Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-49 Undangan Pesta topeng


__ADS_3

“Setelah minum obat, kau istirahat, kata Dokter kau kecapaean dan makanmu juga harus dijaga,” kata Lorena, sambil menyimpan gelas keatas meja yang ada disamping tempat tidur.


Sean menatap gadis yang ada di depannya itu.


“Terimakasih,” ucapnya. Sebenarnya saat mengatakannya dia ingin menambahkan kata-katanya dengan aku mencintaimu atau sejenisnya, tapi kata itu hanya bisa diucapkan didalam hatinya saja.


Terdengar langkah suara sepatu wanita mendekati ruangan itu.


“Halo!” seru sebuah suara perempuan, kepalanya melongkok ke dalam kamar yang pintunya terbuka.


Sean dan Lorena menoleh kearah suara, ternyata Laura.


Laura langsung tersenyum melihat mereka menatapnya. Lalu tatapannya terhenti pada Sean yang duduk bersandar disandaran tempat tidur dengan sebagian tubuhnya diselimut.


“Aku dengar dari Pak Firman, kau sakit. Aku turut prihatin,” kata Laura.


“Terimakasih,” jawab Sean. Melihat sikap Laura yang terus-terusan menatap Sean membuat Lorena kesal.


“Ada apa kau kemari? Kau tidak bekerja?” tanya Lorena.


“Sekarang kan hari minggu,” jawab Laura.


Sean baru sadar hari ini hari minggu. Dia meliburkan Pak Deni dan karyawannya karena mau mengajar Lorena berlatih outbond dan nge gym, tapi ternyata memang sebenarnya hari libur, saking sibuknya dia tidak bisa membedakan hari libur atau hari kerja semuanya sama untuk bekerja.


“Ini ada undangan pesta topeng nanti malam,” kata Laura mengurulrkan sebuah undangan  pada Lorena.


“Pesta topeng?” tanya Lorena.


“Iya, pesta topeng, kita jangan melewatkan acara itu, kita bisa berkenalan dengan pria tampan yang mungkin akan menjadi jodohmu,” kata Laura.


Mendengar perkataan Laura, sontak saja membuat Sean gelisah. Jadi Lorena mendapat undangan pesta topeng nanti malam? Bagaimana kalau di pesta itu dia bertemu dengan seorang pria tampan bertopeng yang memikat hati Lorena? Tidak, dia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Tapi apa yang bisa dilakukannya, dia sedang sakit sekarang.


Lorena membaca undangan pesta topeng itu.


“Vera yang menyelenggarakannya?” tanya Lorena.


“Iya, kau tahu kan dia sebenarnya ingin memperkenalkanmu dengan sepupunya, siapa tahu nanti malam sepupunya datang, Aku yakin dia adalah seorang pria tampan yang akan mengajakmu berdansa nanti malam, huuu sangat romantis sekali,” kata Laura, dia langsung saja membayangkan seorang pria tampan bertopeng dipesta nanti malam yang akan mengajaknya berdansa.


Mendengar perkataan Laura, hati Sean langsung saja merasa cemburu, jadi Vera mau mengenalkan saudaranya pada Lorena di pesta topeng nanti malam? Tidak, tidak seorang priapun yang boleh mendekati Lorena. Dia sudah melangkah sejauh ini dan dia tidak akan mundur dengan mudah, dia akan menghadapi siapaun pria yang mencoba mendekati Lorena.


Lorena menoleh pada Laura.


“Aku tidak punya topeng baru,” kata Lorena.


“Kalau begitu, ayo kita beli topeng baru,” usul Laura.


“Baiklah,” Lorena mengangguk, lalu dia menoleh kearah Sean yang ada didepannya, karena Lorena masih duduk dipinggir tempat tidur disamping kakinya Sean.


“Kau istirahatlah, aku akan keluar sebentar dengan Laura, kalau ada apa-apa kau minta tolong pada Pak Firman, nanti aku bicara pada Pak Firman supaya menugaskan pelayan untuk menjagamu,” kata Lorena.


Sean menatap gadis itu, dalam hatinya dia ingin mencegah Lorena supaya tidak pergi membeli topeng buat ke pesta itu, dia tidak mau Lorena pergi ke pesta topeng dan bertemu pria saudaranya Vera itu. Tapi apa alasan yang bisa dia ucapkan untuk mencegahnya?  Akhirnya Sean hanya mengangguk saja.


Lorena keluar dari kamar itu, diikuti Laura. Saat dipintu Laura sempat melirik Sean sekali lagi, dia bisa melihat kalau pria itu masih menatap Lorena sampai menghilang. Tapi Laura tidak bicara apa-apa, dia mengikuti langkahnya Lorena. Kalau tidak salah penilaiannya, dia menilai kalau Sean itu menyukai Lorena, tapi sepertinya Lorena masih menjaga jarak, karena traumanya ditinggal kekasihnya dulu.


Sean melirik kartu undangan pesta topeng yang Lorena simpan diatas meja tadi. Diapun meraihnya dan membukanya. Disana tercantum nama alamat tempat pesta itu.


Seanpun mengambil handphonenya yang juga ada diatas meja, dia menelpon Pak Deni.


“Bagaimana keadaanmu? Apa kau lebih baik?” tanya Pak Deni, dia masih meras khawatir dengan keadaan Sean karena pria muda itu sakit dan tidak ada yang mengurus.


“Aku sudah lebih baik,” jawab Sean.


“Apa aku perlu menyuruh orang untuk merawatmu?” tanya Pak Deni.


“Tidak, tidak usah, Lorena akan merawatku,” jawab Sean. Tentu saja dia lebih ingin Lorena yang merawatnya daripada perawat rumahsakit.


“Aku butuh bantuamu,” kata Sean selanjutnya.


“Apa?”tanya Pak Deni.


“Carikan tempat menjual topeng buat ke pesta,” kata Sean.


“Topeng? Topeng apa?”tanya Pak Deni tidak mengerti.


“Topeng yang biasa digunakan ke pesta, kau ke toko itu dan fotokan topeng terbaik untukku,” kata Sean.


“Untukmu? Apa maksudmu untukmu?” tanya Pak Deni kaget.


“Aku akan ke pesta nanti malam pukul 7,” jawab Sean.


“Ke pesta topeng? Tidak, tidak, kau sedang sakit, kau harus istirahat, kau harus menjaga kesehatanmu,” larang Pak Deni, dia tidak habis fikir dengan kondisi sakit Sean akan pergi ke pesta topeng segala.


“Kalau kau khawatir, kau suruh orang saja untuk menjagaku di pesta, untuk jaga-jaga kalau terjadi apa-apa padaku,” ucap Sean. Dia sudah menebak pasti Pak Deni akan melarangnya. Pria tua itu sudah seperti ayahnya sendiri, kadang sangat begitu cerewet mengaturnya, tapi  dia tahu Pak Deni melakukannya karena menyaynginya.


“Tentu saja aku akan menyuruh dua orang untuk mengikutiku. Kau kirimkan saja alamatnya,” kata Pak Deni.

__ADS_1


“Baik nanti aku kirimkan alamatnya,” ucap Sean.


“Tapi apa tidak sebaiknya kau istirahat saja dirumah?” tanya Pak Deni.


“Aku akan tambah sakit kalau aku tidak pergi ke pesta topeng itu,” jawab Sean.


Pak Deni hanya menghela nafas panjang, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau Sean sudah bersikukuh seperti itu. Akhirnya diapun searching lokasi toko yang menjual topeng untuk ke pesta.


Sean menutup handphonennya sambil tesenyum lega, meskipun dia sakit, dia harus datang ke pesta itu. Dia harus mencegah jangan sampai Lorena berkenalan dengan sepupunya Vera. Setelah minum obat tadi dia harus istirahat sambil menunggu Pak Deni mengabari model-model topengnya.


Lorena dan Laura sedang berada di mall, ada sebuah toko yang menjual alat-alat pesta termasuk menjual topeng topeng, dari yang topeng lucu sampai yang menyeramkan juga ada. Biasanya topeng topeng itu digunakan untuk acara parade atau karnaval.


Lorena memilih-milih topeng yang akan dipakainya nanti malam, begitu juga dengan Laura.


“Lorena!” panggil Laura.


“Iya, ada apa?” tanya Lorena.


“Bagaimana dengan topeng itu?” tanya Laura menunjuk sebuah topeng di etalase.


“Bagus, lumayan bagus. Kau ke pesta akan bersama Anton?” tanya Lorena, dia mengambil sebuah topeng yang ada dirak.


“Iya,” jawab Laura.


“Akhirnya kau baikan juga dengannya?” tanya Lorena.


“Bukan, karean Anton juga diundang oleh Vera, dia tahu kita akan menikah,” jawab Laura.


“Aku fikir kalian baikan,” kata Lorena.


“Ya mau bagaimana lagi? Aku sebenarnya masih kesal padanya,” keluh Laura.


Lorena tidak menjawab lagi, dia memilih milh lagi topengnya.


“Lorena!” panggil Laura.


“Apa?” tanya Lorena tanpa menoleh.


“Kalau menurutku sih Asisten itu menyukaimu,” jawab Laura, diapun memilih topeng di rak yang sama dengan Lorena.


“Maksudmu Sean?” tanya Lorena.


“Iya, siapa lagi?” tanya Laura.


“Bertengkar? Yang benar saja, aku justru melihat kalian saling memperhatikan,” kata Laura.


“Itu karena memang akhir-ahir ini kita agak baikan, tidak terlalu sering bertengkar,” jawab Lorena.


“Begitu ya? Hemmm padahal dia sangat tampat, sayang kalau tidak dijadikan pacar.” Kata Laura.


Lorena hanya tersenyum saja mendengarnya.


“Kalau saja dia tidak sakit, aku akan mengajaknya ke pesta topeng,” kata Laura.


“Kau ini, sudah ada Anton, masih melirik yang lain,” keluh Lorena.


“Ya kau tenang saja, aku tidak akan merebut pria yang kau sukai, “ kata Laura.


“Apa maksudmu bilang begitu?” tanya Lorena sambil tertawa.


“Kau masih juga tidak mengaku, aku tahu aku menyukainya, kau sangat pehratian padanya, kau menyuapinya saat sakit, apa kau tidak sadar kalau itu tandanya kau menyukainya,” kata Laura, sambil pindah ke rak yang lain.


Lorena terdiam mendengarnnya apa benar yang dikatakan Laura kalau dia menyukai Sean? Ah entahlah, masih terlalu dini untuk mengatakannya, apalagi dia juga tidak tahu Sean menyukainya atau tidak. Pria tampan seperti Sean pasti banyak wanita yang menyukainya, batin Lorena.


“Yang ini bagus tidak? Aku menyukainya, aku bisa pasangan dengan anton,” kata Laura, sambail menunjukkan sepasang topeng untuk pria dan wanita.


Lorena menoleh keaah Laura dan melihat topeng itu.


“Bagus, itu sangat cocok buatmu dan Anton,” kata Lorena mengangguk setuju pada pilhannya Laura.


“Kau juga jangan khawatir disana sendirian, aku yakin Vera pasti mengenalkanmu pada sepupunya, aku juga yakin dia pasti pria yang tampan. Vera tidak akan sembarangan mengenalkannya denganmu kalau sepupunya itu tidak keren!” kata Laura.


Lorena tidak menjawab, diapun memilih sebuah topeng yang akan dipakainya nanti saat pesta. Dia tidak terlalu peduli denagn pria yang akan dikenalkan Vera, yang pasti kegagalannya dimasa-masa lalu membuatnya selain over protektif terhadap pria, dia tidak mau pria yang hanya akan mempermainkannya saja.


Saat menuju kasir, dia mendengar seseoang bicara dengan pelayan toko itu. Lorenapun menoleh dan dia terkejut saat melihat Pak Deni ada di toko itu, mau apa Pak Deni di toko acessoris pesta?


Lorena menyimpan topengnya di rak yang dilewatinya, dia penasaran dengan kehadiran Pak Deni.


“Saya mencari topeng untuk pria,,” kata Pak Deni.


“Topeng pria?” tanya Pelayan toko.


“Iya, yang paling bagus,” jawab Pak Deni.


“Baik, tunggu sebentar,” jawab pelayan toko. Yang langsung mengambil beberapa topeng pria yang bagus. Pak Deni hanya mengangguk dan meliaht-lihat ke sekeliling toko.

__ADS_1


Lorena  segera menghampiri Pak Deni yang sedang menunggu pelayan toko.


“Pak Deni!” Sapa Lorena, Pak Deni segera menoleh dan dia terkejut melihat Lorena ada ditoko itu.


“Pak Deni disini sedang apa?” tanya Lorena.


“Sedang mencari topeng,” jawab Pak Deni.


“Topeng? Buat siapa?” tanya Lorena keheranan.


“Buatku, putraku mengadakan pesta topeng untuk ulangtahun cucuku,” jawab Pak Deni berbohong. Dia tidak mengatakan kalau topengnya untuk Sean.


“Oh begitu rupanya, apa kau sudah mendapatkan topengnya?” tanya Lorena.


“Belum, sedang diambilkan pelayan toko,” kata Pak Deni.


Pelayan toko itu menghampiri etalasi dan menyimpan topeng-topeng itu diatas etalase itu. Pak Deni segera menghampirinya, dan memilih milih topeng itu.


Lorena mengikutinya.


“Mana topeng yang bagus?” tanya Pak Deni pada pelayan toko.


“Yang ini bagus pak, ini harganya paling mahal,” jawab pelayan toko.


“Tidak apa-apa soal harga asal bagus dan cocok untuk pria muda,” jawab Pak Deni.


Lorena mendengarnya langsung tertawa.


“Pak Deni mencari topeng buat Pak Deni atau buat siapa yang pria muda?’”tanya Lorena penasaran. Pak Deni hamper saja keceplosan.


“Aku ingin tampil terlihat lebih muda,” jawab Pak Deni. Lorena langsung tertawa lagi.


“Yang mana yang bagus?” tanya Pak Deni, menoleh pada Lorena, dia rasa Lorena pasti tahu topeng yang menarik yang pantas dipakai oleh pria muda.


Lorena melihat topeng-topeng pria itu. Diapun menunjuk salah satu dari topeng itu.


“Yang ini, yang ini sangat bagus, dan yang memakainya akan terlihat tampan,” kata Lorena, sambil tersenyum.


Pak Deni menatap topeng pilihan Lorena itu. Menurutnya juga begitu topeng itu sangat bagus.


“Aku akan membeli yang ini,” kata Pak Deni.


Pelayan toko langsung membungkusnya dan Pak Denipun membayarnya langsung ke pelayan toko tidak ke kasir. Pelayan toko itu yang memberikan uangnya ke kasir.


“Saya pergi duluan ya , banyak keperluan,” kata Pak Deni pada Lorena, setelah mendapat struk pembelian dari kasir yang diberikan pelayan toko tadi.


“Oh iya bagaimana kabarnya Pak Sean?” tanya Pak Deni.


“Dia lebih baik sekarang, mungkin sekarang sedang tidur,” jawab Lorena.


Pak Deni hanya mengangguk.


“Nona dengan siapa?” tanya Pak Deni, matanya mengedar ke sekeliling toko mencari orang yang bersama Lorena.


“Dengan sepupuku, biasa kalau hari libur cuci mata,” jawab Lorena sambil tertawa.


Pak Deni menganguk-angguk.


“Ya sudah saya duluan masih ada keperluan lain,” ucap Pak Deni. Lorena hanya mengangguk. Pak Denipun keluar dari toko itu.


“Kau sudah dapat topengmu?” tanya Laura, sambil menghampiri Lorena.


“Oh tadi aku menyimpannya dimana ya,” jawab Lorena, saat melihat Pak Deni dia menyimpan topengnya sembarang. Diapun mencarinya kembali, ternyata topengnya masih ada, untung saja tidak ada pengunjung yang mengambilnya.


“Aku sudah memilih topeng ini saja, aku akan ke kasir,” kata Laura, sambil menunjukkan topeng couple tadi, sambil berjalan ke kasir.


“Ya. Aku juga sudah yang ini saja,” jawab Lorena , mengambil topeng itu dan mengikuti Laura menuju kasir.


Mobil Pak Deni berhenti didepan sebuah mini market.


“Kau berikan ini pada Pak Sean, aku akan belanja dulu sebentar.” Kata Pak Deni. Sebenarnya Pak Deni tadinya akan menelpon memperlihatkan topeng yang mungkin akan dipilih Sean, tapi mengingat Sean pasti sedang istirahat, dia tidak mau mengganggunya, makanya dia meminta Lorena yang mmilihkan topeng itu buat Sean.


“Baik Pak,” jawab Pak Supir. Pak Deni memberikan kantong yang berisi topeng itu pada pak Supir, lalu dia turun dari mobilnya.


“Nanti aku telpon kalau aku selesai berbelanja,” kata Pak Deni.


“Baik Pak,” jawab pak Supir lagi.


 Pak Denipun menutup pintu mobilnya, masuk ke mini market itu. Sedangkan Pak Supir melajukan mobilnya menuju rumahnya Lorena, dimana  Sean tinggal sekarangan untuk mengantarkan topeng itu.


**************


Readers covernya ganti ya, author sampai tidak tidur ngubek ngubek nyari gambar buat cover ga nemu nemu tau-tau udah  jam 5 pagi hihi… nyari yang mirip karakternya Sean.


Jangan lupa like vote dan komen.

__ADS_1


__ADS_2