Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-78 Tekadnya Sean


__ADS_3

Sore harinya Sean pulang ke rumah, dilihatnya rumahnya sangat sepi. Biasanya banyak kendaraan yang parkir di halaman tapi sekarang satu kendaraanpun tidak. Apakah les libur?


Begitu kakinya sampai pintu terdengar dentingan piano di ruang tamu, sepertinya Lorena sedang bermain piano. Sean buru-buru masuk dan dugaannya benar, Lorena sedang bermain piano. Ditatapnya gadis pujaan hatinya itu. Ada yang berbeda, sekarang Lorena main piano tidak ada yang menontonnya, entah kemana para pelayan itu, hanya ada Pak Roby yang menyambutnya.


Lorena menghentikan gerakannya saat melihat Sean berdiri menatapnya. Lalu diapun kembali memainkan pianonya tidak menghiraukan kehadiran Sean.


Melihat sikap Loena yang dingin seperti itu membuat Sean sedih. Dia segera menghampirinya dan langsung memeluk Lorena dari belakang. Lorena menghentikan permainan pianonya. Hatinya jadi sedih Sean memeluknya seperti itu.


“Aku sangat merindukanmu,” ucap Sean. Lorena tidak menjawab.


“Bagaimana kalau kita pergi keluar, terserah kau saja mau kemana, jalan-jalan ke taman atau mau menonton bioskop?” tanya Sean, sambil melepas pelukannya, memutar tubuhnya Lorena supaya menghadap kearahnya. Dia berharap dengan membawa Lorena keluar, gadis itu tidak akan murung lagi.


“Aku tidak ingin kemana-mana,” kata Lorena.


“Tidak ada yang les,” ucap Sean.


“Aku liburkan,” jawab Lorena. Lalu menatap Sean yang berdiri bersandar di pianonya. Hatinya Sean sangat sedih melihat gadisnya sangat murung.


“Aku akan pulang,” ucap Lorena tiba-tiba, membuat Sean terkejut.


“Pulang?” tanya Sean.


“Iya, tidak ada yang bisa aku lakukan disini, aku akan kembali bekerja,” jawab Lorena.


“Tidak sayang, aku tidak mau jauh darimu,” kata Sean, kedua tangannya meraih tangan Lorena.


“Ayo kita bicara,” ajaknya, membangunkan Lorena, memeluk punggungnya mengajak pindah duduknya ke sofa tamu.


Mereka duduk disofa panjang berdampingan. Sean memegang kedua tangan Lorena dengan lembut.


“Kau berhenti saja bekerja, kalau kau capek ngajar les biola ya ditutup saja sanggarnya, tidak masalah bagiku, aku akan memberikan semua kebutuhanmu tapi tolong jangan pergi jauh dariku,” kata Sean.


Lorena tampak terdiam menimbang-nimbang.


“Aku hanya ingin pulang saja, kembali pada kehidupanku yang sebenarnya,” sahut Lorena.


“Kalau kau jauh aku tidak bisa melihatmu. Pekerjaanku sangat banyak, aku tidak akan bisa menengokmu disana, kalau tinggal disini setidaknya aku bisa melihatmu pagi dan sore hari,” ucap Sean, masih menatap Lorena, dia semakin bingung bagaimana kalau Lorena tidak kembali lagi padanya?


Lorena kembali diam.


“Kau tidak sedang menghindariku kan? Sam sedang mencarikan WO yang bagus untuk kita,” lanjut Sean.


“Sepertinya itu tidak perlu,” ucap Lorena membuat Sean terkejut.


“Tidak perlu? Kenapa? Aku memang akan menikahimu,” kata Sean, hatinya semakin resah saja dan khawatir Lorena akan meninggalkannya.


“Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan rencana kita,” ucap Lorena, membuat Sean terkejut, wajahnya langsung pucat.


“Jangan! Jangan bicara seperti itu,” Sean menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sepertinya itu yang terbaik buat kita,” ucap Lorena.


“Tidak sayang, jangan bicara begitu,” Sean mencium kedua tangan Lorena.


“Aku tidak cocok untukmu, Sean,” kata Lorena lagi, membuat hati Sean merasa sedih mendengarnya. Kini Sean menempelkan jarinya ke bibirnya Lorena dan teurs menggeleng-gelengkan kepalanya supaya Lorena berhenti bicara.


“Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, bukan aku yang kau butuhkan,” ucap Lorena lagi. Sean kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku tidak mau menghancurkan hidupmu dengan menikahiku.” Lanjut Lorena.

__ADS_1


“Tidak, stop, jangan bicara seperti itu lagi,” pinta Sean.


“Tapi kenyataannya memang seperti itu, kau harus menjalankan hidupmu, aku tidak bisa menjadi wanita yang kau butuhkan,” kata Lorena, masih menatap Sean yang tampak semakin pucat saja wajahnya.


Sean langsung memeluk Lorena dengan erat.


“Jangan bicara seperti itu, kata siapa kau bukan wanita yang aku butuhkan? Aku selalu membutuhkanmu berada disisiku setiap saat,” ucapnya, sambil mencium kening Lorena.


“Kita akan tetap menikah apapun keadaannya, jangan pernah meninggalkanku, berjanjilah,” lanjut Sean, kembali mempererat pelukannya.


Terdengar handphone Sean berbunyi berulang-ulang tapi Sean tidak mengangkatnya.


“Telponmu berbunyi, kenapa tidak kau angkat?” tanya Lorena.


“Sudah biarkan saja,” jawab Sean masih memeluk Lorena.  Dering handphone itu masih saja berbunyi, lama-lama akhirnya mati. Tapi tidak berapa lama Pak Roby menghampirinya dengan handphone ditangannya.


“Pak Sean, Nyonya menelpon,” kata Pak Roby, membuat Sean melapaskan pelukannya.


Pak Roby mengulurkan handphone-nya, terpaksa Sean menerimanya.


“Kau ada dirumah kontrakan itu?” tanya Nyonya. Grace.


“Iya,” jawab Sean.


“Cepat pulang, ada yang ingin ibu bicarakan, sebentar lagi ibu ada tamu penting,” kata Ny.Grace.


“Kalau begitu nanti saja kita bicara,” ucap Sean.


“Tidak bisa ditunda lagi, kau harus pulang sekarang,” kata Ny.Grace.


Akhirnya pembicaraanpun selesai. Sean memberikan handpone itu pada Pak Roby, lalu menoleh pada Lorena yang sedang menatapnya.


“Kalau begitu pergilah,” ucap Lorena.


“Ikut denganku sekarang,” ajak Sean membuat Lorena terkejut.


“Ibumu ingin bicara denganmu bukan denganku,” kata Lorena.


“Ayo ikut saja,” ajak Sean lagi.


“Tapi…” Lorena tampak kebingungan.


“Ibumu pasti membahas soal tes itu,” lanjutnya.


“Makanya ikut denganku sekarang,” kata Sean lagi, sambil berdiri menarik tangan Lorena yang terpaksa jadi ikut berdiri.


“Ayo, temani aku menemui ibu sekarang,” kata Sean, tanpa menunggu jawaban dari Lorena, dia kembali menarik tangan Lorena mengajak keluar dari rumah itu.


“Sean, Sean!” panggil Lorena, tapi Sean tidak menghiraukannya, tetap menuntun Lorena menuju mobilnya dan membuka pintunya.


“Ayo masuklah,” kata Sean.


“Sean aku belum berganti pakaian,” ucap Lorena.


“Tidak apa-apa, kau sudah cantik,ayo,” jawab Sean sambil menutup pintu setelah Lorena masuk.


Lorena melihat pada dirinya sendiri, masa bertemu ibunya  Sean dengan pakaian santai seperti ini bahkan dia hanya menggunakan sandal rumah. Tapi Sean tidak menghiraukan protesnya, dia duduk disampingnya dan menjalankan mobilnya, menuju rumah orangtuanya.


Sepanjang jalan, sesekali tangan pria itu memegang tangan Lorena, lalu ke stir lagi, lalu memegang tanganya lagi, membuat Lorena ingin tertawa.

__ADS_1


“Kau focus saja menyetir,” ucap Lorena. Sean hanya tersenyum.


Sekitar satu jam kemudian mereka sampai dirumahnya Sean. Lorena menatap rumah mewah bercat putih itu. Ternyata rumahnya Sean yang sebenarnya sangat besar dan megah, ini pertama kalinya dia menginjakkan kekinya dirumah Sean. Meskipun begitu ternyata Sean masih mau tinggal dirumah kontrakan yang meskipun masih termasuk golongan rumah mewah tapi sangat jauh dibandingkan dengan rumahnya ini.


“Ayo sayang,” ajak Sean, membuka pintu mobilnya, Lorenapun turun , dia melihat kakinya yang hanya bersandal rumahan yang teplek.


“Tidak apa-apa aku bertemu ibumu dengan pakaian seperti ini? Ini sangat tidak sopan,” keluh Lorena.


“Sudah jangan memikirkan itu, ayo ikut,” ajak Sean, malah menarik tangan Lorena masuk kedalam rumahnya. Sean membawa Lorena langung menuju ruang kerjanya. Disana ada ibunya sedang duduk dikursi kerjanya mengerjakan sesuatu.


Ny.Grace terkejut saat melihat kedatangan Sean yang tiba –tiba dan melihat Lorena yang hanya memakai baju santai dan bersandal.


Lorena langsung menempelkan tubuhnya ke belakang Sean, dia merasa tidak nyaman dengan penampilannya sekarang, bahkan rembutnya sedikit acak-acakan.


“Aku datang,” kata Sean, menatap ibunya. Ny. Grace menatap tangan Sean yang memegang tanganya Lorena, lalu melihat Lorena yang berpenampilan seperti itu.


“Sore Nyonya, maaf aku tidak sempat merapihan diri, Sean buru-buru mengajakku kesini,” kata Lorena merasa tidak enak dengan tatapannya Ny.Grace.


“Sudah tidak apa-apa, ayo duduklah,” yang menjawab malah Sean, dia kembali menuntun Lorena supaya duduk disofa disampingnya, Tangannya sama sekali tidak melepaskan tangannya Lorena. Lorena mencoba melepasan tangannya kerena merasa malu di depan ibunya Sean terus terusan berpegangan tangan.


Ny. Grace bangun dari duduknya, menghampiri mereka, lalu duduk disofa terpisah.


Belum juga Ny.Grace bicara, Sean malah bicara duluan.


“Sebelum ibu bicara, aku akan bicara duluan,” kata sean.


Ny.Grace mengerutkan keningnya menatap Sean.


“Kau mau bicara apa?” tanya Ny.Grace.


“Aku akan menemui orangtua Lorena besok, kalau orang tuanya berada di London, aku dan Lorena akan ke London,” jawab Sean. Bukan hanya Ny.Grace yang terkejut Lorena juga, dia tidak menyangka Sean akan menemui orang tuanya secepatnya, diapun menatap Sean yang sedang menatap ibunya.


“Kau akan ke London?” tanya Ny.Grace.


“ Iya, aku akan melamar Lorena langsung seorang diri,” jawab Sean.


“Kau serius apa yang sedang kau katakan? Bahkan kita belum bicara,” kata Ny.Grace, merasa tidak suka dengan sikapnya Sean.


“Aku sudah tahu apa yang ingin ibu katakan, aku akan tetap dengan pendirianku, aku tidak akan mundur, aku akan menikahi Lorena secepatnya, aku akan ke London besok,” ucap Sean.


“Kau harus memikirkan hal lainnya,” kata Ny.Grace.


“Aku sudah memikirkan masak-masak, aku akan tetap menikahi Lorena,” jawab Sean, dengan mantap, membuat Lorena terharu mendengarnya, dia menatap pria yang duduk di dekatnya itu.


“Tapi..”Ny.Grace belum bicara, Sean sudah memotong lagi.


“Aku ke London besok, aku akan melamar Lorena, ibu hanya tinggal merestuiku saja,” kata Sean.


“Sean…” panggil Ny.Grace. Putranya itu malah duduk menghadap Lorena.


 Tangannya menyentuh kepalanya Lorena.


“Kau jangan khawatir aku akan tetap menikahimu apapun yang terjadi, aku sangat mencintaimu,” kata Sean, menatap wajahnya Lorena lekat lekat begitu juga dengan Lorena. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa di ucapkannya, Lorena bisa melihat keseriusan dimatanya Sean. Pia itu benar-benar ingin menikahinya, membuatnya sangat terharu.


Merekapun saling bertatapan. Tangan Sean menyentuh pipinya Lorena dengan lembut, perlahan menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya pada wajah Lorena dan akan mencium bibirnya,


tapi gerakannya terhenti saat ada yang berdehem.


“Ehm! Ehm!” Ny.Grace berdehem menghentikan gerakannya Sean, tidak jadi mencium Lorena.

__ADS_1


***********


__ADS_2