
Beberapa minggu kemudian…
Rumah sakit bersalin itu terlihat penuh. Yang akan control ibu hamil tampak sudah memenuhi ruangan itu.
Valerie berada diantara yang mengantri diruang tunggu. Ealrangga duduk disebelahnya, sambil sesekali membalas chat yang masuk ke ponselnya.
Valerie sesekali menguap, kenapa dia merasa mengantuk sekali?
Terdengar panggilan untuknya beberapa kali.
“Ayo sayang, kita masuk,” ajak Earlangga sambil memasukkan ponsel ke sakunya. Tangan kanannya menyentuh punggungnya Valerie, merekapun langsung masuk kuruang periksa.
“Apa ada keluhan?” tanya Dokter.
“Aku hanya sering mengantuk,tubuhku tambah gemuk,” jawab Valerie, sambil tersenyum, Earlanggapun ikut tersenyum menoleh pada pipi istrinya yang mulai tembem.
“Mari kita periksa,” ujar Dokter itu tangannya menunjuk keruang periksa.
Valeriepun segera keruangan itu dan langsung naik ke tempat periksa dibantu Earlangga. Dokter itu mengikuti mereka menyipakan alat dan mulai memeriksa Valerie dan bayinya.
“Bagaimana bayinya?” tanya Earlangga, sambil melihat monitor.
“Bayinya sehat, jenis kelaminnya laki-laki,” jawab Dokter itu.
Valerie langsung tersenyum mendengarnya, dia menoleh pada Earlangga yang juga terlihat senang, ternyata bayi mereka laki-laki.
“Tetap dijaga pola makannya Ya Bu, jangan makan makanan yang tidak sehat,” kata Dokter kandungan itu.
“Iya,” jawab Valerie, wajahnya memerah, dia memang suka sekali makan jajanan.
“Melahirkan berarti berapa lama lagi Dok?” tanya Earlangga.
“Beberapa bulan lagi, tidak akan terasa,” jawab Dokter.
Saat Dokter berbicara dengan Earlangga, Valerie hanya duduk sambil mengusap perutnya yang semakin membesar. Hatinya senang dia akan memiliki bayi, semoga setelah bayi ini lahir, Earlangga akan tetap menyayanginya dan bayinya.
Sedang mengusap-usap perutnya, dikagetkan dengan suara Earlangga.
“Ayo, kita akan menebus obat,” kata Earlangga.
Valeriepun mengangguk. Setelah berterimakasih pada Dokter, dia mengikuti langkah kaki suaminya menyusuri lorong rumah sakit itu.
“Apotiknya lumayan jauh, kalau kau lelah, kau tunggu saja disini,” kata Earlangga pada Valerie sambil menunjuk kursi tunggu.
“Iya, apoteknya jauh, aku tunggu disini saja,” ujar Valerie. Earlangga hanya mengangguk.
Valerie duduk di salah satu deretan kursi yang panjang itu, menghadap ke arah taman rumah sakit itu. Dilihatnya Earlangga semakin menjauh menyusuri lorong akhirnya menghilang dibelokan.
Valerie kembali mengusap perutnya sambil tersenyum, dia tidak sabar ingin melihat wajah bayinya, apakah akan mirip dirinya atau mirip Earlangga? Kalau bayinya laki-laki pastilah mirip ayahnya.
Dirasanya ada yang duduk disebelahnya, Valeriepun menoleh.
“Earl, kau sudah kembali?” tanyanya sambil menoleh dan dia terkejut saat melihat siapa yang duduk disampingnya.
Seorang pria dengan dandanannya yang rapih duduk menopang kaki disampingnya dengan santai.
“Apa kabarmu?” tanya pria itu.
“Darren?” tanya Valerie, terkejut.
“Ternyata kau mengenaliku? Padahal aku sudah merubah penampilanku,” jawab Darren.
Valerie menatap Darren dari atas sampai bawah. Pria itu benar-benar berubah, dia terlihat sangat rapih dan tampan, wajahnya terlihat bersih kelimis.
“Kau berbubah,” gumam Valerie.
“Bagaimana penampilanku?” tanya Darren.
“Bagus, kau terlihat lebih tampan,” jawab Valerie.
Darrenpun tertawa.
“Ada apa kau kemari? Kau sedang ada di London? Kenapa ada di rumah sakit ini?” tanya Valerie keheranan.
__ADS_1
“Tentu saja untuk menemuimu,”
“Bagaimana kau bisa tahu aku suka kontrol disini?” tanya Valerie, semakin tidak mengerti.
“Aku ingat kapan terakhir kau di rumah sakit, jadi aku mengira-ngira saja, ternyata dugaanku benar,” ucap Darren.
“Buat apa kau menemuiku? Ada apa lagi? Jangan ganggu aku,” kata Valerie.
Darren tidak menjawab.
“Kau disuruh Nyonya Grace untuk memata-matai aku?” tanya Valerie.
“Tidak, aku datang atas keinginanku sendiri,” jawab Darren.
“Keinginan sendiri maksudmu apa?” tanya Valerie, semakin tidak mengerti.
“Sebenarnya aku sudah datang beberapa hari yang lalu, aku tahu dimana kau tinggal, tapi aku tidak mungkin datang kerumahmu,” jawab Darren.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, mau apa kau menemuiku?” tanya Valerie, raut mukanya terlihat sangat tidak suka dengan kehadiran Darren.
“Aku hanya ingin melihatmu saja,” jawab Darren.
“Melihatku? Untuk apa?” tanya Valerie, menatap Darren.
“Akuu hanya menunggumu melahirkan,” jawab Darren.
“Tunggu, tunggu kau ini bicara apa? Menungguku buat apa?” tanya Valerie.
Darren menoleh pada Valerie dan menatapnya. Ada munggin satu bulan lebih dia tidak melihat Valerie, wanita itu terlihat lebih gemuk dengan kehamilannya tapi justru dia terlihat lebih cantik.
“Aku hanya ingin melihatmu saja,” jawab Darren, memalingkan mukanya, kenapa dia tidak bisa mengatakan kalau dia menyukai Valerie?
“Sebenarnya ada apa Darren? Tolong janga ganggu hidupku lagi. Kau sudah merusak kehidupanku, aku sudah lebih baik sekarang, tolong jangan ganggu aku,” pinta Valerie.
Darren kembali menoleh.
“Setelah kau melahirkan aku akan menjemputmu,” kata Darren.
“Apa? Menjemput? Buat apa?” tanya Valerie.
Valerie terdiam dia memberengut kesal.
Tangan Dareen memegang kursi belakang Valerie, lalu mendekatkan wajahnya le ke telinga Valerie dan berbisik.
“Dengar, Nyonya Grace tidak akan membiarkanmu lama-lama di rumah itu. Dari pada hidupmu menderita lebih baik kau ikut denganku,” kata Darren.
Valerie menoleh sedangkna Darren yang sekarang menjauhkan wajahnya.
“Aku tidak mau, aku sudah menikah dengan Earlangga, selamanya aku akan menjadi istrinya,” kata Valerie.
Darren kembali menatapnya.
“Kau tidak mengerti juga? Aku kasihan padamu, kau sebentar lagi akan ditendang oleh Ny,Grace. Bayimu akan diambilnya, kau seharusnya berterimakasih padaku, karena aku mau membawamu,” kata Darren.
“Berterimakasih apa? Aku tidak mau ikut denganmu,” kata Valerie.
“Dengar Valerie, dengarkan kata-kataku, sebaiknya kau ikuti kata-kataku atau kau akan menderita dirumah itu, apa kau mau bersikeras tinggal dirumah itu?” kata Darren.
“Selama bayiku ada bersamamu aku akan tetap bertahan di rumah itu,” ucap Valerie dengan tegas.
“Kita lihat saja nanti, sampai dimana kau bertahan disana. Yang asti aku akan menunggumu sampai kau melahirkan dan aku akan menjemputmu,” ucap Darren.
“Aku bilang aku tidak mau, tidak mau!” tolak Valerie dengan keras, membuat banyak orang menoleh kearahnya.
“Kenapa tidak mau hidup bersamaku akan lebih bahagia. Tidak ada yang akan mengganggumu!” kata Darren.
“Sebenarnya kau ini maunya apa sih? Kalau bukan disuruh oleh Ny.Grace buat apa kau bersusah payah menjemputku? Buat apa?” tanya Valerie.
Darren tidak menjawab, dia malah bangun.
“Aku pergi,” jawab Darren, lalu beranjak pergi.
“Darren! Kau belum menjawab pertanyaanku!” Teriak Valerie, karena melihat Darren menjauh.
__ADS_1
“Darren!” panggilnya lagi, tapi Darren tidak mau berhenti, diapun menghilang dibelokan.
Valerie menghela nafas panjang, hatinya yang tadi senang kembali lesu. Ada apa lagi ini? Sudah tenang tinggal di London masih dibayangi masalah lagi. Sepertinya masalah tidak akan berhenti sebelum bayi ini lahir.
Valerie berjsandar di kursi itu sesekali mengusap bayinya. Kedarangan Darren benar-benar membuatnya resah . Jangan-jangan Darren selalu mengintai rumahnya, dia merasa tida aman jadinya.
Tunggu, kenapa Darren merubah penampilannya? Dia terihat lebih bersih dan tampan, bajunya juga sangat bagus, tidak lagi menggunakan jaket kulit ala preman itu.
“Maaf aku lama,” terdenger suara Earlangga mengagetkannya.
Valerie terdiam, dia bingung apa harus mengatakan pada Earlangga kalau Darren menemuinya? Tapi sebaiknya tidak usah mengatakan apa-apa, daripada nantinya jadi fikiran. Semoga saja Darren cepat pergi dan tidak datang lagi ke London.
Tendengar ponsel Earlangga berbunyi.
“Apa Nek, tanya Earlangga. Jantung Valerie rasanya mau copot saja setiap ada yang berhubungan dengan Ny,Grace.
“Sudah, ini aku sedang di rumah sakit, “ terdengar Earlagga bicara.
“Iya, sudah, bayinya laki-laki,” jawab Earlangga lagi.
“LAki-laki?” tanya Ny.Grace dengan wajah yang sumringah.
“Apa Bu? Laki-lai apa?” tiba-tiba Lorena muncul di ruang keluarga, saat Ny.Grace menelpon Ealrangga.
“Earlangga sudah periksa dan bayinya laki-laki,” jawab Ny. Grace tersenyum senang.
“Kalau begitu jaga bayimu dengan baik sampai melahirkan, jangan sampai terjadi apa-apa,” kata Ny. Grace.
“Mana aku mau bicara Bu,” kata Lorena sambil mengulurkan tangan pada Ny,Grace, yang segera memberikannya.
“Sayang, bayimu laki-laki?” tanya Lorena.
“Iya Bu, baru kelihatan jenis kelaminnya tadi, perkiraan laki-laki, tapi melahirkannya masih nunggu beberapa bulan lagi,” jawab Earlangga.
“Mau laki-laki atau perempuan tidak apa-apa sayang, yang penting sehat,” ucap Lorena.
“Iya Bu,”jawab Earlangga.
Ny.Grace kembali meraih ponselnya yang ada ditangan Lorena.
“Earl, dengarkan Nenek, jaga bayimu dengan baik,” kata Ny.Grace.
“Iya Nek,” jawab Earlangga, tidak lama kemudian telonpun ditutup
Ny.Grace tersenyum mendengar kabar itu
“Ternyata bayinya laki-laki,” gumamnya.
Dia merasa senang karena tidak merasa khawatir tidak mendapat keturunan dari Earlangga, tapi bagai dengan Valerie? Itu artinya gadis itu akan benar-benar menjadi istri Earlangga, huh, batin Ny.Grace.
“Ada apa Bu?” tanya Lorena.
“Aku senang karena Earlangga mau punya bayi laki-laki, tapi aku kesal kenapa bayi itu lahir dari wanita yang tidak berkelas,” keluh Ny.Grace.
“Bu, tidak perlu memikirkan itu lagi. Valerie juga pintar, dia sekolah kesehatan dan dia perawat di rumah sakit, tidak ada yang memalukan, tidak harus setiap orang itu jadi pengusaha, karir orang itu berbeda-beda Bu. Biarkan saja Earlangga mempunya istri seorang perawat tidak masalah,” ucap Lorena, membuat Ny.Grace tidak mood.
“Apalagi sekarang Earlangga mau punya bayi Bu, cobalah ibu untuk belajar menerima Valerie, anaknya baik ko, dia bukan wanita yang meterialistis meskipun dia bukan orang kaya raya,” kata Lorena.
Ny.Grace tidak menjawab, diapun pergi meninggalkan Lorena. Lorena menatap kepergian mertuanya, entah sampai kapan Mertuanya berhenti membuat suasana rumah tidak nyaman?
Valerie menoleh pada Earlangga.
“Siapa yang menelpon?“ tanya Valerie.
“Nenek dan Ibu, mereka senang bayinya laki-laki, semoga bayi kita lahir sehah dan selamat,” ucap Earlanga sambil tersenyum.
Valerie mengangguk.
“Ayo kita pulang,” ajak Earlangga mengulurkan tangannya. Valerie melihat kearah tangannya itu, dengan ragu dia menerima uluran tangan itu. Memegang jari-jari pria ini membuatnya merasa tenang. Bebarapa bulan menikah dengan Earlangga, kenapa rasa canggung itu tidak juga hilang, apakah karena Earlangga tidak pernah menyentuhnya lebih hanya sekedar memeluk atau menciumnya saja? Pria itu malah bersikap lebih menjaganya daripada mencintainya.
*************
Readers, tiap hari aku usahain 2 bab ya. Tapi jangan lupa likenya di tiap bab. Diusahain akhir bulan tamat.
__ADS_1
Yang belum baca “Menikahi Tuan Depresi”, jangan lupa baca juga ya. Pembaca disini belum pada mampir.
*************