
Lorena memasuki ruang tamu. Dilihatnya Nisa sedang duduk menunggunya. Di atas meja ada sebuah kantong yang entah apa isinya.
Begitu melihat Lorena, Nisa langsung bangun dan tersenyum manis.
“Hai! Lama tidak bertemu,” kata Nisa.
Lorena membalas senyuman Nisa dengan terpaksa.
“Ada apa kau kemari?” tanya Lorena dengan ketus. Dia tidak suka dengan kedatangannya Nisa.
“Aku hanya ingin bicara denganmu,” jawab Nisa.
“Duduklah,” ucap Lorena, sambil diapun duduk disebrangnya Nisa.
Nisa duduk dengan telihat gugup. Lorena menatapnya, tumben sekali Nisa terlihat seperti itu, biasanya dia mendongak penuh percaya diri.
“Aku kesini untuk meminta maaf atas semua yang telah terjadi,” kata Nisa.
“Minta maaf?” tanya Lorena.
“Iya, aku sadar sekarang aku sudah banyak berbuat salah padamu. Sebenarnya aku ingin meminta Sean untuk membebaskan ayahku tapi aku tahu itu tidak mungkin,” jawab Nisa.
“Kau ingin Sean membebaskan ayahmu setelah apa yang kalian lakukan padaku?” bentak Lorena dengan kesal.
“Iya aku salah, aku dan ayahku minta maaf. Aku harap kau mau memaafkanku,” ucap Nisa.
“Aku tidak yakin Sean mau membebaskan ayahmu,” kata Lorena.
“Aku tahu, kalian tidak akan memaafkan kesalahan kami, tapi sungguh aku sangat menyesal. Kau tahu dampak yang terjadi karena ayahku dipenjara?” tanya Nisa.
Lorena tidak menjawab.
“Kami jatuh miskin sekarang,” ucap Nisa lalu menangis, membuat Lorena terkejut.
“Ayahku bekerja sebagai pengacara, kalau sudah dipenjara begini,ayahku tidak akan bisa bekerja lagi. Namanya sudah tercoreng hitam, tidak akan ada yang mempercayai kasusnya pada ayahku lagi,” lajut Nisa ditengah isaknya.
“Kami benar-benar jatuh miskin sekarang,” ucap Nisa lagi.
Lorena terdiam, dia melihat Nisa yang menangis seperti itu jadi merasa kasihan. Tapi dia juga harus hati-hati jangan sampai dikelabui oleh Nisa.
“Aku minta maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Lorena.
“Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku hanya ingin kau memaafkannku,” ucap Nisa.
Lorena menatap Nisa yang menghapus airmatanya. Dia tidak tahu apakah Nisa tulus atau tidak.
“Oh iya sebagai tanda pemintaan maafku, aku membawakan asinan buah, kau pasti menyukainya,” kata Nisa sambil membuka kantong yang ada diatas meja itu. Dikeluarkannya sebuah wadah bening yang berukuran sedang. Melihat dari luar saja, isi wadah itu membuat bangkit seleranya.
Nisa menyimpan wadah bening itu diatas meja. Disodorkannya kedepan Lorena. Lorena yang merasakan mulutnya pahit dan sebal, menahan air liurnya saat melihat beraneka macam buah-buahan ada dalam wadah bening itu.
“Ini asinan buah, rasanya sangat enak dan segar. Aku membawanya karena kau kan sedang hamil, pasti kau ingin makanan yang segar-segar, kalau buah-buahan aku yakin pasti sudah banyak tersedia,” kata Nisa.
Lorena menatap wadah itu, dia membayangkan pasti enak sekali makan asinan itu, tapi dia juga berfikir bagaimana kalau Nisa memberi sesuatu dalam makanan itu?
“Kau jangan khawatir aku tidak mengisi nanas dalam asinan itu,” kata Nisa, sambil tersenyum. Banyak yang meyakini makan nanas sangat tidak dianjurkan untuk ibu hamil.
Lorena melihat wadah bening itu, memag benar sepertinya tidak ada nanas di dalamnya.
__ADS_1
“Aku akan senang kalau kau mau memakannya,” ucap Nisa.
“Baiklah, terimakasih, nanti aku mamakannya,” jawab Lorena.
“Kalau kau mau mencobanya, kau coba saja sekarang supaya kau percaya aku tidak memasukkan apa-apa pada makanan itu. Aku tulus hanya ingin minta maaf padamu,” kata Nisa.
Tangan Nisa langsung mengambil sendok yang ada disamping wadah bening itu. Diapun membukanya. Saat membukanya air liur Lorena semakin tidak tertahankan, si jabang bayi sangat menginginkan makanan yang segar-segar.
Nisa menyiukkan sendok itu ke dalam asinan buah.
“Kau mau buah apa?” tanyanya dengan ramah, menoleh pada Lorena sebentar sambil tesenyum. Melihat sikapnya Nisa yang begitu baik, Lorenapun berfikir tidak ada salahnya kalau dia berusaha menerima maafnya Nisa.
“Kau mau mangga? Ayo kau coba,” kata Nisa, sambil menyiuk mangga itu lalu disodorkan pada Lorena.
Lorena yang dalam hatinya masih ragu-ragu, menatap sendok itu, dia membayangkan pasti mangga itu sangat enak didalam mulutnya. Apalagi kuah asinan itu yang ada bumbu cabe kasar sangat mempercantik penampilan asinan buah itu.
“Ayo cobalah, rasanya sangat enak,” kata Nisa, sambil menyodorkan makanan itu ke molutnya Lorena. Terpaksa Lorena membuka mulutnya dan memakan mangga itu.
“Bagaimana? Enakkan?” tanya Nisa
Lorena merasakan mangga di dalam mulutnya, rasa asamnya terasa begitu nikmat didalam mulutnya.
“Sangat enak. Kau membelinya dimana?” tanya Lorena.
“Disebuah kedai gado-gado, disana menjual asinan buah juga. Kau mau lagi?” jawab Nisa, Kembali menyiukkan asinan itu.
“Tidak usah, biar nanti aku makan sendiri saja,” kata Lorena.
“Jangan tidak dimakan ya. Aku sangat senang kau mau memakannya. Aku merasa lega sekarang meskipun aku tahu kesalahanku sangat tidak pantas untuk dimaafkan,” ucap Nisa dengan wajah yang memelas. Tangannya kembali menutup wadah bening itu.
Tiba-tiba obrolan mereka terhenti saat terdengar suara langkah sepatu memasuki rumah itu.
“Aku datang menjengukmu. Aku ditelpon Presdir Sam, katanya suamimu mengeluh kau merasa tidak enak badan, kau ingin sesuatu tapi tidak tahu apa, jadi aku membawakan makanan yang segar buatmu,” kata Indri, tapi perkataannya terhenti saat melihat ada Nisa disana dan diatas meja ada asinan buah.
“Heh! Mau apa kau disini?” hardik Indri.
“Indri, tidak apa-apa Nisa datang kesini hanya untuk minta maaf,” kata Lorena.
“Apa? Minta maaf? Kesalahanmu sudah tidak bisa dimaafkan lagi! Pergi sana! Kau pasti akan berbuat jahat!” usir Indri, sambil menatap Nisa dengan tajam.
“Kau salah, aku kesini memang ingin minta maaf pada Lorena,” kata Nisa.
“Aku tidak percaya, lebih baik kau pergi saja!” usir Indri, lalu dilihatnya ada asinan buah diatas meja.
“Itu makanan kau yang bawa?” tanya Indri saat melihat sebuah kantong ada didekat Nisa.
“Iya, Nisa membawakan asinan buah buatku,” jawab Lorena.
Mendengar jawaban dari Lorena, Indri langsung mengambil wadah itu lalu menarik tangan Nisa supaya bangun.
“Bawa lagi makananmu! Aku juga membawakan asinan buah buat Lorena!” kata Indri, lalu wadah itu dimasukkan ke dalam kantong yang diatas meja.
“Ini kantongnya kan? Cepat bawa lagi makananmu! Aku juga sudah membelikannya buat Lorena, pergi sana!” usir Indri. Tangannya memberikan kantong itu pada tangan Nisa, dia juga mendorong punggung Nisa supaya keluar.
“Indri!” panggil Lorena, dia merasa tidak enak meliha cara Indri mengusir Nisa.
“Biar saja, orang seperti itu jangan mudah dipercaya, bisa-bisa dia meracunmu dengan makanan itu!” kata Indri, masih terus mendorong-dorong Nisa keluar pintu.
__ADS_1
“Awas kau ya kalau datang-datang lagi kesini! Pulang sana!” maki Indri.
Nisa langsung memberengut mendapat pengusiran dari indri. Rencananya sudah gagal, diapun meninggalkan rumah itu.
Indri menoleh pada Lorena.
“Kenapa kau mau percaya saja pada orang seperti itu?” tanya Indri.
“Masalahnya dia kelihatannya serius kalau dia ingin minta maaf,” jawab Lorena.
“Aku tidak percaya!” kata Indri.
Lorena pun diam.
“Kalau kau mau asinan buah, aku membawanya khusus untukmu. Kau tahu, saumimu sangat mengkhawatirkanmu, sampai sampai Presdir Sam menelponku untuk membelikan makanan yang enak buat ibu hamil,” kata Indri sambil mengeluarkan asinan buah yang ada dalam kantong yang dibawanya.
“Ayo makanlah!” kata Indri, diapun segera duduk ditempat Nisa tadi, lalu membuka wadah itu.
Lorena menatap wadah bening yang hampir sama dengan yang Nisa bawa.
“Aku yakin rasanya pasti lebih enak dari yang Nisa bawa,” kata Indri.
Lorena mengambil sendok yang disodorkan Indri.
“Sepertinya sangat enak,” ucap Lorena.
“Ayo makanlah,” kata Indri.
Lorena langsung memakan asinan buah itu, dan benar saja rasanya sangat enak.
“Bagaimana?” tanya Indri. Lorena tidak menjawab, dia hanya makan asinan buah itu dengan lahap.
Tiba-tiba Indri memfotonya.
“Kenapa kau memfotoku?” tanya Lorena.
“Aku mengirimkan fotomu pada Presdir Sam, untu diperlihatkan pada suamimu,” jawab Indri.
“Kau ada ada saja,” keluh Lorena.
“Apa kau tidak tahu, suamimu mencemaskanmu sepanjang waktu, makanya aku buru-buru kesini,” kata Indri, tangannya mengirimkan fotonya Lorena pada Sam, lalu Sam mengirimkannya lagi pada Sean.
Sean yang sedang sibuk di ruang rapat dengan tamu-tamunya, menerima pesan itu, dia langsung tersenyum melihat istrinya makan asinan buah yang dibawakan oleh Indri.
Tiba-tiba Sam muncul dipintu ruang meeting itu dan segera duduk disamping Sean.
“Bagaimana?” tanya Sam.
“Aku senang melihatnya lebih baik sekarang,” jawab Sean sambil melihat foto itu dengan bibir yang masih tersenyum. Sam hanya memperhatikannya, dia bisa melihat temannya itu sangat begitu mencintai istrinya.
“Lorena beruntung,” kata Sam.
“Kenapa?” tanya Sean.
“Kau sangat mencintainya,” jawab Sam.
“Iya, aku sangat mencintainya,” ucap Sean, mengangguk, diapun kembali melanjutkan rapatnya, dia bisa bekerja dengan tenang sekarang.
__ADS_1
**********