
Semalaman Valerie tidak bisa tidur, dia terus menangisi nasibnya. Setiap tangisnya reda, setiap kali juga airmatanya kembali menetes. Dia merasa dirinya kotor dan hina, dia benci Darren yang menyebabnya menjadi seperti ini, dia benci pria itu yang telah menghancurkan hidupnya. Akhirnya Valerie memutuskan untuk pergi dari rumah ini, meskipun dia belum tahu akan pergi kemana.
Mungkin menemui temannya Mbok Narti siapa tahu bsia emambantunya. Mbok Narti pernah bercerita kalau dia berkenalan dengan seorang teman bernama Bu Asni saat berbelanja di mall, yang sama sama bekerja di rumah orang kaya. Waktu itu Mbok Narti pernah memperlihatkan alamat tempat tinggalnya Bu Asni.
Dibongkar bongkarnya laci bekas Mbok Narti dulu, dia berharap bisa menemukan kertas itu, akhirnya ditemukannya kertas itu yang bertuliskan alamatnya Bu Asni. Valeriepun bertekad akan menemui Bu Asni dan keluar dari rumah ini.
Keesokan harinya, dengan langkah lesu, wajah pucat dan mata yang sembab, Valerie menemui Nisa yang sedang ada di ruang keluarga.
“Nyonya!” ucap Valerie.
“Ada apa?” tanya Nisa sambil menoleh pada gadis itu, dia terkejut saat melihat Valerie membawa ranselnya.
“Kau mau kemana membawa ransel segala?” tanya Nisa.
“Saya mau berhenti saja Nyonya,” jawab Valerie.
“Aku tidak salah dengar?” tanya Nisa.
“Benar Nyonya,” jawab Valerie.
“Kalau kau berhenti bekerja disini, jangan harap aku membayar gajimu juga pesangon!” kata Nisa.
Dalama hati Nisa kaget juga dengan keputusan Valerie, itu artinya dia harus mencari perawat lagi untuk ayahnya dan kalau melalui Home care yang bekerja sama dengan rumah sakit, pasti akan mahal membayar biaya perawat.
“Tapi Nyonya itu kan hak saya,” kata Valerie.
“Terserah, kalau kau mau gajimu dibayar, kau jangan berhenti kalau kau berhenti sekarang kau tidak akan aku bayar,” sahut Nisa dengan harapan Valerie mengurungkan niatnya. Tapi niat Valerie sudah bulat, dia tidak mau tinggal dirumah ini lagi.
“Baiklah Nyonya, tidak apa-apa Nyonya, saya akan mencari pekerjaan lain,”jawab Valerie, meskipun dia sedih dia tidak mendapatkan haknya, tapi daripada tinggal dirumah ini, dia merasa tertekan apalagi Mbok Narti, orang yang diikutinya ke ibukota sudah tidak ada.
“Ya terserahlah kalau kau mau berhenti aku tidak peduli, yang pasti aku tidak akan membayar gajimu apalagi pesangon!” kata Nisa.
“Ada apa ini? Mau kemana kau membawa rasel itu?” terdengar suara Darren turun dari tangga, dia baru bangun tidur.
Valerie menatap Darren dengan tajam, dia ingin sekali memaki pria itu tapi pria itu cuek saja melewatinya dan duduk di sofa seperti tidak pernah terjadi apa-apa semalam, atau memang Darren juga tidak tahu kejadiannya? Apa perlu dia bertanya pada Darren siapa pria yang menidurinya?
Valerie terus menatap Darren.
“Apa?” bentak Darren tidak suka Valerie menatapnya begitu.
Valerie tidak menjawab. Darrenpun bangun dan menghampiri Valerie.
“Apa pria pria itu berhasil menidurimu?” bisik Darren, membuat Valerie terkejut, apa Darren juga tidak tahu kejadian semalam? Jadi Darren tidak tahu pria yang bersamanya?
“Ingat jangan bicara macam-macam soal semalam, atau aku akan benar-benar menjualmu!” bisik Darren lagi
“Ada apa ini?” tanya Nisa, melihat Darren yang berbisik pada Valerie.
Mendengar perkataan Darren, Valerie semakin yakin untuk meninggalkan rumah ini. Orang-orang dirumah ini benar-benar sangat memuakkan.
“Ah tidak ada apa-apa,” jawab Darren.
“Jadi kau mau kemana membawa ransel itu?” tanya Darren mengalihkan pembicaraan
“Aku mau berhenti bekerja” jawab Valerie.
“Apa? Berhenti? Kau mau tinggal dimana dikota ini? Kau tidak punya keluarga disini,” kata Darren.
“Kau tidak perlu tahu aku tinggal dimana,” jawab Valerie, dia malas melihat wajahnya Darren.
__ADS_1
“Wuih, sudah besar kepala rupanya,” cibir Dareen, dia kembali duduk di sofa dan mengambil remote mengganti chanelnya.
“Biarkan saja dia berhenti, dikiranya dia bisa tinggal di ibukota? Apalagi harus membiayai kuliahnya, paling paling dia jadi gembel,” tiba-tiba Jeni juga muncul dari atas tangga.
“Kakak! Aku melihat mobil sport tadi malam itu ada di depan rumah, kenapa ada padamu?” tanya Jeni, menoleh pada kakaknya.
“Kau dapat darimana mobil itu? Kalau dijual harganya mahal itu,” tanya Nisa.
“Dijual? Aku tidak akan menjualnya!” kata Darren.
“Eh ngomong-mongong kau mengenal pria yang membawa mobil ini? Pria itu sangat tajir,” tanya Jeni, dia teringat kalau dia sempat melihat Earlangga membawa mobil ini dengan dua teman bulenya.
“Tidak, aku tidak mengenalnya,” jawab Darren.
“Bagaimana kau bisa mendapatkan mobil itu?” tanya Jeni.
“Kau tidak perlu tahu, yang pasti mobil itu jadi milikku sekarangg,” kata Darren.
“Kak, ajak aku jalan jalan dengan mobi itu,” pinta Jeni sambil duduk dekat kakaknya.
“Ibu juga, ibu mau jalan-jalan dengan mobil mewah itu!” seru Nisa.
Mereka terus bicara tanpa menghiraukan Valerie. Gadis itu menghela nafas panjang, dia sudah muak tinggal di rumah ini, tidak ada yang peduli padanya. Apalagi Dareen, gara-gara pria itu dia kehilangan hal yang
berharga dalam hidupnya, kesuciannya direnggut orang yang tidak dikenalnya,benar-benar membuatnya sakit hati.
Valerie mengambil ranselnya, berjalan keluar meninggalkan rumah itu. Dia mengeluarkan secarik kertas yang ada tulisannya, dia akan menemui Bu Asni, mungkin Bu Asni bisa memberinya pekerjaan dan tempat tinggal, daripada harus tinggal dirumah keluarganya Pak Tedi ini.
***********
Taxi yang ditumpangi Valerie berhenti di sebuah rumah mewah. Valerie turun sambil membaca kertas itu, rumah itu bernomor 64, sedangkan yang dikertas benromor 63, berarti bukan rumah mewah ini.
“Nomor 63,” jawab Valerie.
“Nomor 63 disamping, komplek rumah pelayan-pelayan dirumah ini,” jawab Satpam, sambil menunjuk tembok sebelah.
“Kau mencari siapa? Semua yang tinggal disebelah bekerja dirumah ini, saya juga tinggal disebelah,” kata satpam. Di baju seragamnya ada nama Yanto.
“Saya mau bertemu Bu Asni, Pak!” jawab Valerie.
“Bu Asni? Rumahnya yang nomor 63 A, disana ada 63 B, C dan seterusnya, Sepertinya ada dirumahnya, kalau jam segini, biasanya Bu Asni sudah selesai menyiapkan sarapan untuk keluarga Tn. Joris,” kata Pak Yanto.
“Baiklah Pak, saya akan langsung menemu Bu Asni,” kata Valerie soalnya dia juga harus cepat-cepat ke kampus.
“Ya ya silahkan, “ kata Pak Yanto.
Valerie berjalan menuju gerbang disebelah gerbang itu. Gerbang yang ini tidak ada satpam yang menjaganya, dia bisa masuk sendiri ke halaman rumah itu, ternyata didalamnya banyak rumah -rumah, dicarinya rumah yang bernomro 63 A. Valerie mengetuk pintu rumah itu beberapa kali.
“Siapa?” terdengar suara seseorang dari dalam rumah lalu membuka pintu. Seorang wanita berusia sekitar 40 an berdiri dipintu dan menatapnya.
“Kau siapa?” tanya wanita itu.
“Saya Valerie Bu, saya ingin bertemu dengan Bu Asni,” jawab Valerie.
“Saya Bu Asni, kau Valerie siapa?” tanya Bu Asni kebingungan karena tidak mengenal gadis yang ada di depannya, dilihat dari atas sampai bawah, juga ransal yang dibawa Valerie.
“Saya suadaranya Mbok Narti yang bekerja di rumahnya Nyonya Nisa,” jawab Valerie.
“Mbok Narti?” Bu Asni kembali mengingat-ingat.
__ADS_1
“Mbok Narti pernah berkenalan dengan ibu saat di mall,” ucap Valerie.
“Ya ya saya sudah lupa, tapi masuklah silahkan duduk, kau membawa pesan dari Mbok Narti?“ tanya Bu Asni, sambil diapun duduk di kursi.
Valerie masuk dengan ragu, dia bingung apakah orang yang baru ditemuinya ini akan bersedia menampungnya atau tidak?
“Duduklah, bagaimana kabarnya Mbok Narti?” tanya Bu Asni.
“Mbok Narti sudah meninggal karena sakit beberapa bulan yang lalu,” jawab Valerie, membuat Bu Asni terkejut.
“Saya tidak tahu, maaf saya tidak datang waktu Mbok Narti meninggal,”kata Bu Asni dengan raut muka sedih, lalu menatap Valerie.
“Iya,” jawab Valerie.
“Terus, ada apa kau kemari? Kau juga membawa ranselmu apa kau sudah tidak bekerja dirumah itu lagi?” tanya Bu Asni.
“Iya Bu, saya berhenti bekerja disana karena majikan saya tidak menggaji saya beberapa bulan
ini, saya juga butuh untuk biaya kuliah saya, jadi saya sedang mencari pekerjaan, barangkali ibu bisa membantu,” kata Valerie.
“Kau bekeja bagian apa?” tanya Bu Asni.
“Saya merawat ayahnya Bu Nisa yang sakit lumpuh,” jawab Valerie.
“Kau kuliah perawat?” tanya Bu Asni.
Valeriepun mengangguk.
“Kalau pekerjaan sebenarnya tidak ada, semua pekerjaan dirumah majikanku sudah full,” kata Bu Asni sambil mengerutkan dahinya.
“Tidak apa-apa Bu, saya akan mencari pekerjaan yang lain diluar, hanya saya butuh tempat tinggal, saya tidak punya cukup uang untu membayar sewa,” kata Valerie.
“Kasihan sekali, majikanmu itu keterlaluan, gajimu sampai tidak dibayar begitu. Kau juga sangat pucat, apa kau sakit?” tanya Bu Asni.
“Aku hanya kurang tidur Bu,” jawab Valerie.
“Kalau untuk tempat tinggal, kebetulan saya tinggal sendiri dirumah ini, kau bisa tinggal disini, tapi kalau untuk pekerjaan, majikanku tidak sedang membutuhkan tenaga kerja lagi,” kata Bu Asni.
“Tidak apa-apa Bu, kalau pekerjaan saya akan mencarinya, yang pening saya bisa keluar dari rumah itu,” ujar Valerie.
“Baiklah kalau begitu. Tapi kalau cuma untuk makan saja, disini sangat banyak makanan, kau tidak perlu kawatir,” ucap Bu Asni.
“Trimakasih banyak, Bu,” ucap Valerie dengan mata yang langung berkaca-kaca.
“Iya sama-sama, kau sudah makan sekarang?” tanya Bu Asni.
“Sudah, tapi saya mau pamit berangakat kuliah Bu, saya ada ujian sekarang,” kata Valerie.
“Baiklah kalau begitu, belajarlah yang rajin, semoga kau cepat lulus,” kata Bu Asni.
“Terimakasih Bu,” ucap Valerie, dia sangat senang ternyata Bu Asni mau menerimanya tinggal dirumah ini.
Bu Asni menunjukkan kamar yang akan ditempati oleh Valerie. Kamar itu cukup luas dan bersih karena rumahnyapun sangat bagus. Pastilah majikan Bu Asni sangat perhatian pada pelayan-pelayannya sampai menyediakan rumah sebagus ini hanya untuk pelayannya.
Valerie kelaur dari rumah itu, menghela nafas panjang, ini awal hari yang harus dilaluinya dengan semangat, diliriknya rumah yang ada disebelah itu, rumah mewah yang menjulang tinggi dan megah, lebih megah dari rumah majikannya dulu.
Setelah merasa lebih tenang, Valerie keluar dari komplek rumah pelayan keluarga Tn. Joris itu, menuju kampusnya.
************
__ADS_1