Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-52 Kekacauan di pesta topeng


__ADS_3

Tidak terasa satu lagu sudah habis. Sean menurunkan tangannya dari pinggang Lorena,  gadis itupun melepaskan tangannya. Sean merasakan tubuhnya tidak nyaman, dia merasa semakin lelah seharusnya dia istirahat. Dilihatnya tidak jauh darinya ada dua orang karyawannya yang memperhatikannya, mereka menatapnya seakan ingin bertanya apakah dia baik-baik saja?


Sean pun melangkah meninggalkan lantai dansa, dan tidak disadarinya dibelakangnya langkah Lorena terhenti karena seorang pria menghalangi langkahnya Lorena.


“Apakah kau mau berdansa denganku?” tanya pria itu yang tiada lain adalah Henry, pria itu menatap Lorena tidak berkedip, gadis itu benar-benar sudah memikat hatinya.


“Maaf, aku lelah, aku sudah berdansa tadi,” jawab Lorena, menolak sehalus mungkin.


“Hanya beberapa gerakan saja,” kata Henry, memaksa.


“Maaf, aku…” Perkataan Lorena terpotong saat pria itu tiba-tiba meraih tangan dan memeluk pinggangnya.


“Maaf,” ucap Lorena lagi, dia masih berusaha bersikap sopan dan akan melepaskan tangannya Henry tapi ternyata pelukannya sangat kuat. Dia juga mencium bau alcohol di mulut pria itu.


Sean merasakan kepalanya mulai terasa pusing, tapi dia mencoba bertahan, tidak disadarinya Lorena tidak mengikutinya. Dua karyawannya yang melihat Sean hampir terhuyung, segera berlari menghampirinya.


“Pak, anda baik-baik saja?” tanya karyawannya.


“Aku baik-baik saja, tidak apa-apa,” jawab Sean, mengulurkan tangannya memberi tanda supaya mereka jangan mendekat, diapun menoleh ke belakang dan menyadari kalau Lorena ternyata tidak bersamanya.


Matanya langsung menuju ke lantai dansa. Dilihatnya Lorena berdansa dengan seorang pria. Hatinya langsung saja kecewa, siapa pria yang sedang berdansa dengan gadisnya? Kenapa dia begitu ceroboh meninggalkan gadis itu?


Tapi seketika pandangannya jadi berubah, dia melihat sesuatu yang ganjil. Lorena menepis tangan pria itu dan pria itu memaksanya memeluknya.


“Tuan, ini sudah beberapa gerakan, maaf saya lelah,” kata Lorena, dia tidak suka pria pemaksa ini, apalagi semakin tercium bau alcohol di mulutnya.


“Jangan panggil aku Tuan, namaku Henry,” kata Henry, membuat Lorena terkejut. Henry? Kalau begitu siapa pria yang berdansa dengannya tadi?


“Aku tidak menyangka gadis yang akan Vera kenalkan padaku ternyata sangat cantik,” kata Henry, dia mendekatkan wajahnya ke wajahnya Lorena, yang segera menjauh.


“Kau sangat cantik, aku penasaran melihat wajahmu tanpa topeng,” ucap Henry lagi sambil tersenyum, matanya menatap tajam pada Lorena, seperti yang ingin menerkamnya saja.


Melihat sorot mata merah itu membuat Lorena merasa takut.


“Maaf Henry, aku sudah berdansa tadi,” kata Lorena lalu melepaskan tangannya dari pegangan Henry dan menjauh.


Henry yang tidak terima tangannya dilepaskan, menarik lagi tangan Lorena dengan keras, sampai gadis itu jatuh kepelukannya.


“Lepaskan!” teriak Lorena, kembali melepaskan pelukannya Henry.


“Hanya beberapa gerakan saja,” kata Henry.


“Maaf, aku lelah,” tolak Lorena. Lorena kembali melepaskan tangan Henry, wajahnya berubah pucat, dia tidak suka pria ini.


Ditolak beberapa kali membuat Henry kesal, diapun kembali menarik tangan Lorena, tapi Lorena menjauhkan tangannya. Karena tangannya dijauhkan, tangan Henry meraih rempelan gaun dibahunya Lorena dengan keras dan..


Sreeeet!


Gaunnya sobek memperlihatkan bahunya Lorena dan tali bra nya. Gadis itu langung saja menjerit kaget, membuat orang yang hadir tampak terkejut, menoleh kearah suara di lantai dansa.


Tangan Lorena langsung menutup bahu kirinya yang kini terbuka, wajahnya pucat karena kaget dan malu. Henry benar-benar kesal dengan penolakan Lorena, dia kembali menarik tangan Lorena sampai tubuh gadis itu kembali ke pelukannya. Bukan itu saja, bahkan dia akan menciumnya, Lorena memalingkan mukanya menghindari ciumannya Henry.


Henry semakin terpancing saja untuk berbuat kasar, dia akan menarik pinggangnya Lorena tapi sebuah tangan sudah memegang tangannya dengan kuat. Sebelum dia sadar siapa yang memegang tangannya, sebuah pukulan mendarat di wajahnya hingga topengnya terlepas.


“Brengek! Siapa kau?” teriak Henry memegang bibirnya yang berdarah.


Sean melihat gaun Lorena yang sobek itu, gadis itu menangis ketakutan. Dia segera membuka jasnya dan menyelimutkannya ke bahu Lorena, lalu tangannya mendorong tubuh Lorena supaya bersembunyi dibalik punggungnya, kemudian Sean berbalik menghadap Henry.


“Jangan ikut campur urusanku!” teriak Henry.


“Mengganggu gadisku, akan jadi urusanku!” kata Sean dengan tegas. Tangan kirinya mengulur kebelakang memeluk punggungnya Lorena suapaya dia tetap berada dibelakangnya. Lorena berdiri dibelakang Sean dengan tangan yang gemetar, memeluk jas yang dipakaikan kebahunya oleh Sean tadi.


Dibalik bahunya Sean, Lorena melihat Henry mendekati Sean, diapun menjerit saat pria itu mengepalkan tangannya meninju Sean, tapi untunglah Sean bisa menangkis tinjuannya Henry  dan bahkan langung menangkap tangannya langsung  memelintirnya membuat Henry meringis dan terhuyung saat Sean juga meninju perutnya. Diapun terjatuh kelantai.

__ADS_1


Melihat ada keributan dilantai dansa, Vera segera berlari menghampiri.


“Henry! Henry! Apa yang akan kau lakukan? Kau menghancurkan pestaku!” teriak Vera.


Henry bangun dari jatuhnya, bersamaan dengan Roy dan dua orang temannya juga berlari ke lantai dansa. Suasana semakin mencekam saja. Mereka mengepung Sean. Melihatnya membuat Lorena merasa khawatir.


“Kau jangan takut, kau bersamaku,” ucap Sean.


Airmata terus saja keluar membasahi pipinya Lorena. Dia merasa ketakutan.


Kini tiga pria itu mendekat, bukan tiga tapi empat dengan Henry. Dia menatap Lorena yang berada dibelakangnya Sean, hatinya langsung terbakar. Henry dan teman-temannya berjalan mendekati Sean. Sean melangkah mundur beberapa langkah, dia khawatir mereka akan menyakiti Lorena.


Melihat gelagat perkelahian, Vera langsung berteriak mencari petugas keamanan.


“Security! Security!” teriak Vera.


“Diam kau!” bentak Henry  yang  setengah mabuk pada Vera. Vera yang dibentak seperti itu menjadi ketakutan, diapun mundur.


Laura dan tunangannya melihat ada ribut-ribut dilantai dansa, segera menghampiri area itu, menyelinap diantara orang-orang yang menonton.


Matanya terbelalak kaget saat melihat Lorena memakai jas seseorang dan berdiri dibelakang seorang pria yang memakai kemeja, sepertinya jas itu milik pria itu dan pria itu dihadang empat orang pria.


“Berikan gadis itu padaku!” teriak Henry.


“Aku tidak akan memberikannya!” jawab Sean, tangannya masih memeluk punggung Lorena dibelakangnya, gadis itu semakin ketakutan saja melihat Henry mendekati Sean, dia bersembunyi dipunggung pria yang dikiranya Henry itu.


“Berikan gadis itu padaku!” teriak Henry lagi.


“Berani menyentuhnya, kau berhadapan dengan ku!” kata Sean. Kata-kata Sean semakin membuat Henry kesal. Diapun langsung melayangkan tinjunya lagi. Membuat yang melihat pada menjerit ketakutan.


“Securyty! Security!” teriak yang melihat memanggil manggil security yang belum datang juga, entah kemana security itu.


Sean berhasil menghindar dari pukulan Henry, bahkan dia berhasil membalas memukul wajahnya Henry sekali lagi. Teman-temannya terpancing emosi melihat Sean berhasil memukul Henry.


Suasana semakin kacau dan tegang saja, yang melihat tampak merasa khawatir dengan kejadian itu.


“Lorena!” panggil Laura, dia merasa cemas takut Lorena  kena pukulan.


Sean melirik kearah Laura lalu menoleh sedikit kearah Lorena karena posisinya masih berhadapan dengan teman-temannya Henry, dia tidak bisa membalikkan badannya.


“Kau ikut temanmu,” kata Sean. Lorena menoleh pada Laura dan di segera berlari menghampiri Laura yang langung memeluknya.


Kini Sean bersama dua karyawannya berhadapan dengan empat orang. Suasana semakin mencekam, perkelahianpun tidak terelakkan. Lantai dansa itu menjadi tempat baku hantam tiga orang melawan empat orang. Jeritan dan teriakan terdengar dari yang hadir, mereka juga tidak bisa melerai, mereka takut kena pukulan.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Laura sambil memeluk Lorena. Gadis itu mengangguk.


Lorena melihat ketempat orang yang berkelahi itu. Dilihatnya Sean berhadapan dengan pria temannya Henry itu. Yang dia heran, kemana Henry? Belum juga dia mendapat jawaban, sebuah tangan meraihnya dengan kuat, menariknya dengan paksa.


“Lepaskan!” teriak Lorena.


“Hei hei lepaskan!” teriak Laura saat melihat pria yang berkelahi itu menarik tangannya Lorena. Tapi Henry sama sekali tidak menghiraukan mereka, dia menarik paksa Lorena keluar dari gedung itu.


Sean yang mendengar teriakan Lorena, sempat melihat sekilas Henry membawa Lorena keluar, dikejar oleh Laura dan seorang pria mungkin tunangannya Laura.


“Stop! Hentikan!” teriak security berlarian kearah lantai dansa.


Sean memukul Roy sampai pria itu terjerembab ke lantai. Diapun tidak menghiraukan lagi mereka, dia berlari keluar menyusul Henry yang membawa Lorena.


“Lepaskan! Lepaskan!” teriak Lorena, mencoba menarik tangannya dari pegangannya Henry, tapi pria itu memegang tangannya sangat kuat.


“Lepaskan sepupuku!” teriak Laura.


“Hei lepaskan dia!” teriak tunangannya Laura.

__ADS_1


Henry menghentikan langkahnya saat mereka sudah berada didalam gedung itu.


Tangannya menunjuk pada Laura dan pada tunangannya.


“Jangan ikut campur, atau aku akan menghabisi kalian!” teriak Henry yang sudah mulai mabuk, karena pengaruh alcohol, matanya semakin merah.


Lorena ketakutan melihatnya, dia terus menangis.


“Lepaskan!” teriaknya.


Henry menoleh kearah Lorena yang menatapnya dengan takut, diapun tersenyum, dia ingin melihat wajahnya Lorena dibalik topeng itu.


“Kau pasti sangat cantik dibalik topengmu itu,” kata Henry, tangan kanannya masih memegang tangan Lorena, dan tangan kirinya mengulur akan membuka topengnya Lorena, tapi sebelum itu berhasil, ada yang mencekal tangannya.


“Aku sudah memperingatkan jangan mengganggu gadisku,” teriak orang yang memegang tangannya itu. Kini pria itu berteriak padanya. Henry semakin kesal, lagi-lagi pria itu mengganggunya, diapun akan  melayangkan tinjunya lagi tapi sebelum itu terjadi, Sean yang sekarang mulai tersulut amarah, memukulnya dengna keras sampai Henry terhuyung dan pegangan tangannya Lorena terlepas mengikuti arah tubuhnya yang terhuyung kebelakang,membuat Lorena terjatuh terduduk ditanah.


Sean langsung menghampiri Henry, sebelum pria itu berdiri tegak, Sean sudah memukulnya lagi, satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali sampai Henry tersungkur dan ambruk ketanah.


Sean menatap pria yang sudah tidak berkutik lagi babak belur dihadapannya.


Kemudian dia menoleh kearah Lorena yang sesenggukan terduduk ditanah. Dihampirinya gadisnya itu, kedua tanganya memegang tangan Lorena supaya bangun. Kedua tangan Sean langsung memeluk punggung Lorena dan gadis itu pun langsung ditarik kepelukannya.


Lorena menangis menyusupkan wajahnya kedada pria itu, dia benar-benar shock dengan kejadian tadi, tubuhnya gemetaran, untung saja ada pria yang tidak dia kenal ini yang menolongnya, pria yang dikiranya bernama Henry. Dia merasakan pria itu mengusap punggungnya, pelukan pria itu terasa begitu nyaman.


Sean merasakan kepalanya mulai pusing lagi, setelah energinya terkuras untuk berkelahi, kepalanya terasa kembali pusing.


Diapun melirik pada Laura yang langsung mengerti arah lirikannya Sean, dia buru-buru menghampiri mereka. Sean melepas pelukannya dan Lorenapun berganti  dipeluk oleh Laura.


Security datang menghampiri kejadian bersamaan dengan mobil polisi berhenti di area parkiran itu. Tidak berapa lama teman-temannya Henrypun diamankan polisi termasuk Henry.


Dua karyawan Sean menghampirinya.


“Pak, sebaiknya kita pulang, kondisimu semakin buruk,” kata salah satu karyawannya.  Sean menoleh kearah Lorena yang dipeluk Laura. Dia merasa gadisnya sudah aman.


“Baiklah,” ucap Sean mengangguk, kedua karyawannya menuntunnya menuju mobil mereka.


Lorena menghapus airmata dipipinya, tubuhnya masih gemetaran saking shock dan ketakutannya.


“Semua sudah aman, kita pulang sekarang,” kata Laura, sambil mengusap airmata di pipinya Lorena.


Lorenapun mengangguk, lalu dia menoleh kearah pria yang menolongnya tadi.


Dicari-carinya pria itu tidak ada di sekitar area itu.


“Kemana pria itu?” tanya Lorena pada Laura.


“Pria siapa?” tanya Laura.


“Pria yang menolongku,” jawab Lorena.


“Aku tidak tahu sepertinya sudah pulang,” jawab Laura.


“Dia sudah pulang bersama temannya tadi,” kata tunangannya Laura.


Mendengarnya Lorena merasa kecewa, matanya masih mencari-carinya.


“Aku belum mengucapkan terimakasih padanya,” kata Lorena.


“Pria itu sudah pulang, nanti kita tanya Vera siapa nama pria itu, sekarang kita pulang,” ucap Laura.


Akhirnya Lorena mengikuti Laura untuk pulang kerumahnya. Dia tersadar kalau dibahunya masih menggunakan jas pria yang tidak tahu siapa itu.


************

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2