Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-66 Nonton bioskop ( part 3 )


__ADS_3

Lorena menghampiri Sean, langsung duduk disampingnya sambil memberikan minuman pada pria itu.


“Maaf malah merepotkanmu,” kata Sean, menerima minuman dari tangan Lorena


“Tidak apa-apa, sepertinya malah aku yang banyak merepotkanmu,” ucap Lorena, menatap Sean, menatap dengan banyak pertanyaan yang muncul dalam fikirannya, Sean juga menatapnya, tapi berbeda dengan Lorena yang ada di kepalanya Sean adalah betapa dia sangat mencintai wanita ini. Andaikan Lorena tahu kalau dia benar-benar mencintainya.


Saat mereka saling tatap itu, lampu langsung dimatikan, layar mulai menyala.


“Filmnya dimulai,” ucap Sean, tatapannya beralih ke layar begitu juga dengan Lorena. Gadis itu mulai makan popcornnya sambil menonton. Tidak dengan Sean, dia malah kembali menatap gadis disampingnya itu, dia sama sekali tidak memperhatikan filmnya.


Tiba-tiba Lorena menoleh ke arahnya. Lorena agak terkejut karena Sean malah menatapnya bukan menonton film.


“Ada apa?” tanya Lorena.


“Tidak apa-apa,” jawab Sean. Ada yang berbeda dari cara bicara pria itu, membuat Lorena keheranan. Menatap pria itu yang hanya disinari oleh cahaya dilayar.


“Lorena!” panggiil Sean, menatapnya lekat-lekat.


“Iya, ada apa?” tanya Lorena.


“Aku sangat mencintaimu,” jawab Sean, dengan serius benar-benar serius.


Lorena tidak menjawab, dia masih membalas tatapannya Sean.


“Apa kau mau menikah denganku?” tanya Sean, kata-kata itu meluncur saja tiba-tiba membuat Lorena terkejut.


“Apa? Menikah?” tanya Lorena.


Sean mengangguk.


“Tapi Sean baru kemarin kau memintaku jadi pacarmu, sekarang kau mengajakku menikah?” tanya Lorena dengan jantung yang berdebar kencang.


“Aku tahu aku bukan pria romantis yang bisa mengutarakan kata-kata cinta dengan manis, aku hanya bisa mengatakan aku benar-benar mencintaimu, menikahlah denganku,” jawab Sean.


Lorena terdiam mendengar perkataan Sean itu.


“Sebaiknya kau fikirkan lagi apa yang kau katakan barusan,” kata Lorena.


“Kau menolakku?” tanya Sean.


“Tidak, bukan itu, hanya saja aku butuh waktu untuk menjawabnya, kau sangat mengejutkanku,” jawab Lorena, dia merasa bingung dengan ucapannya Sean.


“Kenapa? Karena aku melamarmu bukan ditempat yang romantis dan tanpa cincin?” tanya Sean.


“Tidak, bukan itu, hanya saja aku sedikit terkejut, bukan sedikit, sangat terkejut,” jawab Lorena.


Mereka bicara mengabaikan suara dari film yang tidak mereka tonton.


Tangan Sean menyentuh rambutnya Lorena, membelainya dengan lembut.


“Aku benar-benar mencintaimu,” ucap Sean, tapi ucapan itu terdengar oleh Lorena seperti sebuah penyataan yang frustasi. Lorena masih diam menunggu apa yang akan Sean ucapkan lagi.


“Jangan menolakku, aku akan patah hati,” lanjut Sean.


“Ya aku mengerti, aku hanya butuh waktu untuk berfikir.  Kau tahu aku pernah patah hati, aku harus memikirkannya baik-baik,”jawab Lorena.


“Itu artinya kau tidak menolakku bukan?” tanya Sean.

__ADS_1


“Tidak, aku hanya butuh waktu untuk berfikir, karena menikah itu bukan untuk main-main,” jawab Lorena.


“Aku tidak main-main, aku serius,” kata Sean.


“Ya aku mengerti,” ucap Lorena, dia masih merasa bingung dengan ajakan menikahnya Sean, karena mereka baru saja jadian.


“Atau kau ingin kita bertunangan dulu? Aku bersedia,” kata Sean.


Dia benar-benar tidak bisa membendung perasaannya lagi, dia ingin Lorena tahu kalau dia sangat mencintainya dan dia ingin menjadikan Lorena miliknya.


“Bertunangan?” tanya Lorena.


“Ah tidak tidak, kita langsung menikah saja, kau mau kan?” ucap Sean.


Lorena tersenyum, terlihat sekali kalau Sean sangat frustasi.


“Nanti aku fikirkan,” jawab Lorena, tangannya menyentuh pipinya Sean. Pipi pria itu terasa begtu lembut. Sean meraih tangan itu lalu diciumnya.


“Tapi kau jangan lama-lama memikirkannya,” kata Sean.


Lorena mengangguk.


“Kau ingin lamaran yang resmi? Aku mau melakukannya! Kau mau aku melamarmu dengan apa? Cincin, perhiasan lainnya atau apa?” tanya Sean.


Lorena malah tertawa.


“Aku serius,” kata Sean.


“Iya maaf,” ucap Lorena.


“Kita memilih cincin besok ya? Aku tidak tahu ukuran jarimu,” kata Sean, padahal Lorena belum mengatakan kalau dia mau menikah dengannya, langsung mau memilih cincin saja.


“Tapi kau kan tidak menolakku,” jawab Sean, bersikeras.


“Kau mengajakku ke bioskop untuk mengatakan itu?” tanya Lorena.


“Tidak, aku hanya mengajak menonton  saja,” jawab Sean.


“Hanya mengajak menonton tapi kau menyewa satu studio ini?” tanya Lorena.


“Aku hanya tidak mau kita terganggu,” jawab Sean.


“Kau tidak perlu melakukan hal seberlebihan ini,” kata Lorena.


“Jujur saja, aku tidak pernah merasakan yang benar-benar kencan, aku takut gagal,” kata Sean dengan jujur.


“Kau serius mengatakannya, bukankah kau banyak pacarnya?” tanya Lorena, keheranan.


“Berbeda, sungguh berbeda. Karena sekarang aku kencan dengan wanita yang aku cintai,” jawab Sean, sedikitpun dia tidak berpaling dari menatap wajah cantik itu.


“Dengan memesan film hantu juga?” tanya Lorena lagi, dia bisa melihat dari sinar matanya Sean kalau pria itu sangat serius.


"Iya, bukankah wanita biasanya akan memeluk pacarnya karena takut menonton film hantu?” jawab Sean. Lorena langsung saja tetawa. Dia merasa lucu dengan pemikirannya Sean.


“Sean, tidak semua wanita suka menonton film itu,” ucap Lorena.


“Iya aku tahu,” jawab Sean.

__ADS_1


“Jadi kau ingin ku peluk?” tanya Lorena.


Sean mengangguk.


“Tapi aku tidak merasa takut menonton film itu, gimana? Sampai tamat juga aku tidak akan ketakutan dan memelukmu,” ucap Lorena.


“Itu artinya kencan kita gagal,” kata Sean.


Lorena menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada yang gagal, aku tetap memelukmu tapi bukan karena aku takut filmnya,” ucap Lorena,  kedua tangannya langsung memeluk tangannya Sean, lalu diapun menoleh kearah layar. Melihat tangannya dipeluk Lorena, Sean tersenyum. Hanya dengan sebuah pelukan seperti itu saja hatinya sangat senang.


“Kenapa harus film hantu? Apa tidak ada film lain?” keluh Lorena.


“Nanti kita menonton lagi dengan film yag kau suka, atau kau mau ganti filmnya yang kau suka?” tanya Sean.


Lorena tertawa mendengarnya dan menoleh pada pria itu.


“Tidak, tidak perlu, kita menonton ini saja,” kata Lorena, sepertinya Sean menanggapi perkataannya dengan serius.


Lorena memeluk lengannya Sean semakin erat dan menyandarkan kepalanya kebahunya Sean.


Sean tersenyum melihat gadis itu memeluk lengannya. Benar saja gadis itu sama sekali tidak takut menonton film hantu.


Lorena sedikitpun tidak tertarik dengan filmnya, hatinya masih bertanya-tanya apakah Sean serius dengan apa yang dikatakannya? Sean ingin menikah dengannya, apakah itu tidak terlalu cepat? Disaat hatinya sedang banyak pertanyaan tentang Sean, pria itu malah mengajaknya menikah. Mulai besok sepertinya dia harus mencari tahu siapa sebenarnya Sean.


Kurang dari 2 jam film itu sudah usai. Setelah mampir ke restaurant terdekat, untuk makan malam meskipun terlambat karena menonton film dulu, Sean mengajak Lorena pulang.


“Kau beristirahat ya,” ucap Sean, mereka sudah berdiri di pintu kamarnya Lorena.


Gadis itu mengangguk.


“Kau ada acara besok?” tanya Sean.


“Sepertinya aku akan mencari pakaian untuk fashion show,” jawab Lorena.


Sean terdiam, dia jadi teringat kalau kontes masih berjalan.


“Kalau kau mau menikah denganku, kau tidak perlu ikut kontes lagi,” kata Sean.


“Nanti aku fikirkan,” jawab Lorena.


Sean tidak bicara lagi, dia harus segera bicara dengan Sam soal kontes itu, kalau Lorena mau menikah dengannya, maka kontes lebih baik dibubarkan saja, fikirnya.


“Baiklah, aku akan istirahat, kau juga istirahat,” ucap Lorena.


“Iya baiklah, selamat malam,” kata Sean.


“Malam,” jawab Lorena. Diapun membuka pintu kamarnya, masuk kedalam, saat akan menutup pintu, ternyata Sean masih berdiri disana.


“Kenapa kau belum ke kamarmu?” tanya Lorena, menatap Sean keheranan.


Sean berjalan mendekat, membuat Lorena bingung dengan sikapnya. Tiba-tiba Sean menundukkan kepalanya dan mencium pipinya Lorena. Cup! Membuat Lorena terkejut Sean mencium pipinya.


“Aku mencintaimu, selamat malam,” ucap Sean, barulah dia membalikkan badannya meninggalkan Lorena.


“Malam,” balas Lorena dengan pelan, dia masih tidak menyangka Sean akan menciumnya. Akhirnya Lorena menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


Di dalam kamarnya Sean, dia duduk dipinggir tempat tidur, saat terdengar suara alunan music biola. Music yang selalu dia dengar setiap akan tidur.


*************


__ADS_2