
Di rumah sakit khusus napi…
Nisa dan ibunya berlari-lari di lorong rumah sakit itu, mereka memasuki sebuah ruang perawatan. Disana terbaring tubuh Pak Tedi yang terkulai tak berdaya dengan banyak alat bantu ditubuhnya.
“Dokter! Apa yang terjadi pada ayahku sampai meninggal?” tanya Nisa pada Dokter dan dua perawat yang sedang memasang alat-alat.
Ibunya langsung berhambur memeluk tubuh Pak Tedi dan menangis.
“Siapa yang telah membunuh ayahku?” tanya Nisa sambil terisak.
“Ayah anda bukan meninggal, tapi koma,” jawab Dokter, membuat Nia berhenti menangis dan menatap Dokter, begitu juga dengan ibunya terkejut dengan jawaban Dokter.
“Apa? Bukan meninggal? Tapi kami dapat kabar dari LP katanya ayahku meninggal?” tanya Nisa, dengan hati yang merasa lega, ternyata ayahnya masih hidup.
“Sipir mengira meninggal, tapi bukan meninggal yang sebenarnya adalah koma kaeena mendapat benturan dikepalanya yang cukup keras,” jawab Dokter lagi.
“Jadi suami saya belum meninggal Dok?” tanya Ibunya Nisa, menoleh pada Dokter dengan deraian airmata dipipinya.
“Tidak, tapi koma,” jawab Dokter.
“Kira-kira kapan sadarnya Dok?” tanya Nisa.
“Belum bisa dipastikan, hanya saja walaupun sadar pasien akan mengalami kelumpuhan hampir diseluruh tubuhnya,” jawab Dokter membuat semua terkejut. Ibunya Nisa kembali menangis dan memeluk tubuh Pak tedi.
“Lumpuh? Jadi meskipun sadar ayahku akan lumpuh?” tanya Nisa.
“Benar, karena banyak syarap yang rusak, hampir di seluruh tubuhnya mengalami patah tulang,” jawab Dokter lagi.
Mendengar jawaban dari Dokter membuat Nisa merasa sedih dan lesu, kondisi ayahnya seperti ini akan membuat keadaan keluarganya morat-marit.
“Masa koma bisa sehari dua hari bisa juga berbulan-bulan ada juga yang tahunan jadi keluarga pasien bersabar saja. Saya permisi dulu,” kata Dokter sambil meningglkaan ruangan itu bersama perawat.
Ibunya Nisa menoleh pada Nisa sambil menghapus airmatanya.
“Ayahmu lumpuh, kita butuh banyak uang untuk pengobatannya,” kata ibunya Nisa.
“Kita sudah miskin Bu, tidak ada uang untuk merawat ayah,” jawab Nisa.
“Tapi kita tetap harus merawatnya, tidak mungkin ayahmu dibiarkan seperti ini,” kata ibunya. Nisa tidak menjawab.
“Kau harus menerima lamarannya Brian,” kata ibunya.
“Brian? Ibu tidak salah bicara? Aku tidak menyukai Brian Bu, aku tidak menyukainya!” jawab Nisa.
“Tapi kita butuh uangnya untuk pengobatan ayahmu! Kau harus mau menikah dengannya,” kata ibunya.
“Dia itu pria yang menyebalkan Bu! Dia sok kaya dan banyak pacar, dia melamarku karena aku selalu menolaknya. Dia akan mencampakkanku kalau sudah bosan, ” ucap Nisa.
“Memangnya kau mau jatuh misin?” tanya Ibunya.
“Kita sudah jatuh miskin sekarang Bu, uang kita habis untuk membayar pengacara-pengacara tapi tidak becus mengeluarkan ayah dari penjara,” jawab Nisa
“Makanya mau tidak mau kau harus menikah dengan Brian, butiq ibu juga sudah hancur karena nama baik kita yang tercoreng,” kata ibunya.
Nisa terduduk lesu di sofa, menatap ayahnya yang terkulai di tempat tidur pasien itu. Dalam hatinya sepertinya ayahnya lebih baik mati tidak perlu mengeluarkan biaya lagi, daripada hidup tapi membebaninya.
Ibunya kembali menatap Nisa.
“Ibu akan menelpon Brian untuk membicarakan pernikahanmu dengannya,” ucap ibunya.
Nisa tidak membantah lagi, benar kata ibunya, kalau dia tidak mau jatuh miskin dia harus menikah dengan pria kaya meskipun pria itu bukan pria yang baik.
**************
Beberapa bulan kemudian…
Sean sedang berada di kantornya saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
“Masuk!” jawab Sean. Seseorang masuk ke ruangan itu.
“Sam!” seru Sean saat melihat pria itu datang.
“Kau sudah kembali dari bulan madu?” Tanya Sean.
Sam mengangguk dan menghampiri Sean yang menyandarkan punggungnya ke kursinya, menatap temannya itu sambi tersenyum.
__ADS_1
“Seharusnya kau masih cuti kan?” tanya Sean.
“Buat apa berlama-lama, aku bosan mengantar Indri berbelanja, dia suka sekali belanja,” keluh Sam sambil duduk di kursi depan mejanya Sean, membaut Sean tertawa mendengarnya.
“Ya perempuan memang begitu kan?” kata Sean.
“Yang membuatku bosan adalah, dia sangat suka menawar jika belanja, cerewetnya minta ampun. Membeli satu barang saja sangat lama, aku menunggunya mati kutu!” keluh Sam lagi, membuat Sean tertawa.
“Ya kalau tidak diantar olehmu dia mau sama siapa? Tentu saja suaminya yang harus mengantarnya kan?” kata Sean. Sam tidak menjawab lagi.
Sean mengambil sesuatu dalam laci mejanya dan menyodorkan sebuah berkas ke depan Sam.
“Apa ini?” tanya Sam.
“Itu adalah surat-surat perusaahaan yang aku berikan padamu,” jawab Sean.
“Kau serius?” tanya Sam, sambil membuka map itu.
“Iya, sudah balik nama atas namamu. Aku sudah berjanji padamu, aku akan memberikannya jika kau sudah menikah dengan Indri,” jawab Sean.
Sam membaca surat-surat penting yang ada di map itu, dia tidak menyangka kalau Sean benar-benar memberikan sebuah perusahaan besar padanya.
“Aku minta kau menjaga perusahaan itu dengan baik, seperti kau menjagaku selama ini,” kata Sean, membuat Sam menatap Sean.
“Kau tidak sedang memecatku kan?” tanya Sam.
“Tentu saja aku memecatmu. Kau seorang Presdir sekarang, kau tidak harus jadi asistenku lagi, kau akan sangat sibuk,” jawab Sean.
Sam tidak bisa berkata-kata lagi, dia tidak menyangka kalau Sean benar-benar memberikan salah satu perusahaannya padanya.
“Belilah rumah yang bagus buat kau dan Indri, kau juga berhak bahagia,” kata Sean menatap Sam yang juga menatapnya.
“Tapi kita tetap bisa sering bertemu kan?” tanya Sam.
“Tentu saja, kita akan menjadi rekan bisnis sekarang,” jawab Sean.
“Terima kasih Sean,” ucap Sam dengan harunya, menatap temannya itu.
“Kau adalah satu-satunya teman terbaikku, aku akan selalu membutuhkanmu,” ujar Sean.
Sam mengangguk sambil tersenyum.
“Kau membuatku ingin menangis, Sean,” jawab Sam.
“Menangislah,” jawab Sean, membuat Sam tertawa.
Terdengar suara kaki-kaki melangkah mendekati ruang itu. Sean dan Sam menoleh kearah pintu yang terbuka.
Muncullah Lorena yang sedang menggendong Earlangga bersama Indri dan Neny juga.
“Sayang, ini waktunya makan siang,” kata Lorena, sambil berjalan mendekati suaminya.
Sean melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 12.
“Kita makan di es kelapa si cantik?” tanya Sam.
“Iya, gratis! Lorena yang traktir!” seru Indri sambil tertawa.
Sean langsung berdiri, mengulurkan tangannya mengambil Earlangga dari Lorena.
“Kapan Earlangga ulang tahun?” tanya Sean sambil mencium putranya itu.
“Dia belum satu tahun, beberapa bulan lagi,” jawab Lorena. Kini Sean mencium pipi istrinya.
“Kalian terlihat bahagia sekali, aku jadi iri, kapan aku punya bayi juga ya?” kata Indri sambil menyentuh perutnya yang rata.
Tiba-tiba sebuah ciuman mendarat dipipinya, Sam menciumnya.
“Segera!” ucap Sam sambil memeluknya.
“Tapi kita harus punya rumah dulu, aku tidak mau punya anak sebelum punya rumah,” kata Indri.
“Kau tinggal milih saja mau beli dimana,” jawab Sam.
“Aku mau rumah mewah,” jawab Indri.
__ADS_1
“Belilah, carilah rumah yang kau suka,” kata Sam.
“Ah kau sok kaya,” keluh Indri, sambil mengusap pipi suaminya.
“Aku sierus, carilah rumah yang kau suka,” jawab Sam, membuat Indri menatapnya.
“Bagaimana kalau aku ingin rumah mewah di daerah elit?” tanya Indri.
“Belilah,” jawab Sam.
"Memangnya kau punya uang banyak untuk membeli rumah mewah?” tanya Indri.
“Tentu saja,” jawab Sam, membuat Indri keheranan.
“Aku hanya bercanda, aku tidak mau memberatkanmu, kita akan membeli rumah sesuai dengan keuangan kita,” jawab Indri, balas memeluk Sam.
“Tidak apa-apa, ini sesuai dengan keuangan kita,” kata Sam, membuat Indri semakin tidak mengerti.
“Kau dapat uang banyak darimana? Kau merampok?” tanya Indri.
“Sean sudah memberikan salah satu perusahaannya padaku. Aku resmi jadi Presdir sekarang. Uangku lebih dari cukup untuk membeli rumah mewah dan mobil mewah,” jawab Sam.
“Kau Serius?” tanya Indri, membelalakkan matanya tidak percaya.
“Iya,” jawab Sam.
“Aku senang sekali. Terimakasih Presdir Sean,” seru Indri sambil menoleh pada Sean.
“Sam berhak mendapatkannya,” jawab Sean.
“Selamat ya Presdir Sam,” kata Lorena pada Sam sambil tersenyum.
“Terima kasih,” jawab Sam.
“Kau sudah tidak jadi asisten lagi sekarang?” tanya Lorena.
“Tidak, aku harus mengurus perusahaanku yang baru,” jawab Sam.
“Sering-seringlah mengunjungi Sean, dia akan sangat merindukanmu, dia pasti kesepian,” kata Lorena.
“Tidak, Sean sudah tidak membutuhkanku lagi, karena ada kau dan Earlangga yang akan menemaninya,” jawab Sam.
“Kau benar, aku tidak akan kesepian lagi, ada istri dan anakku yang selalu menemaniku,” kata Sean, sambil mencium pipi istrinya. Lorena melirik suaminya dan mengusap pipinya.
“Ayo kita berangkat, kalian pasti lapar, aku punya menu baru di restoku,” jawab Lorena.
“Benarkah?” tanya Sam.
“Iya, sekarang sudah banyak sekali variannya, kau dan Indri bisa makan sepuasnya,” kata Lorena.
“Aku akan makan yang banyak!”seru Indri.
“Jangan, nanti kau gemuk!” larang Sam.
“Tidak, aku tidak akan gemuk, sayang makanan enak dilewatkan,” jawab Indri, sambil menarik tangan Sam keluar dari ruangan itu.
Lorena menoleh pada Sean, menatap suaminya itu sambil tersenyum. Sean juga balas menatapnya.
“Ayo, kau juga lapar kan?” tanya Lorena.
“Iya, tapi aku ingin makan disana sambil diiringi music biola aku sudah rindu melihatmu tampil,” jawab Sean.
“Iya, aku akan bermain biola khusus untukmu dan putra kita,” jawab Lorena, sambil mencubit pipinya Earlangga.
Sean mendekatkan wajahnya dan mencium bibir istrinya dengan lembut, dia begitu menyayangi istrinya.
“Aku mencintaimu,” ucap Sean, sambil melepas ciumannya.
“Aku juga,” jawab Lorena, tersenyum pada suaminya.
“Ayo, Indri dan Sam sudah menunggu,” ajak Lorena sambil memeluk pinggang suaminya yang menggendong Earlangga. Sean hanya mengangguk, merekapun meninggalkan ruangan itu.
THE END
*************
__ADS_1