
Setelah kepergian Nisa dan para pekerja yang disuruh Lorena, Valerie menoleh pada Earlangga lalu pada Ny.Grace.
“Nenek, aku minta maaf sebelumnya, ada yang ingin aku tanyakan padamu,” kata Valerie. Semua mata menatapnya.
“Katakan saja,” kata Ny.Grace.
“Bolehkah aku tahu siapa orang tuanya Jordan?” tanya Valerie membuat semua terkejut menatapnya.
“Kenapa kau bertanya itu?” tanya Ny.Grace.
“Sayang, apa maksudmu menyelusuri orang tua Jordan? Itu sangat tidak baik, akan nambah masalah,” kata Sean.
“Kata Darren, orang tuanya tunawisma, jadi Jordan diserahkan kerumah sakit untuk mengurus pemakamannya, bukan begitu Nenek?” tanya Valerie menatap Ny.Grace.
“Informasi dari rumah sakit seperti itu,” jawab Ny.Grace.
“Aku bukan mau mengungkit masalah ini, hanya aku ingin menemui orang tuanya Jordan,” kata Valerie.
“Untuk apa sayang?” tanya Earlangga.
“Aku pernah mengalami sakitnya kehilangan bayi, aku hanya ingin memberitahu orang tuanya Jordan dimana kuburan putranya,” jawab Valerie.
Sean menoleh pada Ibunya.
“Ibu, apa itu tidak akan menjadi masalah? Kami semua sudah memaafkan Ibu, jadi tidak mau mengungkit ungkit masalah itu lagi,” kata Sean.
“Tidak, tidak apa-apa. Aku fikir Valerie ada benarnya juga, akan lebih baik kalau orang tuanya Jordan tahu dimana bayi mereka dikuburkan,” jawab Ny.Grace.
“Apa kalian akan ke London?” tanya Ny.Grace.
Earlangga menoleh pada Valerie.
“Sayang bukannya kita akan pulang kampung?” tanya Earlangga.
“Tidak apa-apa kita ke London saja dulu, biar semuanya clear dan kita semua tenang,” jawab Valerie.
“Baiklah, aku akan menelpon rumah sakit itu,” kata Ny.Grace.
Ny.Garce pergi keruang keluarga diikuti oleh yang lainnya.
Di ruang keluarga dia mengambil ponselnya yang ada diatas meja lalu menelpon seseorang yang ada dirumah sakit di London itu. Tidak berapa lama telponpun ditutup.
“Kalian bisa menghubungi rumah sakit itu, aku sudah bicaea dengan kepala rumah sakit itu,” kata Ny.Grace.
“Baiklah kita akan ke London besok,” ucap Earlangga.
“Al jangan dibawa, biar Ibu yang jaga disini,” kata Lorena.
“Baik Bu,” jawab Valerie.
********
Keesokan harinya…
Earlangga dan Valerie pergi ke London, mereka menunda pergi ke kampung halamannya Valerie.
Begitu sampai di London, mereka langsung pergi ke rumah sakit tempat Valerie melahirkan.
Kepala rumah sakit yang bekerjasama dengan Ny.Grace menyambutnya dengan roman muka yang bersalah.
“Saya minta maaf atas kejadian ini, sungguh saya minta maaf karena sudah bekerjasama dengan Ny.Grace untuk membuat scenariao ini,” kata pria itu.
“Saya juga berterimakasih karena tidak melaporkan kasus ini ke kepolisian,” lanjut pria itu.
“Tentu tidak, karena ini hanya salah faham saja,” ucap Earlangga, tidak mau memperpanjang masalah yang menyangkut Neneknya apalagi Neneknya sudah menyesali perbuatannya.
“Saya sudah melupakan masalah itu, hanya saya ingin bertemu dengan orang tuanya Jordan,” lanjut Earlangga.
__ADS_1
Pria itu mengangguk dan langsung menelpon seseorang. Tidak berapa lama seorang perawat masuk keruangan itu.
“Tuna wisma itu masuk kerja hari ini?” tanyanya.
“Iya Dok,” jawab perawat itu.
“Bekerja?” tanya Earlangga, keheranan.
“Ibu bayi itu sekarang bekerja disini sebagai cleaning service,” jawab pria itu.
“Biar selalu melihat bayi-bayi untuk mengobati rindunya pada bayinya,” lanjut perawat itu.
“Bisakah kami bertemu dengannya?” tanya Valerie.
“Bisa,” jawab perawat itu.
“Tolong antarkan mereka,” kata Dokter itu.
Perawat itu mengangguk, lalu keluar dari ruangan itu diikuti Valerie dan Earlangga.
Mereka menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Valerie melihat kearah ruang berselin tempat dimana dia berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan Al. Kembali rasa sedih itu menyelimutinya, merasakan kembali sakitnya meninggalnya bayinya, untunglah ternyata bayinya masih hidup.
“Ny. Merry, ada yang ingin bertemu,” kata perawat itu.
Wanita yang sudah berumur itu menghentikan menyapunya dan menatap Valerie juga Earlangga.
“Kalian siapa?” tanya Ny.Merry itu.
“Perkenalkan aku Earlangga dan ini Valerie istriku,” jawab Earlangga.
“Silahkan kalian lanjutkan saya permisi dulu,” kata perawat itu.
“Iya, terimakasih,”ucap Earlangga.
“Bisakah kita duduk disana?” tanya Valerie, menunjuk kursi tunggu.
Ny.Merry menatap suami istri itu keheranan.
“Ada yang ingin kami beritahu pada Nyonya,” kata Earlangga.
“Tentu apa?” tanya Ny.Merry.
“Tentang putramu yang meninggal,” jawab Valerie.
“Putraku? Kalian tahu tentang putraku? Putraku sudah aku berikan pada rumah sakit, aku tidak bisa membiayai biaya bersalin juga biaya pemakaman putraku,” kata Ny.Merry.
“Makanya aku bekerja disini, supaya sering melihat bayi bayi itu mengobati rinduku pada bayiku,” kata Ny.Merry.
“Rumah sakit memberikan bayi itu pada kami, dan kami sudah mengurus pemakamannya dengan layak,” kata Earlangga membuat Ny.Merry terkejut.
“Apa?” tanya Ny.Merry.
“Jadi bayiku kalian yang memakamkannya?” tanya Ny.Merry.
“Iya,” jawab Earlangga.
“Kami kesini ingin memberitahu Nyonya, dimana kami menguburkannya, Nyonya bisa melihatnya, dan mengunjungi makamnya,” kata Valeire.
Ny.Merry tiba-tiba saja menangis, sesenggukan.
“Aku tahu disaat aku menyerahkan bayiku pada rumah sakit, aku tidak punya hak untuk menanyakan dimana bayiku dikuburkan, makanya aku bekerja disini untuk menghilangkna rinduku pada bayiku karena aku tidak tahu dimana putraku dikuburkan,” kata Ny.Merry.
“Kami akan mengajak Nyonya melihat kuburannya Jordan,” kata Valerie.
“Jordan? Kalian memberikan nama itu pada bayiku?” tanya Ny, Merry menatap Valerie dan Earlangga.
“Iya Nyonya, namanya Jordan Emanuel. Kami sudah memasukkan Jordan dalam keluarga kami, tapi Nyonya bisa mengunjungi makamnya kapanpun Nyonya merindukannya,” jawab Valerie.
__ADS_1
Ny.Merry kembali menangis, ada rasa sedih dan bahagia dihatinya.
“Bahkan aku tidak sempat memberinya nama,” ucapnya sambil terisak.
“Nyonya bisa memanggilnya Jordan,” kata Earlangga.
“Terimakasih kalian sudah mau mengurus bayiku,” ucap Ny. Merry.
“Tapi kenapa bayiku sampai ada pada kalian?” tanya Ny.Merry, keheranan.
“Ada kesalahfahaman, aku mengira Jordan adalah bayiku, tapi semua masalahnya sudah beres, kami sudah tahu siapa orang tuanya Jordan, dan bayi kami juga sudah kembali” jawab Earlangga, tidak menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
“Kalian pasti sedih sekali waktu itu kan?” ucap Ny.Merry.
“Iya,” jawab Earlangga.
“Bagaimana kalau kami mengajak Nyonya ke makamnya Jordan?” tanya Valerie.
“Kami sudah ijin Dokter kepala,” ucap Earlangga.
Ny.Merry mengangguk setuju dengan wajah yang sumringah. Akhirnya dia bisa tahu dimana bayinya dikuburkan.
Akhirnya Earlangga dan Valerie mengajak Ny.Merry pergi kepemakaman tempat Jordan dikuburkan.
Melihat kuburan itu kembali mengingatkan Valerie dan Earlangga masa-masa pahit itu, betapa hancur hati mereka saat tahu bayi mereka sudah meninggal. Tapi untunglah semua itu sudah lewat ternyata Jordan bukan bayi mereka.
Ny.Merry berjongkok dipinggir kuburan itu menyentuh kuburan itu dengan tangannya. Airmata menetes dipipinya.
“Maafkan Ibu Nak, ibu tidak mengurusmu dengan baik saat ibu mengandungmu, maafkan Ibu. Tapi sekarang ibu bahagia akhirnya ibu bisa melihat kau dikuburkan dengan layak ditempat pemakaman yang sangat bagus, semoga kau tenang disana,” ucap Ny.Merry.
Lalu wanita itu menoleh pada Valerie dan Earlangga yang berdiri menatapnya.
“Aku sangat bererimakasih pada kalian yang sudah mengurus bayiku,” kata Ny.Merry.
Earlangga dan Valerie hanya mengangguk.
“Aku merasa senang akhirnya tahu dimana kuburan bayiku,” ucap Ny,Merry.
“Kau bisa kemari kapanpun kau mau. Karena kami juga tidik tinggal di London” kata Earlangga.
“Apa? Kalian tidak tinggal di London?” tanya Ny.Merry.
“Iya, kami hanya sesekali kemari. Selama kami jauh, maukah Nyonya merawat kuburannya bayi kami? Walau bagaimanapun Jordan sudah kami anggap bayi kami,” kata Valerie.
“Tentu saja, aku akan senang melakukannya!” kata Ny.Merry, tersenyum lebar.
“Terimakasih,” ucap Earlangga dan Valerie bersamaan.
Valerie berjongkok disamping kuburan itu lalu disentuhnya kuburan itu.
“Sayang, kau sekarang sudah bertemu dengan ibu kandungmu, kau pasti bahagia, Ibu juga bahagia selama ibu tidak ada di London, ibu kandungmu akan merawat tempat peristirahatanmu,“ kata Valerie, dengan hati yang kembali sedih, dia sudah merasa sayang pada Jordan, bahkan fotonya Jordan dia bawaserta.
Ny.Merry menatap Valerie sambil tersenyum.
“Semoga kau bahagia Nak, aku bisa melihat kau wanita yang baik,” ucap Ny.Merry.
“Terimakasih, Nyonya,” jawab Valerie.
Setelah merasa puas mengunjungi makamnya Jordan, Valerie dan Earlangga mengantar Ny.Merry kembali kerumah sakit.
“Setelah ini akan kemana lagi?” tanya Earlangga ,menatap istrinya.
“Aku merasa lega sekarang, kita bekrunjung ke kampung halamanku, aku ingin memperkenalkanmu dan Al pada orang tuaku, meskipun kalian tidak akan bisa melihat mereka karena mereka sudah beristirahat tenang disana,” kata Valerie.
Earlangga memeluk bahunya Valerie, merekapun berjalan menuju mobil mereka untuk pulang ke rumah yang sempat mereka tempati saat Valerie sedang hamil.
*************
__ADS_1