
Earlangga memeluk bayi itu dengan hati yang hancur, dia merasa menyesal tidak selalu berada disamping Valerie disaat dia berada dalam masa masa akan melahirkan. Dia menyesal sudah berangkat bekerja tadi. Dia sangat menyesal hingga terlambat menolongnya. Dia merasa menjadi suami dan ayah yang gagal.
Earlangga pergi keruang perawatannya Valerie dengan membawa bayi dalam gendongannya. Dilihatnya istrinya itu tergeletak lemah diatas tempat tidur.
“Sayang, aku minta maaf,” ucap Earlangga, duduk dikursi didekat tempat tidur pasien. Tangannya mengusap wajahnya Valerie, lalu mengusap bayi yang sedang digendongnya.
Diapun menelpon kepada orang tuanya.
“Apa Earl? Bayinya meninggal?” tanya Lorena seketika lemas mendengarnya, matanya langsung berkaca-kaca menatap Sean yang sedang duduk diruang kerjanya, kebetulan hari ini Sean memilih bekerja di rumah dan Lorena sedang menemaninya.
“Ada apa sayang?” tanya Sean.
“Bayi Earl meninggal,” jawab Lorena, membuat Sean terkejut.
Diapun segera turun dari kursinya lalu mengambil ponsel ditangan istrinya.
“Halo Earl!” panggil Sean.
“Aku minta maaf yah , bayinya meninggal, Valerie masih belum bangun, dia mengalami pendarahan,” kata Earlangga dengan suara yang berat.
Sean tidak bisa bicara apa-apa lagi, dilihatnya istrinya sedang menangis.
“Sayang, kita ke London sekarang,” ajak Lorena.
“Baiklah, kita segera kesana,” jawab Sean.
Diapun keluar dari ruang kerjanya dan menuju ruang kerja ibunya.
“Masuk!” terdengar suara Ny.Grace di dalam.
Sean masuk ke ruangan itu dan menatap ibunya.
“Ada apa?” tanya Ny.Grace.
“Bayinya ..” jawab Sean.
“Bayi apa?” tanya Ny.Grace keheranan.
“Bayi Earlangga meninggal,” jawab Sean.
“Apa? Meninggal?” tanya Ny.Grace menatap Sean.
“Kita akan segera pergi ke London,” jawab Sean.
“Apa Ibu mau ikut?” ajak Sean, kemudian.
“Tentu saja,” jawab Ny.Grace.
**********
Satu jam kemudian Valerie sudah mulai ada pergerakann, kepalanya masih terasa pusing dan tubuhnya terasa lemas. Dia memegang kepalanya yang pusing.
“Sayang, sayang!” terdengar suara seorang pria.
Valerie membuka matanya perlahan, dilihatnya wajah Earlangga yang sedang menatapnya.
“Earl!” panggilnya.
“Iya sayang, kau sudah sadar?” tanya Ealrangga.
Valerie menatap Earlangga, dilihatnya didalam ruangan itu ada Carrie dan Julian, kakek dan neneknya Earlangga.
“Ini ada kakek dan nenekku,” kata Earlangga.
Valerie menatap mereka, dia merasa heran karena mereka tidak ada yang memberinya selamat, bahkan neneknya Earlaangga tampak seperti sudah menangis. Valeriepun menoleh pada Earlangga.
“Aku sudah melahirkan, bayinya laki-laki,” ucap Valerie sambil tersenyum, dia bahagia meskipun badannya terasa begitu letih.
Earlangga terdiam mendengarnya.
Valerie menoleh kearah ranjang bayi.
“Aku ingin melihat bayinya, apa kau bisa membawanya padaku?” tanya Valerie.
Earlangga bingung harus bicara apa.
“Earl, aku ingin melihat bayi kita, dia pasti sangat lucu,” ucap Valerie, sumringah.
Earlangga berjalan menuju box bayi. Digendongnya bayi yang sudah tertidur itu. Tangannya terasa gemetar saat memberikan bayi itu pada Valerie.
__ADS_1
Valerie memeluk bayi itu dengan bahagia.
“Dia sangat tampan,” ucapnya, sambil menciumnya dan menyentuh pipinya.
Earlangga menatapnya dengan menahan tangis yang sepertinya ingin meledak.
“Dia sangat lucu kan Earl,” ucap Valerie menatap Earlangga.
“Kau sudah menyiapkan namanya kan,” lanjut Valerie.
“Namanya Jordan Eamnuel,” jawab Earlangga.
“Jordan,” gumam Valerie, kembali mengusap bayinya.
Carrie yang melihat itu sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, tangisnyapun tumpah. Melihat sikap neneknya Earlangga begitu, Valerie jadi heran.
“Grandma, kenapa grandma menangis?” tanyanya. Carrie tidak menjawab dia hanya menangis dipelukan suaminya.
Valerie menoleh padaa Earlangga yang juga tampak matanya merah berkaca-kaca.
Valerie semakin heran dengan sikap mereka, diapun menoleh pada bayinya. Bayinya hanya diam saja tertidur tenang dipelukannya.
“Sayang,” panggil Valerie, menyenuh pipi bayi itu.
“Kau tidur terus sayang,” ucapnya, lama kelamaan dia mulai merasakan keanehan karena tidak ada pergerakan sedikitpun dari bayi itu.
“Sayang,” panggil Valerie, menyentuh pipi bayinya itu yang terasa mulai dingin.
“Sayang, Earl, Earl!” teriak Valerie, matanya langsung tergenang air mata.
“Earl!” panggilnya pada Earlanga yang masih berdiri menunduk.
Valerie melihat lagi pada bayinya.
“Earl! Bayinya!” ucapnya dengan bibir yang bergetar.
“Earl bayinya!” teriak Valerie, lalu menoleh lagi pada Earlangga.
“Bayinya kenapa tidak bergerak, Earl?” tanya Valerie, sudah mulai panic.
Earlangga masih tidak bisa berkata, airmata menetess dipipinya yang segera dihapusnya, semikin membuat Valerie cemas
“Sayang, sayang, kenapa kau diam saaja? Kau tidak menangis,” ucapnya dengan panik.
“Sayang sayang!” teriaknya.
“Tidak, Earl, kenapa bayiku Earl?” teriak Valerie, histeris, airmata sudah mulai menetes dipipinya, hal buruk sudah diduganya.
“Sayang, bayi kita sudah meninggal,” jawab Earlangga membuat Valerie semakin histeris.
“Tidak, bayiku baik- baik saja! Aku mendengar dia menangis! Aku mendengar dia menangis!” teriak Valerie.
“Sayang, kau harus bersabar sayang,” ucap Earlangga.
Valerie memeluk bayi itu dan menciumnya sambil terus menangis.
“Nak, bangun Nak, Ibu mendengar kau menangis, kau baik-baik saja,” ucapnya.
“Bayi ikita keracunan air ketuban dan tidak bisa terselamatkan, relakan dia,” ucap Earlangga sambil duduk dipingir tempat tidur.
Valerie tidak mendengarkan apa yang dikatakan Earlangga, dia terus menangisi bayinya, memeluknya, menciumnya.
Hingga beberapa waktu kemudian…
“Sayang, bayinya harus dimakamkan,” kata Earlangga, setelah Valerie terlihat mulai tenang.
Valerie menatap Earlangga.
“Bayinya harus dimakamkan,” kata Earlangga lagi.
Valerie menatap Earlangga yang berdiri didekatnya. Earlangga langsung memeluknya yang masih memeluk bayi itu. Valerie bersandar di dadanya Earlangga sambil dengan airmata yang tidak habis habisnya tumpah. Dia sangat sedih, begitu sedih.
“Bayiku tadi menangis Earl,” ucap Valerie, menatap Earlangga dengan tatap nanar dan putus asa.
“Iya sayang, tadi dia menangis,” jawab Earlangga, sambil mencium keningnya Valerie.
Dia juga melihat pada bayi itu, dia sangat sedih, dia menyayangi keduanya.
“Kalau bayinya kau peluk terus, kasihan dia, dia harus dimakamkan,” ucap Earlangga dengan pelan.
__ADS_1
Valerie menatap bayi itu mengusapnya berkali-kali, lalu menangis lagi, membuat Earlangga bingung dan menoleh pada kakek neneknya.
“Bayinya harus segera diurus pemakanannya sayang,” kata Julian.
Earlangga kembali memeluk Valerie.
“Ayah dan ibumu sedang di perjalanan kemari?” tanya Carrie.
“Iya,” jawab Earlangga.
Earlangga kembali menoleh pada Valerie. Dibiarkannya lagi Valerie seperti itu sampai tangisnya reda.
“Sayang, bayinya harus dikuburkan,” ucap Earlangga.
“Aku ikut pulang,” jawab Valerie.
Earlangga terdiam dia harus bertanya dulu pada Dokter apakah Valerie bisa dibawa pulang sekarang? Sedangkan dia mengalami pendarahan.
“Sayang sepertinya Dokter akan keberatan,” kata Earlangga.
Valerie menggelengkan kepalanya.
“Aku ingin melihat kepergian bayiku,” ucapnya menatap Earlangga penuh permohonan.
“Baiklah, aku akan bicara pada Dokter,” jawab Earlangga.
Akhirnya dengan perdebatan yang alot dengan Dokter, Earlangga membawa Valerie pulang ke rumah dengan bayinya untuk mengurus pemakanmannya.
Sepasang mata di sebuah kendaraan disebrang rumah itu tampak berhenti dengan lama. Dia memperhatikan kegiatan ramai ramai dirumah itu. Dilihatnya kalender yang ada di dalam ponselnya. Beberapa hari lagi wanita hamil itu akan melahirkan tapi sekarang sudah banyak orang, ada acara apa?
Dengan sabar dia menunggu dan menunggu, ada pergerakan apa lagi disana. Dia tertegun saat bunga-bunga berdatangan mengucapkan berduka cita atas seseorang yang tidak dikenalnya.
“Ada apa ini?” gumamnya, membuatnya merasa keheranan karena nama itu tidak dikenalnya, Jordan Emanuel.
Pria itu segera keluar dari mobilnya dan berjalan menuju gerbang dan menghampiri satpam.
“Siapa yang meninggal?” tanyanya sambil menutupkan topi ke wajahnya.
“Bayinya Pak Earlangga, kau siapa?” tanya satpam.
“Aku kurir bunga, menunggu temanku didalam sana,” jawab pria itu.
Satpam mengangguk lalu menyambut lagi pengiriman bunga yang datang.
****
Hari ini adalah hari yang sangat berat buat Valerie. Dengan tubuhnya yang letih yang seharusnya harus beristirahat, dengan infusan masih dibawanya. Dia menatap bayinya dimakamkan hari itu juga. Sean dan Lorena juga Ny.Grace belum sampai di London karena perjalanan yang jauh.
Valerie terus menangis sambil duduk di kursi roda. Ucapan bela sungkawa dan duka cita sama sekali tidak membuatnya semangat, justru dia merasa begitu drop dan terpukul.
Dia terus saja menangis.
Earlangga berjongkok menatap Valerie.
“Jangan menangis terus,” kata Earlangga.
“Aku merasa bersalah Earl, dulu aku pernah menginginkan kepergiannya, dulu aku pernah ingin menggugurkannya, dan sekarang semua yang kuinginkan itu terlaksana, aku kehilangan bayiku. Aku merasa menyesal pernah menginginkan itu semua. Aku menyayangi bayiku,” ucap Valerie.
Earlangga berdiri dan kembali memeluknya, dia paham kenapa Valerie pernah menginginkan menggugurkannya. Siapa yang tidak akan merasa linglung kalau hamil oleh pria yang tidak dikenalnya? Sungguh perjalanan yang sangat berat buat Valerie.
“Aku merasa jadi ibu yang buruk,” ucap Valerie.
“Aku juga sayang, aku minta maaf tidak menjadi ayah dan suami yang baik untuku dan bayi kita,” ucap Earlangga.
“Ayah dan Ibu sedang diperjalanan, tidak bisa melihat bayi kita,” kata Earlangga.
Valerie kembali menatap makam dengan bunga bunganya yang segar, hatinya kembali sedih dan sakit, telah kehilangan buah hatinya.
Earlangga mendorong kursi roda menjauh dari makan itu. Valerie terus menoleh kearah makam itu, hatinya tidak rela bayinya meninggal.
“Dia meninggal Earl, bayi kita meninggal,” ucap Valerie, dengan airmata kembali menitik dipipinya.
“Iya sayang, kau bersabar ya,” ucap Earlangga.
“Tapi aku mendengar Jordan menangis,” kata Valerie lagi.
“Iya sayang, dia menangis,” ucap Earlangga, tidak mau banyak berdebat.
Merekapun meninggalkan pemakaman itu.
__ADS_1
**************