
Sean masuk kedalam mobilnya bersama Lorena, tidak berapa lama mobil itu meninggalkan hotel. Selang beberapa menit 3 buah mobil robongannya Pak Deni mengikuti mobilnya Sean.
Mobil pertama diisi oleh Pak Deni dan beberapa karyawan penting, di belakangnya dua buah mobil diisi karyawan pelaksana dan lainnya, salah satu mobil merupakan mobil mini bus karena didalam itu terdapat karyawan yang bekerja dengan laptop dan alat-alat kantor lainnya.
Sean melihat kaca spionnya, dia melihat rombongan karyawannya mengikutinya. Diliriknya lagi Lorena yang terlihat menatap lurus saja ke depan.
“Semalam kau tidur tidak?” tanya Lorena.
“Tidur sebentar,” jawab Sean.
Lorena malah menguap.
“Kau mengantuk?” tanya Sean.
“Sedikit, padahal aku sudah tidur lama,” jawab Lorena.
Sean melihat GPS dimobilnya. Terdengar handponenya berbunyi, dia menyalakan handsfreenya, berbicara dengan Pak Deni.
“Pak dari ibu kota mengirimkan file file untuk diperiksa,” kata Pak Deni. Sean diam sebentar, kemudain melirik Lorena sekilas.
“Sepertinya kita perlu ke SPBU, aku belum mengisi bensin,” kata Sean pada Lorena.
Pak Deni tampak bingung dengan perkataannya Sean.
“Kita bertemu di SPBU?” tanya Pak Deni.
“Hem,” jawab Sean. Lalu mematikan telponnya.
“Kau belum mengisi bensin? Tapi seprtinya bensinya masih banyak,” kata Lorena melirik kilometer mobil itu.
“Mm kilometernya kadang agak error, dari kemarin aku belum mengisi bensin, ke rumahmu masih jauh kan?” tanya Sean.
“Mobil bagus kilometernya error? Seharusnya cepat-cepat kau service, itu sangat berbahaya,”ucap Lorena.
“Iya aku lupa,” jawab Sean.
Merekapun berhenti di SPBU. Tapi Sean tidak langsung ngantri di pengisian bensin, dia parkir di depan mini market yang ada di SPBU.
“Kenapa berhenti disini?” tanya Lorena.
“Aku mau ke toilet, kau ke toiet juga ya,” ucap Sean.
“Aku tidak sedang ingin ke toilet,” ucap Lorena.
“Lebih baik ke toilet, mumpung ada disini,” kata Sean.
“Kenapa kau memaksaku ke toilet?” gerutu Lorena, akhirnya turun begitu juga Sean.
Sean melihat mobilnya Pak Deni mulai memasuki parkiran SPBU.
“Kau ke toilet saja duluan,” kata Sean.
“Kau kan yang mau ke tolet, kenapa aku yang disuruh ke toilet?” Lorena mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Aku juga mau ke toilet, sebentar mau ambil uang kecil dulu didalam mobil,” ucap Sean berbohong, akhirnya Lorena pergi ke toilet.
“Heran, dia yang mau ke toilet marah nyuruh aku yang ke toilet,” gerutu Lorena.
Setelah Lorena masuk toilet, Sean melihat kearah Pak Deni dan beberapa karyawannya masuk keruang kantor SPBU, entah apa yang di lobykan Pak Deni, yang pasti Sean tahu beres, diapun mengikuti masuk ke sana.
“Cepat, cepat, mana yang harus ku periksa?” tanya Sean.
Pa Deni memberikan berkas yangs sudah disiapkan oleh karyawannya.
Dilihatnya di kaca, Lorena sudah keluar dari toilet.
“Ini masih banyak?” tanya Sean.
“Beberapa lagi pak,” jawab Pak Deni.
Lorena tampak bersandar di mobilnya Sean, matanya beredar mencari pria itu.
Sean menoleh pada karyawannya.
“Tahan gadis itu supaya berbelanja di mini market itu,” kata Sean.
Pak Deni memberi isyarat pada salah seorang untuk pergi menemui Lorena.
Lorena mencari-cari kemana Sean, dimobil juga tidak ada. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.
“Bu maaf apa saya bisa minta tolong?” tanya karyawannya Sean itu.
“Minta tolong apa?” tanya Lorena.
“Saya mau beli susu bayi, saya bingung susu bayi yang cocok buat bayi saya, soalnya handphone saya mati jadi tidak bisa menelpon istri saya, “ kata karyawannya Sean itu.
“Susu bayi?” tanya Loena.
“Iya, tolong ya bu,” ucap karyawan Sean.
Lorena mengerutkan keningnya kenapa minta tolong padanya? Kan bisa ke petugas dii mini market. Tapi dia tidak enak untuk menolaknya akhirnya masuk ke mini market itu mengantar karyawannya Sean membeli susu.
“Bayinya baru lahir?” tanya Lorena.
“Iya, air susu ibunya belum keluar,” kata karyawan Sean itu.
“Kita cari yang 0-6 bulan saja dulu yang ukuran kecil, Bapak mau merk apa tinggal pilih saja,” ucap Lorena mereka ada dirak susu.
Merekapun memilih milih susu. Tiba-tiba handphone karyawan Sean itu berbunyi. Lorena menatapnya katanya handphonenya mati, ko bunyi?
__ADS_1
Karyawan Sean mengambil handphonenya dan mengangkatnya, terdengar Pak Deni mengatakan kalau sudah beres. Diapun menoleh pada Lorena.
“Bu maaf, ternyata istri saya sudah beli, makasih ya Bu,” kata karyawan Sean itu lalu buru-buru keluar dari mini market dan langsung menghilang.
Lorena bertanya-tanya tadi katanya handphonenya mati ko tiba-tiba nyala? Jangan-jangan dia penjahat, diapun bergidik. Akhirnya Lorena membeli beberapa minuman untuk di jalan.
Saat menghampiri mobilnya Sean, pria itu sudah ada di dalam mobil.
“Kau tadi kemana?” tanya Lorena saat sudah masuk mobil.
“Mm aku ke toilet, ngantri. Aku juga sakit perut, jadi lama,” jawab Sean, melajukan mobilnya.
“Kau sudah mengisi bensin?” tanya Lorena.
“Sudah,” jawab Sean berbohong, karena memang bensin mobilnya full.
Ada sekitar satu jam perjalanan, tiba-tiba Sean merasakan mobilnya oleng dan kasar di jalanan.
Seanpun segera menghentikan mobilnya dan melihat spion.
“Ada apa?” tanya Lorena.
“Bannya kempes,” jawab Sean sambil turun diikuti Lorena.
“Kau membawa ban serep kan?”tanya Lorena.
“Iya ada,” jawab Sean.
Pak Deni yang melihat ke depan, mobil atasananya itu berhenti diapun menyuruh supir untuk berhenti. Dilihatnya Sean turun dari mobil itu bersama Lorena.
“Sepertinya ban mobil Pak Sean kempes Pak,” kata supir itu.
Pak Deni mengontak karyawan yang ada dimobil satunya lagi yang juga berhenti dibelakangnya.
“Bantu Pak Sean ganti ban mobilnya,” perintahnya.
“Baik pak,” jawab karyawan itu. Dua orang karyawan keluar dari mobil itu, mereka langsung menghampiri Sean.
“Ada apa Pak?” Tanya karyawan itu pura-pura tidak kenal.
“Ini ban mobilku kempes,” jawab Sean.
“ Ada ban serepnya? Biar kami yang mengerjakan,” kata karyawan itu.
“Ada di bagasi,” jawab Sean. Merekapun langsung membuka bagasi dan mengeluarkan peralatan dari sana.
Lorena menatap pria yang akan mengganti ban mobil itu.
Tangannya langsung menarik Sean menjauh dari mobilnya.
Sean melirik tanganya yang dipeluk Lorena. Gadis itu juga berjinjit dan mendekatkan mulutnya ke telinganya.
Sean menoleh dan menatap wajah gadis itu yang dekat dengannya karena masih berjinjit.
“Jangan terlalu curiga, mereka hanya orang-orang baik saja,” ucap Sean. Menatap wajah itu terasa begitu menyenangkan, kalau dia tidak mengikuti Lorena seperti ini mungkin dia berhari-hari sendiran dirumah kontrakan tidak akan menatap wajahnya seperti ini.
Lorena menatap Sean yang tidak berkedip menatapnya.
“Kau kenapa?” tanyanya. Menyadarkan Sean.
“Iya kau jangan khawatir,” ucap Sean, Lorena mengangguk, diapun melepaskan pelukan tangannya ditangan Sean.
“Padahal tidak perlu kau lepaskan juga tidak apa-apa,” batin Sean.
Lorena melihat lagi pada dua orang yang mengganti ban itu, diapun duduk di sebuah batu yang besar dan membelakangi jalan raya. Ternyata meraka ada dijalanan berbukit dan posisi mereka ada diatas, darisana mereka bisa melihat ke bawah ada rumah rumah dan jalanan berbelok belok seperti ular.
Sean melihat Lorena yang duduk menghadap ke lembah, diapun menghampiri dan berdiri di samping Lorena.
“Kau lihat ke bawah?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Sean.
“Apa kau pernah duduk di bukit seperti ini dimalam hari?Kau akan melihat lampu lampu menyala dilembah? Itu akan sangat cantik,” kata Lorena.
“Dimana itu?” tanya Sean, apa ada di daerah tempat tinggalmu?” tanya Sean.
“Tidak juga, di daerah daerah perbukitan biasanya, banyak sekali yang jualan dipinggir jalan dan kita bisa melihat lampu lampu dibawah di malam hari, “ jawab Lorena.
Sean mengambil sebuah batu dan diapun duduk di batu itu disamping Lorena.
Lorena menoleh ke arahnya, gadis itu tersenyum.
“Kenapa?” tanya Sean, balas menatapnya.
“Tidak apa-apa,” jawab Lorena sambil tertawa kecil.
“Ada apa? Katakan padaku,” ucap Sean, penasaran.
“Karena tempat-tempat seperti itu sangat romantis. Harusnya dengan pacar datang kesana,” kata Lorena.
“Kau suka tempat seperti itu? Aku fikir kau lebih suka jalan-jalan ke luar negeri atau shoping,” ucap Sean. Lorena menggelengkan kepalanya, kembali menatap ke lembah.
“Tidak juga, aku tidak terlalu suka perkotaan,aku lebih suka daerah yang hijau dan sejuk. Tinggal dikota dengan bangunan bangunan tinggi sangat membuatku pusing,” ucap Lorena.
Sean menatap Lorena, benar dugaannya Lorena tidak seperti kebanyakan wanita yang dikecaninya, yang kebanyakan mengajak kencan di restaurant mewah atau berlibur ke luar negeri, padahal kalau dia tidak salah lihat, dari tidak bisanya Lorena memasak mencuci saja, sepertinya Lorena juga bukan orang biasa, apalagi bukankah dia pernah bilang kalau dia tinggal berpindah pindah ke luar anegri karena pekerjaan ayahnya yang berpindah pindah?
“Apa kau mau ku ajak ke tempat yang kau sebutkan itu?” tanya Sean, masih menatap Lorena.
Lorena langsung menoleh.
__ADS_1
“Apa maksudmu bertanya begitu? Kau mengajakku kencan?” tanya Lorena, menatap Sean.
“Kau mau?” tanya Sean.
Lorena langsung tertawa.
“Kau lupa ya aku ini sedang ikut kontes menjadi istri Presdir, masa kencannya denganmu,” ucap Lorena.
“Ya tidak apa-apa, kau mau ke tempat yang kau sebutkan itu?” tanya Sean.
Lorena lagi-lagi tertawa.
“Kau serius? Apa artinya kau mengajakku kencan?” tanya Lorena.
“Terserah kau mau menyebutnya apa, disebut kencan juga tidak apa-apa,” jawab Sean, hatinya mendadak gelisah apakah Lorena mau kalau mereka berkencan?
Lorena tampak berfikir-fikir.
“Ya kapan kapan saja, soalnya kan kita akan pulang ke kampungku,” jawab Lorena.
Sean tersenyum, meskipun Loena tidak bilang iya tapi masih ada kesempatan untuknya mengajak Lorena ke tempat yang dia suka itu.
Dua karyawan yang sedang mengganti ban itu sudah selesai, mereka saling pandang. Dilihatnya atasan mereka sedang duduk berdua diatas batu itu sambil menatap ke lembah.
“Apa kita sedang mengikuti Presdir kita yang sedang pacaran?” tanya salah satunya pada temannya, sambil menoleh kearah Sean dan Lorena.
“Sepertinya begitu,” jawab temannya, mengangguk setuju.
Para karyawan yang ada di mobil Pak Deni dan dua mobil lainnya juga melakukan hal yang sama, sebagian berdiri bersandar ke mobilnya menatap ke lembah.
“Pak, berapa lama lagi kita diam disini?” tanya seorang karyawan pada Pak Deni.
“Ya selama Presdir kita melakukan perjalanan. Kalau dia berhenti ya kita berhenti. Aku juga tidak mau terjadi apa-apa dengannya. Meskipun dia sudah dewasa, dia itu terbiasa selalu di layani. Rasanya tidak percaya pria berpengaruh seperti dia harus duduk di batu-batu dipinggir jalan seperti itu,” kata pak Deni.
“Artinya itu yang namanya kekuatan cinta. Kadang kalau sedang jatuh cinta, segala upaya dibelain, susah juga terasa senang, benar tidak?” kata karyawan itu sambil tertawa dan menoleh pada temannya yang lain yang juga ikut tertawa.
“Siapa sebenarya gadis itu? Bapak mengenalnya?” tanya salah seorang pada Pak Deni.
“Aku juga tidak terlalu tahu,” jawab Pak Deni.
“Sepertinya Presdir kita benar-benar sedang jatuh cinta sampai dia lupa kita dibuat repot begini, berkerja diperjalanan, sangat merepotkan, kalau tidak memikirkan meski merepotkan juga kita digaji,” jawab karyawan lain sambil tertawa.
“Ssst, jangan bicara begitu. Namanya juga Bos, mau ngapain ya suka -suka dia,” kata yang lain.
Pak Deni masih memperhatikan Sean yang sedang mengobrol dengan Lorena, pria muda tampan itu tampak tersenyum tertawa, hatinya merasa senang. Berpuluh puluh tahun menemaninya dari kecil, dengan segala jadwal kerjanya yang padat, rasanya baru sekarang dia melihat pemuda itu terlihat bahagia. Semoga gadis itu menyukainya, dia tidak bisa membayangkan kalau sampai Sean harus patah hati.
Sean menoleh pada gadis disampingnya itu. Hanya sekedar duduk-duduk di batu yang ada ditanah seperti ini saja rasanya dia sangat senang kalau selalu bersama Lorena. Seandainya dia bisa memastikan kalau Lorena juga mencintainya, dia ingin sekali mengungkapkan isi hatinya, tapi dia masih ragu, dia takut Lorena menolaknya dan membuatnya patah hati.
Mungin kalau mengucapkan cinta pada gadis lain dia lebih berani, tapi untuk mengatakan cinta pada Lorena, entah kenapa dia merasa cemas, dia takut di tolak, karena Lorena bukan tipe gadis yang silau dengan harta, dia juga ingin menikah dengan pria yang di cintainya.
“Sean, sepertinya akan hujan, kau lihat, awan semakin menghitam,” kata Lorena,sambil menujuk kearah awan hitam. Sean melihat keatas langit.
“Kau benar, kita harus cepat pergi, sebelum hujan,” kata Sean, sebenarnya dia ingin berlama-lama duduk seperti ini dengan Lorena, tapi kalau sampai mereka kehujanan, kasihan Lorena nanti bisa sakit.
Sean menoleh kearah karyawannya yang mengganti ban mobil, dilihatnya mereka juga malah berdiri bersandar di mobilnya seperti dua pria yang sedang pacaran saja.
Melihat Sean menoleh, karyawannya itu mengangguk.
“Sudah selesai?” tanya Sean.
“Sudah Pak,” Jawab mereka sambil mengangguk.
Sean langsung bangun dan spontan tangannya meraih tangan Lorena.
“Ayo sayang,” ucapnya, membuat Lorena terkejut dan menatapnya, apa dia tidak salah dengar barusan Sean memanggilnya sayang? Sadar dengan ucapannya, Sean meralatnya.
“Ayo Lorena maksudnya,” ucap Sean meralatnya. Lorena langsung bangun.
“Kau membuatku kaget saja,” ucap Lorena. Sean jadi terdiam dan menatapnya.
Lorena berjalan duluan kearah mobil Sean.
“Sudah selesai Pak?” tanya Lorena sambil tersenyum.
“Sudah Bu!” jawab mereka sambil mengangguk dengan hormat.
Lorena agak bingung, rasanya sopan dua orang ini terlihat berlebihan, padahal dia dan Sean yang merepotkan mereka.
“Terimakasih ya,” ucap Lorena.
“Sama-sama Bu,” jawab mereka kembali mengagguk ramah.
Sean mengambil uang di dompetnya, mengambil beberapa lembar dan diberikan pada karyawannya.
“Tidak usah pak, tidak usah,” tolak karyawan Sean itu. Sean memberi kode mengedipkan matanya pada mereka supaya menerima uangnya jangan sampai Lorena curiga. Akhirnya karyawan Sean itu memerima uangnya.
Sean menoleh kearah mobil Pak Deni juga yang lainnya yang berhenti dikejauhan, melihat Sean menoleh kearah mereka yang sebagian ada juga yang duduk-duduk diluar, buru-buru mereka sibuk masuk ke dalam mobil.
Sean menoleh pada Lorena.
“Ayo, naik!” ucap sean. Lorena mengangguk dan amsuk ek dalam mobil.
Sean menoleh pada karyawannya itu memberi tanda supaya dia yang pergi duluan. Diapun kembali masuk ke mobilnya. Karyawannya masih menunggu diluar sambil menatap kepergian mobilnya Sean.
*************
Readers, babnya lebih dari 2000 kata ya. Author mau nyoba ngajuin rekomendasi di beranda, mudah mudahan bisa, soalnya pembacanya ga nambah nambah, ada nambah tapi dikit.
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1