
Jeni marah marah tidak jelas di rumahnya, berjalan mondar-mandir sambil terus mengumpat. Dia kesal usahanya membayar orang untuk pura-pura menjadi pria yang menghamili Valerie gagal.
“Kau kenapa?” tanya Nisa saat masuk keruangan itu melihat putrinya sedang marah-marah.
“Usaha kita gagal Bu! Earlangga malah mengetahui pertemuannya Valerie dengan orang bayaran kita,” jawab Jeni.
“Terus?” tanya Nisa.
“Valerie pingsan gara-gara Earlangga bilang kalau sebenarnya dia yang bersama Valerie di club malam itu,” jawab Jeni, sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan raut wajah yang masih memberengut.
“Apa? Jadi Earlangga yang menghamili Valerie?” tanya Nisa, terkejut, diapun duduk disamping Jeni dan menatapnya.
“Katanya begitu,” jawab Jeni.
“Hem kalau begitu sih susah memisahkan mereka, karena ada bayi itu,” kata Nisa.
Diluar terdengar suara mobil berhenti.
“Pasti itu preman pengangguran itu!” keluh Jeni.
“Diam Jeni, walaubagaimanapun dia itu kakakmu!” hardik Nisa.
“Memang kenyataannya begitu, makanya ga laku-laku. Perasaan tidak pernah dia bawa gadis kerumah, ” keluh Jeni lagi.
Suara langkah kakinya Darren mendekati ruangan itu, dia langsung menghampiri Jeni dan ibunya.
“Aku butuh uang!” kata Darren, sambil menatap Jeni.
“Heh, uang uang melulu, memangnya uang di ATMku sudah habis?” tanya Jeni dengan kesal.
“Ah uang cuma berapa!” gerutu Darren allau emlepar kartau ATM ke arha Jeni.
“Apa maksudmu berapa? Ada saldo lebih dari 10 juta! Kau benar-benar menghabiskannya? Itu uang buat ke salon!” Jeni membelalakkan matanya, menatap kakaknya tidak percaya..
“Aku butuh uang lagi!” lanjut Darren.
“Tidak ada!” kata Jeni.
“Darren kau terus-terusan minta uang buat apa? Jatah bulanan dari ayahmu juga sudah habis?” tanya Nisa.
“Aku ada urusan dengan teman-temanku,” jawab Darren.
“Lebih baik kau minta sendiri pada ayah!” kata Jeni.
“Kau bawel! Aku malas bekerja!” jawab Darren.
Jeni mendengus kesal. Darren masih menatapnya.
“Aku kan sudah memberikan informasi penting, kau harus membayarku lagi, uang di ATM itu tidak cukup untuk informasi penting itu,” kata Dareen.
“Heh, informasi pentingmu itu tidak ada gunanya! Tidak berhasil, gagal! Jadi aku tidak mau memberimu uang lagi, kau tahu sendiri minta uang pada ayah itu susah,” keluh Jeni.
“Gagal? Kenapa gagal?” tanya Darren. Mengerutkan keningnya.
“Valerie tidak percaya?” tanya Darren lagi.
“Bukan tidak percaya, hampir percaya, tapi berantakan karena Earlangga tiba-tiba muncul dan mengaku dia yang berada di club itu!” jawab Jeni.
“Apa? Earlangga mengaka begitu pada Valerie?” tanya Darren terkejut. Rasanya tidak mungkin Earlangga seberani itu, pria itu takut kehilangan Valerie dan bayinya, itu sudah jelas.
Darren masih mengerutkan keingnya, itu artinya tambang emasnya sudah tertutup, dia tidak bisa memeras lagi Earlangga. Tapi apa benar begitu? Dia harus mencari tahu kalau kebenarannya.
Jeni menatap kakaknya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
“Aku bertanya padamu, katakan siapa yang menghamili Valerie? Apa benar Earlangga?” tanya Jeni.
Darren memutar otaknya terus berfikir.
“Bukan, dia hanya mengaku-ngaku saja!” kata Darren.
Terdengar ponselnya berbunyi, cepat diambilnya ponsel disakunya lalu beranjak menjauh sambil menerima telponnya.
“Halo!” sapanya dengan ketus.
“Bos! Gawat bos! Anak buahnya Tiger terus mencarimu! Sementara bos jangan muncul dulu di club!” terdengar suara disebrangnya.
__ADS_1
“Aku kan sudah bilang aku sedang mencari uangnya!” keluh Darren.
“Dia tidak mau tahu bos! Kita juga diancam mereka!”jawab suara disebrang itu.
“Iya iya, nanti aku cari uangnya!” makinya lalu menutup ponselnya.
Wajah Darren semakin merah saja, dia kesal kemana harus mencari uang untuk membayar utangnya pada Tiger. Jalan satu-satunya dia yang harus memeras orang yang memiliki banyak uang, siapa lagi kalau bukan Earlangga, tapi kata Jeni Earlangga sudah jujur pada Valerie? Rasanya tidak mungkin, pria itu takut kalau Valerie tahu kalau dia yang menodainya.
Saat membalikkan badannya ibunya sudah berdiri menatapnya.
“Kau terus-terusan membutuhkan uang buat apa?” tanya ibunya.
“Kau narkoba?” tebak ibunya.
Darren tidak menjawab, dia langsung pergi dari rumah itu dengan kesal dan langsung mengemudikan mobilnya dengan kencang meninggalkan rumah itu.
Nisa terdiam, dia sedih melihat putranya seperti itu, tidak bekerja,kerjanya hanya pergi pergi dengan temannya dengan tidak jelas, pulang ke rumah hanya butuh uang dan uang terus.
“Aku heran kenapa kakak tidak mau bekerja?” keluh Jeni, sudah berdiri dibelakang Nisa.
“Pergaulannya sudah salah, dia bergaul dengan teman-temannya yang juga seperti itu!” jawab Nisa, sambil menghela nafas panjang.
“Mungkin kakak harus menikah Bu!” kata Jeni.
“Apa? Menikah?” tanya Nisa.
“Iya, sepertinya harus menikah, supaya dia punya rasa tanggung jawab pada anak dan istrinya,” jawab Jeni.
“Yang ada dia akan menelantarkan anak dan istrinya! Ibu tidak mau kalau ujung-ujungnya malah ibu yang harus menanggung biaya hidup anak istrinya, hidup kita akan tambah susah,” keluh Nisa.
Jeni tidka bicara lagi, dia kembali masuk ke dalam.
************
Pagi ini di meja makan tampak hening, tidak ada yang bicara. Ny.Grace masih berwajah masam, dia masih kesal dengan keputusannya Earlangga. Tapi dia juga tidak bisa terus-terusan bertengkar dengan Earlangga atau cucunya itu akan kembali ke London.
Sean dan Lorena juga tidak banyak bicara, mereka tahu Ny.Grace hatinya sedang tidak enak dari kemarin. Apalagi Earlangga dan Valerie yang juga lebih banyak diam.
“Aku akan pulang terlembat hari ini, ada yang kau inginkan?” tanya Earlangga pada Valerie, sudah tidak berpura-pura lagi didepan keluarganya.
“Tidak, “ jawab Valerie sambil menoleh pada Earlangga dan tersenyum.
Ny.Grace mengakhiri makannya tanpa bicara lalu beranjak dari ruangan itu. Lorena menoleh pada suaminya yang masih makan tanpa menghiraukan sikap ibunya.
Kini Lorena menoleh pada Earlangga dan Valerie.
“Sikap nenekmu jangan kau ambil hati ya, mungkin awalnya nenekmu akan berat menerima keputusanmu, tapi lambat laun pasti akan menerima Valerie, apalagi kalau Valerie sudah melahirkan,” kata Lorena pada Earlangga.
“Iya Ibu, tidak masalah,” kata Earlangga.
“Kau juga, focus saja dengan kehamilanmu,” kata Lorena pada Valerie.
“Baik Nyonya,” jawab Valerie.
“Jangan panggil aku Nyonya terus. Earlangga sudah memperistrimu, kau bisa memanggil aku ibu saja,” kata Lorena.
“Baik, Nyonya, eh Ibu,” ucap Valerie mengangguk dengan kaku.
Earlangga menoleh pada Valerie dan tersenyum, lalu mengusap rambutnya.
“Aku sudah selesai makan, aku berangkat,” ucapnya lalu mencondongkan kepalanya mendekari Valerie lalu mencium pipinya, juga mengusap perutnya. Wajah Valeri langsung saja memerah diperlakukan begitu didepan mertuanya.
Lorena hanya tersenyum saja melihatnya.
Ny. Grace keluar dari ruang makan dengan sebal, saat melewati ruangan lain, dia berpapasan dengan Pak Sobri.
“Kau mau kemana?” tanya Ny.Grace.
“Ada tamu buat Pak Earlangga” jawab Pak Sobri.
“Siapa?” tanay Ny.Grace.
“Tidak tahu Nyonya, tapi mobilnya adalah mobilnya Pak Earlangga yang hilang itu,” jawab Pak Sobri.
“Apa mobil sportnya Ealrangga dari London?” tanya Ny.Grace.
__ADS_1
“Iya Nyonya,” jawab Pak Sobri, lalu berjalan menuju ruang makan.
Ny.Grace merasa heran, kata Earlangga mobil itu dirampas preman-preman, diapun pergi menuju ruang tamu, dilihatnya ada seorang pemuda yang duduk bersandar di mobil sportnya Earlangga yang hilang itu.
Pak Sobri masuk keruang makan, bersamaan dengan Earlangga juga selesai makan dan bangun dari kursinya.
“Pak, ada tamu,” kata Pak Sobri pada Earlangga.
“Tamu siapa?” tanya Earlangga.
“Seorang pria yang membawa mobil sport Bapak yang hilang itu,” jawab Pak Sobri membuat Earlangga terkejut, dia heran ada apa Darren datang ke rumahnya segala? Diapun menoleh pada Valerie.
“Setelah makan kau istirahat, jangan keluar rumah,” kata Earlangga pada Valerie.
“Iya,” jawab Valerie.
Earlangga menoleh pada ibu dan ayahnya. Pandangannya terhenti pada ayahnya.
“Ayah, aku sepertiny akan pergi duluan, aku ada sedikit urusan,” kata Earlangga.
“Ya kau pergilah dulu, nanti ayah menyusul,” kata Sean, masih menyantap sarapannya.
Earlangga tidak berlama- lama lagi, di langsung menemui Darren yang ternyata sudah berdiri diteras, semakin membuat Earlangga terkejut saja.
“Apa yang kau lakukan disini?” bentak Earlangga dengan kesal, lalu menarik tangannya Darren menjauh.
Ny.Grace yang baru keluar dari dalam rumah dengan tas yang dibawanya, melihat sikap Aarlangga itu pada tamunya, membuatnya menjadi curiga, diapun berjalan kearah jendela dan memperhatikan mereka.
“Aku butuh uang!” kata Darren.
“Aku suda bilang aku tidak akan memberimu uang! Pergi dari rumahku atau aku akan menghabisimu!” maki Earlangga.
“Kau benar-benar tidak bisa diajak kerjasama!” balas Darren.
“Kerjasama apa? Aku tidak peduli kau mau menagtakannya pada Valerie sekalipun! Aku tidak akan membiarkanmu memerasku!” kata Earlangga.
“Pergi dari rumahku!” usirnya.
“Kau akan menyesal!” umpat Darren.
Darren kesal bukan main, diapun masuk kedalam mobilnya, usahanya benar-benar sia-sia, ternyata Earlangga susah diancam, atau memang Earlangga sudah mengatakan hal itu pada Valerie seperti yang Jeni bilang?
Karena Darren parkir di belakang mobilnya Earlangga, jadi Earlangga segera masuk ke mobilnya supaya Darren bisa keluar. Earlangga mengklakson Darren supaya pergi mengikutinya lalu menjalankan mobilnya keluar dari rumah itu diikuti mobilnya Darren.
Pak Sobri masuk kedalam ruangan setelah dari ruang makan tadi. Nyonya Grace langsung memanggilnya.
“Pak Sobri! Hetikan yang memakai mobil Earlangga itu!” teriak Ny.Grace.
“Apa Nyonya?”tanya Pak Sobri.
“Hentikan tamu yang tadi! Cepat!” jawab Ny.Grace.
Pak Sobri berlari keluar sambil menelpon satpam. Dilihatnya mobilnya Earlangga sudah berbelok ke jalan raya sedangkan mobil sport itu mendekati pintu gerbang.
“Tahan dulu tamu tadi! Ny.Grace ingin menemuinya!” perintah Pak Sobri.
“Baik Pak!“ jawab satpam dan langsung menutup gerbang.
Darren membunyikan klakson bebarapa kali.
“Buka gerbangnya!” teriak Darren sambil melongokkan kepalanya dari jendela mobil.
“Ada yang mau bicara!” kata Satpam.
“Ada yang mau bicara?” tanya Darren mengerutkan dahinya, bukanka Earlangga sudah keluar dengan mobilnya tadi?
“Kau tunggu disini!” kata Satpam.
Darrenpun mematikan mobilnya lalu keluar dari mobilnya. Dia heran siapa yang ingin bertemu dengannya?
Dilihatnya seorang wanita paruh baya yang glamour berjalan mengampirinya, diapun menatap wanita itu. Siapa wanita itu? Apa dia ibunya Earlangga? Tapi wanita itu terlalu tua di sebut ibu, mungkin neneknya, fikir Darren.
Ny.Grace berjalan menghampiri Darren yang masih menatapnya dengan heran.
*************
__ADS_1