Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-60 Kakak adik pengganggu


__ADS_3

Hari itu Earlangga masih berkutat dengan pekerjaannya, dia terlihat sangat serius. Sejak ayahnya berada di luar negeri, banyak tanggung jawab besar yang dipegangnya disini. Meskipun terkadang dia merasa lelah, tapi inilah dunianya, dunia yang terpaksa harus di jalani sebagai pewaris kerajaan bisnis turun termurun dari nenek moyangnya.


Terdengar suara ketukan dipintu ruang kerjanya Earlangga.


“Pak, ada tamu,” terdengar suara Bu Riska, melongokkan kepalanya ke pintu yang dibukakan sedikit.


“Siapa?” tanya Earlangga.


“Bu Jeni,” jawab Bu Riska.


“Aku tidak ada janji dengannya,” jawab Ealangga.


Bu Riska terdiam mendengar jawaban ketus dari Earlangga.


“Tapi Pak,” ucap Bu riska.


Tiba-tiba pintu sudah ada yang mendorong, membuat Bu Riska membiarkannya terbuka. Earlangga menoleh ke arah pintu. Masuklah Jeni dengan tanpa malu-malunya, lalu melirik pada Bu Riska.


“Tinggalkan kami,” perintah Jeni.


Bu Riska menoleh sebentar pada atasannya lalu kembali ke mejanya.


Earlangga kembali melanjutkan pekerjaannya menandatangani berkas yang ada diatas mejanya.


“Kita tidak ada janji, kau boleh pergi,” ucap Ealarngga tanpa basa-basi, membuat Jeni tercengang.


“Kau sangat sombong sakali,” keluhnya.


“Aku sedang sibuk,” ucap Earlangga tanpa menoleh.


“Ayolah, aku hanya mengajakmu makan siang. Msa kita bertemu hanya kalau sedang ada meeting saja,” ujar Jeni.


“Istriku sudah menyiapkan makan siang buatku,” jawab Earlangga.


Jeni menoleh kearah meja sofa, ternyata benar ada sebuah kantong disana.


“Ternyata istrimu setiap hari membawakanmu bekal makan siang?” ucapnya.


“Kalau tidak ada hal penting, sebaiknya kau jangan menggangguku, aku sedang sibuk,” kata Earlangga, membuat Jeni semakin sebal saja.


Diapun berjalan mendekati mejanya Earlangga.


“Kau benar-benar terperdaya oleh Valerie,” ucap Jeni.


“Ini kantor, aku tidak suka membahas hal yang pribadi,” kata Earlangga tanpa menoleh.


“Kau sudah menemui Dokter Dandy kan? Ternyata dia bukan ayah bayinya Valerie?” ucap Jeni.


Earlangga menghentikan menulisnya dan menatap Jeni.


“Kalau bukan karena kau rekan bisnis perusahaan, aku sudah menyeretmu keluar,” kata Earlangga, membuat Jeni benar-benar marah.


“Dengar, Valerie itu sudah menjebakmu, bayi itu bukan bayimu, tapi ada pria lain,” kata Jeni.


Earlangga kembali menulis lagi tidak menghiraukan Jeni.


“Sebaiknya kau keluar dari ruanganku,” kata Earlangga.


“Apa? Kau benar-benar mengusirku?” tanya Jeni.


“Atau terpaksa aku memanggil satpam,” ucap Earlanga.


“Kau benar-benar keterlaluan Earl. Aku kasihan padamu, kau sudah dijebak Valerie, aku tidak main-main. Banyak pria yang menjadi pacarnya Valerie, “ kata Jeni lagi.


Earlangga meraih telpon dimejanya.


“Pak Satpam, bisa ke ruanganku segera?” perintahnya, membuat Jeni kesal.


“Ya ya aku akan keluar!” ucapnya dengan kesal, lalu beranjak meninggalkan ruangan itu. Earlanggapun menutup telponnya kembali.


Jeni baru juga sampai pintu, satpam sudah berdiri dipintu.


“Ya Pak!” kata satpam.


“Kau kembali, dia akan keluar sendiri,!” ujar Earlangga.


Pak satpam  menoleh pada Jeni, yang memberengut dengan marah, diapun keluar dari ruangan itu.


Sepanjang lorong dia terus menggerutu, dia kesal bukan main, Earlangga ternyata sangat sulit dirayunya, dia begitu ketus dan sepertinya Earlangga tidak gampang disentuh. Jangankan berdekatan dengannya, bicara saja seolah-olah tidak mau, benar-benar tidak ada celah untuk mendekatinya.

__ADS_1


“Kalau bukan karena kau tampan dan kaya, aku malas mengejar-ngejarmu,” gurutunya sambil masuk ke lift.


Sepulang dari kantornya Earlangga, Jeni datang kerumah ibunya. Dia langsung uring-uringan memarahi pelayan yang telat membukakan pintu.


“Kau kenapa datang-datang marah-marah?” terdengar suara Nisa menghampiri Jeni.


“Aku kesal pada Earlangga, sudah sebulan ini aku berusaha mendekatinya, dia sama sekali tidak bisa didekati,” keluh Jeni, melempar tasnya ke sofa lalu duduk dengan asal.


“Padahal aku sudah perawatan, ke salon, supaya tampil lebih cantik, dia malah mengacuhkanku. Tadi aku mengajaknya makan siang dia menolak, ternyata Valerie sudah menyiapkan makan siang buatnya,” kata Jeni.


Nisa berdiri menatap putrinya, mengerutkan dahinya, sama dengan kejadian dulu, bagaimana Sean benar-benar mengacuhkannya. Oke lah kalau dulu Sean mencintai Lorena, Lorena memang diakuinya dia sangat cantik, dia juga kaya, tapi Valerie? Apa benar Earlangga tergila-gila pada Valerie, yang hanya gadis biasa?


“Apa Earlanggaa terlihat begitu mencintai Valerie?”tanya Nisa.


“Sepertinya begitu,” jawab Jeni.


“Kau sudah mencari orang itu?” tanya Nisa.


“Orang apa?” tanya Jeni, balik menatap ibunya.


“Orang untuk mengaku ayah dari bayi yang dikandung Valerie,” jawab Nisa.


“Belum, aku belum mendapatkannya,” kata Jeni.


“Kau sangat lambat, jangan sampai Earlangga sudah terlalu cinta pada Valerie, itu akan sulit memisahkannya,” keluh Nisa.


“Iya aku ini sedang mencari pria itu yang akan pura-pura mengaku bayi nya Valerie,” kata Jeni, dengan wajahnya yang memberengut.


“Mana Darren aku Cuma melihat mobilnya tapi tidak ada batang hidungnya?” tanya Jeni sambil mengotak atik ponselnya.


“Belum bangun, semalam dia pulang mabuk,” jawab Nisa.


“Hah, dia kerjaannya mabuk saja,” keluh Jeni.


Yang di bicarakan sedang berada tidur di kamarnya. Tangan Darren menggapai-gapai mencari gelas minum di meja dekat tempat tidurnya. Bukannya mendapatankan gelas itu tapi diia malah menyenggolnya membuat gelas itupun tumpah.


“Aah!” umpatnya dengan tidak jelas, diapun terpaksa bangun dengan menahan pusing dikepalanya.


Terdengar suara ponselnya berbunyi.


“Apa?” tanyanya pada si penelpon.


“Tiger mencarimu!” jawab suara disebrang.


“Kau belum membayar utang padanya,” jawab suara di seberang.


 “Aku sudah tidak ada uang,” jawab Darren sambil mengumpulkan daya ingatnya, semalam dia mabuk berat.


“Dia tidak mau bos, harus segera dibayar atau kita dihabisi! Dia minta mobilmu!” ucap suara di seberang.


“Aaahh!” Darren menutup poneelnya dengan kesal, diapun melempar bantal yang ada didekatnya.


Tangannya meremas-remas rambutnya dengan bingung, uangnya habis untuk berfoya –foya, minum dan berjudi, sekarang ada yang menagihnya. Bagaimana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu? Minta pada ayahnya tidak mungkin akan memberinya dengan mudah. Tiger juga tidak akan main-main dengan ucapannya. Dia tidak mau menyerahka mobilnya, dia sangat menyukai mobil keren itu. Tiba-tiba terbersit difikirannya untuk menghubungi Earlangga.


Diapun membuka ponelnya dan mendial nomor seseorang.


Earlangga merasa kesal dengan kehadirannya Jeni. Dia bukannya tidak terbiasa dengan goda-godaan seperti itu apalagi saat dia tinggal di London. Hanya saja sekarang ada Valerie dan bayinya, masalahnya sudah cukup menyita perasaannya dia tidak mau ada hal buruk lainnya yang mengganggunya. Apalagi kalau sampai Valerie tahu kelakuannya Keni. Meskipun dia dan Valerie beulm berikrar apa-apa tapi pasti itu akan membuatnya menambah beban fikirannya Valerie.


Terdengar suara ponselnya berbunyi. Dilihatnya muncul nomor yang tidak dikenal. Dibiarkannya panggilan itu tapi malah terus saja berbunyi. Diapun mereject nya, ternyata masih juga menelpon lagi, membuat  Earlangga terpaksa mengangkat telpon itu.


“Halo!” sapanya.


“Halo! Bagaimana kabarmu?” tanya suara di telpon.


Earlangga mengerutkan dahinya


“Kau siapa?”tanya Earlangga.


“Siapa lagi kalau bukan orang yang tahu rahasiamu,” jawab Darren.


“Mau apa kau? Darimana kau tahu nomor telponku?” bentak Earlangga langsung menebak kalau itu adalah Darren.


“Kau tidak perlu tahu, yang perlu kau tahu adalah aku sedang membutuhkan transferan lagi,” jawab Darren.


“Apa? Huh! Kau memerasku?” maki Earlangga.


“Terserah kau mau bilang apa, yang pasti aku butuh transferan secepatnya,” jawab Darren.


“Enak saja kau bicara! Aku tidak akan pernah memberikan apapun padamu!” maki Earlangga.

__ADS_1


“Aku berani main-main denganku?” tanya Darren dengan ketus.


“Sudah aku katakan aku tidak takut padamu!” bentak Earlangga, dia semakin kesal saja pada preman itu.


Kalau bukan karena Earlangga memikirkan perasaannya Valerie, dia tidak mungkin menuruti keinginan Darren, tapi kalau terus terusan diperas, dia tentu saja tidak akan diam saja.


Tendengar suara Darren tertawa.


“Baiklah, baiklah, kita ikuti permainanmu, kau tidak memberikan aku uang maka Valerie akan tahu semuanya,” ancam Darren.


“Terserah kau mau apa, tapi yang pasti aku tidak akan membiarkan kau memerasku!” maki Earlangga, lalu menutup telponnya dengan kesal, meskipun sebenarnya dia merasa waswas Valerie akan tahu semuanya.


Darren terkejut melihat ponselnya dimatikan.


“Brengsek!” makinya.


Dia tidak menyangka kalau Earlanga ternyata tidak takut dengan gertakannya. Bagaimana lagi cara dia mendapatkan uang itu? Bisa bisa dia dihabisi oleh anak buahnya Tiger.


Dengan langkah sempoyongan, Darren keluar dari kamarnya, dipegangnya tembok dan pagar dilantai atas, dia juga sesekali bersendawa mengeluarkan bau alcohol di mulutnya.


Nisa dan Jeni sedang duduk disofa melihat Darren turun dari tangga dengan langkah yang kadang seperti akan jatuh.


“Lihat kakakmu, begitu kelakuannya!” kata Nisa.


“Jangan mengomeliku! Aku sedang kesal!” maki Darren, dia tiba dibawah dan hampir jatuh kalau tidak dia memegang pagar tangga.


Jeni hanya mencibir melihat keadaan kakaknya itu.


Darren menatap Jeni.


“Heh, kau kan sudah kaya aku minta uang,” kata Darren sambil mendekati Jeni.


“Uang apa? Tidak ada! Makanya kerja dong, jangan Cuma mabuk-mabukkan saja!” ujar Jeni.


“Kau berisik, mana uangmu!” teriak Darren dan langsung menarik tasnya Jeni.


Tentu saja Jeni tidak membiarkannya, diapun menarik tasnya lagi, merekapun saling tarik tarikan tas itu, tapi karena tenaga Darren lebih besar tas itu Darren yang ambil lalu mengeluarkan dompetnya Jeni.


“Apa ini? Kau cuma punya uang segini?” tanya Darren, mengeluarkan semua uang Jeni.


“Kembalikan!” teriak Jeni.


Jeni akan meraih dompetnya tapi Darren menjuhkannya dan mengeluarkan sebuah kartu ATM.


“Berapa pinnya?” tanya Darren.


“Aku tidak mau memberitahu!” jawab Jeni.


“Katakan berapa pinnya? Aku sedang butuh uang!” teriak Darren.


“Makanya kerja dong!” teriak Jeni.


Darren  akan memukul Jeni tapi dihalangi oleh Nisa.


“Darren jangan begitu! Dia adikmu! Kalau butuh uang kau harus kerja!” teriak Nisa.


“Berisik!” maki Darren.


“Benar, kau kerja dulu baru kau dapat uang,” kata Jeni.


“Belagu kau! Katakan berapa pin ATMmu, aku akan memberikan informasi penting untukmu,” kata Darren.


“Informasi apa? Kau pasti akan menipuku,” ucap Jeni.


“Informasi siapa pria yang menghamili Valerie,” jawab Darren, membuat Jeni terkejut.


“Kau serius?” tanya Jeni.


“Katakan dulu Pinnya,” jawab Darren.


Jenipun terdiam, dia terus berfikir apakah Darren benar-benar tahu siapa yang menghamili Valerie atau berbohong karena ingin menipunya?


**********


 


 Planing NEXT NOVEL jika semua novel sudah tamat, rencana bisa berubah...


 

__ADS_1


 



__ADS_2