
Pagi ini dirumah Bu Yati tampak begitu ramai oleh orang yang hilir mudik mengangkut kelapa dan sejenisnya, untuk persiapan jualan di warung pinggir jalan perkebunan karet itu. Sebagian diangkut ke atas mobil pick up.
“Bu, kelapa-kelapa sudah siap berangkat!” kata seorang pria menghampiri Lorena yang berdiri memperhatikan pengangkutan kelapa-kelapa itu.
“Kalau begitu kalian berangkat saja, nanti aku akan menelpon supervisor yang di ibukota,” ucap Lorena.
Bu Yati menghampiri Lorena.
“Ibu tidak menyangka usaha es kelapa kita kan semaju ini,” kata Bu Yati sambil tersenyum.
Lorena menoleh pada Bu Yati.
“Ini juga saatnya kita merenovasi rumah ini supaya lebih nyaman, meskipun tidak mewah,” ucap Lorena.
“Terimakasih karena kedatanganmu dan Earlangga membuat perubahan dalam hidup kami,” kata Bu Yati.
“Tidak perlu berterimakasih, kalau bukan kerena bantuan kalian aku dan bayiku entah bagaimana nasibnya,” sahut Lorena sambil tersenyum.
“Tapi kau jadi harus menjual cincin pernikahanmu,” kata Bu Yati.
“Tidak apa-apa, karena banyak permintaan jadi kita butuh modal yang banyak. Aku juga tidak mungkin merepotkan kalian terus,” ucap Lorena.
“Kenapa kau bicara begitu? Apa sekarang kau berfikir akan pergi?” tanya Bu Yati, dengan hati yang mulai diliputi kesedihan karena dia sudah teranjur menayayangi Lorena yang dia panggil Laura juga Baby Earl.
“Sudah beberapa bulan aku tinggal disini, Earlangga juga sudah tumbuh dengan sehat, aku harus memikirkan masa depannya Earlangga,” kata Lorena.
“Kau akan kembali menemui suamimu?” tanya Bu Yati.
“Aku tidak tahu, sebenarnya aku juga sangat merindukannya tapi aku masih merasa was was dan trauma kalau berada bersama suamiku akan berdampak buruk buat putraku, aku harus memastikan kalau semua baik-baik saja, dan Earlangga aman untuk menemui ayahnya,” jawab Lorena.
“Tapi ayahnya perlu melihat bayinya, mungkin ayahnya sampai sekarang masih mencari kabar kalian,” kata Bu Yati.
“Iya, kalau aku sudah merasa yakin dengan keselamatan putraku aku akan menemuinya. Sementara ini mungkin aku akan kembali ke kota, tapi aku belum tahu akan tinggal dimana. Dikota biaya tempat tinggal sangat mahal,” kata Lorena. Diapun berfikir keras, kira-kira dia akan tinggal dimana kalau kembali ke kota?
“Aku tidak mungkin langsung membeli rumah di kota karena usaha kulinerku baru berjalan dua minggu,” ucap Lorena lagi.
“Bu, kami beragkat!” terdengar supir pick up yang sudah ada didalam mobilnya menengok keluar jendela.
“Iya hati-hati!” kata Lorena. Tidak berapa lama mobil pick up itu pergi.
Seorang gadis yang usianya lebih muda dari Lorena menghamiri sambil mengendong Earlangga. Lorena menatapnya.
“Neny, Kalau kau ikut tinggal denganku di kota kau bisa? Kau kan belum menikah,” tanya Lorena.
Neny menoleh pada Bu Yati.
__ADS_1
“Bagaimana Bi?” tanya Neny, yang merupakan keponakannya Bu Yati.
“Kau kan belum pernah ke kota, tidak apa-apa ikut kesana sambil menjaga Earl,” kata Bu Yati.
Neny menoleh pada Lorena, diapun mengangguk. Lorena tersenyum pada Neny, lalu menoleh pada Earlangga, bayi itu pasti akan kesulitan kalau dia harus berganti lagi pengasuh, apalagi dia harus sangat protectif dengan orang asing.
Setelah viralnya es kelapa si cantik, Lorena memutuskan untuk mengembangkan warung es kelapanya Bu yati, dengan menjual cincin berlian satu-satunya yang berharga lumayan besar sebagai modal.
Lorena membeli lahan sekitar warung supaya tempat lesehannya lebih luas, juga menambah menu kulinernya sate dan ikan bakar tapi ciri khasnya tetap es kelapa si cantik. Dengan kesibukannya diapun meminta Neny untuk mengasuh Earlangga.
Karena viralnya es kelapa si cantik ini membuat tingkat permintaan di kotapun semakin tinggi jadi Lorena juga memutuskan untuk membuka cabang di ibukota dengan sisa modal yang ada untuk memudahkan memberikan layanan di daerah perkotaan.
Sekarang yang harus difikirkannya adalah tempat tinggalnya di ibukota. Dia belum tahu apakah usaha es kelapanya akan selaris dikampung, jadi dia tidak mungkin menghamburkan uang hasil penjualan cincin pernikahannya.
Tiba-tiba dia teringat pada rumah kontrakannya Sean. Rumah itu sudah dibeli oleh Sean dan dibiarkan kosong, hanya ada satpam dan pengurus rumah dan kebun saja yang membersihkan rumah dua hari sekali. Terbesit dalam fikirannya dia akan tinggal disana saja dan meminta satpam disana untuk merahasiakan keberadaannya.
Setelah memimbag-nimbang, akhirnya Lorena bersiap-siap kembali ke ibu kota dengan mobil rentalnya. Dia belum bisa membeli kendaraan karena uangnya terkuras untuk modal usaha kulinernya di ibukota. Lokasi yang di sewapun tidak terlalu strategis karena harga sewa di ibukota sangatlah mahal. Dia beum tahu peruntungan di ibukota akan seperti apa kedepannya.
******************
Siang itu, mobil rentalnya Lorena masuk ke komplek perumahan elit yang pernah ditempatinya bersama Sean. Rumah kontrakannya sendiri tentu saja sudah tidak dikontrak lagi, tidak dengan rumahnya Sean yang sudah dibeli oleh Sean.
Mobil berhenti di depan rumah itu. Pak Satpam tampan terkejut melihat mobil yang tidak dikenalnya itu berhenti di depan gerbang. Diapun turun dari posnya menuju gerbang.
Lorena membuka kaca jendela mobilnya yang sebelah kiri dan melongokkan kepalanya.
“Aku. Pak Satpam,” jawab Lorena. Pak Satpam yang melihat Lorena ada didalam mobil itu terkejut bukan main.
“Bu Sean?” tanyanya dengan gugup, dia langsung berkeringat dingin, yang dia tahu kalau istri bosnya itu sudah meninggal.
“Iya,” jawab Lorena.
“Anda masih hidup?” tanya Satpam dengan gugup, wajahnya tampak pucat, seakan-akan melihat hantu saja.
“Iya, buka pintunya, aku mau masuk,” jawab Lorena.
Pak Satpam mengangguk dengan ragu, tangannya buru-buru membuka gerbang. Supir rental itupun memasuki halaman rumah itu.
Pak Satpam masih termangu-mangu dengan kehadirannya Lorena. Dia buru-buru menutup gerbang, lalu berlari mengikuti mobil itu.
Saat melihat Lorena turun dengan seorang gadis yang menggendong bayi, Pak Satpam tidak berkedip sedetikpun, dia merasa aneh dan bingung. Istri bosnya yang dikabarkan menghilang dan meninggal itu kini benar-benar ada di hadapannya.
“Aku perlu bicara,” kata Lorena.
“Ba baik Bu,” ucap Pak Satpam, sembil segera membuka pintu rumah.
__ADS_1
Lorena melirik pada Neny yang menggendong Earlangga yang sedang tidur.
“Neny, tidurkan Earl di kamar utama ya, diatas, kamar yang sebelah kanan,” kata Lorena, dia memilih kamarnya Sean yang lebih luas karena sekarang ada bayinya.
“Baik Bu,” jawab Neny sambil beranjak menuju arah yang ditunjuk Lorena.
Pak Satpam melihat kepergian Neny yang mengenodng Earl itu.
“Itu putraku, putranya Sean, namanya Earlangga,” kata Lorena.
Pak Satpam hanya bengong saja, dia masih terlihat bingung lalu menoleh pada Lorena.
“Jadi Ibu belum meninggal?” tanya Pak Satpam.
Lorena menggeleng, dia sudah mengira kalau orang-orang pasti berfikir dia sudah meninggal.
“Aku masih hidup,” jawab Lorena sambil tersenyum.
Pak Satpam hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“Untuk sementara aku akan tinggal disini, aku ada permintaan padamu,” kata Lorena.
“Permintaan?” tanya Pak Satpam.
“Tolong rahasiakan keberadaanku dari Sean atau Sam,” jawab Lorena.
“Dirahasiakan? Kenapa? Pak Sean terus mencari-cari kabar Ibu,” kata Pak satpam, dia juga mendengar dari karyawan lain saja.
“Aku harus memastikan keselamatan putraku. Nanti kalau waktunya sudah tepat aku akan memberi tahu Sean. Aku minta kau tidak boleh menerima tamu seorangpun, aku tidak mau terjadi apa-apa pada putraku, kau mengerti?” kata Lorena.
Pak Satpam mengangguk.
“Pengurus rumah dan kebun masih suka datang dua hari sekali kesini?” tanya Lorena.
“Masih Bu, besok jadwal mereka kesini,” jawab Pak Satpam.
“Nanti aku juga ingin bicara dengan mereka. Kau bisa kembali ke pos,” kata Lorena.
“Baik Bu,” jawab Pak Satpam, kemudian keluar dari rumah itu kembali ke posnya.
Lorena menatap isi rumah itu, diapun tersenyum, banyak kenangan disini, kenangan saat pertama-tama bertemu dengan Sean. Banyak kenangan manis disini. Dilihatnya piano yang ditutup kain, disebelahnya ada pintu menuju ruang les yang tertutup. Semua menjadi kenangan yang sengat indah.
Mengingat-ingat masa lalu membuatnya merindukan suaminya itu, tapi sekali lagi dia tidak mau mengambil resiko, dia belum bisa muncul didepan Sean, dia harus memastikan tidak ada lagi hal yang membahayakan nyawa putranya. Untuk itu dia harus bisa menahan rasa rindunya.
*************
__ADS_1