Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-109 Melahirkan


__ADS_3

Karena dorongan bayi semakin kuat, Lorena terpaksa menyamankan dirinya untuk persiapan melahirkan sendirian. Meskipun dengan hati yang sangat sedih, dia berusaha kuat dan tetap tegar menerima takdirnya untuk melahirkan dikebun karet ini. Bayangan wajah suaminya terus terlintas dalam benaknya. Seandainya dia bisa melahirkan normal mungkin sekarang Sean sudah menungguinya diruang bersalin, tapi itu tidak akan terjadi sekarang.


Semakin lama dorongan itu semakin sering hampir tiap menit tiap detik dorongan semakin kuat. Tangan Lorena memegang erat rumput liar disekitarnya, dia sudah tidak bisa menahan lagi sakitnya dorongaan akan melahirkan.


Dikuatkannya hatinya untuk melahirkan sekarang juga, diapun mengatur nafasnya mengumpulan tenaganya untuk mengejan berulang-ulang  dengan kuat, sampai akhirnya dia merasakan benda dingin menyentuh pahanya yang hanya beralaskan gaun yang dikenakannya. Beberapa menit kemudian terdengar suara tangisan bayi yang nyaring.


“Oaa..Oaa..” tangis bayi tidak henti hentinya.


Isak tangis sudah tidak bisa dibendung lagi, airmata sudah tidak bisa tertahankan lagi. Rasa sedih yang menyelimuti dirinya bercampur haru dan bahagia mendengar tangisan bayinya.


Lorena merasakan tubuh yang lemas tapi tangannya meraih pohon karet itu dengan kuat, memaksakan dirinya untuk bangun untuk melihat bayinya yang ada diantara kakinya. Tapi dia merasakan mulas yang berulang lagi dan keinginan mengejan untuk yang kedua kalinya, membuatnya mengejan sekali lagi, setelah itu rasa dingin dirasakannya kembali diantara kakinya, entah apa itu Lorena tidak mengerti. Yang dia tahu adalah dia baru saja melahirkan bayinya.


Tangan Lorena terus berpegangan pada pohon karet, dia mencoba duduk sekuat tenaga meskipun sebenarnya dia sudah tidak memiliki tenaga lagi, tapi dia harus menyelamatkan bayinya. Lorena mencoba duduk dan meraih bayinya yang masih berlumur darah merah.


“Sayang, bayiku,” gumamnya dengan bibir yang bergetar, keringat membasahi tubuhnya dengan rambut yang terurai berantakan, airmata terus membasahi pipinya. Dipeluknya bayi yang masih tersambung tali ari-ari dan benda lain yang menyertai kelahirannya.


Diusapnya wajah bayinya itu yang masih terpejam dan tidak berhenti menangis. Lorena mencoba membersihkan wajah bayinya dengan kedua tangannya, bayi laki-laki yang tampan.


“Sayang, kau sudah lahir,” ucapnya, dengan kebingungan, dia tidak tahu bagaimana cara membersihkan bayinya dalam kondisi seperti ini, bayinya pasti kedinginan. Dipeluknya bayi itu dan di ciumnya dengan lembut. Dadanya terasa begitu sesak menahan tangis, rasa sakit dibadan dan perih di lubuk hatinya harus melahirkan dalam kondisi seperti ini.


Matanya mengedar ke sekeliling dan dia melihat jaket yang tergeletak diatas rumput, jaket pemilik si pengemudi itu. Perlahan Lorena beringsut mendekati jaket itu sambil menggedong bayinya yang terus saja menangis. Diambilnya jaket itu dan diselimutkan pada bayinya.


“Sayang,” ucap Lorena sambil mencium pipi bayinya yang masih menangis.


“Apa kau lapar?” tanyanya. Yang dia tahu di artikel artikel kalau bayi lahir biasanya langsung di beri Asi oleh ibunya. Diapun kembali duduk bersandar di pohon karet mencoba memberikan Asi buat bayinya.


Ditatap lagi bayinya yang kini sedang menyusu padanya dengan haru.


“Sayang, kau sangat mirip ayahmu. Ayahmu pasti senang tahu kau sudah lahir. Ayahmu sangat tidak sabar ingin bertemu denganmu,” ucapnya sambil membelai kepala bayi dalam gendongannya itu. Rasa sakit yang tadi dirasanya seolah hilang begitu saja saat melihat wajah mungil itu. Dia merasa lega sekarang, bayinya sudah lahir.


Tidak jauh dari sana ada sepasang pria dan wanita yang dipunggungnya membawa keranjang rumput, sepertinya sudah mencari rumput di sekitar kebun karet itu.


“Pak, sepertinya ada suara tangis bayi,” kata yang wanita, yang berumur diatas 50 tahunan.


“Benar, siapa yang membawa bayi ke perkebunan begini?” jawab yang pria yang usianya mungkin tidak beda jauh.

__ADS_1


“Apa mungkin ada yang membuang bayi?” tanya yang wanita.


“Hus! Kau ada-ada saja,” jawab yang pria.


“Kalau benar ada yang membuang bayi bukankah itu sangat bagus Pak, kita bisa mengangkatnya anak, setelah sekian lama kita tidak dikaruniai anak,” kata yang wanita.


Terdengar lagi tangisan bayi yang semakin kencang.


“Ayo kita lihat kearah suara!” ajak yang pria, diangguki yang wanita. Merekapun berjalan menuju arah suara bayi tapi lambat laun suara tangis bayi itu mendadak menghilang.


“Suaranya hilang Pak,” kata yang wanita.


“Mungkin kita salah dengar, mungkin suara kucing,” jawab yang pria.


Merekapun menghentikan langkahnya tapi saat melihat kearah rumput yang rimbun, mereka terkejut melihat sosok wanita yang terduduk bersandar dipohon karet sedang menggendong bayi yang berselimut jaket.


“Ya ampun Pak! Ada yang melahirkan!”seru yang wanita saat melihat gaun bawahnya Lorena yang basah berwarna merah.


“Nak! Kau kenapa?” teriak yang pria sambil berlari menghampiri Lorena diikuti yang wanita.


“Tolong aku Pak, Bu!” ucapnya dengan pelan, karea dia merasakan tubuhnya yang sangat lemas.


Pria itu berjongkok mendekatinya.


“Kau melahirkan sendirian?” tanya Pria itu.


“Iya, tolong bayiku, kami harus ke rumah sakit,” ucap Lorena, menatapnya dengan penuh harap.


“Iya, iya, kau ikut kami. Bu, kau gendong bayinya, Bapak akan membantu anak ini berjalan,” kata yang Pria itu pada istrinya yang langsung mengangguk dan mengulurkan tangannya mengambil bayi dalam gendongan Lorena.


 “Apa kau masih kuat berjalan?” tanya pria itu. Lorena mengangguk dengan lemah. Pria itu membantu Lorena untuk berdiri.


“Kita bawa ke rumah saja Pak. Ke rumahsakit jauh, nanti kita panggilkan bidan Eno!” kata yang wanita, sambil memeluk bayinya Lorena yang masih tersambung ari-ari. Matanya langsung memerah berkaca-kaca, dia merasa kasihan melihat kondisinya Lorena yang melahirikan di dalam kebun itu dan kondisi bayinya yang belum diurus tenaga medis bahkan hanya diselimut sebuah jaket pria.


“Iya,” jawab suaminya.

__ADS_1


Cukup jauh perjalanan mereka menuju sebuah rumah yang berada dipinggiran perkebunan karet itu jadi mereka tidak perlu melewati rumah-rumah penduduk yang akan mengundang perhatian orang.


Didekat rumah itu ada lapangan bola tradisional yang tiang gawangnya terbuat dari bambu dengan jaringnya yang terbuat dari tali rapia. Beberapa meter dari sana ada jalan raya beraspal yang terlihat lengang, disebrangnya lagi ada beberapa lapak kayu terbuka yang terbengkalai sepertinya sebuah warung es kelapa yang mungkin dipakai saat hari-hari tertentu saja.


 Lorena dibaringkan di tempat tidur yang sudah diberi alas karpet plastic, begitu juga dengan bayinya berbaring di sampingnya.


“Pak, kau panggil Bu bidan, aku akan menyiapkan air panas,” kata yang wanita.


"Iya Bu," jawab suaminya yang langsung bergegas keluar kamar.


Lorena sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dia merasa lemas yang amat sangat. Diliriknya bayinya yang masih berselimut jaket itu. Airmata kembali menetes dipipinya. Sungguh jauh dari bayangannya, bayinya akan lahir dalam keadaan seperti ini.


Wanita itu menatapnya dengan sedih, dia merasa kasihan pada Lorena dan bayinya. Diapun segera mengambilkan minum lalu diberikan pada Lorena.


“Minumlah supaya tubuhnya lebih segar,” kata wanita itu.


“Kau bersabar dulu, suamiku sedang memanggil bidan,” kata wanita itu, matanya masih memperhatikan sosok wanita yang tidak dikenalnya itu.


Lorena menoleh pada wanita itu dengan tatapan yang nanar, dia merasa sangat berterima kasih dengan pertolongan mereka.


“Terimakasih,” ucapnya dengan pelan.


“Tidak perlu berterimaksaih, itu sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong,” kata wanita itu sambil tersenyum.


“Namamu siapa? Aku Yati, dan suamiku bernama Aping,” tanya wanita itu kemudian.


Ditanya begitu Lorena terdiam, dia harus menjawab apa? Apakah dia harus mengatakan namanya Lorena? Bagaimana kalau orang-orang itu mencarinya lagi dan membahayakan keselamatan bayinya? Meskipun dia tidak mengerti kenapa orang-orang itu meninggalkannya di kebun karet?


“Namaku…” Lorena menghentikan kata-katanya, dia kembali berfikir dan menimbang-nimbang.


“Namaku…Laura,” jawab Lorena, berbohong, menutupi identitasnya, itu nama yang terbersit dalam benaknya, nama saudara sepupunya, Laura.


“Ya namaku Laura,” ulang Lorena.


**********

__ADS_1


__ADS_2