
Setelah menemani Lorena lari pagi, Sean sudah bersiap-siap akan ke kantornya.
Lorena masih belum berganti pakaian. Dia sedang duduk di teras sambil bernyanyi-nyanyi, hari ini dia senang sekali selain dia mendapat wild card dari Presdir, dia juga akan makan malam dengan Presdir. Dia sangat bahagia.
Sean keluar dari pintu rumah, melihat gadis itu duduk mengotak atik ponselnya sambil bernyanyi. Dia hanya diam dan akan masuk ke mobilnya.
“Selamat bekerja brother!” teriak Lorena pada Sean.
Sean tidak merespon, huh wanita itu sedang senang mau makan malam dengan Sam, batinnya.
Tidak berapa lama mobil Sean meninggalkan halaman rumahnya.
Sesampainya di kantor, Sean langsung memanggil Sam.
“Kau ada janji makan malam dengan Lorena kan?” tanya Sean.
“Iya kenapa?” tanya Sam.
“Kau tidak perlu pergi, aku yang akan pergi,” jawab Sean membuat Sam terkejut.
“Kau akan makan malam dengan Lorena? Kau serius?” tanya Sam.
Sean mengangguk.
“Aku minta siapkan mobil mewahku, sudah lama juga aku tidak memakainya, juga pakaian-pakaianku, sepulang dari sini aku pulang ke rumah,” kata Sean.
“Kau serius mau makan malam dengan Lorena?” tanya Sam tidak percaya.
“Iya, aku serius,” jawab Sean, mereka saling tatap.
“Apa kau menyukainya?” tanya Sam. Ditanya begitu Sean langsung gelagapan.
“Bukan, aku bukan menyukainya, aku mau membuat sedikit pelajaran saja padanya,” jawab Sean.
Sam mengerutkan dahinya.
“Aku bingung, kadang kau begtu membencinya, kadang kau perhatian padanya, kadang kau juga sepertinya suka cemburu,” kata Sam.
“Aku tidak cemburu. Sudah kau lakukan saja perintahku,” ucap Sean, mengelak.
“Ya nanti aku siapkan. Jadi nanti malam kau saja yang makan malam dengan Lorena atau denganku juga?” tanya Sam.
“Kau tidak usah ikut,” jawab Sean.
“Baiklah kalau begitu. Kau memang membingungkan!” ucap Sam, sambil berjalan menuju pintu, kemudian berbalik lagi.
“Ada apa?” tanya Sean.
“Apa kau menyukainya?” tanya Sam.
“Tidak, aku tidak menyukainya, aku hanya memberinya sedikit pelajaran,” jawab Sean.
“Ya terserah kau saja. Makin lama kau makin tidak bisa dimengerti. Apa karena gara-gara wanita itu kau bersikap aneh begini?” ucap Sam lalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Sepeninggalnya Sam, Sean tersenyum senang, dia punya rencana buat Lorena. Dia harus memberi pelajaran pada wanita yang suka menjengkelkannya itu, apakah pelajarannya? Pelajarannya adalah membuat Lorena jatuh cinta padanya, bukan pada Presdir Samuel.
***************
Malam telah tiba…
Lorena sudah berdandan cantik. Rumah itu terasa sangat sepi. Dia duduk sendiri di ruang tamu. Rasanya dari sore dia tidak melihat Sean pulang, kemana pria itu?
Dilihatnya pak Roby akan menutup pintu rumah karena gelap.
“Biarkan saja Pak, aku sedang menunggu orang,” jawab Lorena.
Pak Roby mengangguk tidak jadi menutup pintunya.
“Pria itu kemana Pak? Sepertinya dia belum pulang,” tanya Lorena.
“Belum pulang,” jawab Pak Roby.
“Oh begitu ya..dia sedang sibuk rupanya,” gumam Lorena. Lalu diapun tersenyum jengah, tidak ada pria itu rumah terasa sepi.
Dari balik jendela terlihat ada sorot lampu mobil yang datang. Lorena dan pak Roby menengok kearah luar rumah.
Lorena langsung berdiri, dan buru-buru keluar.
“Nah itu kayanya Pak Sam datang,” ucapnya. Pak Roby tidak bicara apa-apa.
Lorena menatap mobil yang baru memasuki halaman teras rumah itu. Dia takjub melihat mobil mewah itu berhenti di depannya. Dia tersenyum senang. Sepertinya dia mengikuti kontes tidak sia-sia, mungkin kalau dia mendapatkan pria yang setara secara ekonomi pria itu tidak akan merasa minder dan meninggalkannya lagi, semoga Pak Sam benar-benar menyukainya dan jatuh cinta padanya.
Lampu mobil itu mati. Pengemudianya mematikan mobilnya. Terlihat salah satu pintu mobil yang dekat kemudi itu terbuka. Lorena memperhatikan yang akan keluar dari mobil mewah itu. Pertama yang dilihat adalah pria itu menurunkan kakinya, terihat sepatunya yang keren hitam mengkilat, Lorena bisa tahu itu adalah sepatu branded yang mahal. Kemudian terlihat salah satu kakinya turun, celana yang digunakan pun adalah kain berkualitas yang sangat bagus, Lorena tahu itu. Ko seperti di film film ya fikirnya, seakan akan ada pangeran tampan yang menjemputnya dan menghipnotis semua wanita yang melihatnya.
Orang itu ternyata masih belum keluar dari mobilnya, membuat Lorena keheranan. Dan menahan nafas, dia sudah bisa membayangkan Presdir Samuel akan sangat tampan malam ini. Presdir Samuel benar-benar sangat berpenampilan berbeda malam ini itu tandanya dia benar-benar merasa istimewa dengan makan malam ini.
Pintu terbuka lebih lebar lagi, mulailah badan si pengemudi keluar perlahan. Lorena sampai menahan nafasnya merasa gugup, makan malam ini serasa mau kencan saja. Dua kaki si pengemudi mulai turun, bikin jantungan saja, kenapa keluar dari mobil selama itu?
Mulailah kepalanya keluar perlahan, sudah terlihat dari rambutnya yang hitam tersisir rapih, benar-benar penampilan yang sempurna Presdir Samuel, fikir Lorena.
Kedua kaki itu sudah menapak ditanah, dan sosok itu sudah berdiri di dekat pintu yang terbuka, ternyata pria itu belum langsung menghadap Lorena, dia membalikkan tubuhnya perlahan dan..Lorena terkejut saat melihat pria tampan didepannya. Sean, bukan Sam seperti dugaannya.
“Se Sean?” gumam Lorena tidak percaya. Apa dia tidak salah lihat? Pria yang suka bertengkar dengannya itu sangat kelimis, dia sangat tampan. Sampai dia terkesima. Kenapa baru menyadari kalau Sean setampan ini? Apa benar Sean? Si asisten itu menggunakan mobil super mewah dan penampilannya yang perfect. Apa benar Sean? Sean si asisten itu memiliki mobil semewah ini? Apa dia korupsi? Ah mau korupsi atau tidak, pria itu benar-benar menakjubkan malam ini.
“Maaf, Sam tidak bisa menemuimu jadi aku yang menggantikannya,” kata Sean.
Lorena terdiam, apa dia tidak salah dengar? Pria itu bicara sangat berwibawa, tidak seperti dirumah yang terus bertingkah konyol dan bertengkar dengannya.
Pria tampan itu berdiri disamping mobilnya dan menatapnya. Sean melihat wanita ini meskipun dia menggunakan gaun yang tidak sexy, ternyata Lorena memang cantik, bahkan dia terlihat sangat elegant dan sopan. Wanita yang suka bertengkar dengannya ini malam ini terlihat sangat cantik. Seharusnya dia berdandan cantik ini untuk dirinya bukan untuk makan malam dengan Sam.
Lorena masih bingung, jadi Sam tidak bisa makan malam dengannya dan dia makan malam dengan Sean? Dia kenapa jadi bingung begini?
“Tidak apa-apa kan kau makan malam denganku?” tanya Sean. Tentu saja Lorena tidak bisa menolak. Dia benar-benar lupa kalau dia tadinya akan makan amlam dengan Sam bukan Sean.
“Ya tidak apa-apa,” jawab Lorena, mengangguk.
Sean berjalan memutar membukakan pintu mobil sebelahnya.
__ADS_1
“Silahkan,” ucapnya, wuihh sangat romantis banget, fikir Lorena. Pria yang suka bertengkar dengannya ini selain sangat tampan ternyata sangat romantis.
“Iya,terimakasih,” ucap Lorena berjalan kearah pintu mobil yang terbuka itu.
Saat melewati tubuhnya Sean yang memegang pintu, tercium aroma parfum yang sangat menggoda, seperti iklan roll on pria di televisi. Lorena menyukai harum parfum itu, sepertinya itu parfum yang mahal karena meskipun jaraknya dengan Sean tidak terlalu dekat tapi parfum itu tercium wangi ke hidungnya. Uuh dia tidak berani menatap Sean. Pria itu benar-benar sangat berbeda dari biasanya. Apa mungkin karena Sean bersikap lembut dan romantis? Bikin hatinya deg degan saja dan merasa gugup. Dia merasa dijemput oleh seorang pangeran tampan turun dari langit. Apaan turun dari langit? Hujan?
“Ehm ehm,” Lorena bedehem untuk menetralkan rasa gugupnya itu.
Sean menutup pintu mobil itu. Lorena masih merasa tidak percaya kalau dia akan makan malam dengan Sean, temannya bertengkar di rumah. Tapi malam ini dia benar-benar tidak mau bertengkar dengan Sean, yang ada dia terpesona dengan penampilan dan sikapnya.
Sean masuk ke dalam mobilnya, menyalakannya. Mobil itupun meluncur meninggalkan rumah itu.
Lorena melihat sekilas dalam mobil ini, dia tidak berani beredar pandangan kearah dalam mobil karena takut matanya bertemu dengan matanya Sean. Aish kenapa bisa gugup begini? Sean benar-benar menghipnotis dirinya. Mobil ini adalah mobil keluaran terbaru. Entah berapa gajinya Sean sebagai seorang asisten Presdir sampai bisa membeli mobil semewah ini.
“Kau menunggu Presdir sudah lama? Maaf aku telat beberapa menit,” ucap Sean, suaranya sangat serius dan berwibawa. Dia menyetir tanpa menoleh.
“Iya tidak apa-apa,” jawab Lorena tanpa menoleh. Dia tidak menyadari apa kata-kata yang tadi diucapkan Sean, “Presdir”. Dia hanya berfikir Presdirnya adalah Samuel. Kenapa dia takut menoleh pada pria tampan itu? Haduduh dadanya kenapa jadi deg degan begini? Kenapa Sean sangat tampan malam ini? Dia sangat terpesona. Rasanya dia tidak ingin bertengkar dengannya lagi.
“Kita akan makan dimana?” tanya Lorena.
Sean tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Lorena melirik dengan ujung matanya, senyumnya Sean bisa membuat wanita klepek klepek, pantas saja begitu banyak wanita yang mengejar ngejarnya. Seorang asisten Presdir saja tajir melintir, keren abis.
Hingga sampailah disebuah restaurant mewah dengan hiasan lampu warna warni. Sean membawanya ke rumah makan mewah yang romantis.
“Kita akan makan disini?” tanya Lorena, kini menoleh pada Sean. Pria itu menghentikan mobilnya, lalu menoleh padanya, menatapnya. Tatapannya Sean kenapa serasa menusuk jantung hatinya? Dia benar-benar merasa gugup ditatap seperti itu. Ada apa dengan pria itu? Kenapa pria itu sangat berbeda malam ini?
“Kau tidak mau makan disini?” tanya Sean, menatapnya tajam tidak berkedip. Lorena sampai salah tingkah, ingin rasanya dia bersembunyi dari pandangan pria itu.
“Mm bukan, bukankah tadinya aku yang akan mentraktir Pak Sam?” kata Lorena.
Sean tersenyum masih menatapnya.
“Sekarang aku yang akan mentraktirmu, ayo,” jawab Sean. Tidak ada kata yang bisa Lorena ucapkan lagi selain mengangguk.
Sean turun dari mobilnya juga Lorena.
“Ayo,” ajak Sean, sambil meraih tangannya Lorena. Aduh, Lorena semakin gugup saja pria itu mengenggam tangannya. Mengajaknya memasuki restaurant mewah itu.
Di pintu masuk sudah ada dua petugas restaurant yang menyambutnya, dan seorang pria berpakaian formil sepertinya managernya. Karena pria itu langsung memanggil dua orang pelayan restaurant itu.
“Selamat datang Pak Sean,” sapa pria berpakaian formil itu. Lorena sampai terkejut. Sepertinya Sean sering makan di restaurant ini, lihatlah bagaimana cara pelayan restaurant itu menyambutnya. Keduanya langsung mengajak mereka ke tempat yang sudah dipesan, termasuk pria yang berpakaian formil itu.
Pelayan restaurant itu menarik kursinya Sean juga kursinya Lorena. Pria yang berpakain formil itu hanya berdiri memperhatikan kedua pelayan restaurant itu bekerja.
“Silahkan,” kata pelayan restauran itu.
“Trimakasih,” ucap Sean, sambil duduk dikursi itu. Begitu juga Lorena, tersenyum pada pelayan restaurant itu. Benar-benar pelayanan yang sangat istimewa.
Lorena benar-benar bingung malam ini, dia merasa asing dengan pria yang ada di depannya ini.
*****************
Yang slow slow romantis dulu ya, jangan bertengkar terus.
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen