
Sean melihat ruang les itu dilihatnya ke sekeliling. Dia kesal Indri menyangka dia kakaknya Lorena, atau apakah Lorena sendiri yang ngaku-ngaku sebagai adiknya? Lorena juga malah menerima makanan dari indri, benar-benar membuatnya kesal.
Dilihatnya lagi ruangan itu, dia membuat ruangan ini buat Lorena, dia mengorbankan jadwal kerjanya buat Lorena, dia bersusah payah mengejar keluar kota demi Lorena, semua demi Lorena, dan gadis itu hanya menganggapnya kakak? Dia benar-benar kecewa. Apakah Lorena tidak merasakan pengorbanannya selama ini? Perhatiannya? Apa dia tidak merasakan perasaan cintanya padanya?
Lorena berdiri di pintu ruang les itu, dibelakang Sean, menatap punggung pria itu. Hatinya masih bertanya-tanya kenapa pria itu datang ke pesta topeng tanpa mengatakan kalau pria bertopeng itu dirinya? Kenapa Sean melakukan itu? Dia tidak menyangka kalau yang memeluknya malam itu orang yang sekarang ada didepannya.
Sean membalikkan badannya dan dia terkejut saat melihat Lorena berdiri dibelakangnya.
“Kau sedang apa?” tanya Sean, dengan nada masih ketus.
Lorena menatap Sean.
“Terimakasih kau sudah membuatkan ruang les buatku,” ucap Lorena. Sean balas menatapnya.
“Besok malam, kau akan datang ke perkemahan?” tanya Lorena. Dia berharap Sean juga akan kesana.
“Belum tahu. Disana sangat dingin, pakai baju yang tebal, nanti kau sakit,” jawab Sean, lalu meninggalkan Lorena.
Lorena mengernyitkan dahinya, apakah pria itu sedang marah? Benar-benar marah? Tapi kenapa dia marah? Meskipun marah tapi dia masih memikirkan kesehatannya.
Saat makam malampun Sean tidak turun-turun, apa pria itu sedang merajuk.
“Pak Roby, kenapa Sean tidak makan malam?” tanya Lorena.
Diatas meja ada makanan dari Indri juga, Lorena mencicipinya dan rasanya lumayan enak, ternyata Indri benar-benar bisa memasak.
“Sebentar lagi makanannya akan dibawakan ke kamarnya,” jawab Pak Roby.
Lorena melihat pelayan membawa mangkuk-mangkuk yang diisi menu dimeja untuk dibawakan ke kamarnya Sean.
“Sean minta makanannya diantarkan ke kamarnya?” tanya Lorena. Pak Roby mengangguk.
“Sini biar aku yang bawakan,” kata Lorena sambil bangun dari duduknya, tangannya mengulur pada pelayan yang membawa nampan makanan buat Sean.
Pelayan itu menoleh pada Pak Roby.
“Sudah tidak apa-apa, aku saja yang bawakan,” kata Lorena, memaksa.
Akhirnya Pak Roby mengangguk pada pelayan itu. Lorenapun membawa nampan itu menuju kamarnya Sean.
Sampai di pintu dia kebingungan gimana mau mengetuk pintunya? Disimpannya nampan itu di meja yang ada di samping kamarnya Sean dekat pintu.
Diketuknya pintu beberapa kali.
“Masuk!” terdengar suara Sean dari dalam kamar.
Lorena membuka gagang pintu didorong sedikit.
“Masuk saja!” kata Sean, dia sedang duduk berselonjor ditempat tidur sambil membaca majalah bisnis.
Sean tidak memperhatikan siapa yang masuk ke kamarnya, dia sibuk membaca.
“Simpan saja dimeja,” kata Sean.
Lorena menyimpan nampan itu dimeja, tapi dia tidak segera keluar dari kamarnya Sean. Dia berdiri menatap pria yang sama sekali tidak melihatnya.
“Kau boleh pergi!” kata Sean, Lorena masih diam mematung.
Sean membuka lembaran majalah ditangannya.
“Sudah aku katakan, kau boleh pergi,” kata Sean lagi.
Lorena masih diam tidak beranjak.
“Aku bilang, kau boleh pergi, ada apa lagi?” bentak Sean dengan kesal, sambil menutup majalahnya dan menatap orang yang dikira pelayannya itu.
Diapun terkejut melihat gadis itu yang ada dikamarnya.
“Kau, sedang apa kau disini?” tanya Sean.
“Kau tidak turun untuk makan malam, jadi aku mengantarkan makanan, aku khawatir kau sakit lagi, kau kan baru sembuh,” jawab Lorena, sambil menatap Sean.
Sean menoleh pada makanan yang dimeja itu.
__ADS_1
“Itu bukan makanan dari temanmu itu kan?” tanya Sean.
“Bukan,” jawab Lorena.
“Lain kali kau langsung menolaknya jika dia mengirimkan makanan untukku,” kata Sean dengan ketus.
“Iya, maaf kalau kau tidak suka,” jawab Lorena.
“Ya sudah, aku keluar dulu,” kata Lorena, melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya Sean yang terbuka tapi langkahnya terhenti saat Sean bicara lagi.
“Dan kau tidak perlu mengaku-ngaku sebagai adikku,” ucap Sean.
Lorena membalikkan badannya menatap Sean.
“Aku tidak suka,” lanjut Sean.
“Aku tidak mengaku-ngaku, hanya perkiraan Indri saja karena kita tinggal serumah,” jawab Lorena, mencoba meluruskan.
“Maaf kalau kau tersinggung,” ucap Lorena lagi.
Seanpun terdiam, dia tadi marah-marah pada Lorena karena mengira kalau Lorena yang mengaku ngaku sebagai adiknya. Dia tidak mau jadi kakaknya Lorena, dia hanya mau menjadi kekasihnya.
“Aku keluar dulu, kau makan ya,” ucap Lorena.
Sean tidak bicara apa-apa, hanya melihat Lorena keluar kamarnya. Apa dia terlalu ketus pada Lorena? Ada apa dengannya? Kenapa dia hari ini merasa kesal sekali? Dia merasa bersalah, gadis itu pasti merasa sedih.
Sean menarik nafas panjang, diapun menuju kursi yang diatas mejanya sudah ada makanan yang Lorena bawa itu. Dia menatap menu di atas meja itu kemudian duduk dikursi dan mulai makan. Tidak berapa lama terdengar suara alunan music biola, music yang sering Lorena mainkan setiap malam.
Keesokan harinya…
Sekarang Sean yang sudah ada dimeja makan untuk sarapan. Meja makan ini adalah tempat satu-satunya yang merpertemukan mereka di rumah ini di waktu yang sama. Sarapan dan makan malam.
Ternyata gadis itu belum juga turun, sedangkan makanan dipiringnya sudah mau habis.
Sean akan meminta Pak Roby melihat ke kamarnya saat tiba-tiba Lorena masuk keruang makan itu.
“Belum, aku juga belum selesai makan,” jawab Sean, sambil mengisi lagi piringnya. Sebenarnya makannya sudah selesai tapi karena Lorena baru tiba, dia jadi makan lagi.
“Nanti malam kau akan datang ke perkemahan?” tanya Lorena, dia duduk disebrangnya Sean mulai makan menu dipiringnya.
“Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Sean.
“Ah tidak apa-apa, aku ingat dulu setiap ada acara kemah disekolah, selalu orangtuaku yang menjengukku, tapi kalau teman-temanku bukan orangtuanya yang menengok tapi pacar-pacarnya hehhe…karena kan kemahnya di malam minggu,” kata Lorena sambil tertawa
“Aku sempat iri waktu itu, karena jomblo jadi tidak ada pacar yang menjengukku,” lanjut Lorena lagi, sambil senyum-senyum.
Sean terdiam, apa maksudnya Lorena ingin ditengok seperti teman-temannya itu? Ditengok pacarnya begitu? Iya sepertinya maksudnya begitu.
“Kau ingin pacarmu menengokmu diperkemahan?” tanya Sean, menatap Lorena.
“Aku beharap begitu waktu itu, tapi kan aku jomblo, aku cuma bisa melihat mereka pacaran saja saat jam menengok itu hahaha,” ucap Lorena, kembali tertawa.
“Kalau begitu nanti aku menengok ke perkemahan,” kata Sean membuat Lorena terkejut.
“Kau akan menengokku diperkemahan?” tanya Lorena, menatap Sean.
“Iya, kan nanti malam, malam minggu,” jawab Sean.
“Kau benar, nanti malam adalah malam minggu, hemmm sepertinya peserta juga banyak tuh yang ditengok pacarnya paling ngakunya kakaknya padahal pacarnya hehe…kakak ketemu gede,” kata Lorena, kembali tertawa.
“Yang ikut kontes ini kan tidak boleh punya pacar,” ucap Sean.
“Iya sih, tapi kan sebenarnya mereka juga punya pacar, jadi mereka putus hanya formalitas saja, yang jadi istri Presdirkan cuma satu orang, kalau mereka tidak lolos kontes ya mereka balik lagi sama pacarnya,” kata Lorena.
Sean terdiam, jadi ternyata seperti itu, ternyata peserta kontes banyak yang memiliki pacar.
“Kau tahu darimana?” tanya Sean.
“Dari Indri, dia itu kan tukang ngobrol sana sini, jadi punya banyak informasi darinya,” jawab Lorena.
__ADS_1
“Tapi kau tidak begitu kan?” tanya Sean ,menatap Lorena, kenapa dia jadi takut jangan -jangan Lorena juga sama dengan peserta yang lain, sebenarnya punya pacar diputusin sementara karena ikut kontes.
“Tidak, aku tidak punya pacar,” jawab Lorena. Membuat hati Sean berbunga-bunga mendengarnya.
“Kalau begitu, nanti malam aku akan datang ke perkemahan menengokmu,” kata Sean.
Lorena menatapnya.
“Sebagai apa? Ayahku? Kakakku? Atau pacarku?” tanya Lorena sambil tertawa.
“Kau maunya apa?” tanya Sean.
“Ya terserah kau saja,” jawab Lorena, membuat Sean cemberut, harusnya Lorena menjawab sebagai pacarnya.
“Ya sudah nanti aku datang kesana mengengokmu,” kata Sean. Dia menghentikan makannya, ternyata perutnya terasa kenyang sekali.
“Kau kenapa?” tanya Lorena, keheranan.
“Aku kekenyangan,” jawab Sean.
Lorena hanya menatapnya saat Sean bangun dari duduknya.
“Kau mau berangkat kerja?” tanya Lorena. Sean mangangguk.
“Jangan lupa pakai baju yang tebal, “ ucap Sean. Mengingatkan. Lorena mengangguk sambil kembali makan.
Sean menuju ke mobilnya dengan menahan perut yang kekenyangan. Dia mengeluarkan handphonenya menelpon Sam.
“Sam!” panggil Sean.
“Iya ada apa?” tanya Sam.
“Nanti di perkemahan ada jadwal untuk menerima tamu bagi yang mau mengengok peserta tidak?” tanya Sean.
“Ya tidak adalah, kitakan bukan kemah anak sekolahan,” jawab Sam.
“Kalau begitu adakan jam istirahat untuk menengok,” kata Sean.
“Jam menengok apalagi? Kau sangat membingungkan,” tanya Sam, tidak mengerti.
“Soalnya aku tidak jadi jadi hantu,” jawab Sean.
“Tidak jadi jadi hantu gimana? Katanya jaga-jaga Lorena pingsan,” tanya Sam.
“Lorena jangan dikasih hantu, hantunya buat yang lain saja,” jawab Sean.
“Terus? Kau tidak jadi jadi hantu gitu?” tanya Sam.
“Iya ganti,” jawab Sean.
“Ganti jadi apa?” tanya Sam.
“Jadi pacarnya,” jawab Sean.
“Apa? Pacar? Pacar siapa?” tanya Sam.
“Ya pacarnya Lorena yang menjenguk ke perkemahan, jadi buat jam istirahat buat menengok peserta yang ingin ditengok,” jawab Sean dengan nada kesal karena Sam tidak mengerti juga.
Sam langsung menepuk jidatnya.
“Pokoknya kau ikuti saja apa yang kukatakan,” kata Sean.
Sam bengong saja mendengarnya.
“Sean, ini bukan kemah anak sekolahan! Kau bikin acara semaumu sendiri,” kata Sam.
“Ya memang acaranya dirobah,” ujar Sean.
“Dirobah apa lagi?” tanya Sam, semakin bingung.
“Kontes untuk membuat Lorena jatuh cinta padaku,” jawab Sean.
Mendengarnya membuat Sam ingin jatuh pingsan.
__ADS_1
************