Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-1 Di London


__ADS_3

Malam ini Sean dan Lorena sedang berada di London. Setelah Lorena kembali pulang ke rumah Sean, mereka menemui orangtuanya Lorena di London.


“Bayimu sangat lucu sayang, dia sangat tampan,” ucap Mommynya Lorena yang sedang menggendong Baby Earl. Mereka sedang berkumpul bersantai di ruang keluarga.


Lorena tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja.


Ibunya Lorena menoleh pada Sean.


“Mommy mau Earlangga tinggal di London,” kata Mrs Julian, ibunya Lorena, membuat Sean dan Lorena terkejut.


“Tapi Mommy, kenapa?” tanya Sean.


“Tentu saja karena kalau tinggal bersamamu nyawanya akan terancam. Tidak ada jaminan orang jahat itu tidak akan mengganggu kalian lagi,” jawab Mrs. Julian.


“Mommymu benar sayang, sebaiknya Earlangga tinggal di London,” kata Mr.Julian.


“Tapi Daddy, aku tidak mau berpisah dengan putraku. Aku berjanji akan menjaga ketat pengawalan dirumah,” ucap Sean, wajahnya langsung pucat karena melihat reaksi mertuanya.


“Itu jalan yang terbaik, kau kan bisa menegoknya ke London, lebih aman begitu,” kata Mrs. Julian.


Lorena menolah pada Sean, mereka akan merasa berat kalau berpisah dengan Earlangga apalagi itu bayi pertama mereka.


“Atau, kalian tinggal saja di London, soal pekerjaanmu, kau buat shcedul saja, siapa yang akan bertanggung jawab disana, masih bisa di atur,” kata Mr.Julian.


“Bagaimana sayang?” tanya Lorena menatap Sean.


“Itu demi kebaikan Earlangga juga,” jawab Mr. Julian.


“Aku ingin mengajaknya jalan-jalan dengan mobil sportku,” kata Mrs. Julian.


“Jangan!” teriak Lorena sambil menatap ibunya.


“Kenapa? Pria akan keren kalau menggunakan mobil soprt,” tanya ibunya.


“Mommy, aku tidak mau Earlangga ugal-ugalan dijalanan,” jawab Lorena.


“Tidak ugal-ugalan, pria harus menyukai hal-hal yang memicu adrenalin,” kata ibunya Lorena, membuatnya pusing saja. Ibunya meskipun perempuan tapi sangat menyukai balapan-balapan, dia tidak mau putranya mengikuti hobby neneknya.


Lorena menoleh pada suaminya.


“Apa kita akan tinggal di London?” tanya Lorena.


Sean menatap istri tercintanya sambil memegang tangannya, mereka duduk satu sofa.


“Tidak ada jalan lain, mungkin sementara waktu memang harus tinggal di London, aku akan mengatur jadwal kerjaku,” jawab Sean.


“Tentu saja, Earlangga harus tinggal disini. Kalau kau tidak menurut aku lebih baik memisahkanmu dengan putri dan cuucuku,” kata Ibunya Lorena.


“Kenapa Mommy bicara begitu? Aku mencintai Istri dan putraku,” ujar Sean, dia langsung saja panic.


“Tentu saja, karena berada di dekatmu akan membahayakan nyawanya. Kau membiarkan Earlangga tinggal di London atau kau tidak usah bertemu mereka lagi selamanya,” kata Mrs. Julian.


“Jangan begitu Mommy. Baiklah kami akan pindah ke London, tapi jangan pisahkan aku dengan anak dan istrku,” ujar Sean.

__ADS_1


“Ya bagus begitu, kau harus ingat keselamatan Earlangga harus diutamakan,” kata Mommy Lorena.


Mr. Julian menoleh pada Sean.


“Benar Sean, kita harus mengutamakan keselamatan Earlangga. Tinggal disini akan lebih baik. Kau kan masih bisa bolak balik ke London,” ujar Mr. Julian.


“Padahal sebenarnya orang yang mencelakai Lorena itu sudah meninggal di penjara. Tapi demi keselamatan Earlangga, kami akan tinggal di London,” kata Sean, sambil menoleh pada Lorena.


“Kau bisa menyuruh orang kepercayaanmu untuk membantu pekerjaan disana, sayang,” ucap Lorena, menatap suaminya.


Sean mengangguk. Tangannya menarik istrinya kepelukannya dan mencium keningnya. Matanya terhenti pada tatapan pria yang sedari tadi tidak bicara.


“Kenapa menatapku begitu? Aku tidak melarangmu tinggal disini,” kata Griss.


Lorena menoleh pada kakaknya itu.


“Lagipula kalau aku menikah aku tidak akan tinggal disini, aku ingin membeli rumah baru,” ucap Griss.


“Wah apa kau sudah punya calon istri?” tanya Lorena.


“Tidak juga,” jawab Griss.


“Kenapa memikirkan rumah baru?” gumam Lorena.


“Kau tenang saja, aku akan mengajak ponakanku bermain,” kata Griss.


“Tentu saja kau akan menjadi om yang baik,” ucap Lorena sambil tersenyum.


“Tidak, tidak, putraku tidak boleh bermain dengannya,” larang Sean.


“Nanti diajak main yang tidak -tidak,” jawab Sean.


“Maksudmu apa yang tidak-tidak? ” tanya Griss dengan ketus.


Sean akan menjawab, tapi mulutnya ditutup tangan Lorena.


“Jangan bertengkar sayang,” ucapnya lalu menoleh pada Griss.


“Kau boleh bermain dengan Earlangga tapi jangan membuatnya menangis,” kata Lorena.


“Kau sama saja dengan pria itu, buat apa aku membuatnya menagis?” keluh Griss, sambil beranjak dari sofanya. Sean menatap kepergiannya dengan lega, dia malas tinggal lama-lama dengan kakak iparnya itu.


****************


Beberapa tahun telah berlalu…


Sean, Lorena dan Earlangga tinggal bersama orang tuanya Lorena di London. Kadang mereka kembali ke tanah air berhari -hari untuk mengurus pekerjaannya Sean, sedangkan Earlangga diurus  kakek dan neneknya yang sangat


menyayangi dan memanjakannya.


Hobby grandmanya mengoleksi mobil sport ternyata menurun pada Earlangga, alhasil Earlanggapun tumbuh menjadi pria tampan gagah yang menyukai balapan dengan mobil sportnya. Koleksi mobil soprtnya  kini melebihi milik grandmanya, tentu saja mobil-mobil itu berharga fantastic tapi dengan kekayaan yang dimiliki ayah juga kakeknya, itu hanya uang sebagian kecil saja.


 

__ADS_1


Suatu hari di sore hari..


Ciiit! Terdengar suara decitan mobil berhenti di depan teras, tentu saja menimbulkan suara yang berdecit karena mengeremnya juga mendadak dari kecepatan tinggi.


Mr. Julian yang berada diruang kerjanya, hanya mengernyitkan dahinya saat mendengarnya, tapi kemudian dia kembali mengerjakan pekerjaannya.


Mrs. Julian keluar dari pintu rumah, begitu melihat mobil sport itu senyum langsung mengembang dibibirnya.


“Sayang kau mendapat mobil baru lagi?” tanya Mrs. Jualian sambil menghampiri dan menyentuh mobil itu.


“Tentu saja, ini mobil keluaran terbaru Grandma,” jawab Earlangga, sambil keluar dari mobil barunya itu.


“Benar-benar keren!” sahut Grandmanya.


Earlangga berdiri sambil tersenyum menatap mobilnya.


Saat mereka sedang memperhatikan mobil mewah itu, Mr. Julian muncul dipintu rumah.


“Kau membeli mobil baru lagi?” tanyanya, sambil menghampiri.


“Iya Grandfa, bagaimana? Bagus kan? Aku selalu menjadi orang pertama yang membeli mobil-mobil sport keluaran terbaru!” kata Earlangga dengan bangga, tersenyum sambil menoleh pada Grandfanya.


“Mobil yang bagus!” kata Mr. Julian.


“Apa Grandma boleh mencobanya?” tanya istrinya.


“ entu saja,” jawab Earlangga.


Mrs Julian membuka pintu tapi suaminya bicara, membuat gerakannya terhenti.


“Kau sudah memberitahu Earl soal telpon dari ayahnya?” tanya Mr. Julian pada isrinya.


“Belum,” jawab istrinya, tidak jadi masuk dan menatap suaminya lalu pada Earlangga.


“Ada apa?” tanya Earlangga.


“Earl, ayahmu meminta kau pulang, dia akan memperkenalkan perusahaannya padamu, kau harus mulai mengetahui apa saja yang kau miliki,” jawab Mr. Julian.


“Ayah memintaku tinggal disana? Aku sudah betah disini, aku akan  kehilangan moment bersama teman- temanku balapan,” kata Earlangga.


“Mau tidak mau kau harus kesana, soal nanti tinggal disini atau disanaa, itu bisa di bicarakan,” kata Mr. Julian.


“Aku akan kehilangan Earl kalau dia mengurus perusahan disana,” kata Mrs. Julian.


“Tapi dia juga harus tahu tempat dia dilahirkan, dia tidak bisa melepaskan asal usulnya, “ ujar Mr.Julian.


Earlangga menatap kakeknya lalu pada neneknya.


“Baiklah aku akan kesana, nanti aku telpon ayah,” jawab Earlangga.


Selama ini dia belum pernah menginjakkana kakinya ketanah kelahirannya.


“Aku akan membawa mobil ini,” ucapnya lagi, kembali menatap mobil barunya sambil tersenyum.

__ADS_1


**************


Episodenya sedikit dulu ya, aku ada masalah dengan quota, apa sinyalnya apa gimana, lola banget, jadi yang penting up dulu.


__ADS_2