
Hari sudah siang, lagi-lagi Sean dihadapkan pada berkas yang bertumpuk, hasil wawancara peserta kontes yang dibawa oleh Sam.
“Apa lagi ini?” tanya Sean ,menatap Sam yang berdiri di depan meja kerjanya.
“Hasil yang lolos wawancara kemarin, kau mau lihat?” jawab Sam, balas menatap Sean, sambil menyimpan berkas itu di atas meja.
“Tidak,” jawab Sean.
“Kau serius tidak akan melihat?” tanya Sam.
“Entahlah, tidak ada yang menarik, apa tes berikutnya?” jawab Sean dengan lesu.
“Kita mulai lomba pertama, yaitu memasak menu kesukaanmu,” kata Sam.
“Kau memberitahu peserta makanan kesukaanku?” tanya Sean, menatap Sam yang duduk di depannya.
“Tentu saja tidak. Mereka harus menebak kira-kira makanan apa kesukaan Presdir,” jawab Sam.
“Memangnya kau tahu makanan kesukaanku?” tanya Sean pada Sam.
“Tentu saja tidak, kau kan bukan pacarku, buat apa aku memperhatikan makanan kesukaanmu? Buang-buang waktu!” jawab Sam, membuat Sean kesal. Temannya itu malah tertawa. Sean jadi berfikir apakah wanita itu tahu makanan kesukaannya? Ah kenapa memikirkan wanita itu, bukankah dari awal dia sudah ingin menggagalkan wanita itu?
Terdengar suara pintu diketuk. Bu Devi sudah berdiri di pintu.
“Pak, mau saya siapkan makan siang?” tanya Bu Devi. Sean tampak berfikir sebentar.
“Mm tidak tidak, aku ingin makan diluar saja, di tempat yang kemarin, aku suka makanannya,” jawab Sean. Padahal bukan karena suka makanannya, tapi dia ingat tadi pagi Lorena mengatakan akan bekerja di restaurant itu, jadi dia ingin makan disana.
“Aku ikut ya,” ucap Sam.
“Ayo,” jawab Sean.
“Apa saya perlu ikut?” tanya Bu Devi.
“Tidak, aku berdua saja dengan Sam,” jawab Sean.
“Baiklah, aku pesankan menu yang kemarin ya,Pak?” tanya Bu Devi.
“Iya,” jawab Sean. Bu Devi akan kembali, tapi Sean memanggilnya.
“Bu Devi kalau bisa jangan terlalu jauh dari tempat music ya,” ucap Sean.
“Baik Pak,” jawab Bu Devi.
“Tapi jangan terlalu dekat juga!” seru Sean lagi. Bu Devi mengerutkan keningnya tapi tidak bicara apa-apa, diapun menghilang di balik pintu.
Sam menatap Sean.
“Sejak kapan kau suka music?” tanya Sam.
“Tidak, aku tidak suka music, berisik!” jawab Sean. Sam tidak menjawab lagi, dilihatnya Sean kembali mengerjakan sesuatu diatas meja tapi bukan melihat hasil wawancara.
“Jadi benar nih hasil wawancara juga kau tidak mau tahu?” tanya Sam.
“Tidak,” jawab Sean menggeleng.
“Baiklah kalau begitu, berkas aku bawa lagi. Kau datang dua hari lagi di tempat lomba, aku menunggu wawancara ini selesai dulu,” kata Sam.
“Oke. Ayo kita makan!” ajak Sean, sepertinya dia yang tidak peduli dengan kontes itu.
“Ya sudah, ayo, aku juga sudah lapar,” kata Sam. Mereka berduapun pergi ke restaurant tempat Lorena bekerja.
“Tadi Bu Devi bilang di meja berapa?” tanya Sam, saat mereka sudah tiba di restaurant.
“Kau tanya pada pelayan, meja nomor 24,” jawab Sean.
Sam memanggil pelayan yang segera menghampiri mereka.
“Meja nomor 24 yang sudah dipesan oleh Bu Devi,” kata Sam.
“Silahkan mari ikut saya,” jawab pelayan itu, merekapun mengikutinya.
Sean melihat ke sekeliling. Ternyata benar, meja itu cukup strategis melihat ke panggung mini dan juga tidak terlalu dekat ke panggung itu.
Sean langsung duduk diikuti Sam. Tidak berapa lama beberapa pelayan datang membawakan menu pesanan Bu Devi.
__ADS_1
Sam melihat menu dimeja, seafood, ada cumi saos tiram. Perutnya langsung saja merasa lapar, diapun menyantap makanannya dengan lahap. Begitu juga dengan Sean tapi dia tidak selahap Sam. Dia sedang berfikir, kenapa Lorena tidak tampil? Yang diatas panggung hanya penyanyi wanita saja.
“Katanya disini makanannya kau suka, kenapa kau makan sedikit?” tanya Sam, keheranan melihat Sean makannya sedikit. Sean tidak menjawab.
Terdengar suara MC memberitahukan seorang pemain Biola akan tampil.
“Tumben sekali ada pemain biola yang tampil,” kata Sam, diapun menoleh kearah panggung mini, dia langsung terkejut saat melihat siapa yang akan tampil itu. Diapun menoleh pada Sean yang tampak cuek saja, malah sekarang begitu sibuk dengan makanannya, membuatnya keheranan saja dengan tingkahnya. Sam kembali melihat ke panggung dan melihat Lorena mulai memainkan biolanya. Terdengar music indah itu menggema di seluruh restaurant itu. Sam tampak tersenyum dengan antusias mendengarkan music itu.
“Benar-benar cantik,” gumam Sam.
“Apa katamu?” tanya Sean tiba-tiba, dia terkejut Sam memuji Lorena.
“Permainan musicnya sangat cantik. Kau sensi amat,” gerutu Sam, melirik Sean sebentar, lalu kembali melihat penampilan Lorena. Senyum kembali mengembang di bibirnya.
“Sepertinya aku jatuh cinta,” gumam Sam.
“Apa katamu?” bentak Sean lebih keras lagi, membuat Sam kembali menoleh.
“Aku jatuh cinta pada permainannya,” jawab Sam dengan ketus, dia semakin heran saja dengan sikap Sean itu. Sam kembali melihat ke panggung, kembali tersenyum.
“Kenapa kau tidak bilang Lorena tampil disini? Besok aku mau makan lagi disini,” ucap Sam.
“Tidak-tidak, disini makanannya tidak enak,” sela Sean, Sam kembali menoleh pada Sean.
“Katamu ke Bu Devi makanannya kau suka, kau sangat membingungkan,” gerutu Sam. Sean tidak menghiraukannya, dia kembali memakan menu di piringnya.
Setelah cukup lama, music biola itupun habis, para pengunjung restaurant memberikan tepuk tangan yang meriah, mereka sangat terhibur dengan penampilan Lorena.
Sam mengacungkan tangannya.
“Kau mau apa?” tanya Sean. Sam tidak menjawab. Dia masih menatap kearah panggung.
“Aku mau reques satu lagu lagi, masukkan ke Bill!” seru Sam pada Mc yang menoleh padanya.
“Buat apa kau reques lagu segala. Penampilannya kan biasa saja,” kata sean.
“Ya sudah jangan di dengarkan, tutup telingamu,” jawab Sam tanpa menoleh.
“Aku kapok membawamu kesini,” gerutu Sean. Sam tidak peduli, dia masih melihat kearah panggung, membuat Sean juga melihat kesana.
Dilihatnya Lorena mendekati mic.
Lorena tampak menatap Sam yang duduk bersama Sean, diapun tersenyum, matanya hanya teruju pada Sam. Sean menoleh pada Lorena lalu pada Sam yang juga balas tersenyum, kenapa dia merasa tidak suka melihatnya?
“Lagu ini special buat Presdir Samuel yang duduk disana,” ucap Lorena yang diikuti tepuk tangan bergemuruh. Sam sampai berbunga-bunga mendegarnya, senyum semakin mengembang dibibirnya. Sean semakin kesal saja, kenapa dia jadi merasa menyesal bertukar tempat dengan Sam?
Terdengar lagi music biola mengalun.
“Dia benar-benar mengagumkan,” gumam Sam.
“Ayo kembali ke kantor! Banyak pekerjaan!” ajak Sean tiba-tiba, membuat Sam menoleh.
“Ini kan masih jam istirahat, aku belum selesai mendengar musicnya,” kata Sam, menatap Sean. Pria itu tidak bicara, hanya bangun dari duduknya. Akhirnya Sam mengalah, walaubagaimanapun Sean adalah bosnya, diapun jadi bangun dan menoleh pada Lorena, lalu melambaikan tangannya tanda berpisah. Lorena tampak kaget, baru juga memainkan music buat Sam, Presdir itu malah berdiri mengikuti asistennya dan hanya melambaikan tangan padanya, membuatnya kecewa saja. Kenapa Sam tiba-tiba pergi? Pasti gara-gara asistennya yang reseh itu, fikirnya, membuatnya jadi kesal pada Sean, si asisten yang suka iri menurutnya.
“Kau ini tidak ada hujan tidak ada angin. Tadi kau buru-buru mengajak makan siang, sekarang kau buru-buru mengajak ke kantor lagi. Kalau begitu tadi pesan saja cathering makan di kantor,” gerutu Sam, saat merka tiba diruangannya Sean.
“Aku baru ingat ada pekerjaan yang segera,” jawab Sean beralasan, sambil duduk di kursinya.
“Ya sudah, aku kembali ke ruanganku, berkas hasil wawancara aku ambil,” kata Sam. Sean hanya mengangguk. Sampun keluar dari ruangan itu.
Setelah Sam keluar, Sean hanya diam tidak mengerjakan apa-apa. Kenapa dia merasa tidak suka Sam diperlakukan istimewa oleh Lorena?
Hingga tiba sore hari, jam dia pulang ke rumah. Pak Roby sudah berdiri di dekat pintu yang terbuka lebar, menyambutnya. Ada yang berbeda, ruangan itu tampak sepi tidak ada lagi suara music, kemana wanita itu? Ternyata wanita itu berdiri disebrangnya Pak Roby. Ada apa ini? Wanita itu ikut-ikutan menyambutnya?
“Aku mau bicara dengamu!” tiba-tiba Lorena langsung menghadangnya.
“Soal apa?” tanya Sean, menatap wanita itu yang tampak sedang marah, wajahnya sampai memerah, ternyata sedang marahpun dia terliahat semakin cantik. Kenapa dia jadi memuji wanita itu? Buang jauh-jauh, banyak yang cantik selain Lorena!
Lorena berjalan mendekati Sean.
“Kau tau, kau adalah pria terusil yang pernah aku kenal?” tanya Lorena.
“Usil? Usil kenapa?”tanya Sean, tidak mengerti.
“Kau kan sengaja membuat pak Sam pergi meninggalkan mejanya? Padahal dia yang meminta tambahan lagu,” tuduh Lorena.
__ADS_1
Sean tiba-tiba tertawa.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Lorena, masih dengan wajah yang masam.
“Tentu saja aku tertawa. Kau sangat lucu!” jawab Sea, kini berubah ketus.
“Apanya yang lucu?” tanya Lorena, tambah kesal.
“Buat apa aku membuat Sam pergi meninggalkan mejanya? Dia memang tidak suka mendengar musicmu, dia tidak suka music,” kata Sam dengan ketus, dia jadi kesal Lorena marah-marah padanya.
“Tidak suka bagaimana? Dia yang memesan tambahan lagu,” ucap Lorena.
“Dia Cuma iseng saja, bukan berarti dia suka music,” jawab Sean, membuat Lorena terdiam.
“Aku tidak percaya kata-katamu!” bentak Lorena kemudian.
“Hei daripada kau marah-marah tidak jelas, lebih baik kau persiapkan tuh lomba berikutnya!” kata Sean.
“Lomba berikutnya?”tanya Lorena.
“Lomba memasak. Aku sudah bisa menebak kau pasti tidak bisa memasak,” kata Sean.
“Memasak?” gumam Lorena.
“Kau tidak tahu tes berikutnya memasak?” tanya Sean, yang keheranan melihat raut muka Lorena seperti terkejut.
“Aku tahu, tapi…” jawab Lorena, tampak berfikir.
“Tapi apa?” tanya Sean.
“Aku tidak bisa memasak,” jawab Lorena. Sean langsung tertawa.
“Hahaha..Tuh betul kan tebakanku, kau tidak bisa memasak!” seru Sean.
Lorena terdiam.
“Paling-paling kau gagal baru juga lomba pertama. Mana yang katanya bisa membuat Presdir jatuh cinta? Memasak saja tidak bisa,” ejek Sean.
Lorena menatap Sean dengan serius, membuat sean juga menatapnya serius.
“Kau fikir aku tidak tahu makanan kesukaan Presdir?” tanya Lorena, membuat Sean terkejut.
“Emangnya kau tau?” tanya Sean.
“Tentu saja aku tahu. Dan kau, karena kau sudah membuat Presdir tidak mendengarkan musicku, jadi kau aku hukum,” kata Lorena.
“Apa? Seenakmu saja menghukum orang,” gerutu Sean.
“Tentu saja. Besok kan tanggal merah, kantor libur, berarti kau tidak bekerja, maka aku akan menghukummu,” kata Lorena.
“Apa hukumannya?” tiba-tiba Sean jadi penasaran.
“Besok aku akan belajar memasak lewat internet, dan kau yang harus mencicipi hasil pasakanku sampai rasanya enak,” jawab Lorena dengan semangat.
“Apa? Mencicipi pasakanmu yang baru belajar dari internet? Tidak, tidak, tidak, aku tidak mau jadi kelinci percobaanmu!” teriak Sean, sambil beranjak meninggalkan Lorena.
“Tidak bisa! Kau harus mau! Kau bersalah padaku!” teriak Lorena sambil mengikuti langkah Sean.
“Tidak mau!” teriak Sean, terus melangkah.
“Harus mau!” balas Lorena, terus mengikuti.
“Tidak!”
“Harus!”
“Tidak!’
“Harus!”
**************************
Jangan lupa like, vote dan komen ya.
__ADS_1
"My Secretary" season 3 sebenarnya sudah up dari kemarin tapi ga tau kenapa masih review terus.
Info bagi yang baca, kalau tidak baca, abaikan saja.