
Beberapa bulan kemudian…
Mobil itu berhenti di teras, Valerie keluar dari mobil duluan dan membantu Ny.Grace keluar dari mobil itu.
Perlahan Ny.Grace turun dari mobil itu dengan satu tongkat ditangannya.
Lorena berdiri diteras sambil menggendong baby Al, bayi itu terlihat lebih gemuk dari saat dia lahir.
“Sayang, Ibu sudah pulang, “ucap Lorena pada cucunya.
Valerie membantu Ny.Grace turun, diapun melihat kearah kakinya Ny.Grace.
“Sudah lebih kuat kan Nyonya?” tanya Valerie.
“Iya, kakiku sudah mulai bertenaga lagi,” jawab Nyonya Grace.
Valerie tersenyum lalu menoleh pada Ibu mertuanya dan bayinya.
“Ibu sudah lebih baik sekanga?” tanya Lorena.
“Iya, meskipun masih memakai tongkat, setidaknya sekarang sudah tidak harus memakai kursi roda lagi,” jawab Nyonya Grace.
“Syukurlah,” ucap Lorena.
Valerie menghampiri ibu mertuanya dan memegang tangan Al.
“Seharian ini kau bersama nenekmu terus, kau tidak nakal kan?” tanya Valerie sambil mencium bayinya.
“Tidak apa, kau kan mengurus Nenek, sesekali aku mengurus Al juga aku senang,” jawab Lorena sambil tersenyum.
Ny.Grace menoleh pada Valerie.
“Terimakasih kau sudah sangat telaten merawatku,” ucap Nyonya Grace.
“Tidak perlu sungkan Nyonya, aku senang melakukannya,” kata Valerie.
Ny,Grace menatap Valerie.
“Bagaimana kalau kau punya rumah sakit sendiri?” usul Nyonya Grace.
“Rumah sakit sendiri?” tanya Valerie.
“Iya, rumah sakit juga tempat terapi, aku rasa kau cocok mengelolanya, karena kau sangat telaten mengurus penderita Stroke,” kata Ny.Grace.
Lorena tersenyum senang mendengarnya, diapun menoleh pada Valerie.
“Maksud Ibu rumah sakit khusus penderita stroke, kau bisa mengelola rumahsakit itu,” kata Lorena.
“Maksud Nyonya..” Valerie menolah pada Ny.Grace.
“Kau jangan khawatir, semua biaya pembangunan rumah sakitnya dan perijinan segala macam aku yang membiayai, kau hanya mengelola saja,” kata Ny.Grace.
Valerie terkejut mendengarnya, rasanya tidak percaya Ny.Grace mau membuatkan rumah sakit buatnya.
“Nyonya serius?” tanya Valerie.
“Tentu saja, nanti kita cari lokasi yang strategis di ibukota supaya tidak terlalu jauh dari rumah, kau bisa cepat pulang karena Al juga membutuhkanmu,” jawab Ny.Grace.
Valerie merasa terharu mendengarnya. Rasanya seperti mimpi dia akan punya rumah sakit sendiri.
“Terimakasih Nyonya,” ucap Valerie, tersenyum senang.
“Nenek,” ucap Ny.Grace.
“Apa?” Valerie dan Lorena terkejut.
__ADS_1
“Mulai sekarang kau boleh memanggilku Nenek,” ucap Ny.Grace menatap Valerie.
Valerie merasa terharu mendengarnya, matanya langsung saja memerah.
“Nenek,” ucapnya sambil tersenyum, kini butiran airmata bening menetes dipipinya segera dihapusnya.
Kata yang sangat sederhana dan setiap orang bisa mengucapkannya, tapi baginya kata-kata itu begitu mahal dan penuh perjuangan. Tapi akhirnya Ny.Grace memperbolehkannya memanggilnya Nenek.
“Terimakasih, Nenek,” ucap Valerie sambil tersenyum, suguh bahagia yang tidak bisa terucapkan dengan kata-kata. Wanita keras hati itu kini hatinya sudah melembut.
Ny.Grace hanya mengangguk dan senyum tersungging juga dibibirnya, matanyapun berkaca-kaca, melihat istri cucunya yang selalu di jahatinya tapi malah begitu sangat menyayanginya, dia merasa jadi orang bodoh mengabaikan berlian yang ada di depan mata.
“Kau juga boleh memelukku,” ucapnya.
Valerie langsung menghampiri dan memeluk Nyonya Grace.
“Aku menyayangimu Nyonya, Nenek,” ucap Valerie mengulang perkataannya.
Ny.Grace balas memeluknya mengusap punggung Valerie.
“Aku minta maaf selama ini selalu berbuat kasar padamu,” ucapnya Ny.Grace membuat Valerie melepaskan pelukannya dan kembali menatap Ny.Grace.
“Tidak Nyonya, Nenek, lupakanlah semua itu, aku juga tidak pernah mengingatnya lagi. Aku ini sudah tidak punya orang tua, jadi aku senang Nyonya boleh memanggilmu Nenek,” ucap Valerie.
“Kau kan istri cucuku, jadi kau cucuku juga,” ucap Ny,Grace tersenyum pada Valerie.
Valerie sungguh merasa senang mendapat pengakuan ini. Apalagi dari Neneknya suaminya yang biasanya merasa berkuasa dirumahnya.
Terdengar suara mobil mamasuki pekarangan, merekapun menoleh kearah mobil itu.
“Sayang, ayahmu pulang juga kakek!” seru Valerie pada bayinya yang tampak begitu lengket dengan Neneknya.
Mobil itu berhenti dibelakang mobilnya Ny.Grace.
Sean dan Earlangga turun dari mobil itu.
Pria itu langsung memeluknya dan mencium keningnya, lalu menoleh pada Al dan menghampirinya.
“Kau suka digendong Nenek ya,” ucapnya, sambil mencium pipinya Al.
“Iya seharian dia bersama Ibu,” jawab Valerie.
“Memangnya kau kemana tadi?” tanya Earlangga menoleh pada Valerie.
“Tadi mengantar Nenek terapi, sekarang Nenek sudah lebih sehat dan kuat berjalan. Beberapa hari lagi juga bisa berjalan tanpa tongkat,” jawab Valerie.
Earlangga menatap istrinya lalu pada Neneknya.
“Nenek?” tanyanya, apa dia tidak salah dengar kalau istrinya memanggil Neneknya dengan sebutan Nenek.
”Iya, Sekarang Nyonya, eh Nenek sudah membolehkanku memanggilnya Nenek,” ucap Valerie, tersenyum senang.
Earlangga dan Sean tampak terkejut lalu menoleh pada Ny.Grace.
“Valeriekan istrimu, jadi dia cucuku juga,” ucap Ny.Grace, membuat Earlangga merasa terharu neneknya sudah mengakui Valerie.
Dia menatap Neneknya lalu memeluknya dengan erat.
“Terimakasih Nek,” ucapnya.
“Aku sayang Nenek,” lanjutnya masih memeluk Neneknya.
Ny.Grace mengusap-usap punggungnya Earlangga, dia juga sayang pada cucunya, hanya rasa ego dan otioriter yang terkadang melupakannya kalau dia sudah menyakiti anggota keluarganya.
Earlangga melepaskan pelukannya dan menatap Neneknya.
__ADS_1
“Aku juga senang Nenek sudah bisa bicara dan bejalan lagi,” kata Earlangga.
Tiba-tiba Valerie bicara.
“Nenek juga berencana akan membuatkan rumah sakit buatku, khusus penderita penderita stroke, kita akan sekalian membuatkan tempat untuk terapinya juga,” kata Valerie.
Earlangga dan Sean tambah terkejut saja, mereka melihat pada Valerie yang tersenyum sambil mengangguk, lalu Earlangga kembali menoleh pada Neneknya.
“Aku senang mendengarnya, terimakasih Nek,” ucap Earlangga.
“Nanti aku bantu carikan lokasinya,” kata Sean.
“Terimakasih Ayah,” ucap Valerie pada ayah mertuanya.
Sean hanya menganguk dan tersenyum.
Ny.Grace menoleh menatap Earlangga.
“Bukankah kau belum pergi ke kampung halamannya Valerie?” tanya Ny.Grace.
“Iya,” jawab Earlangga.
“Sekarang Al sudah lebih besar, kau bisa pergi kesana bersama Al,” ucap Ny.Grace.
Earlangga tampak berfikir sebentar, lalu menoleh pada Valerie.
“Valerikan harus mengurus Nenek,” ucap Earlangga.
“Tidak, Nenek sudah sehat sekarang, asal sering-sering jalan ditaman depan juga akan cepat sembuh dan tidak perlu pakai tongkat lagi,” kata Ny.Grace.
Earlangga menoleh pada Valerie.
“Apa kita akan pulang kampung?” tanya Earlangga.
“Kalau kau tidak sibuk,” jawab Valerie.
“Meskipun sibuk, aku pasti akan menyempatkannya,” kata Earlangga.
Valerie tersenyum senang menatap suaminya. Bahagia rasanya sekarang suaminya sudah mencintainya, Ny, Grace juga sudah mengakuinya, bayinya juga sudah ada bersama mereka, hidup ini terasa indah sekali, dia merasa senang dan bahagia tinggal dirumah ini.
“Baiklah, besok kita pulang kampung,” kata Earlangga.
Valerie langsung mengangguk.
Earlangga kembali menoleh kearah bayinya yang ternyata anteng saja dari tadi digendong Neneknya.
“Kau jadi kebiasaan ingin digendong Nenek terus,” keluhnya, membuat semua orang tersenyum.
Earlangga mengulurkan tangannya mengambil Al dari gendongan Lorena.
“Ayo kita masuk, sudah gelap,” ajak Sean pada keluarganya.
Earlangga menoleh pada istrinya, Valerie langsung memeluk tangannya dan mereka mendahului
masuk kedalam rumah.
Sean mengulurkan tangannya memeluk Lorena, kemudian melangkah masuk mengikuti Earlangga dan Valerie.
Ny.Grace tidak langsung masuk, dia melihat anak cucu dan menantunya masuk, ada rasa bahagia yang muncul dihatinya. Ternyata melihat anak dan cucunya bahagia itu lebih membahagiakannya. Diapun barulah berjalan dengan satu tongkat ditangannya.
“Tutup pintunya, Pak Sobri,” ucapnya pada Pak Sobri.
“Baik Nyonya,” jawab Pak Sobri.
Pintu yang berukuran tinggi dan lebar itupun ditutup Pak Sobri, karena hari sudah gelap. Lampu-lampu rumah dan taman juga sudah dinyalakan.
__ADS_1
*************