Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-50 Pesta Topeng ( part 1 )


__ADS_3

Malam telah tiba, Sean masih berbaring di kamarnya saat Lorena masuk kedalam kamar menghampirinya.


“Bagaimana keadaanmu, apa kau lebih baik?” tanya Lorena.


Sean menoleh kearah yang datang, dilihatnya gadis itu sudah berdandan cantik dengan gaun warna biru mudanya.


“Aku lebih baik,” jawab Sean, menatap Lorena yang menghampirinya.


Lorena duduk dipinggir tempat tidur dan mengulurkan tangannya menyentuh keningnya Sean. Terasa panasnya sudah mulai turun.


“Kau akan pergi ke pesta itu?” tanya Sean.


“Iya,” jawab Lorena mengangguk.


Terdengar suara klakson mobil dari luar rumah.


“Nah itu Laura sudah menjemput, aku pergi dulu ya, kau istirahat saja,” kata Lorena. Sean mengangguk. Lorena pun keluar dari kamarnya Sean.


Setelah mendengar suara mobil itu menyala lagi dan pergi meninggalkan rumah Lorena, Sean menyingkap selimutnya, diapun bergegas berganti pakaian pesta, tidak lupa dia membawa topeng yang sudah dibelikan Pak Deni itu. Sebenarnya badannya masih belum vit tapi dia tidak bisa membiarkan Lorena berkenalan dengan pria saudaranya Vera itu.


Terdengar bunyi klaskson mobil lagi di depan rumah. Sepertinya itu karyawannya yang menjemputnya. Pak Deni tetap memaksa untuk mengirimkan karyawannya untuk menjaga Sean saat di pesta jangan sampai terjadi sesuatu.


Di lokasi pesta tampak sudah ramai yang hadir dengan menggunakan topeng di wajah mereka.


“Siapa saja yang diundang?” tanya Lorena pada Laura saat mereka sudah sampai dilokasi. Laura segera turun dari mobil diikuti Lorena. Keduanya menggunakan topeng yang mereka beli tadi siang. Seorang pria yang membawa mobil tadipun ikut turun. Laura langsung memeluk tangan pria itu.


Lorena melirik sekilas, dia harus menahan diri karena dia tidak membawa pasangan ke pesta ini, tidak seperti Laura dan Anton.


Melihat Lorena yang diam saja, Laura menarik tangannya Lorena, supaya mengikutinya masuk ke dalam ruangan.


Terdengar hingar bingar music didalam ruangan itu.


Seorang gadis yang bergaun merah malam ini menyambutnya, dia putri dari pesta topeng malam ini.


“Selamat datang!” sapanya, dia sudah mengenali kehadiran Laura dan Lorena.


“Banyak sekali yang datang,”kata Laura.


“Aku mengundang putra-putra dari relasi ayahku, mereka pria-pria yang sedang mencari pasangan,” jawab Vera.


“Benarkah? Kalau begitu aku lebih baik tidak membawa tunanganku,” kata Laura dan dia langsung menutup mulutnya saat sadar ada tunangannya disampingnya.


Vera dan Lorenapun menertawakannya. Anton hanya menggelang-gelengkan kepalanya melihat tingkahnya tunangannya itu.


Beberapa orang tampak ada yang sedang menari-nari dilantai dansa dekat pengirng music.


“Mendengar music itu aku langsung ingin berdansa saja,” kata Laura, diapun mulai menggerak-gerakkan tubuhnya sambil menarik Anton ke depan pengiring music bergabung dengan yang lain.


Lorena hanya terseyum melihat Laura dan Anton pergi.


Vera memeluknya dan berbisik.

__ADS_1


“Aku akan mengenalkan sepupuku padamu!” kata Vera.


“Sepupumu?” tanya Lorena.


“Iya, namanya Henry,” jawab Vera.


“Dia tinggal di LA baru datang beberapa hari yang lalu. Dia sangat tampan dan sudah mapan, dia cocok denganmu, dia juga sedang mencari seorang istri, semoga kalian berjodoh ya,” kata Vera.


“Kau tidak perlu repot repot,” ucap Lorena.


“Aku tidak repot, aku senang kalau kau jadian dengannya, dia pria yang baik. Aku sudah menceritakan dirimu padanya, dia sangat tertarik berkenalan denganmu,” kata Vera. Lorena hanya terdiam dan hanya bisa tersenyum saja.


“Vera!” terdengar suara seseoang memanggil Vera.


“Kau nikmati pestanya ya, kau tunggu saja nanti Henry akan menghampirimu,” kata Vera, meninggalkan Lorena sendirian.


Tampak semakin banyak saja tamu yang datang dengan costum topeng mereka. Vera segera menghampiri tamu-tamunya yang baru datang itu.


Lorena melihat ke sekeliling ruangan itu. Banyak sekali tamu yang tidak dia kenali, seperti yang Vera bilang tadi kalau dia mengundang teman dari putra-putra relasi ayahnya, jadi tentu saja mereka bukan temannya Lorena, apalagi mereka menggunakan topeng jadi Lorena tidak bisa mengenali siapa orang dibalik topeng itu, kecuali teman lama yang memang sudah dikenalnya, itupun kalau mengunakan topeng yang menutupi hampir seluruh wajahnyaa, dia tidak akan menganalinya, apalagi lampu sudah muali diredupkan dan sekarang lampu disco yang menyinari ruangan pesta itu.


Lorenapun berjalan menuju tempat hidangan, dia akan mengambil segelas minuman. Matanya menoleh ke lantai dansa, Laura tampak ikut berdansa dengan tunangannya itu. Suadarinya itu sudah bertunangan tapi masih suka melirik lirik pria lain. Dia begitu mudah menyukai seorang pria tidak seperti dirinya, untuk melupakan seorang pria saja membutuhkna waktu lama untuk mengobati luka dihatinya.


Supirnya Sean mengentikan mobilnya didepan gedung dialamat kartu undangan pesta topeng itu.


Sean melihat sudah banyak sekali yang datang. Yang baru tibapun semua menggunakan topeng dengan berbagai macam tema. Diapun memakai topeng yang dibelikan oleh Pak Deni itu.


Sean menoleh pada dua karyawan yang bersamanya yang juga sudah menggunakan pakaian pesta termasuk topengnya.


“Tentu saja Pak. Tugas kami menjaga Bapak malam ini,” jawab salah satu karyawannya.


“Baiklah, ayo kita masuk. Yang punya acara namanya Vera,” kata Sean.


“Pura-pura saja kalian temannya Anton, tunangannya Laura, sepupunya Lorena,” lanjut Sean.


“Baik Pak,” jawab kedua karyawannya itu.


Sebenarnya Sean sudah merasakan tubuhnya mulai tidak nyaman, tapi dia memaksakan diri untuk hadir dipesta ini. Dia tidak mau memberikan celah sedikitpun pada pria yang akan mendekati Lorena. Akhirnya mereka bertiga keluar dari mobil, memasuki gedung pesta topeng itu.


“Tapi kita berpencar ya, jangan terlalu dekat denganku,” kata Sean.


“Baik pak,” jawab dua karyawan itu.


Saat mereka memasuki ruang pesta, Vera langsung menyambutnya. Dia tampak tertegun melihat siapa yang datang. Diantara tiga orang pria itu, tampak pria muda yang bertubuh tinggi dan gagah dengan costum topengnya.  Vera sudah menebak pasti pria yang ada di depannya sekarang  itu memiliki wajah yang tampan dibalik topengnya.


Tapi siapa pria tampan itu? Wajahnya hampir keseluruhan tertutup topeng itu, hanya terlihat kedua matanya yang tajam dan bibirnya yang penuh, pria itu mempunyai bibir yang sexi.


“Kau siapa?” tanya Vera, masih terkesima.


“Aku seorang teman dari yang hadir di pesta ini,” jawab Sean.


Vera langsung saja tersenyum, dia tidak lagi memikirkan dia tidak mengenal siapa pria itu yang pasti dia menyukai kehadiran pria tampan itu dengan kedua temannya yang bertubuh jangkung juga yang berbadan agak gemuk.

__ADS_1


“Aku senang kau datang ke pestaku. Mmm aku harap nanti kau mau berdansa denganku,” kata Vera.


Sean hanya tersenyum saja. Matanya beredar mencari sosok gadis pujaan hatinya.


“Nanti ada games juga, game couple, semoga nanti kau bisa menjadi pasanganku,” kata Vera, tersenyum sangat manis.


“Sayang!” terdengar suara seorang pria memanggilnya. Raut muka Vera langsung saja berubah, rupanya kekasihnya juga calon tunangannya sedang mencarinya, diapun tertawa dipaksakan, dia mencoba merayu Sean padahal dia punya pasangan.


“Sayang aku mencarimu kemana-mana,” kata seorang pria bertopeng melangkah semkin dekat kearah mereka. Vera menoleh kearah pria itu.


“Ya sebentar aku menyambut seorang teman,” kata Vera. Lalu dia kembali menoleh pada Sean.


“Maaf aku akan bertunagan malam ini, kau bisa memilih gadis yang kau suka dipesta ini,” ucap Vera dengan berat hati.


“Sayang!” panggil calon tunanganya lagi , yang langkahnya tertahan saat ada temannya yang baru datang.


“Sampai jumpa lagi,” kata vera, degan berta hati meningglakan Sean yang hanya mengangguk dengan tersenyum padanya. Dia tidak ingin banyak basa basi dengan Vera, dia hanya ingin mencari Lorena, jangan sampai Lorena berkenalan dengan pria sepupunya Vera tadi.


Sean menoleh kearah kedua karyawannya.


“Kalian berpencar saja, jangan terlalu dekat denganku,” kata Sean pada mereka.


“Baik Pak,”jawab mereka.


Seanpun berbaur dengan orang-orang yang hadir dipesta itu. Hingar bingar music menggema diruangan itu. Banyak sekali gadis-gadis cantik menggunakan gaun yang indah dengan menggunakan topengnya, mereka terlihat sangat menarik. Tetapi tidak ada yang menarik baginya selain gadis itu.


Meskipun ada beberapa yang mencoba mendekati Sean, dia mengabaikannya, dia bejalan disela-sela penuhnya yang hadir dengan kegiatan mereka berkumpul bersenda gurau dengan temannya dengan membawa gelas minuman ditangannya.


Tiba-tiba dilihatnya seorang gadis yang berdiri sendiri dengan segelas minuman ditangannya, berdiri tidak jauh dari tempat jamuan. Matanya yang cantik melihat kearah tamu-tamu yang berjoged di ruangan depan.


Lorena tamak merasa bosan karena tidak banyak teman yang dijumpainya dipesta ini. Bukan tidak ada teman tapi mereka rata-rata membawa pasangan, sepertinya hanya dirinya yang jomblo atau gadis gadis yang jumbo itu datang bersama temannya yang jomblo lagi.


Diapun melangkah perlahan menyusuri area ruang pesta itu, matanya melihat ke arah lantai dansa juga kearah tamu-tamu barangkali ada yang dia kenal dan bisa dia ajak ngobrol. Tidak disadarinya mata pria yang mengikuti kemanapun dia melangkah. Sean tidak bisa lepas dari pesona gadis cantik itu. Gadis yang sekarang menghuni isi hatinya. Dia ingin selalu bersamanya tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya? Seanpun melangkah mendekati Lorena dan menghampirinya.


Lorena tampak terkejut ada seorang pria menghampirinya, dia tertegun melihatnya. Sosok tinggi tubuhnya mengingatkannya pada seseorang tapi siapa? Pria itu terlihat tampan dibalik topengnya, hanya kedua matanya dan bibirnya saja yang terlihat. Apalagi dengan cahaya remang remang disco seperti ini, dia semakin tidak mengenali pria itu.


“Apa kau sendiri?” tanya Sean, dia menyadarai sepertinya Lorena tidak mengenalinya.


Lorena menatap pria itu. Pria itu terlihat mempesona dengan topengnya itu dan, dia merasa seperti pernah melihat topeng itu, tapi dimana?


“Kau, apa kau Henry?” tanya Lorena, dia mengira pria yang datang itu adalah Henry, sepupunya Vera. Tadi Vera mengatakan kalau Henry akan langsung menemuinya.


Ditanya seperti itu Sean tidak menjawab. Dia jadi ingin tahu apakah Lorena akan mengenalinya dengan topeng ini? Untung saja Pak Deni membelikan topengnya dengan model yang seluruh wajahnya hampir tertutup.


“Kau sedang menunggu seseorang?” tanya Sean.


“Tidak, hanya saja Vera sudah mengatakan kalau dia ingin memperkenalkanku denganmu,” jawab Lorena. Sebenarnya dia merasa aneh dengan suara yang didengarnya, dia merasa  pernah mendengar suara itu. Tapi karena malam itu cahaya lampu dibuat remang-remang dengan lampu disconya, jadi dia tidak terlalu mengenali siapa pria yang ada didepannya itu.


*****************


Jangan lupa like vote dan komen. Maaf telat upload, banyak intemezzo.

__ADS_1


Kemarin author mengajukan rekomendari di beranda, mudah mudahan lolos meskipun diberanda hanya dua hari mudah-mudahan banyak yang baca. Billionaie Bride juga sudah 2x akan mengajukan tapi terpotong terus jadi tidak bisa diajukan. Mungkin minggu depan diusahakan bisa mengajukan rekomendasi di beranda.


__ADS_2