Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-80 Kepergian Lorena


__ADS_3

Malam itu Sean kembali ke rumah kontrakan dengan Lorena. Sean langsung membawa Lorena ke kamarnya.


“Kau istirahat, tidur yang nyenyak,” ucap Sean, sambil menyelimuti Lorena yang berbaring ditempat tidurnya. Lorena tidak menjawab.


Sean duduk dipinggir tempat tidur dan menatap gadis yang mencoba untuk tidur itu, dia tahu Lorena tidak bisa tidur, dia hanya mencoba untuk tidur. Sean benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia tidak mungkin meninggalkan Lorena setelah perjuangannya selama ini.


“Aku akan pulang dulu, aku akan menemui Sam, barangkali Sam punya solusi untuk masalah ini. Kau jangan khawatir, semua akan baik-baik saja,” kata Sean. Tidak ada jawaban dari Lorena.


“Malam ini mungkin aku akan tidur dirumahku, besok aku akan kesini lagi,” lanjut Sean, Lorena masih tidak menjawab. Akhirnya Sean beranjak meninggalkan ruangan itu setelah mencium keningnya Lorena.


********


 


Di dalam kamarnya yang berada dirumah besarnya, Sean bicara dengan Sam.


“Aku butuh bantuanmu Sam,” ucap Sean dengan serius. Dia duduk di sofa menopang kaki dan melipat kedua tangnnya menatap Sam yang duduk di sebrangnya.


“Katakan saja, aku pasti selalu mendukungmu,” jawab Sam.


“Ibuku mengijinkan aku menikah dengan Lorena,” kata Sean.


“Itu bagus,” ucap Sam.


“Masalahnya ibuku juga meminta aku menikah dengan gadis lain yang subur,” kata Sean, membuat Sam terkejut.


“Apa?” Sam menatap Sean tidak percaya.


“Apa yang harus aku lakukan sekerang? Lorena menangis terus,” tanya Sean.


“Kalau begitu kau jangan menyia-nyiakan waktumu,” usul Sam.


“Maksudmu?” tanya Sean.


“Cepat lamar Lorena pada orangtuanya. Kalau masih di London, datanglah ke London, aku siap menemani! Kalian langsung menikah juga tidak masalah, resepsi menyusul saja, aku akan mengurus pernikahan kalian secepatnya!” seru Sam bersemangat.


Sean bertatapan dengan Sam.


“Cepat menikah, siapa tahu ada keajaiban dan ternyata kalian cepat punya anak, soal ibumu mencarikan wanita lain, jangan kau fikirkan, kau focus saja pada Lorena,” kata Sam.


“Dia juga sempat mau meninggalkanku,” ucap Sean.


“Makanya kau berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan dia, cepat nikahi dia. Kalau untuk punya anak, kalian kan bisa ikut progam kehamilan atau bayi tabung atau apalah, yang penting kalian menikah dulu,” kata Sam.


“Kau benar, aku tidak mau kehilangan Lorena,” ucap Sean.


“Aku segera menyiapkan perjalanan kita ke London besok,” kata Sam. Dia langsung mengeluarkan hanpdhonenya. Sean hanya mengangguk.


**********

__ADS_1


 


Pagi-pagi sekali Sean sudah pulang ke rumah kontrakan, dia akan mengajak Lorena menemui orang tuanya di London. Sam sudah menyiapkan pesawat pribadi keluarganya  Sean jadi mereka tinggal berangkat.


“Apa Lorena sudah bangun?” tanya Sean pada Pak Roby yang malah menatapnya.


“Sudah,” Jawab Pak Roby.


Sean buru-buru melangkah masuk kedalam tapi Pak Roby menghentikannya.


“Non Lorena tidak ada,” kata Pak Roby.


“Apa? Apa maksudmu tidak ada sepagi ini?” Sean terkejut, dia membalikkan badannya menatap Pak Roby.


“Non Lorena tidak bilang apa-apa, kopernya juga dibawa, keluar memakai mobilnya,” jawab Pak Roby.


Sean terdiam, kemana Lorena? Apakah dia pulang? Sean langsung berlari ke kamarnya Lorena. Benar saja kamarnya sudah kosong. Lorena membawa semua pakaiannya.


Sean bingung apakah Lorena pulang kampung atau pergi ke London? Kemana dia harus menyusulnya. Sean benar-benar panik, dia tidak siap untuk kehilangan Lorena.


Sean langsung menghubungi nomornya Lorena tapi tidak aktif, dia semakin panic saja. Kemana dia harus mencarinya? Dia tidak tahu alamat orang tuanya Lorena di London, terpaksa dia harus ke rumahnya Lorena, siapa tahu Lorena juga pulang kesana. Tanpa fikir panjang lagi, Sean kembali keluar dari rumah itu.


“Pak Roby tidak tahu Lorena pulang kampung atau ke London?” tanya Sean lagi saat melewati Pak Roby.


“Tadi sempet ditanyakan tapi Non Lorena hanya bilang pulang saja,” ucap Pak Roby.


Sean tidak menjawab lagi, dia langsung mengendarai mobilnya, dia harus menyusul Lorena ke rumahnya, kalau Lorena tidak ada, mungkin dia memang harus menyusulnya ke London, semoga kepala pelayannya mau memberitahu alamat di London.


“Sean, semua sudah siap, kita bisa langsung berangkat,” kata Sam yang menelpon.


“Kau tunggu kabar dariku, karena Lorena tidak ada di rumah, dia sudah pergi,” jawab Sean.


“Apa? Pergi? Kemana?” tanya Sam, terkejut.


“Aku juga tidak tahu, dia tidak bisa kuhubungi, aku sedang menyusul kerumahnya, siapa tahu dia pulang kesana,” jawab Sean, dengan hati yang sangat gelisah.


Dalam hatinya berharap segera bisa menemukan Lorena, apa jadinya kalau Lorena pergi dari kehidupannya? Dia sangat mencintainya.


Perjalanan ke kampung Lorena sangat jauh, membutuhkan waktu seharian untuk sampai disana.


Hari sudah mulai gelap saat Sean akhirnya sampai dirumahnya Lorena. Rumah itu terlihat sangat sepi.


Pak Firman membukakan pintu saat mendapat laporan dari satpam ada tamu yang datang. Dia sangat terkejut melihat kedatangannya Sean.


“Pak Sean?” tanya Pak Firman, tampak bingung dengan kehadirannya Sean.


“Aku mencari Lorena!” kata Sean to the point.


“Non Lorena? Non Lorena tidak pulang,” jawab Pak Firman.

__ADS_1


“Tidak pulang? Apa maksudmu tidak pulang?” tanya Sean.


“Tidak ada pemberitahuan kalau Non Lorena akan pulang,” jawab Pak Firman.


Sean berfikir sejenak, apa munngkin Lorena masih berada di jalan?


“Kalau boleh aku akan menunggunya,  mungkin Lorena masih di jalan. Handphone-nya tidak bsia dihubungi,” kata Sean.


Pak Firman mengangguk. Akhirnya Sean menunggu Lorena duduk diteras, dia memilih di teras supaya tidak jenuh. Dari terasa dia bisa melihat ke jalan raya yang penuh lalu lalang kendaraan.


Satu jam, dua jam, tiga jam, sudah tiga jam Sean menunggu, tapi Lorena tidak pulang juga. Hari sudah gelap.


Sean menemui Pak Firman lagi.


“Apakah kau tahu alamat orang tuanya Lorena di London? Apa mungkin Lorena pulang ke London?” tanya Sean, dia sudah lelah menunggu Lorena berjam-jam.


“Saya tidak berhak untuk memberitahukan alamat orang tuanya,” kata Pak Firman.


“Apa kau tidak kasihan padaku yang patah hati ini? Lorena menghindariku, aku kehilangan jejaknya, aku harus menemukannya,” ucap Sean. Dia benar-benar sudah putus asa, dia tidak tahu kemana lagi harus mencari Lorena.


Pak Firman terdiam, dia bukan tidak kasihan tapi itu bukan wewenangnya memberikan informasi alamat tidak seijin majikannya.


“Sayang, kau dimana? Kenapa kau pergi tanpa bicara denganku?” gumam Sean dengan lesu.


Hari sudah larut, Sean kembali menemui pak Firman.


“Pak aku terpaksa pulang, kalau kau berubah fikiran untuk memberitahu alamat orang tua Lorena di London, tolong beritahu aku,” ucap Sean, sambil memberikan kartu namanya yang dia ambil dari dalam mobilnya.


“Kalau Lorena pulang, tolong beritahu aku juga, katakan padanya aku sangat mencintainya,” ucap Sean, dengan lesu. Dia pun mengandarai mobilnya meninggalkan rumahnya Lorena.


Setelah Sean pergi, Pak Firman kembali menatap kartu nama itu, setelah itu menutup pintu rumahnya Lorena. Kakinya melangkah memasuki rumah besar itu, menaikai tangga menuju kamarnya Lorena.


Tok tok tok! Pak Firman mengetuk pintu kamarnya Lorena.


Perlahan pintu itu terbuka, Lorena sudah berdiri dipintu menatap Pak Firman. Terlihat matanya masih sembab karena berjam-jam menangis di dalam kamarnya.


“Pak Sean hanya memberikan ini, dan pesannya untuk disampaikan pada Non kalau dia sangat mencintai Non,” kata Pak Firman sambil memberikan kartu nama yang diberikan Sean.


Lorena mengambil kartu nama itu, mendengar Pak Firman menyampaikan pesan dari Sean membuat dia semakin sedih, airmata kembali menetes dipipinya.


“Terimakasih,” ucap Lorena.


Pak Firman hanya mengangguk, dia juga bingung kenapa Lorena tidak mau menemui Sean. Mobilnya disimpan dalam garasi yang tertutup dan menyuruhnya untuk mengatakan kalau dia tidak pulang. Tapi dia juga hanya karyawan tidak berhak ikut campur urusan majikannya.


Lorena kembali menutup pintu kamarnya, berulang kali menghapus airmatanya sambil menatap kartu nama itu.


“Aku minta maaf, Sean!” ucapnya dengan sedih, sambil duduk dipinggir tempat tidur.


Bukan dia tidak mencintai Sean, justru karena dia mencintai Sean makanya dia memilih pergi dari kehidupan Sean. Sean berhak berbahagia dimasa depannya, mungkin sekarang  akan terasa sulit, tapi ini adalah yang terbaik buat mereka.

__ADS_1


*********


__ADS_2