Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-36 Sebuah Lagu buat Lorena


__ADS_3

Lorena menatap Sean yang juga menatapnya. Suara music yang meriah tidak membuat hatinya merasa bahagia, dia merasa bingung dengan pria yang ada dihadapannya itu.


“Mr. Sean, sebelum acara tiup lilin apakah anda ingin mengatakan sesuatu? Mungkin permintaan atau keinginan keinginan anda di tahun ini?” tanya MC, yang berjalan mendektai Sean dengan mikenya.


Lorena membalikkan badannya meninggalkan tempatnya berdiri. Entah kenapa dia merasa kecewa dengan kenyataan yang ada dihadapannya. Dia merasa tidak mengenal teman bertengkarnya itu. Dia merasa tidak mengenal Sean. Sekarang dia merasa Sean adalah orang asing, dia merasa kehilangan sosok Sean yang dikenalnya, Sean sudah menjadi orang asing dimatanya.


Terngar suara Sean berbicara menggunakan mike.


“Hanya satu keinginanku ditahun ini,” ucap Sean, membuat semua yang hadir begitu riuh bertnya-tanya penuh antusias dengan wajah yang sumringah ingin mendengarkan perkataan si empunya ulang tahun.


Lorena masih terus berjalan membelakangi kerumunan, berjalan menunduk. Entah kenapa dia merasa sedih melihat Sean seperti bukan Sean yang biasanya dia kenal.


“Aku hanya ingin seoarang wanita yang mau berbalik melihatku,” ucap Sean. Membuat suara orang-orang begitu ramai menggodanya.


“Iya, aku hanya ingin dia melihatku,” jawab Sean.


Lorena menghentikan langkahnya mendengar Sean bicara. Apa maksudnya pria itu ingin wanita itu melihatnya? Wanita yang mana? Ada ada saja, batinnya. Lorena masih tidak berbalik, dia masih berjalan menuju tim music pengiring yang duduk berkumpul.


“Mr.Sean, anda bercanda. Siapa wanitanya yang tidak mau melihat anda? Anda tampan dan sukses, semua wanita akan melihat anda!” kata Mc. Membuat semua hadirin tertawa, dan mengangguk setuju. Sean tersenyum mendengar perkataan MC.


“Ada seseorang yang tidak mau melihatku,” ucap Sean.


Lorena tetap saja berjalan diantara orang-orang yang berdiri itu. Apa maksudnya seseorang tidak mau melihatnya? Cibirnya.


“Dia tetap tidak mau melihatku,” ucap Sean lagi ,membuat hadirin tertawa menggoda lagi.


Ny. Grace hanya tersenyum saja melihat percakapan Sean dengan MC itu. Tapi matanya melihat kearah Lorena pergi menuju tim music pengiring. Hatinya sudah menebak, putranya jatuh cinta pada gadis itu dan sepertinya gadis itu tidak menyadarinya, fikirnya.


“Tapi kenyataannya memang aku pria yang sangat menyedihkan karena wanita itu masih tidak mau melihatku,” ucap Sean lagi.


“Itu lagi, itu lagi, apa tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan?” gerutu Lorena,


“Katakan padaku, apa kau sedang jatuh cinta?” tanya Mc. Semua hadirin kembali riuh.


“Aku tidak tahu apa ini artinya jatuh cinta atau bukan, karena aku belum pernah jatuh cinta,” jawab Sean, membuat semua orang kembali tertawa lagi.


Tidak ada seorangpun yang percaya kalau Sean adalah seorang pria yang kesepian. Wajah tampan dan kekayaanya akan memudahkannya mendapatkan wanita manapun.


“Kalau begitu, apa yang ingin kau katakan pada wanita yang tidak mau melihatmu itu?” tanya MC.


“Aku tidak ingin berkata apa-apa, aku hanya ingin memberikan sebuah lagu untuknya,” jawab Sean. Semau hadirin kembali riuh dan bertepuk tangan. Ny. Grace sampai bengong mendengarnya.


Lorena masih memunggungi Sean. Dia malas melihat Sean, pria itu akan memberikan lagu, lagu apaan, dia tidak pernah menyanyi atau bermain music, bahkan dia tidak suka music.


“Aku membawa sesuatu,” ucap Sean, diapun memanggil seseoarng, untuk mengambilkan sesuatu. Hadirin begitu antusiaa bertanya-tanya apa itu yang akan diambil orang itu. Tidak berapa lama orang itu muncul membawakan sebuah biola dan diberikan pada Sean.


“Ini adalah Biola yang dberikan ibuku waktu aku kecil,” ucap Sean.

__ADS_1


Saat mengatakan Biola, Lorena merasa kaget. Memangnya Sean bisa bermain biola?


Ny.Grace menatap biola yang dibelikannya dulu saat Sean kecil, dulu sekali, mungkin saat Sean SD.


“Sebenarnya aku tidak suka music. Aku hanya bisa memainkan satu-satunya lagu dengan biola ini, setelah itu aku tidak pernah menggunakannya lagi,” kata Sean, memperlihatkan biola itu pada tamu-tamu yang mengelilinginya.


“Mr.Sean, anda akan menyanyikan lagu anda waktu kecil itu yang satu satunya lagu yang anda bisa itu?” tanya MC. Diikuti tawa semua hadirin.


“Tidak, aku akan memainkan sebuah lagu yang sering aku dengar tiap malam sebelum aku tidur,” jawab Sean.


Mendengar Sean bicara begitu, Lorena menghentikan langkahnya. Lagu yag dimainkan setiap malam? Apa maksudnya?


“Apa menurut anda wanita itu akan melihat anda jika anda memainkan lagu itu?” tanya MC.


“Aku tidak tahu, semoga saja,” jawab Sean, membuat hadirin kembali tertawa.


“Apa kita bisa mulai?” tanya Mc, menatap Sean.


“Baiklah aku akan mulai, aku rasa dia mengenali lagu ini,” jawab Sean.


Pria itu kini mulai menggesek biolanya, perlahan, terdengar tepuk riuh tamu yang hadir.


Lorena tersentak kaget. Satu nada dua nada, pria itu memainkan lagu yang suka dia mainkan setiap malam sebelum tidur. Lagu melankolis yang menenangkan siapapun yang mendengarnya dan akan segera terlelap dalam tidurnya.


Ada haru di hatinya, ternyata pria itu hafal lagu yang suka dia mainkan. Entah kapan Sean belajar memainkan lagu itu dengan biolanya.


Semua orang yang hadir malam itu tampak terpesona dangan permainan biolanya Sean. Ny Grace saja sampai tidak percaya putranya bisa memainkan music biola seindah itu. Yang dia tahu putranya tidak suka music dan sering bolos kalau ada jadwal les music.


Putranya itu seolah merasa asing dengan dirinya karena jarangnya mereka bertemu. Perlahan airmatanya menetes di pipinya yang segera dihapus dengan jari-jarinya, ada haru di hatinya. Di benar-benar tidak tahu perkembangan putranya seperti apa. Dia hanya tahu laporan laporan saja dari Pak Deni yang mendampingi putranya dari kecil.


Setengah lagu sudah  Sean mainkan, tapi Lorena tidak juga menoleh kearahnya. Ada rasa sedih dihatinya. Kenapa Lorena tidak mau melihatnya? Tapi Sean meneruskan lagunya, namun tiba-tiba terdengar sebuah music biola suara kedua yang muncul di antara tim music pengiring, membuat semua orang menoleh kearah suara itu.


Sean menghentikan music biolanya, dia menatap kearah suara.


Orang-orang mulai memisahkan diri memberikan jalan pada seseorang yang memainkan biolanya. Kini ruangan itu seakan menjadi lautan yang terbelah dua. Orang-orang berdiri di kiri dan kanan, dengan tengah tengah yang kosong memanjang. Di masing-masing ujung ada Sean dengan biolany adan seseorang juga dengan biolanya yang kini sedang dimainkannya.


Pria yang berulang tahun itu tersenyum, meliht gadis pemain biola itu.melanjutkan permainan musicnya satu bait. Kemudian Lorena menghentikan permianan biolanya dan menatap Sean. Dia tersenyum pada pria itu.


“Sean!” sapa Lorena dengan satu tangan mengarah pada Sean. Terdengar tepukan riuh dari penonton.


“Lorena!” balas Sean, diikuti tepuk tangan riuh penonton.


Lorena dan Sean saling bertatapan dari ujung ke ujung itu. Seperti yang sudah dikomando, mereka memainkan music biola bersama-sama, dengan lagu yang tadi, lagu yang sering Lorena mainkan setiap malam.


Lorena menghentikan musicnya saat Sean masih bermain, dia berjalan mendekati Sean yang ada di tengah-tengah ruangan itu.


Sean menghentikan musicnya menatap Lorena. Gadis itu kembali melanjutkan musicnya satu bait, Merekapun main music bergantian. Penonton sangat kagum melihatnya, meskipun acara music yang dadakan tapi mereka menampilkan yang terbaik untuk semuanya.

__ADS_1


Sean dan Lorena berhadapan. Semua orang menatap mereka tanpa berkedip.


Sean dan Lorenapun menggesek biolanya bersama-sama untuk bait yang terakhir.


Setelah itu mereka menghakhiri musicnya. Tepuk tangan riuh menggema diruangan itu.


Lorena mengulurkan satu tangannya pada Sean, yang segera menyambutnya, diapun membungkuk memberi hormat pada penonton bersamaan dengan Sean, malam ini dia merasa seperti artis saja.


Tepuk tangan meriah tidak henti-hentinya, semua mata merasa terhibur dengan penampilan mereka.


“Wa wah , duet yang memukau!” teriak MC.


“Tepuk tangan sekali lagi yang meriah untuk pasangan duet kita. Mr Sean dan Miss Lorena, yang akan tampil sebentar lagi menghibur kita semua!” seru MC.


Tepuk tangan kembali meriah di dalam ruangan itu, seprtinya malam ini tidak ada seorangpun yang merasa sedih, semuanya bahagia tersirat dari senyum mereka yang hadir.


“Hadirin yang anda saksikan bukan akhir acara, nanti Miss Lorena akan menghibur kita semua dengan permainan biolanya. Sekarang kita ke acara inti untuk menyanyikan lagu ulang tahunn buat Mr. Sean,” ucap MC.


Semua hadirin kembali berkumpul mendekati meja ulang tahunnya Sean, disana sudah kue bolu yang lumayan besar dengan lilin yang menyala diatasnya. Para tamu menyanyikan lagu selamat ulang tahun diiringi music pengiring.


Lorena akan meninggalkan area itu tapi tiba-tiba tangannya ada yang menahannya. Pria itu memegang tangannya. Lorena lihat kerah tangannya yang diegang Sean, lalu menatap pria itu yang memandang kearah tamu-tamu. Akhirnya dia berdiri disampingnya Sean ikut menyanyikan lagu ulang tahunnya.


Pria itu mulai meniup lilinnya. Tidak seperti saat meniup lilin dari kue ulang tahunnya Lorena. Lilin yang sekarang sekali tiup langsung mati. Terdengar tepuk tangan yang meriah.


Sean memotong kue bolu dengan pisau kue, kue pertama diberikan pda ibunya, dan bolu yang kedua diberikan kepada… dia membalikkan badannya kearah samping kearah Lorena berdiri ternyata wanita itu tidak ada. Mata Sean milihat ke arah panggung pentas, gadis itu sedang bersama tim musicnya sedang bersiap- siap untuk tampil.


“Jadi aku setelah music pembuka?” tanya Lorena pada ketua tim music pengiring itu.


“Benar,”jawab pria pemusic itu, matanya langsung menatap seseorang yang datang menghampiri mereka. Lorenapun jadi ikut melihat ke belakangnya ternyata Sean sudah berdiri didekatnya. Ditangannya ada sebuah piring kecil berisi kue bolu ulang tahun.


“Ini untukmu,” ucap Sean, memberikannya pada Lorena.


“Aku  akan tampil, mulutku akan belepotan makan kue itu,” ucap Lorena.


Sean memotongkan  sedikit kue di piring kecil itu dengan garpunya, lalu disodorkannya ke mulut Lorena.


“Sesuap kue ini tidak akan membuat lisptikmu luntur,” ucapnya, membuat Lorena tersenyum, dipun memakan kue itu.


“Selamat ulang tahun Sean,” ucap Lorena, ini ucapan untuk yang kedua kalinya.


“Terimakasih,”balas Sean.


Terdengar MC memulai acara, para tamu juga sudah mulai mencicipi hidangannya.


“Selamat bekerja,” ucap Sean lagi, Lorena hanya mengangguk. Seanpun meninggalkan Lorena yang akan segera tampil. Pria itu mendekati sebuah meja yang disana sudah ada ibunya duduk bersama Pak Andre dan beberapa orang lainnya. Sean duduk disamping ibunya.


“Gadis yang sangat cantik,” ucap ibunya berbisik. Sean hanya  diam tidak menyahut.

__ADS_1


*****************


Jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2