
Halaman gedung olahraga itu berubah menjadi hamparan tenda putih yang memanjang. Kursi-kursi dan papan melukis lengkap dengan alat lukisnya, sudah ditata sedemikian rupa berderet memanjang mengikuti tenda itu. Di sebrang masing masing kursi tergantung fotonya Sean berukuran cukup besar. Satu peserta satu foto.
Para peserta lomba sudah siap sedia duduk dikursinya masing masing. Sebentar lagi acara akan dimulai.
Sean dan Sam ada ditenda panitia. Sean terlihat gelisah karena ternyata Lorena tidak datang ke kontes kali ini. Sepertinya memang Lorena tidak akan ikut kontes lagi.
Dia terduduk lesu saat acara sudah dimulai dan para peserta sudah mulai melukis. Sam mendekati Sean yang bangun dari duduknya.
“Kau mau kemana?” tanya Sam.
“Aku mau ke kantor saja, ternyata dia tidak datang,” kata Sean.
Sam melihat raut kecewa diwajahnya Sean. Diapun tidak bicara apa-apa lagi. Tiba-tiba Sean membalikkan badannya menoleh pada Sam.
“Ada apa?” tanya Sam.
“Bilang pada panitia, tarik semua fotoku,” kata Sean.
“Kenapa?” Tanya Sam.
“Karena Lorena tidak ikut kontes, buat apa wajahku digambar oleh wanita-wanita lain. Aku menerima usulmu karena Lorena akan ikut kontes, tapi kenyataannya dia tidak datang ke tempat ini,” jawab Sean.
“Baiklah,” Sam mengangguk. Diapun memanggil ketua panita lombanya.
“Pak Yadi!” panggil Sam.
“Ya pak?” yang dipanggil Pak Yadi menghampirinya.
“Tolong batalkan tema melukis fotonya Pak Sean, ganti melukis bebas saja,” perintah Sam.
“Tapi pak, peserta sudah mulai melukis,” kata Pak Yadi.
“Ganti, kasih kertas baru,” perintah Sam.
Meskipun bingung, Pak Yadi mengikuti perintahnya Sam. Diapun memberikan pengumuman dan memerintahkan anggota panitia yang ain supaya mencabut foto-fotonya Sean.
Panitia langsung sibuk mencabut fotonya Sean dan mengganti alat tulisnya peserta. Peserta tampak kebingungan tapi mereka hanya menurut apa kata panitia.
“Sudah kau cabut fotoku semua?” tanya Sean pada Sam.
“Sudah,” jawab Sam.
“Aku tidak mau ada peserta yang mengambil fotoku,” kata Sean lagi.
“Tenang kau jangan khawatir, semua foto sudah ku simpan,” ucap Sam.
Sean membalikkan badannya akan meninggalkan tenda, tubuhnya berhenti bergerak saat dilihatnya seorang gadis dengan menarik kopernya, berlari menuju tenda panitia.
“Pak, Bapak Panitia! Apakah lombanya sudah dimulai?” teriak gadis itu.
Sesaat gadis itu menghentikan langkahnya saat menuju tenda berpapasan dengan Sean.
Sean menatap gadis itu begitu juga dengan gadis itu, tidak ada yang bicara. Seketika wajah Sean yang tadi muram berubah ceria.
“Kau baru datang?” tanya Sean, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
“Iya,” jawab Lorena, dia terengah-engah karena kecapean.
“Apakah lombanya sudah mulai?” tanya Lorena, menoleh kearah tenda dilihatnya peserta sedang melukis.
“Sudah, tapi kau bisa ikut,” jawab sean, buru-buru memanggil Sam.
“Pak Sam! Pak Sam, satu peserta lagi!” teriak Sean.
Sam menoleh ka arah Sean dan dilihatnya Lorena datang dengan membawa kopernya, sepertinya dia baru tiba dari perjalanan dan langsung ke lokasi.
“Pak Yadi! Satu peserta menyusul,” teriak Sam pada Pak Yadi yang sedang berdiri dekat tenda peserta.
“Tapi Pak, lomba sudah berlangsung lebih dari 15 menit, tidak bisa masuk,” jawab Pak Yadi.
Sam menoleh pada Sean.
“Sudah lewat 15 menit,” kata Sam.
__ADS_1
Mendengarnya Lorena menjadi kecewa, sudah jauh-jauh dia datang mau ikut kembali lomba ternyata sudah telat.
“Dia dapat wild card keterlambatan dari Presdir!” seru Sean pada Sam yang berdiri agak jauh antara dia dan Pak Yadi.
“Ya dia dapat wildcard keterlambatan dari Presdir!” ulang Sam berteriak sambil menoleh kearah Pak Yadi yang juga terlihat bingung. Memangnya ada wild card keterlambatan? Sean ada-ada saja.
“Pak Sam!” teriak Sean lagi, kesal pada Sam yang malah kebingungan.
Sam menoleh pada Sean yang terihat memberengut kesal padanya, melihat sikap Sean itu membuat Sam tidak mau dipotong gaji walau bagaimanapun Sean Presdirnya, akhirnya dia menoleh pada Lorena.
“Kau masuk!” ucap Sam. Pak Yadi tampak bingung dengan wild card keterlambatan. Emang ada gitu? Tapi dia juga bersikap sama, dia tidak mau dipotong gaji.
“Ya sudah masuk!” kata Pak Yadi pada Lorena.
Gadis itu tersenyum senang, lau dia melihat kopernya. Dia akan menariknya, tapi Sean juga menyentuh koper itu, tangan merekapan saling bersentuhan. Merekapun saling menatap.
“Ehm! Ehm! Tidak ada wild card keterlambatan dua kali!” teriak Sam, yang melihat mereka malah bertatapan.
“Kopernya biar disimpan dimbobilku saja,” kata Sean. Lorenapun mengangguk dan tersenyum.
“Ya ya Terimasakih,” ucap Lorena.
“Hei, kau peserta nomor berapa? Cepat ke kursimu!” teiak Pak Yadi.
Lorena menoleh pada Pak Yadi dan buru-buru berlari menuju tenda peserta lomba.
Sean tersenyum melihat kepergian Lorena. Dia senang bisa melihat gadis itu lagi, tapi bayangan gadis itu kini berubah menjadi wajahnya Sam yang berdiri menghalangi pandangannya.
“Kau menghalangiku! Awas!” teriak Sean sambil menarik Sam supaya minggir dari hadapannya.
“Katanya kau mau ke kantor,” kata Sam.
“Tidak jadi, kantornya tutup,” jawab Sean.
“Mana ada kantormu tutup?” tanya Sam. Mencibir.
“Kantor pengacaranya tutup,” jawab Sean.
“Perasaan tadi kau tidak menyebut kantor pengacara?” kata Sam.
“Itu bagaimana dengan fotoku, kan mau melukis fotoku,” kata Sean.
“Ya tidak bisa diganti lagi, Fotonya sudah ditarik dan peserta sedang melukis bebas, kau ini bagaimana?” keluh Sam.
Sean jadi kecewa, tadinya dia berharap Lorena akan melukis wajahnya, ternyata tidak jadi.
“Ya sudahlah, yang penting dia ikut lomba lagi,” kata Sean.
Sam hanya mengangguk, lalu dia pergi menemui Pak Yadi. Sean melihat kopernya Lorena, diapun tersenyum dan melangkah membawa koper itu menuju mobilnya.
“Tema melukisnya apa?” tanya Lorena pada panitia.
“Bebas,” jawab panitia yang mengawasi berlangsungnya acara.
Lorena berifikir, mau meliukis apa? Pemandangan gunung dan sawah? Ko seperti anak SD? Lalu diapun mulai melukis.
Sean sudah kembali dari menyimpan kopernya.
“Apakah dia bisa melukis?” tanyanya pada Sam.
“Tenang saja, khusu Lorena masuk kategori melukis abstrak,” jawab Sam, kalem.
“Kau benar, abstrak,” Seanpun mengangguk. Dia duduk dekat Sam, memperhatikan peserta lomba yang jumlahnya masih sangat banyak.
Akhirnya lombapun selesai, peserta mulai meninggalkan tenda itu.
“Hai Lorena!” sapa Indri yang lebih dulu selesai, dan melewati kursinya Lorena.
“Kau belum selesai?” tanya Indri, menghentikan langkahnya.
“Sudah,” jawab Lorena, bangun dari kursinya.
“Ayo kita istirahat disebelah sana,” kata Indri, Lorenapun mengangguk.
__ADS_1
“Kita dekat tenda panitia yu,” ajak Indri.
“Mau apa?” tanya Lorena beralih mengikuti Indri.
“Aku mau lihat Asisten Sean,” jawab Indri, mendengarnya membuat Lorena tidak suka.
“Buat apa? Presdirnyakan Pak Sam,” jawab Lorena.
“Tapi aku lebih menyukai Asisten Sean, dia sangat tampan. Seharusnya tadi jangan sampai dibatalkan,” kata Indri.
“Dibatalkan apa?” tanya Lorena.
“Itu, tadinya peserta akan melukis fotonya Pak Sean, wuih fotonya sangat keren, eh malah ditarik jadi melukis bebas,” jawab Indri, mereka berjalan akan keluar dari tenda peserta.
“Melukis Pak Sean?” tanya Lorena, Indri pun mengangguk. Lorenapun tidak bicara lagi.
“Sean, ayo kita lihat hasil lukisan peserta,” ajak Sam.
“Ayo,” Seanpun berdiri mengikuti langkahnya Sam.
Saat berpapasan dengan Lorena dan Indri, Sean pura-pura tidak melihat begitu juga Lorena. Indri terus melirik kearah Sean sampai tubuhnya memutar saking inginnya melihat Sean.
“Ayo!”ajak Lorena menarik tangannya Indri.
“Lama tidak melihatnya, dia tambah tampan saja,” ucap Indri.
“Jangan melihatnya terus, kau lihat Pak Sam saja lebih tampan, lebih ganteng lebih kaya,” kata Lorena, dia tidak suka ada peserta yang menyukai Sean.
“Tidak ah, aku memilih Pak Sean saja, tidak apa-apa tidak lolos kontes juga,“kata Indri. Membuat Lorena kesal, dia kembali menarik Indri menjauh dari tempat itu.
Sean dan Sam juga para juri penilai lukisan peserta sudah mulai menilai satu persatu. Sean hanya melihat sekilas saja, dia tidak peduli dengan lukisan peserta lain.
Dia mendekatkan telinganya pada Sam.
“Ingat abstrak abstrak,” kata Sean.
“Iya,” jawab Sam mengangguk. Sean khawatir lukisan Lorena jelek dan tidak lolos lomba.
Merekapun terus berjalan ke kursi yang lain, hingga tiba di tempatnya Lorena.
“Sam abstrak,” Sean berbisik lagi.
“Iya tau,” jawab Sam.
Panitia penilai lukisan tampak berdiri mengeilingi lukisannya Lorena.
“Pak lukisan abstrak tidak apa-apa, masukkan saja kategori abstrak, luluskan saja,” kata Sam pada juri lukisan yang sengaja di datangkan dari sanggar seni lukis.
“Abstrak?” tanya juri itu.
“Iya abstrak, jadi meskipun acak-acakan juga lolos,” jawab Sam.
“Tapi ini bukan lukisan abstrak,” ucap Juri.
“Sudah tidak apa-apa, masukkan kategori abstrak saja, lolos,” kata Sam.
“Tapi masalahya ini lukisan bukan abstrak, malah lebih mendekati ke real nya,” jawab Juri, membuat Sam dan Sean terkejut.
“Mendekati real?” tanya Sam.
“Iya ini bukan abstrak,” kata juri. Diangguki juri lain.
Sean dan Sam mendekati papan lukisan itu dan melihat apa yang dilukis Lorena. Merekapun tertegun terutama Sean. Ternyata Lorena melukis pria bertopeng.
“Sean, ini lukisan sangat bagus pria bertopeng, siapa pria bertopeng itu?” tanya Sam, dia takjub dengan hasil lukisannya Lorena.
Sean tidak menjawab, dia menatap luksian itu. Kenapa Lorena melukis pria bertopeng itu? Bahkan lukisannya sangat mendetil dan mirip dirinya.
Sean terus menebak-nebak, apakah Lorena teringat pada pria bertopeng itu? Apakah Lorena menyukai pria bertopeng itu?
Entah kenapa Sean jadi cemburu pada pria bertopeng itu. Apakah Lorena menyukai pria bertopeng itu tapi bukan menyukai dirinya?
***************
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen