Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-93 Di kantor Sean


__ADS_3

Supirnya keluarga Sean memarikir mobilnya di halaman parkir kantornya Sean. Lorena menatap gedung yang menjulang tinggi itu. Diluar terlihat sepi hanya mobil mobil yang mengantri memasuki area parkir dan menumpangnya bergegas masuk kedalam gedung itu, mereka terlihat terburu-buru dan sangat sibuk.


Ini adalah pertamakalinya Lorena menginjakkan kakinya ke kantor suaminya. Dia tidak mengira kalau Sean bekerja di gedung semgah ini. Nama perusahaannya terpampang besar di dinding gedung itu menunjukkan bahwa sebagian besar kantor kantor dalam gedung itu adalah satu perusahaan. Banyak gedung-gedung beringkat yang dalamnya berisi kantor perusahaan yang berbeda-beda.


Meskipun dia berasal dari keluarga yang kaya tapi Lorena tidak terlalu tertarik pada bisnis, dia lebih menyukai music dan bisnis orangtuanya banyak dipegang oleh kakaknya, Grissham.


“Siang Bu, ada yang bisa dibantu?” tanya receptonis, saat Lorena sudah memasuki pemeriksaan di depan pintu.


“Aku mau bertemu dengan Pak Sean,” jawab Lorena.


“Apa anda sudah ada janji? Pak Sean sedang meeting dengan tamu-tamu dari Jepang,” kata Receptionis.


Lorena terdiam mendengarnya, ternyata suaminya sedang sibuk, tapi dia begitu ingin menyampaikan kabar ini.


“Bisakah kau tanyakan meetingnya sampai jam berapa? Aku akan menunggu di loby,” kata Lorena.


“Belum pasti Bu, tapi kalau anda akan menunggu tidak apa-apa,” jawab resceptionis.


Loenapun duduk di ruang tunggu loby, dia ingin sekali bertemu dengan Sean, jadi memilih menunggu saja. Sambil menunggu diapun browsing melihat bayi-bayi lucu. Bibirnya terseyum saat gambar-gambar bayi itu bermunculan, alangkah bahagianya kalau dia segera bisa hamil. Pernikahannya dengan Sean tidak sebahagia yang dibayangkannya, ternyata masih ada kerikil tajam dalam rumahtangganya.


Karena asyik melihat gambar gambar dan berbagai tips kehamilan, tidak terasa hapir satu jam dia menunggu. Hingga mendengar pintu lift terbuka dan mendengar percakapan dalam bahasa Jepang.


Lorenapun menoleh ke arah lift, ternyata suaminya sedang bersama dengan tamu-tamu dari Jepang itu. Tapi Lorena tidak berani mengganggunya. Dia hanya diam saja menungu. Sepertinya tamu-tamu itu akan pulang.


Sean mengantar tamu-tamunya sampai loby. Para tamu itu dilanjutkan diantar oleh satpam.


“Pak ada tamu yang sedang menunggu Bapak dari tadi,” kata receptionis.


“Tamu? Tamu siapa?” tanya Sean, sembil menoleh keruang tunggu di loby. Dilihatnya istrinya itu berdiri dan tersenyum padanya.


“Sayang!” panggil Sean, membuat receptionis itu terkejut.


Sean menoleh pada receptionis.


“Kenapa kau membiarkan istriku menunggu disini?” bentak Sean pada receptionis.


“Apa? Istri? Maaf Pak, saya tidak tahu,” jawab receptionis itu dengan pucat.


“Maaf Pak, saya tidak tahu kalau Bapak sudah menikah,” jawab receptionis satunya lagi.


“Maaf Pak, ada apa?” tiba-tiba Pak Satpam muncul dipintu.


“Kau juga! Kenapa kau membiarkan istriku menunggu disini?” bentak Sean pada satpam yang langsung pucat saja dibentak seperti itu.


Pak Satpampun terkejut dan menoleh pada Lorena yang menghampiri mereka.


“Maaf Pak, saya juga tidak tahu kalau Bapak sudah menikah,” jawab satpam dianggkuki receptionis yang lainnya. Mendengar perkataan mereka Sean tersadar sesuatu, kalau dia belum memperkenalkan istrinya pada semua orang, karyawan juga rekan kerjanya karena ibunya tidak ingin ada resepsi.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, tidak masalah,” ucap Lorena pada karyawannya Sean itu.


Sean menghela nafas lalu menoleh pada istrinya.


“Kau sudah menunggu lama?” tanya Sean.


“Tidak,” jawab Lorena berbohong.


Sean menoleh pada receptionis dan satpam itu.


“Ini istriku, lain kali biarkan istriku masuk,” ucap Sean dengan nada kesal.


“Baik Pak,” jawab mereka.


Sean langsung memeluk Lorena dan mencium pipinya, lalu mengajaknya ke lift.


Disepanjang koridor menuju ruangannya mereka berpapasan dengan beberapa karyawan yang berlalu lalang.


“Kenapa kau tidak menelponku?” tanya Sean saat mereka masuk kedalam ruang kerjanya Sean.


“Aku takut mengganggumu,” jawab Lorena.


Sean kembali berjalan ke pintu dan berbicara dengan seseorang.


“Panggil Pak Deni kemari,” perintahnya.


Lorena duduk disofa yang ada diruangan itu. Tidak berapa lama Pak Deni masuk keruangan itu.


“Tolong siapkan resepsi pernikahanku,undang semua karyawan dan relasiku,” jawab Sean. Mendengar perkataan Sean, Lorena terkejut dan menatap suaminya yang berdiri berhadapan dengan Pak Deni.


“Aku tidak peduli ibu tidak setuju, kau siapkan saja,” perintah Sean.


“Baik Pak. Ada lagi?” jawab Pak Deni.


“Tidak ada, itu saja, secepatnya, aku tidak mau menunggu lama,” kata Sean.


“Baik, Pak,” jawab Pak Deni lagi lalu meninggalkan ruangan itu.


Sean menoleh pada Lorena yang menatapnya, diapun segera menghampirinya, duduk disamping istrinya.


“Kau ingin kita membuat resepsi?” tanya Lorena.


“Iya, aku minta maaf, ini semua salahku, aku sudah ingkar janji untuk membuatkan resepsi buat pernikahan kita, aku minta maaf,” jawab Sean sambil meraih tangannya Lorena.


“Tidak apa-apa, aku tidak mau kau bertengkar dengan ibumu,” kata Lorena.


“Tidak apa-apa, dengan siapa lagi aku melaksanakan resepsi kalau tidak untuk pernikahan kita. Aku ingin semua orang tahu kalau aku sudah menikah denganmu,” jawab Sean. Lorena tersenyum mendengarnya, sebuah ciuman mendarat di bibirnya.

__ADS_1


“Katakan ada apa kau kemari?” tanya Sean.


“Aku ingin memberitahu kabar gembira,” jawab Lorena.


“Kabar gembira? Kabar apa?” tanya Sean. tangannya menyentuh pipi istrinya yang tersenyum menatapnya.


“Kau kelihatan bahagia,” ucap Sean.


“Ayahnya Nisa telah berbuat curang,” jawab Lorena.


“Curang kenapa?” tanya Sean.


“Dia bekerja sama dengan Dokter dirumahsakit itu dan memalsukan hasil tesku,” jawab Lorena, membuat Sean terkejut.


“Apa maksudmu? Pak Tedi bekerjasama dengan dokter itu?” Sean tampak tidak percaya.


“Aku tahu dari Bella tadi saat mengembalikan baju pengantin yang aku pinjam. Aku senang mendengarnya, itu artinya aku sehat kan? Kita bisa punya anak?” kata Lorena menatap Sean, senyum lebar dibibirnya tapi matanya mulai berkaca-kaca. Sean menatap wajah istrinya itu.


“Aku sangat senang Sean, aku senang ternyata aku baik-baik saja,” ucap Lorena, membuat Sean terdiam.


“Aku sangat takut kau akan menikah dengan wanita lain,” lanjut Lorena, matanya semakin memerah. Melihatnya membuat Sean merasa kasihan. Dia langsung memeluknya dengan erat.


“Tidak sayang, aku tidak akan menikah dengan wanita lain, cukup kau saja istriku,” jawab Sean, mengusap-usap punggung Lorena.


“Aku akan bahagia kalau bisa memberimu keturunan,” kata Lorena.


“Iya aku juga senang tapi jangan kau jadikan beban, kita berjalan  normal saja, jangan banyak memikirkan tentang itu,” jawab Sean.


Lorena melepas pelukannya sambil mengusap airmata yang menetas dipipinya.


“Kita ada jadwal dengan Dokter Ramli, aku ingin tahu pendapatnya,” jawab Sean, Lorena mengangguk.


Sean kembali memanggil Pak Deni.


“Ya Pak ada apa?” tanya Pak Deni, kembali ke ruangannya Sean.


“Usut kecurangan yang dilakukan Pak Tedi. Dia sudah memalsukan hasil tes istriku, aku ingin jalur hukum, laksanakan segera,” perintah Sean.


Pak Deni menoleh pada Lorena yang terlihat wajahnya memerah karena menangis tadi. Dia merasa kasihan ternyata hasil tes itu di palsukan oleh Pak Tedi, tapi dalam hatinya merasa senang  hal itu bisa terungkap, dia tidak sabar ingin melihat pria yang selalu dijaganya dari kecil itu bahagia.


Sepeninggalnya Pak Deni, Sean menoleh pada Lorena yang sedang menatapnya.


Diapun segera menghampiri istrinya, duduk disampingnya lalu meraih bahunya memeluknya.


“Jangan menangis lagi,”ucap Sean.


“Apa ibumu akan senang mendengar ini?” tanya Lorena.

__ADS_1


“Yang penting kau baik-baik saja, itu sudah cukup,” jawab Sean, sambil mencium keningnya Lorena. Entah harus dengan kata-kata seperti apa lagi, dia begitu menyayangi istrinya.


*****************


__ADS_2