Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-102 Menyusul Valerie


__ADS_3

Nisa dan Jeni terkejut dengan perkataannya Darren.


“Menikah? Kau akan menikah dengan dia? Yang benar saja?” tanya Nisa, menatap Darren.


“Iya, aku akan menikah dengan Valerie,” jawab Darren berdiri disamping Valerie.


“Tidak, tidak bisa, ibu tidak setuju!” kata Nisa.


Jeni mendekati Valerie.


“Kau bercerai  dengan Earlangga? Dan ini..ini bayi, bayi siapa? Bayimu kan sudah meninggal?” tanya Jeni.


Dia teringat perkataannya Ny.Grace kalau bayi VAleri dan Earlangga meninggal di London jadi Ny.Grace mencoba mendekatkannya dengan Earlangga.


“Ini bayiku,” jawab Valerie.


Jeni menoleh pada Darren.


“Kak, kau menukar bayinya dengan bayi yang sudah meninggal? Lalu kau membawa Valerie kesini begitu?” tebak Jeni.


“Sudahlah aku tidak usah ikut campur!” kata Darren.


“Jangan-jangan Earlangga juga tidak tahu kalau bayinya masih hidup,” ucap Jeni.


“Sudah aku katakan jangan ikut campur!” kata Darren.


Nisa berjalan mendekati Darren.


“Darren, ibu tidak setuju kalau kau menikah dengan dia, cari gadis yang lain, kau sudah kaya sekarang,” kata Nisa.


“Aku tidak minta pendapat ibu, terserah ibu mau setuju atau tidak, aku akan tetap menikah dengan Valerie,” kata Darren.


“Ih, apa lebihnya sih dia? Earlangga mati-matian membela dia, sekarang kakakku sendiri ngotot mau menikah dengan dia,” keluh Jeni.


“Sudah jangan cerewet, kalian kesini mau apa?” tanya Darren.


Nisa mendekati Darren.


“Ayahmu menghentikan uang bulanan buat Ibu,” jawab Nisa.


“Aku juga, semua fasilitas ditarik ayah gara-gara Pak Sean tahu kalau aku putrinya Ibu,” jawab Jeni.


“Jadi?” tanya Darren.


“Jadi sekarang kau yang harus mencukupi semua kebutuhan ibu,” kata Nisa.


“Juga aku!” sambung Jeni.


“Kau kan sudah bekerja,” kata Darren.


“Uang gajiku tidak seberapa,” keluh Jeni.


“Baiklah aku akan mengirimi ibu uang tapi Ibu tidak boleh kesini sini lagi,” kata Darren.


“Kenapa? Aku kan Ibumu,” tanya Nisa, menatap Darren dengan terkejut.


“Aku tidak mau Ibu mengganggu Valerie,” kata Darren.


“Apa? Gara-gara wanita ini kau melarang ibu kesini?” tanya Nisa, tidak percaya.


Darren mengangguk.


“Kau keterlaluan!” maki Nisa.


“Karena aku tidak mau Ibu berulah. Terserah ibu mau tidak menerima persyaratannya, kalau ibu tidak mau, aku tidak akan mengirimkan uang buat ibu,” kata Darren.


Nisa memberengut kesal, diapun menoleh pada Valerie.


“Kau senang sekarang?” hardiknya.


Valeriepun diam. Lalu Nisa kembali menoleh pada Darren.


“Ibu minta dikirim uangnya sekarang,” kata Nisa, sambil mendelik pada Valerie, lalu beranjak meninggalkan ruangan itu diikuti Jeni. Tidak berapa lama terdengar suara mobil mereka meninggalkan rumah itu.


Darren menoleh pada Valerie.


“Kau jangan khawatir, Ibu dan Jeni tidak akan mengganggumu,” kata Darren.


Valerie tidak menjawab, dia membalikkan badannya menaiki tangga meninggalkan Darren.


“Tunggu!” terdengar suara Darren, membuat Valerie menghentikan langahnya.


“Aku mau mengajak makan malam diluar,” kata Darren.


Valerie masih diam. Darren berusaha bersabar dengan sikap diamnya Valerie. Dia tahu ini tidak akan mudah, tapi setidaknya Valerie sudah ada bersamanya.


“Kau bersiap-siap saja, kita berangkat jam 7,” kata Darren.


Valerie tidak menjawab, dia kembali melanjutkan melangkahkan kakinya menaiki tangga.

__ADS_1


Jeni terus menggerutu di dalam mobil karena kakaknya akan menikah dengan Valerie.


“Bu, apa menurut ibu Earlangga tahu kalau Valerie ada di rumah kakak?” tanya Jeni.


“Ibu juga tidak tahu,” ucap Nisa.


“Kalau saja keluarga Earlangga belum tahu kalau aku ini anak ibu, ini adalah kesempatan baik untuk mendekati Earlangga, tapi gara-gara sekarang sudah pada tahu semua, tidak ada kesempatan lagi mendekatinya,” ucap Jeni.


Terdengar suara ponsel Nisa berbunyi.


“Ada pesan masuk, coba kau lihat,” kata Nisa.


Jenipun mengambil tas ibunya lalu mengambil ponselnya dan membukanya.


“Wah,” Jeni langsung tersenyum.


“Apa?” tanya Nisa.


“Kakak sudah mengirimkan uang buat Ibu. Kita belanja ya, Bu,” jawab Jeni.


“Benar?” tanya Nisa.


“Benar Bu, sudah masuk saldonya,” jawabJeni.


“Bagus kalau begitu,” ucap Nisa.


“Kita belanja ya bu, mumpung aku tidak sibuk, tidak perlu ke kantor lagi. Aku ingin beli tas baru, aku juga ingin ke salon,” kata Jeni.


“Ayo, ibu juga ingin merilekskan selurah tubuh gara-gara perawat itu bikin kesal,” ucap Nisa, sambil terus melajukan mobilnya menuju mall.


**************


Earlangga kebingungan seharian ini mencari Valerie, sudah gelap begini Valerie belum ada kabarnya. Semua teman-temannya sudah dihubungi dan tidak ada yang tahu keberadaannya


apalagi mereka baru pulang dari London.


Dan tidak mungkin Valerie ada acara dengan teman-temannya tanpa bicara dulu atau minta ijin dairnya, tahu-tahu pergi begitu saja.


Lorena turun dari tangga sudah bedandan rapih, dia langsung menghampiri Earlangga yang duduk di sofa ruang tamu sambil mengotak-atik ponselnya, wajahnya terlihat sangat kusut.


“Sayang,”panggil Lorena.


“Ya, Bu,” jawab Earlangga, menoleh pada Ibunya.


“Ibu mau ke mall bertemu dengan beberapa teman Ibu sebentar, apa kau mau ikut menemani? Dari pada kau disini kebingungan seperti itu, siapa tahu kita akan melihat Valerie di jalan, mungkin dia sedang berbelanja atau apa, daripada kau duduk melamun begitu,” kata Lorena.


“Baiklah Bu, aku akan menemani Ibu,” jawab Earlangga. Dia sudah menyuruh orang juga menyebar mencari keberadaannya Valerie.


Lorena mengangguk dan langsung keluar rumah diikuti Earlangga yang tampak lesu. Earlanggapun menjalankan mobilnya menuju mall yang ibunya sebutkan itu.


Sesampainya di parkiran, Earlangga sibuk melihat orang yang hilir mudik keluar masuk  mall siapa tahu diantara orang yang datang itu ada Valerie. Meskipun Valerie sudah berpesan supaya jangan mencarinya, tapi dia tidak percaya kalau Valerie pergi begitu saja tanpa ada alasannya.


Merekapun memasuki mall yang penuh pengunjung, dipelataran awal banyak sekali tergantung pakaian-pakaian dan obral-obral harga membuat sesak diwilayah itu.


Karena Earlangga berjalan sambil melihat kesana kemari, tidak sengaja dia menabrak seeorang yang langsung menjerit karena ditabraknya. Gadis itu langsung memegang tangannya karena akan jatuh.


“Hei, jalan pakai mata dong!” teriak yang ditabrak Earlangga itu.


“Maaf, maaf,” ucap Earlangga, pada wania itu, diapun menoleh dan pandangan mereka bertemu.


“Jeni? Aku fikir siapa,” keluh Earlangga.


Lorena menoleh kebelakang mendengar putranya bicara dengan seseorang.


“Ada apa Earl?” tanya Lorena. Dilihatnya ada Jeni di dekat Earlangga.


Melihat Jeni yang sedang memegang tangan Earlangga karena akan terjatuh tadi, Lorena langsung menghampiri dan menepiskan tangannya Jeni.


“Lepas!” maki Lorena, menatap tajam Jeni.


“Nyonya,” panggil Jeni.


“Jangan dekat-dekat putraku!” maki Lorena lagi.


“Tadi Earlangga menabrakku,” ucap Jeni.


“Alasan saja! Kau sengaja kan?” maki Lorena. Teringat kalau Jeni putrinya Nisa, membuatnya sebel saja saat melihatnya.


Mendengar ada suara yang memaki-maki, Nisa yang tadi tidak jauh dari tempat Jeni berdiri, menyimpan kambali baju yang tadi dilihatnya dan langsung menghampiri mereka.


Nisa sangat terkejut saat melihat wanita yang sudah sekiaan lama tidak dililihatnya sedang memaki-maki putrinya.


“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya Nisa, sambil segera berdiri didekat Jeni.


Lorena juga terkejut melihat wanita yang menjadi musuh bebuyutannya dari dulu.


“Kau, aku tidak menyangka akan bertemu kau lagi!” keluh Lorena.


“Benar-benar ini hari sial buatku!” kata Nisa.

__ADS_1


Lorena menatap Nisa sekarang.


“Aku minta kalian berdua jauh-jauh dari kehidupanku, dari keluargaku,” kata Lorena.


“Sedikitpun aku tidak akan memberikan kesempatan putrimu mengganggu Earlangga,” lanjut Lorena dengan tegas.


Melihat sikapnya Lorena, Nisa tidak mau kalah.


“Memangnya siapa yang mau mendekati putramu? Jangan sok kaya deh! Jangan dikira Jeni mau sama Earlangga! Banyak cowok tajir diluar sana! Valerie saja meninggalkannya, belagu!” maki Nisa.


“Enak saja kau bicara begitu?” bentak Lorena, tapi tiba-tiba dia jadi terkejut dan menatap Nisa.


“Hei, darimana kau tahu kalau Valerie meninggalkan Earlangga?” tanya Lorena.


Nisa langsung menutup mulutnya, dia keceplosan saking kesalnya melihat lorena.


“Aku..aku hanya menebak saja!” kata Nisa.


Earlangga pun sama, keheranan, bagaimana mungkin Valerie baru pergi tapi Ibunya Jeni tahu kalau Valerie pergi, diapun menoleh pada Jeni.


“Jeni, katakan, apa kau tahu sesuatu?” tanya Earlangga.


“Tidak, aku tidak tahu apa-apa, mana aku tahu Valerie meninggalkanmu, apa iya dia meninggalkanmu?” jawab Jeni, berusaha berbohong.


Lorena menatap lagi Nisa.


“Jangan jangan kau yang membuat Valerie pergi?” tuduh Lorena.


“Apa sih, kau menuduh-nuduh sembarangan,” keluh Nisa.


“Kau memang selalu jahat pada kami! Kau kesalkan karrna Jeni ketahuan dia putrimu? Makanya pasti kau sengaja membuat Valerie pergi, cepat katakan dimana Valerie?” tanya Lorena, memberondong Nisa dengan pertanyaan.


“Kau ini bicara apa?” keluh Nisa, dia bisa gawat kalau Earlangga tahu Valerie ada bersama Darren, bisa-bisa Darren marah padanya dan tidak akan memberinya uang lagi.


“Jeni, Jeni, ayo kita pergi!” ajak Nisa.


Jeni akan melangkah mengikuti Ibunya tapi Earlangga memegang  tangannya dengan kuat.


“Jeni, katakan padaku, dimana Valerie? Kau tahu kan? Cepat katakan!” kata Earlangga.


“Aku tidak tahu!” kata Jeni, dia mencoba melepaskan tangan Earlangga tapi pria itu malah mempererat pegangannya.


“Cepat katakan!” bentak Earlangga dengan keras,  membuat orang-orang menoleh kearah merka.


“Cepat katakan, lambat laun aku akan tahu dimana Valerie, dan jika ternyata ada hubungannya denganmu, aku tidak akan segan-segan memasukkanmu ke dalam penjara karena sudah membuat persekongkolan!” ancam Earlangga.


Mendengar ancaman Earlangga membuat wajah Jeni pucat.


“Aku.. aku tidak tahu,” kata Jeni.


“Katakan!” bentak Earlangga dengan marah, dan memelintir tangan Jeni, membuat Jeni meringis kesakitan dan mulai menangis karena sakit.


“Hei,, hei kau ini apa-apaan? Lepaskan anakku,!” maki Nisa.


Lorena menatap Nisa.


“Kau juga, pasti kau sekongkol kan menghamcurkan rumah tangga Earlangga?” Bentak Lorena.


“Aku tidak tahu!” Nisa mengelak.


Earlangga memelintir tangan Jeni lebih keras, membuat Jeni menjerit.


“Aw aw aw ..iya..iya aku tahu!” teriak Jeni.


 Earlanggapun menghentikan gerakan tangannya.


“Katakan dimana?” tanya Earlangga.


“Dirumah kakakku, Darren,” jawab Jeni, membuat Earlangga terkejut begitu juga Lorena. Nisa melotot kearah Jeni.


“Darren? Dimana alamatnya?” tanya Earlangga masih belum melepaskan tangannya.


Jenipun menyebutkan alamatnya Darren.


Earlangga langsung melepaskan tangannya.


“Awas kalau kau terliba, aku akan memasukkanmu ke penjara!” ancam Earlangga.


“Ayo Bu!” ajak Earlangga, sambil melepaskan tangannya Jeni. Lorena menoleh pada Nisa sebentar, kesal sekali dia pada wanita ini. Tidak dulu tidak sekarang masih saja merongrong keluarganya.


Nisa menoleh pada Jeni.


“Kenapa kau mengatakannya?” bentak Nisa.


“Tanganku mau patah Bu. Kalau tanganku cacat tidak ada pria kaya yang mau menikah denganku?” jawab Jeni, sembil mengusap tangannya, matanya sudah berair saja saking sakitnya dipelintir Earlangga.


Earlangga menjalankan mobilnya dengan kencang menuju alamat yang Jeni katakan.


*************

__ADS_1


__ADS_2