
Malam telah tiba. Perkemahan yang berada tidak jauh dari kota itu terlihat terang benderang. Tidak seperti yang peserta bayangkan, perkemahan dengan agenda jurit malam yang mencekam ternyata jauh dari bayangan. Perkemahan ini dihiasi dengan lamu-lampu yang tampak indah bukan indah tapi lebih ke romantis. Karena dari satu tenda ke tenda yang lain terbentang lampu-lampu kecil yang berwarna warni.
Peserta yang tadinya merasa takut akan acara jurit malam ini berubah antusias, apalagi ditambah jadwal break untuk menengok peserta, membuat suasana kemah lebih menarik.
Dalam satu tenda terdapat enam peserta dalam satu grup, sesuai dengan jadwal jurit malam yang berjalan satu grup satu grup.
Untuk periode pertama, beberapa grup sudah mulai berjalan. Grup Lorena masuk dalam gelombang kedua setelah break. Sambil menunggu giliran, mereka duduk-duduk di dalam tenda sambil mengobrol.
“Kalian tahu kalau beberapa grup sudah kembli ke tendanya masing-masing?” terdengar suara Indri yang baru muncul melongokkan kepalanya ke arah tenda.
“Benarkah? Bagaimana katanya? Apakah ada hantu hantu bohongan itu?” tanya Salsa.
“Ada katanya tapi mereka tidak mengganggu hanya muncul dipohon saja,” jawab Indri.
“Kita akan melakukan apa saja nanti?” tanya Ani.
“Kita harus mengumpulkan 10 bendera sampai finish,” jawab Indri.
“Ah aku tidak peduli dengan Juritnya, sebentar lagi pacarku akan datang, aku sangat merindukannya,” kata Evi.
“Jadi kau ikut kontes ini tapi kau masih punya pacar?” tanya Lorena.
“Iya, kalau aku lolos kontes barulah aku putuskan beneran, tapi kalau belum lolos ya gitu deh. Kan sayang kalau putus beneran ternyata aku tidak lulus, jomblo dong,” ucap Evi.
“Apa pacarmu akan datang?” tanya Indri pada Lorena, dia duduk disebelah Lorena.
“Ah tidak, aku tidak punya pacar,” jawab Lorena. Dia jadi teringat sejak pacarnya menghilang itu dia tidak punya pacar lagi.
“Kau sendiri?” tanya Lorena pada Indri.
“Ada pacarku datang,” jawab Indri sambil cengengesan.
“Katanya kau menyukai Asisten Sean, ternyata kau punya pacar?” tanya Lorena, terkejut, sambil menatap Indri.
“Ya jaga-jaga saja kalau asisten Sean menolakku hehe..” Indri malah tertawa.
Lorenapun tersenyum kecut, ternyata mereka semua memiliki pacar, hanya dia saja yang jomblo. Kata Sean, dia akan datang tapi tentu saja dia tidak datang sebagai pacarnya tapi sebagai teman satu kontrakan.
Tiba-tiba terdengar suara pengumuman memasuki waktu break.
Semua yang ada ditenda langsung sumringah. Terdengar lagi pengumuman memanggil nama peserta kalau ada tamu di tempat panitia.
“Panggilan buat Evi, ada kakaknya menunggu di tenda panitia!” terdengar suara pengumuman di microfon.
Semua mata didalam tenda menoleh pada Evi.
“Kakak?” tanya mereka bersamaan.
“Kakak, kalau bilang pacar nanti Presdir Samuel ilfeel padaku,” jawab Evi lalu tertawa.
Lorena cemberut, ternyata peserta mengikuti kontes ini benar-benar demi uang
“Panggilan buat Salsa! Kakaknya menunggu di tenda panitia!” Terdengar lagi pengumuman dari panitia. Semua mata menoleh pada salsa. Gadis itu saling lirik sama Evi lalu tertawa. Merekapun keluar tenda.
Satu persatu temannya Lorena yang ada ditenda itu dipanggil ke tenda terbuka panitia karena ada kakaknya yang menunggu mereka.
“Kakak, kakak, kakak ketemu gede,” gumam Lorena.
Kini dia sendiri dalam tenda itu, diapun berbaring merasakan udara malam yang dingin, memasukkan tangannya kedalam saku jas pria bertopeng itu.
Lorena sengaja tidak memakai jaketnya, dia memilih memakai jas ini yang terasa lebih hangat dan membuatnya teringat pelukan pria bertopeng itu. Memakai jasnya serasa pria bertopeng itu sedang memeluknya.
Pengumuman kakak kakak yang datang terus tidak berhenti, sepertinya hanya dia sendiri yang jomblo dan tidak ada kakak yang menunggunya di tenda panitia. Lorenapun mencoba untuk tidur. Diluar terdengar hiruk pikuk peserta yang berdatangan menemui kakak mereka di tenda panitia.
Lorena semakin merasa sepi saja, tidak ada pria yang mencintainya yang datang ke perkemahan ini, diapun memilih mencoba tidur saja, lumayan beberapa menit juga. Dia tidak mau melihat keluar tenda yang ada dia akan merasa sedih karena dia jomblo dan hanya melihat mereka yang pacaran saja. Tapi tiba-tiba matanya terbelalak saat mendengar sebuah pengumuman.
“Panggila buat Lorena! Pacarnya sedang menunggu di tenda panitia!”
“Apa?” Lorena terkejut, diapun bangun dan duduk
“Panggilan sekali lagi buat Lorena! Pacarnya sedang menunggu di tenda panitia!”
Lorena cepat-cepat keluar tenda, dan semua mata yang ada dilapangan itu menoleh kerahnya, menatapnya. Tidak ada peserta yang menerima tamu sebagai pacarnya, hanya dia seorang.
Lorenapun bertanya-tanya siapa pacar yang mengunjunginya? Dia tidak punya pacar! Dengan langkah yang ditatap semua orang, Lorena berjalan menuju tenda panitia.
“Mana tamu buatku?” tanya Lorena pada panitia yang memegang microfon.
“Tuh pacarmu sudah menunggumu,” jawab panitia, menunjuk ke luar tenda.
__ADS_1
Lorena menoleh kearah yang ditunjuk panitia, tapi tidak ada siapa-siapa disana, diapun berjalan keluar tenda.
Disamping tenda itu ada pria yang sedang berdiri membelakanginya. Lorena tertegun, meskipun membelakanginya, dia tahu siapa yang datang. Diapun menghampiri tamu yang katanya pacarnya itu.
“Sean!” panggilnya, berjalan mendekati pria itu.
Mendengar namanya dipanggil, Sean membalikkan badannya, pria tampan itu menatap Lorena.
“Kau datang?” tanya Lorena, sambil tersenyum, dia senang ada yang datang mengunjunginya di kemah.
“Iya, aku sudah berjanji padamu,” jawab Sean.
Saat melihat Lorena, Sean terkejut gadis itu memakai jasnya saat jadi pria bertopeng, dia menebak-nebak apakah Lorena tahu kalau pemilik jas itu dirinya?
“Kau datang sebagai pacarku?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Sean. Membuat Lorena tersipu.
“Kau membuat semua orang terkejut, karena tamu untuk peserta lain itu kakak bukan pacar,” ucap Lorena sambil tertawa.
“Tapi mereka sebenarnya pacarnya kan?” tanya Sean.
“Iya,” jawab Lorena mengangguk, dia masih tersenyum dan wajahnya memerah, dia jadi serba salah.
Tampak masih ada yang berdatangan mengunjungi peserta. Sean berjalan beberapa langkah menjauh dari tenda, Lorena menjajari langkahnya. Mereka terhenti di dekat pintu masuk lapangan itu yang dipagari oleh pohon rumput yang dipangkas setengah badan.
Lorena melihat di berbagai penjuru, para peserta itu duduk-duduk bersama tamu kakaknya itu, mereka terlihat bahagia bercanda tertawa-tawa.
“Mereka terihat bahagia dikunjungi kakaknya,” gumam Lorena. Sean menoleh kearah Lorena dan menatapnya.
“Apa kau tidak bahagia dikunjungi pacarnya?” tanya Sean. Mendengar pertanyaan Sean, Lorena malah tertawa, diapun balas menatap Sean.
“Tentu saja aku juga bahagia,” jawab Lorena, menganggukan kepalanya. Sean hanya tersenyum, dia senang melihat Lorena senang dengan kedatangannya.
Tiba-tiba lewatlah Indri dan kakaknya itu bicara sambil tertawa-tawa. Saat melewati Lorena dan Sean, Indri tampak terkejut, dia buru-buru menunduk dan menutup wajah sampingnya dengan kedua telapak tangannya, supaya Sean tidak melihat wajahnya. Merekapun lewat begitu saja.
“Dia juga punya pacar?” tanya Sean, sedikit terkejut.
“Iya,” jawab Lorena mengangguk.
Sean terdiam sesaat, jadi hampir semua peserta memiliki pacar, untung saja dia tidak menyukai peserta lain yang hatinya akan mendua.
Sean memberi kode supaya Sam jangan mengganggunya.
“Oke Bos,” gumam Sam, dia balik lagi masuk ke tenda panitia.
Lorena menoleh kearah Sam yang muncul ditenda terbuka tapi kemudian masuk lagi. Diapun menoleh pada Sean dan ternyata pria itu sedang menatapnya.
“Kenapa kau tidak memakai jaket? Sekarang sangat dingin,” kata Sean.
“Jas ini juga sangat hangat,” jawab Lorena. Sean terdiam, dia berfikir bagaimana kalau Lorena tahu kalau jas itu miliknya?
“Kau suka?” tanya Sean.
Lorena mengangguk.
“Serasa ada yang memelukku,” jawab Lorena.
Deg! Jantung Sean rasanya berhenti berdetak.
“Memelukmu?” tanya Sean, matanya tidak lepas menatap wajah cantik itu.
“Iya,” jawab Lorena sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jas yang kebesaran itu.
Sean bingung harus berbuat apa? Masih menebak-nebak apakah kalau Lorena tahu itu jasnya, Lorena akan memakainya?
“Tapi jasnya kebesaran,” kata Sean.
“Iya, karena pemiliknya juga tubuhnya lebih besar dariku,” jawab Lorena, balas menatap Sean.
Jantung Sean semakin tidak karuan saja.
“Benarkah?” tanya Sean.
Lorena mengangguk.
“Mm kenapa kau suka memakainya?” tanya Sean, dengan pelan, hatinya merasa cemas.
“Tadi kan aku sudah bilang, aku merasa seperti pemilknya sedang memelukku, “ jawab Lorena, masih menatap Sean.
__ADS_1
“Begitu ya?” gumam Sean, dia merasa serba salah. Udara sangat dingin tapi dikeningnya malah muncul keringat dingin.
“Iya,” jawab Lorena.
“Siapa pemilik jas itu?” tanya Sean, dengan hati yang gelisah, dia takut Lorena tidak tahu kalau itu jasnya, dan itu artinya Lorena hanya menyukai pria bertopeng itu dan bukan menyukai dirinya.
“Kau!” jawab Lorena. Membuat Sean terkejut.
“Aku?” tanya Sean, menatap Lorena.
“Apa aku salah?” Lorena balik bertanya, dia juga menatap Sean yang malah terdiam, jadi ternyata Lorena tahu kalau jas itu milknya dan pria bertopeng itu adalah dirinya?
“Darimana kau tahu itu jasku?” tanya Sean.
“Ada label namamu di jasnya,” jawab Lorena.
Seanpun kembali diam. Mereka hanya saling bertatapan.
Tiba-tiba terdengar pengumuman.
“Waktu break sudah habis! Kepada peserta gelombang kedua harap berkumpul dilapangan! Berbaris sesuai grup masing-masing, jurit malam dimulai!” terdengar suara berisik di microfon membuat semua peserta bubar.
Lorena dan Sean melihat mereka yang berpisah dengan kakak-kakaknya.
“Cepat! Cepaat! Cepaat! Saya hitung! Kalua tidak cepat berbaris didiskualifikasi!” terdengar panitia berteriak-teriak, karena peserta seperti enggan berpisah dengan tamu-tamunya.
“Saya hitung mundur! 10!...9!...8!...” panitia sedang menghitung.
Lorena menatap Sean.
“Aku harus ke barisan,” kata Lorena.
“Tapi aku masih ingin bicara,” ucap Sean.
“Nanti aku diskualifikasi, kasihan teman yang lain,” ucap Lorena. Sebenarnya dia masih ingin berduaan dengan Sean tapi kalau sampai grupnya didiskualifikasi karenanya dia merasa bersalah pada peserta yang lain.
Lorenapun buru-buru pergi ke barisannya. Semua peserta sudah berbaris. Tiba-tiba Sean juga berjalan menuju kearahnya dan berdiri disamping Lorena.
“Kau sedang apa?” tanya Lorena menoleh pada Sean.
“Aku juga kan panitia, jadi aku akan mendampingi grupmu,” jawab Sean.
Sam yang melihat Sean berdiri disamping Lorena, langsung berlari menghampirinya lalu menarik tangan Sean agak menjauh dari barisan.
“Kau sedang apa? Peserta mau jurit malam,” bisik Sam.
Sean balas berbisik ditelinga Sam.
“Buat pengumuman setiap grup akan didampingi oleh panitia, satu atau dua orang,” kata Sean, membuat Sam terkejut dan menatapnya.
“Kau membuat aturan baru lagi?” tanya Sam.
“Sudah laksanakan saja, aku mendampingi grupnya Lorena!” kata Sean, lalu kembali kebarisan, berdiri disamping Lorena. Gadis itu menoleh kearahnya, tapi Sean pura-pura tidak melihatnya.
Sam akhirnya menuju panitia dan memberi perintah seperti yang Sean bilang.
“Pengumuman pengumuman! Karena hari sudah malam, untuk gelombag kedua, tiap grup kan didampingi oleh dua panitia!” terdengar dari suara pengeras suara.
Para peserta menjadi heboh mereka senang ada panitia yang mendampinginya. Tapi ternyata bukan peserta saja yang senag, malah panitia yang kebanyakan laki-laki langsung berebut masuk kebarisan yang mereka mau. Mereka senang berada di dekat gadis gadis cantik. Sam sampai bengong melihatnya.
“Hei, hei buat pengumuman, panitia jangan ikut semua jurit malam! Tenda kosong!” kata Sam pada pembaca pengumuman
Tidak ada jawaban dari panitia, diapun menoleh ke panitia yang membaca pengumuman itu, ternyata panitia tidak ada ditempatnya. Dilihatnya panitia itu sudah berlari dan ikut berbaris dengan peserta. Melihatnya membuat Sam kesal.
Panitia yang menginstruksikan peserta mulai start sudah ada paling depan, memberi aba-aba untuk barisan pertama mulai berjalan menuju kearah yang harus dilalui peserta untuk mengumpulkan bendera.
Lorena menoleh pada Sean yang juga menoleh kearahnya. Lorena tersenyum, membuat hati Sean berbunga-bunga, senyumnya terlihat sangat indah. Merekapun mulai berjalan mengikuti barisan didepannya.
Sam menoleh kesekeliling tenda terbuka itu yang sepi. Dia di tinggal sendirian. Diapun berlari mengejar Sean.
“Sean! Sean! Tunggu! Aku ikut grupmu!” teriaknya.
**************
Readers yang masih setia, maaf ya baru up.
Authornya pergi pergi keluar kota jadi ga sempet nulis.
Nulis di Hp malah tidak bisa dipindah ke laptop jadi nulis ulang.
__ADS_1
******