
Earlangga menunggu Valerie keluar dari kamar mandi itu. Saat Valerie keluar dia terkejut melihat Earlangga masih berdiri manatapnya.
“Kau sedang apa?” tanya Valerie.
“Ah tidak, aku fikir kau muntah juga,” jawab Earlangga berbohong.
Valerie tidak bicara lagi, dia menatap Earlangga yang tidak berpakaian.
“Kenapa kau tidak memakai pakaianmu? Kau sedang masuk angin, aku tidak bisa memberikanmu obat, aku akan telpon Dokter Egi untuk kemari besok pagi, sebelum aku memberikan vitamin rutin buatmu,” kata Valerie, menatap pria itu. Dan satu pertanyaan muncul, bagaimana kalau pria itu adalah Earlangga? Apa yang akan dilakukannya?
“Oh iya,” Earlangga segera mengambil kaosnya dan dipakainya, lalu kembali manatap Valerie, yang merapihkan tempat tidur tempat dia tidur tadi, ada beberapa jeruk yang berserakan di mejanya.
“Valerie!” panggil Earlangga.
“Iya,” jawab Valerie.
“Bagaimana kalau aku membantumu?” tawar Earlangga.
“Membantu apa?” tanya Valerie, menoleh pada Earlangga.
“Bagaimana kalau aku membantumu menemui pria yang tidak mau bertanggung jawab itu? Aku akan memaksanya untuk menikahimu?” tanya Earlangga dengan suara yang bersemangat.
“Apa?” Valerie tampak terkejut.
“Di mana pacarmu itu? Aku benar-benar ingin menemuinya. Sebenarnya aku marah kenapa pria itu membiarkanmu hamil sendirian, dia harus bertanggung jawab,” seru Earlangga dengan bersemangat.
Valerie hanya diam dan menatapnya.
“Maaf, aku hanya ingin membantumu,” ucap Earlangga.
“Dia mungkin pergi keluar negeri, dan tidak tahu Negara apa,” jawab Valerie.
“Benar begitu?” tanya Earlangga.
“Begitu,” jawab Valerie, dia pun naik ke tempat tidur.
Earlanggapun diam.
“Apa ke London? Aku lama tinggal di London, aku akan bisa membantumu mencari pria itu, atau ke Perancis? Meskipun aku tidak tinggal disana, keluarga ayahku banyak disana dan mereka orang-orang yeng berpengaruh pasti ada yang bisa dimintai tolong,” ujar Earlangga lagi.
Valerie tersenyum melihat niat baiknya Earlangga.
“Tidak, tidak perlu,” jawab Valerie, menurunkan tubuhnya kebawah selimut.
Earlangapun diam, apalagi terlihat Valerie berbaring kesamping, mungkin memang Valerie tidak ingin bicara dengannya soal ini. Baiklah, Earlanggapun akhinya naik ke tempat tidur dan diapun tidur dengan Nyenyak.
Pagi harinya Dokter Egi sudah datang ke rumah. Earlangga malah masih tidur saat Dokter Egi ada di kamarnya.
“Kenapa kau datang pagi-pagi sekali?” keluh Earlangga, terpaksa membuka matanya dengan enggan.
“Istrimu yang minta aku buru-buru melihat kondisimu, dia sangat khawatir dengan keadaanmu,”
jawab Dokter Egi sambil tersenyum.
Earlanggapun menoleh pada Valerie, perawat itu mengkhawatirkannya? Yang dilihat hanya memalingkan mukanya pura-pura tidak mendengar.
__ADS_1
“Baiklah kau periksa aku sekarang, semalam aku sangat mual dan muntah-muntah, kepalaku juga pusing. Untung Valerie memijatku jadi tubuhku merasa lebih baik,” kata Earlangga.
“Memang pijatan seorang istri itu obat buat suami,” jawb Dokter Egi sambil tersenyum.
Perkataannya membuat Earlangga dan Valerie terkejut, maksudnya pijatan apa? Merekapun bertatapan, wajah Valerie langsung memerah.
“Tidak perlu malu, kalian suami istri, sah sah saja,” kata Dokter Egi, membuat Valerie semakin memerah ini Dokter Egi maksudnya apa?
“Ayo kita periksa,” kata Dokter Egi, berjalan menjauh menuju meja untuk mengambil alat kesehatannya yang dia simpan disana tadi.
Valerie segera mendekati Earlangga lalu duduk di samping Earlangga, menyentuh tangannya Earlangga akan memeriksa tensinya. Pria itu melihat jemari yang memegang lengannya, jemari yang semalam menyentuh tubuhnya, lalu pada wajah Valerie, wajah yang meneduhkan. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu saat mereka duduk berdekatan.
“Kau tidak memakai parfum?” tanya Earlangga spontan, membuat Valerie terkejut dan menatapnya.
“Parfum?” tanya Valerie.
Earlangga mendekatkan wajahnya ke dekat leher Valerie dan mengendusnya.
“Kau tidak menggunakan parfum,” ucapnya, semakin membuat Valerie terkejut.
“Darimana kau tahu aku tidak menggunakan parfum?” tanya Valerie menatap Earlangga keheranan.
“Aku sering mencium wangi parfum yang kau pakai,” kata Earlangga balas menatap Valerie.
“Aku sedang sensitive bau-bauan jadi aku tidak menggunakan parfum,” jawab Valerie, Earlanggapun baru tersadar kalau Valerie sedang hamil.
Valerie bangun dari duduknya dan bicara dengan Dokter Egi menyebutkan hasil tensinya. Hatinya terus bertanya-tanya bagaimana bisa Earlangga hafal bau parfumnya sedangkan selama dia menikah dengan Earlangga dia tidak menggunakan parfum karena baunya membuat mual.
Jadi Earlangga harus benar-benar dekat dengannya kalau sampai hafal baunya. Sedangkan kapan dia bisa sangat dekat dengan Earlangga? Bahkan dia tidak pernah memakai pafumnya berlebihan. Itu artinya Earlangga harus dalam posisi yang sangat dekat denganya baru bisa mencium baunya. Seperti yang dilakukannya tadi, Earlangga harus mendekatkan hidungnya ke lehernya, baru bisa mencium bau parfumnya. Dan kapan Earlangga dalam posisi sangat dekat dengan Lehernya? Apakah..apakah…
Valerie kembali dengan catatannya dan membacakan isi catatan medisnya. Dokter Egi mendekati Earlangga dan memeriksanya.
“Bagaimana Dok?” tanya Valerie, saat Dokter Egi selesai memeriksa.
“Semua baik-baik saja,” jawab Dokter Egi.
“Tapi aku tadi malam muntah-muntah Dok, sangat sakit, kepalaku juga pusing,” jawab Earlangga, sambil memegang perutnya.
Dokter Egi menatapnya.
“Sepertinya kau sedang mengidam,” jawab Dokter Egi.
“Mengidam?” tanya Earlangga.
“Iya, mengidam, istrimu sedang hamil, banyak yang mengidam itu suaminya,” jawab Dokter Egi.
Valerie dan Earlangga terdiam, bagaimana bisa mengidam, bayinya juga bukan bayi Earlangga, fikir mereka.
“Tapi nanti aku beri resep,” ucap Dokter Egi, lalu menoleh pada Valerie.
“Aku buatkan resep, Vitaminnya seperti biasa diberikan saja,” jawab Dokter Egi.
“Baik Dok,” jawab Valerie.
“Kau bekerja dirumah sakit?” tanya Dokter Egi.
__ADS_1
“Iya, sebentar lagi aku berangkat,” jawab Valerie,
“Baiklah kalau begitu aku permisi,” kata Dokter Egi, lalu menoleh pada Earlangga.
“Anda beruntung punya istri yang sekaligus Dokter pribadi yang siaga menjagamu 24 jam,” kata Dokter Egi diakhiri tawa.
Earlangga hanya tersenyum, Valerie juga.
Dokter Egipun keluar dari kamar itu, tidak perlu diantar karena sudah biasa keluar masuk rumahnya Sean. Valerie menoleh pada Earlangga yang ternyata sedang menatapnya.
“Perutmu belum terlihat,” ucap Earlangga, ternyata memperhatikan perut Valerie.
Valerie menarik baju bagian perut ke belakang, memperlihatkan perutnya sudah mulai membulat.
“Sedikit,” jawabnya sambil tersenyum, lalu mengusapnya perlahan, lama semakin lama dia mulai menyadari kalau dia sedang berbandan dua sekarang.
“Belum terlihat,” ucap Earlangga.
“Tapi sudah mengeras,” kata Valerie.
“Apa benar begitu?” tanya Earlangga.
“Iya, kau boleh menyentuhnya,” kata Valerie sambil memegang perutnya dengan kedua tangannya menunjukkan kalau perutnya sudah mulai membulat.
Earlangga menghampirinya, tangannya mengulur menyentuh perutnya Valerie.
“Benarkan? Ini sudah mengeras. Kalau gemuk kulit perut bisa dicubit, ini engga,” kata Valerie, sambil kembali menarik bajunya supaya bulat perutnya terlihat.
Earlangga menyentuh perut itu, ada getaran yang aneh pada dirinya.
“Disitu nanti ada bayinya?” tanyanya.
“Iya, tentu saja,” jawab Valerie.
“Nanti dia akan membesar,” ucap Earlangga.
“Tentu saja, perutnya akan membesar dari bulan ke bulan, dia akan lahir setelah 9 bulan,” kata Valerie.
Earlangga menyentuh lagi perut itu merasakan perut itu membulat, dia juga merasa senang bisa menyentuh perut ibu hamil.
Diapun menatap wanita yang ada didepannya itu.
“Apa yang akan kau lakukan jika kau sudah melahirkan nanti?” tanyanya.
“Tentu saja aku akan giat bekerja, aku akan berusaha menjadi ibu dan ayah yang baik buat anakkku,” jawab Valerie sambil tersenyum.
Earlangga terdiam mendengarnya.
“Pak, saya harus berangkat bekerja Pak, saya tebus dulu obatnya. Setelah Bapak minum obat, Bapak istirahat saja dirumah, nanti siang jam istirahat saya pulang dulu kesini melihat keadaan Bapak,” kata Valerie.
Earlangga mengangguk.
Valerie mengambil tasnya lalu melihat padanya sebentar, tersenyum lalu keluar dari kamar itu.
Earlangga berdiri mematung, melihat wanita yang menjadi istrinya itu sedang hamil tanpa suami berangkat bekerja. Dia tahu pasti itu tidak akan mudah menjalani hari hari sebagai single parent apalagi kalau bayinya menanyakan siapa ayahnya.
__ADS_1
***********