
Jeni menatap Darren masih ragu, bagaimana kalau Darren berbohong? Tapi bagaiman juga kalau informasinya itu benar-benar penting?
“Kau benar-benar akan mengambil semua uangku di ATM itu? Aku mendapatkannya dengan susah payah minta pada ayah. Kau tahu sendiri kan ayah tidak peduli pada kita,” kata Jeni. Itu adalah uang modalnya mempercantik diri untuk mendapatkan Earlangga.
“Tentu saja. Kalau kau mendapatkan Earlangga, uangmu ini tidak ada apa-apanya,” jawab Darren.
“Baiklah kalau begitu, aku ingin tahu dulu informasinya,” kata Jeni.
“Pinnya dulu berapa dan berapa uang yang ada di atmmu, kalau kurang, kau harus memberiku uang lagi,” ujar Darren.
“Itu sih sama saja kau memerasku!” kata Jeni.
“Darren cepat katakan siapa yang menghamili Valerie?” tanya Nisa, jadi ikut penasaran.
“Sebutkan dulu pin nya,” kata Darren, masih bersikeras.
“Kenapa kau tidak minta uang saja pada ayah?” tanya Jeni.
“Tentu saja nanti aku lakukan, aku butuh uang sekarang,” jawab Darren.
“Katakan berapa pinnya?”lanjut Darren.
Dengan terpaksa Jeni menyebutkan nomor pin itu.
“Jadi siapa yang menghamili Valerie?” tanya Jeni.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Darren.
“Apa?” Jeni sangat marah mendengar jawaban Darren, karena dia sudah memberikan nomor pinnya. Diapun langsung menyerang Darren dan memukulinya.
“Kembalikan atm ku!” teriaknya, sambil merebut ATM itu tapi tangan Darren yang langsung menjauhkannya dari jangkauan Jeni.
“Kau menipuku!” teriak Jeni.
“Aku tidak tahu pin itu benar atau tidak,” ucap Darren.
“Kau benar-benar menyebalkaan Darren!” maki Jeni.
“Dengar, aku tidak tahu siapa yang menghamili Valerie. Tapi, aku tahu kapan kejadian itu, itu bisa kau jadikan senjata untuk pria yang akan berpura-pura menghamili Valerie supaya Valerie percaya,” kata Darren.
“Kau keterlaluan! Kau menipuku!” maki Jeni.
“Karena uangmu masih tidak cukup untuk informasi penting itu!” kata Darren.
“Katakan jadi kau akan memberikan informasi apa?” tanya Jeni dengan kesal.
“Malam sebelum Valerie berhenti dari rumah ini. Ada yang menodainya di club,” jawab Darren.
“Siapa yang menodainya?” tanya Jeni.
“Aku juga tidak tahu, pokoknya itu bisa menjadi penguat informasi kalau pria itu benar-benar yang menghamili Valerie,” kata Darren terus menyebutkan lokasi club malamnya.
“Valerie tidak tahu pasti siapa pria itu karena dia tidak sadarkan diri, jadi dia pasti akan percaya,” lanjut Darren mereka-reka cerita, karena dia juga tidak tahu pasti kejadiannya seperti apa.
“Jadi benar kan bukan Earlangga yang menghamilinya?” tanya Jeni.
“Sepertinya begitu,” jawab Darren berbohong.
“Jadi Valerie mengkambing hitamkan Earlangga? Benar-benar keterlaluan! Siapapun pria yang mengaku menghamilinya, yang penting Earlangga harus tahu kalau itu bukan bayinya! Dia harus menceraikan Valerie!” ucap Jeni, menggebu-gebu.
“Baguskan informasiku? Ciri-ciri pria itu putih tinggi,” kata Dararen lagi, menyebutkan identitas yang mirip Earlangga.
“Putih tinggi?” gumam Jeni.
__ADS_1
“Jadi kau bisa mencari pria yang seperti itu biar meyakinkan,” kata Darren, lalu beranjak meninggalkan tempat itu naik keatas tangga menuju kamarnya dengan katu ATM ditangannya.
Darren langsung mandi dan bersiap-siap menemui teman-temannya. Dia senang akhirnya bisa mendapatkan uang dari Jeni. Dia tidak bisa menceritakan yang sebenarnya pada Jeni, karena informasi ini adalah uang baginya. Seharusnya dia memang menemui ayahnya, tapi dia yakin ayahnya akan menyuruhnya bekerja, dia tidak suka bekerja.
Jeni duduk kembali di sofa sambil terus mengumpat.
“Dia benar-benar menipuku, aku fikir dia tahu siapa yang menghamili Valerie, Huh!” gerutu Jeni, lalu duduk di sofa.
“Tapi setidaknya itu cerita yang bagus,” kata Nisa.
“Apa maksud ibu cerita yang bagus?” tanya Jeni menetap ibunya.
“Itu bisa jadi penguat kalau pria itu benar-benar ingat kapan menodai Valerie dan membuatnya hamil,” jawab Nisa, diapun kembali duduk di sofanya.
“Valerie itu pura-pura hamil oleh Earlangga, diakan perawat pribadinya, pasti dia bebas keluar masuk kamarnya,” kata Nisa.
“Ibu benar, Valerie hamil oleh pria yang menodainya di club dan menjerat Earlangga dengan pura-pura hamil oleh Earlangga, benar-benar akal busuk,” umpat Jeni.
“Ibu tahu siapa yang akan menjadi pria pura-pura itu, yang pasti dia tinggi dan berkulit putih,” kata Nisa.
“Benar Bu?” tanya Jeni dengan mata berbinar-binar.
“Kita telpon dia sekarang,” jawab Nisa, lalu menelpon seseorang.
Sore harinya Earlangga pulang kerumah, hari dimana dia memang tidak mengijinkana Valerie ikut bersamanya, karena perut Valerie samakin besar dia menjaga supaya Valerie tidak merasa pegal menemaninya dan bisa beristirahat dirumah.
Saat mobilnya memasuki halaman rumah, dari kejauhan dilihatnya ada Valerie berdiri diteras, menatapnya seolah-olah sedang menunggunya pulang. Earlangga memperhatikan dari hari ke hari gadis itu terlihat sangat cantik dimatanya, dengan perut yang semakin gendut dan pipi yang semakin cubi, aura gadis itu terpancar keluar.
Mobil Earlangga berhenti diteras. Diapun segera keluar dari mobilnya.
“Sedang apa kau disini?” taya Earlangga, karena tumben sekali Valerie ada diteras sore-sore.
“Aku hanya jenuh dan berjalan-jalan ditaman saja,” jawab Valerie.
“Perutmu terlihat semakin besar,” ucapnya.
“Iya,” jawab Valerie sambil menyentuh perutnya.
“Bolehkah aku menyentuhnya?” tanya Earlangga.
Valerie mengangguk.
Earlanggapun berjalan mendekat dan menyentuh perut itu. Ada perasaan haru dihatinya, dia sudah menjadi ayah sekarang apakah nanti jika bayi itu lahir bayi itu akan memaggilnya ayah?
Tiba-tiba ponsel Valerie yang ada diatas meja itu berdering. Valerie segera mengambilnya dan dilihat ada pesan masuk, diapun langsung membacanya. Seketika wajahnya berubah pucat saat membacanya. Tangannya gemetaran memegang ponsel itu.
“Kau kenapa?” tanya Earlangga, melihat reaksi Valerie yang terkejut membaca pesan di ponselnya.
“Tidak, tidak apa-apa,” jawab Valerie, menoleh pada Earlangga dan tersenyum.
“Aku mau istirahat,” kata Valerie, tiba-tiba langsung masuk kedalam rumah.
Earlangga mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan sikapnya Valerie. Kenapa dia seperti melihat sesuatu di ponselnya?
Earlanggapun segera masuk ke rumah, ternyata Valerie sudah menghilang, apakah dia berlari? Apa dia lupa kalau dia sedang hamil pake berlari segala? Batinnya.
Saat masuk ke kamar, Valerie sudah berbaring dan berselimut membelakanginya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Earlangga.
“Iya,” jawab Valerie, sembil memejamkan matanya.
Hatinya benar-benar gelisah, baru saja dia membaca pesan dari seseorang yang membuatnya merasa takut. Dipesan itu tertulis kalau dia adalah ayah dari bayi yang sedang dikandungnya dan memintanya untuk bertemu. Keringat dingin langsung muncul dikeningnya. Apa benar pria itu pria yang menghamilinya? Darimana pria itu tahu nomornya?
__ADS_1
“Sebelum tidur, jangan lupa minum susunya,” terdengar suara Earlangga mengingatkan.
“Iya,” jawab Valerie.
Terdengar lagi suara pintu kamar mandi dibuka, sepertinya Earlangga sedang mandi.
Hati Valerie benar-benar gelisah, apakah dia harus bertemu pria yang mengaku ayah dari bayinya itu?
Terdengar lagi ponselnya yang ada disamping bantalnya berbunyi. Dengan tangan gemetar Valerie membuka pesan itu. Pria itu meminta maaf karena telah menodainya di club malam beberapa bulan yang lalu, saat dia tidak sadarkan diri, bahkan pria itu menulis lokasi club dan jam kejadian. Pria itu benar-benar tahu kejadiannya.
Jantung Valerie serasa berhenti berdetak saat membacanya. Apakah pria itu benar-benar yang telah menidurinya malam itu? Valerie tidak menjawab pesan itu. Buru-buru disimpannya poselnya, dia tidak ingin membalasnya.
Ponselnya kembali berbunyi. Meskipun dia ingin mengabaikan pesan itu tapi disisi lain dia penasaran apa benar pria itu adalah ayah dari bayi yang dikandungnya?
Dibaca lagi pesan itu. Sekarang pia itu mengajaknya bertemu besok di sebuah taman.
Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Valerie langsung menutup ponselnya dan disimpan disamping bantalnya lalu memejamkan matanya pura-pura tidur.
Tempat tidur bergerak dibelakangnya sepertinya Earlangga duduk disana.
Valerie benar-benar gelisah, apa dia harus menemui pria itu? Atau dia abaikan saja? Tapi bagaimana kalau ternyata pria itu benar-benar yang telah menghamilinya?
Tiba-tiba ada perasaan sedih dihatinya jika benar pria itu yang menghamilinya. Itu artinya apakah dia akan berpisah dengan Earlangga? Meskipun Earlangga tidak pernah menyatakan cinta padanya, tapi sikapnya yang selalu memperhatikannya dan bayinya sangat membuatnya nyaman dan dia merasa aman bersama Earlangga.
“Kau sudah tidur?” tanya Earlangga.
Valerie tiba-tiba bangun.
“Aku mau menemui Bu Asni sebentar,” kata Valerie, sambil turun dari tempat tidurnya dengan terburu-buru.
“Jangan buru-buru! Harus ingat kau sedang hamil, jangan sampai jatuh,” ucap Earlangga, mengingatkan Valerie.
“Iya,” jawab Valerie, sebenarnya dia ingin cepat berlari keluar tapi ingat perkataanya Earlangga dia memang harus menjaga bayinya. Dia harus segera menemui Bu Asni, dia butuh seseorang untuk memberinya saran.
Brugh! Terdengar Valerie menutup pintu kamar itu.
Earlangga hanya terdiam mendengarnya, dia heran kenapa Valerie bersikap aneh begitu. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel didekat bantal Valerie.
“Telpon dari siapa?” gumam Earlangga mencari arah suara ponsel, ternyata ponsel Valerie.
Diabaiakannya ponsel itu tapi karena berkali-kali berdering, membuatnya merasa berisik. Diambilnya ponsel itu dan ada nomor disana tanpa nama, lalu panggilan itu berakhir. Saat nomor itu mati, muncul pesan masuk yang langsung terbuka dilayar. Earlangga terkejut saat membacanya.
Itu adalah pesan alamat dimana Valerie harus menemui si pengirim pesan dan jam mereka bertemu.
Earlangga langsung membuka pesan-pesan masuknya Valerie. Jantungnya langsung berdebar kencang saat membaca pesan-pesen itu. Ada yang mengaku telah menghamili Valerie, dan menjelaskan detil kejadian malam itu.
Wajah Earlangga langsung pucat saja, jadi ini yang membuat Valerie bersikap aneh? Siapa yang mengirim pesan itu? Apakah Valerie akan menemui pria itu? Siapa sebenarnya pria yang mengaku-ngaku itu? Kenapa
begitu tahu kejadian di malam itu? Apakah dia salah perkiraan, apa memang bukan Valerie yang dinodainya tapi gadis lain?
Earlangga menutup ponselnya Valerie, disimpannya kembali ke posisi yang tadi. Dia harus mengikuti Valerie bertemu pria itu, dia ingin tahu apa benar pria itu yang menodai Valerie tapi bukan dirinya? Tapi dari parfum itu jelas-jelas itu parfum gadis yang bersamanya malam itu, tapi parfum bisa siapa saja memakainya. Bagaimana ini? Apa persdiksinya salah? Apakah Darren berbohong padanya dengan memperlihatkan fotonya Valerie? Semua ini sangat membingungkannya.
************
Readers, apakah novel ini sedang ada di beranda? Aku kaget saat melihat view sehari lebih dari 200 ribu view.
Meskipun penulisannya banyak kekurangan disana sini karena memang tanpa konsep, author senang kisah Sean dan Lorena banyak yang baca.
Semua karena pembaca-pembaca setiaku yang selalu support. Mksh ya.
I Love U All
************
__ADS_1