mendapatkan pacar, perasaannya seperti bebal pada wanita, dia tidak tertarik pada wanita, Sam bahkan pernah meledeknya menyukai sesama jenis, karena tidak ada niatnya untuk pacaran lagi, entah bosan entah jenuh, entah apa.
Tapi belakangan ini perasaan hangat itu kembali muncul perlahan, hari-harinya kembali berwarna, hatinya yang beku mulai mencair sedikit sedikit. Kembali muncul di benaknya sosok wanita pemain biola itu.
Sean membuaka matanya, kenapa tiap kali menutup matanya muncul wajah gadis itu? Bukankah dia berniat mengerjai Lorena supaya jatuh cinta padanya dan akan membuatnya bingung jika memenangkan kontes itu harus menikah dengan Sam tapi jatuh cinta padanya? Tapi kenyataannya, malah sosok gadis itu sering muncul saat dia memejamkan matanya beberapa hari ini. Apa mungkin karena dia tinggal jauh dari gadis itu?
Berpisah dari gadis itu memang membuatnya merasa sepi. Tapi kalau di fikir- fikir, gadis itu sering membuatnya jengkel dan mengganggu hidupnya yang asalnya tenang jadi berantakan. Sean kembali menghela nafas panjang. Dia kembali memejamkan matanya, lelah kembali menyerang. Saat matanya terpejam, muncul lagi wajah gadis itu, diapun membukakan matanya. Matanya terasa mengantuk lagi dia pun memejamkan matanya, muncul lagi wajah Lorena di dalam benaknya.
“Kenapa wajah wanita itu selalu muncul setiap aku memejamkan mata?” keluh Sean.
“Sir, mobilnya sudah siap,” terdengar seseorang bicara dipintu.
“Ya baiklah, aku pulang sekarang,” jawab Sean, lalu beranjak dari kursinya.
Sesampainya di rumah, terasa sepi semakin mencekam. Hanya ada Mr. Velix yang menunggu kedatangannya.
Sean mendengar suara music biola samar-samra dari ruangan kamar tamu.
__ADS_1
“Seperti ada suara biola?” tanya Sean pada pak Velix.
“Itu tamunya Ny.Grace,” jawab Mr.Velix.
Sean tidak bicara lagi, dia benar-benar mengantuk dan lelah, segera diapun menuju kamarnya dan langsung berbaring di tempat tidur. Suara music biola itu masih terdengar samar-samar dari kamar tamu yang ada di ruangan yang cukup jauh dari kamarnya.
Saat mendengarkan suara music itu, dia merasa sering mendengar lagu yang dibawakan pemusic itu. Dia jadi teringat Lorena. Biasanya dia mendengarkan music biola itu saat akan tidur. Gadis itu selalu main biola sebelum tidur. Dan dia hanya bisa mendengarkannya saat akan tidur sampai terlelap.
Lambat laun, matanya semakin terasa mengantuk, akhirnya Sean pun tertidur pulas.
Lorena menghentikan permainan biolanya. Tangan dan lehernya terasa begitu pegal, diapun menyimpan biolanya di meja yang ada diruangan itu.
Lorena melihat kalender di handphonenya, sebentar lagi dia harus kembali ke tanah air untuk mengikuti lomba selanjutnya. Kenapa sekarang dia merasa ragu dengan acara kontes ini? Tapi dia tidak boleh berhenti begitu saja, perjuangannya akan sia-sia. Dia harus pulang dengan seorang pria yang akan menjadi calon suaminya.
Diapun terngingat Sam, presdir yang sangat murah hati, dia juga sangat ramah dan menyenangkan, tapi…kenapa sampai detik ini dia tidak merasakan apa-apa terhadap Presdir itu? Kenapa yang ada dibenaknya malah wajahnya Sean yang tampan itu. Kenapa baru sekarang dia menyadari sebenarnya Sean lebih tampan dari Sam, dia juga sangat berkharisma.
Tadi malam Sean pulang dari pesta itu tanpa menemuinya lagi. Tapi ah lupakanlah Sean, dia kan sedang mengikuti kontes yang nantinya akan menikah dengan Sam, bukan Sean. Seharusnya dia tidak boleh terlalu terpesona pada Sean, bagaimana nanti kalau dia jatuh cinta pada Sean? Tentu saja nanti akan bingung jika dia memenagkan kontes itu. Dia harus focus pada kontes itu. Lomba selanjutnya adalah outbond, dia benar-benar harus menyiapkan fisik. Dia tidak tahu outbodnya apa saja yang akan dilombakan. Mungkin besok pagi dia harus berolah raga, lari pagi, supaya bandannya siap mengikuti outbond itu, atau mungkin dia harus ke arena olahraga melatih fiisknya? Ah tidak, uangnya dia kumpulkan untuk menebus mobilnya.
Lorena merebahkan tubuhnya ditempat tidur dengan berbagai fikiran di benaknya, lambat laun dia terus menguap dan akhirnya tertidur.
Keesokan harinya…
Sean membuka matanya yang terasa masih ingin terpejam, tapi sudah banyak pekerjaan yang menantinya hari ini. Terdengar suara music di belakang rumahnya, seperti music senam. Sean mengerutkan keningnya. Siapa yang menyetel music senam pagi-pagi? Apakah pelayannya ada yang sedang senam pagi?
Sean bangun dari tempat tidur, meregangkan kedua tangannya lalu berjalan ke arah jendela. Dari kaca itu dia melihat ke luar. Matanya yang tadi mengantuk seketika jadi melotot, dia menggosok-gosok matanya tidak percaya dengan penglihatannya.
Apa dia tidak salah lihat? Dia kembali menggosok matanya, tapi penglihatannya tidak berubah. Apa mungkin ini mimpi, mimpi dia tinggal dirumah kontrakannya? Dilihatnya sekeliling kamarnya, ini adalah rumah ibunya di Paris, kenapa jadi seperti di rumah kontrakannya? Sean kembali melihat kearah jedela, dan penglihatannya tetap tidak berubah. Ada gadis pemain biola itu sedang senam dengan suara music di handphonenya yang diputar dengan keras.
“Lorena? Sedang apa dia di rumahku?” gumam Sean, keheranan. Kenapa tiba-tiba melihat Lorena sedang senam pagi di halaman belakang rumahnya. Seanpun segera keluar dari kamarnya, dengan langkah yang cepat dia menuruni tangga rumah itu.
“Siapa gadis itu? Kenapa gadis itu ada disini?” tanya Sean pada Mr.Velix yang bertemu dengannya di ruang tengah.
“Dia tamunya Nyonya,” jawab Mr.Velix.
“Apa? Dia tamu ibuku?” tanya Sean sangat terkejut.
Mr.Velix mengangguk.
Sean tampak kebingungan, jadi ibunya mengenal Lorena? Diapun buru-buru berlari ke halaman belakang menemui gadis itu yang sedang senam pagi, menggerak-gerakkan kedua tangannya ke kanan dan kekiri, dari bibirnya keluar hitungan angka-angka sesuai dengan suara music di handphonenya itu.
"Tu wa tu wa. tujuh delapan," bibir gadis itu terus menghitung gerakan senamnya.
*************
Readers ceritanya masih adem adem ya, soalnya ga cukup dibuat satu bab jadi dipisah padahal udah 1700 kata.
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen