Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-114 Menemui Bidan Eno


__ADS_3

Lokasi yang digambarkan oleh pdagang di warung itu akhirnya ditemukan juga. Setelah ada turunan yang menukik tajam, Sam melihat sebelah kiri ada jalan menanjak, ada kantor kecamatan juga.


“Sepertinya ini jalan itu, kita bisa bertanya pada penduduk yang lewat,” kata Sam, sambil membelokkan mobilnya ke sebelah kiri, menyusuri jalan yang menanjak itu. Tapi ternyata tidak perlu bertanya pada orang-orang, dari jalan itu sudah terlihat sebuah plang nama praktek Bidan Eno.


“Itu rumahnya,” kata Sam lagi, Sean memiringkan kepalanya melihat tulisan di plang nama itu.


“Iya benar,” ucap Sean. Sam tidak menjawab, dia memarkir mobilnya di depan rumah Bidan Eno, lalu turun dari mobilnya. Mereka melihat rumah juga tempat praktek itu sepi sepi saja, mungkin sedang tidak ada pasien atau memang sedang libur.


Sam mendorong pintu gerbang yang tidak dikunci, diikuti oleh Sean menuju teras rumah Bidan itu. Di teras ada kursi dan meja yang diatasnya ada timbangan bayi.


Seorang gadis keluar dari pintu yang berada dibelakang meja itu. Dia menatap kedatangan dua pria itu dengan keheranan karena tidak ada wanita yang bersama mereka.


“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya.


“Kami ingin bertemu dengn Bidan Eno,” jawab Sam.


“Dari siapa?” tanya gadis itu.


“Hanya ingin bertanya-tanya saja,” jawab Sam.


“Ditunggu sebentar,” kata gadis itu lalu masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama terdengar suara dari ruangan sebelah pintu itu yang dikacanya terdapat poster-poster tentang bayi.


“Masuk!” ucap gadis itu kini muncul dipintu itu. Sam dan Sean langsung masuk.


Di dalam sudah ada seorang wanita yang belum terlalu tua, tersenyum tapi penuh dengan rasa heran karena baru sekarang ada tamu hanya prianya saja.


“Silahkan duduk, ada yang bisa dibantu?” tanya Bidan Eno.


Sam dan Seanpun duduk di kursi depan mejanya Bidan Eno.


“Maaf, kami hanya ingin menanyakan sesuatu,” jawab Sam.


“Sesuatu?” tanya Bidan Eno tampak keheranan.


“Kami ingin bertanya apakah barangkali ada wanita yang merlahirkan?” tanya Sam. Mendengar pertanyaan Sam, Bidan Eno malah tertawa.


“Tentu saja, banyak yang melahirkan disini,” kata Bidan Eno.


“Maksudku wanita yang bukan asli penduduk sini,” jawab Sam.


Ditanya begitu membuat Bidan Eno terkejut, dia ingat pada Lorena yang kata Pak Aping ditemukan di kebun karet tapi Lorena yang memperkenalkan dirinya sebagai Laura sudah memintanya untuk merahasiakan keberadaannya karena ada yang ingin mencelakai putranya.


Ditatapnya Sean dan Sam satu-persatu. Kalau dilihat dari tampang dua orang ini  dan penampilannya, tidak ada gelagat orang jahat, tapi siapa yang tahu kalau mereka bukan orang jahat? Di jaman sekarang yang terlihat perlente saja bisa jadi orang jahat.


“Sepertinya tidak ada,” jawab Bidan Eno berbohong.

__ADS_1


Sam dan Sean merasa kecewa mendengarnya.


“Kalian siapa?” tanya Bidan Eno.


“Kami dari kota. Aku dan istriku ada pertengkaran sedikit jadi dia marah dan pergi kerumah temannya di perkebunan karet tapi aku tidak tahu rumah temannya dimana. Istriku sedang hamil tua, perkiraan melahirkan seminggu lagi,” jawab Sean.


Bidan Eno terdiam lagi, kata pria yang mengaku suaminya ini mereka bertengkar, tapi kenyataannya Laura itu ditemukan melahirkan sendirian di kebun karet, jangan-jangan suaminya ini seorang yang psikopat sehingga membiarkan istrinya melahirkan di kebun karet. Sepertinya dia memang harus merahasiakan keberadaannya Laura, atau bisa jadi orang ini hanya mengaku-ngaku sebagai suaminya saja, fikir Bidan Eno. Yang pasti dia sudah berjanji pada Laura untuk tidak mengatakan tentang keberadaannya pada siapapun jadi dia harus menepatinya.


“Tidak ada, saya tidak menangani melahirkan orang asing,” kata Bidan Eno sekali lagi.


Sam dan Sean saling pandang, ternyata Lorena tidak melahirkan di klinik  Bidan Eno ini. Hati Sean semakin sedih saja, kemana dia harus mencarinya? Lagipula bisa jadi Lorena belum melahirkan. Akhrinya mereka memutuskan meninggalkan rumahnya Bidan Eno.


“Apakah ada klinik lain yang ada disekitar perkebunan?” tanya Sam.


“Ada tapi di kota, disini hanya ada Bidan praktek,” jawab Bidan Eno.


“Bisakah kami minta dimana alamatnya? Siapa tahu istri temanku ini melahirkan di tempat lain,” tanya Sam.


“Baiklah, akan saya berikan alamat Bidan yang ada disekitar perkebunan,” kata Bidan Eno.


Setelah mendapatkan nama Bidan yang praktek disekitar perkebunan, Sam dan Sean meninggalkan rumahnya Bidan Eno.


“Ternyata Lorena tidak melahirkan disini,” kata Sean saat mereka sudah berada dalam mobil.


“Iya, mungkin Lorena melahirkan di tempat lain,” jawab Sean.


“Atau mungkin memang Lorena belum melahirkan. Kata Bapak pedagang itu kan istrinya melahirkan setelah hari perkiraan lahir, bisa jadi memang Lorena belum melahirkan,” kata Sam.


“Iya, kau benar,” jawab Sean.


Dari kaca spion Sean melihat sebuah motor yang membonceng wanita yang sedang hamil besar masuk ke halaman rumahnya Bidan Eno. Dia langsung saja teringat pada istrinya, matanya langsung memerah, hatinya sangat sedih kehilangan istri tercinta dan bayinya.


Sam tidak bicara apa-apa, dia sangat faham perasaannya Sean.


“Ayo kita ke rumah Bidan yang lain,” ajak Sam. Sean hanya mengangguk.


Tidak berapa lama Sam menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya Bidan Eno.


***********


 


Di rumahnya Bu Yati…


Lorena menidurkan Baby Earl, menyentuh pipinya yang merah. Setiap menatap bayinya, dia merasa sedih, hatinya terasa teriris-iris mengingat kelahiran bayinya yang begitu tragis.

__ADS_1


“Semoga kau bahagia, Nak,” ucap Lorena.


 Lorena mencium bau aroma memasak di dapurnya Bu Yati. Diapun pergi kesana dan melihat Bu yati yang sedang memasak. Dari pintu dapur yang terbuka kearah berlakang rumah dia melihat Pak Aping membawa banyak kelapa hijau.


“Kelapa kelapa itu untuk apa?” tanya Lorena pada Bu Yati.


“Buat jualan besok,” jawab Bu yati.


“Jualan?” tanya Lorena tidak mengerti.


“Iya, karet kan belum masa panen, jadi kami berjualan di pinggir jalan, kebetulan besok juga weekend,” kata Bu Yati.


Lorena terdiam. Dia merasa kasihan dengan kondisi ekonomi Bu Yati, kehadirannya hanya merepotkannya. Tapi Lorena bingung kemana dia harus pergi? Dia tidak memiliki uang. Diiriknya tangannya yang bercincin pernikahan.


“Disini dimana toko perhiasan?” tanya Lorena.


“Jauh, ada dikota, sekitar satu jam lebih naik angkot,” jawab Bu Yati.


Lorena menyentuh cincin di jarinya itu. Bu Yati melihat sikapnya itu.


“Itu cincin pernikahanmu?” tebak Bu Yati.


“Iya, Ini cincin dari suamiku tapi sepertinya aku harus menjualnya,” jawab Lorena sambil menatap Bu Yati yang juga menatapnya.


“Aku tidak punya uang, aku juga berhutang  pada kalian biaya Bidan. Aku tidak mau membebani kalian,” kata Lorena.


Bu Yati menghampiri Lorena dan tersenyum.


“Tidak apa-apa, kehadiranmu dirumah ini saja sangat membuat kami senang. Kami senang bisa membantu orang yang sedang kesulitan. Kau simpan saja cincinmu, itu cincin pernikahanmu, jangan kau jual,” ucap Bu Yati.


“Tapi…” belum selesai Lorena bicara, Bu Yati memotong.


“Jangan terlalu difikirkan,” kata Bu Yati. Lorena kembali diam, dia sangat berterima kasih pada suami istri yang menolongnya ini.


“Kalau begitu, bagaimana kalau aku ikut membantu kalian berjualan?” tanya Lorena.


Bu Yati menggelengkan kepalanya.


“Tidak perlu, kau jaga saja Baby Earl. Kau belum pulih, baru juga kemarin melahirkan, seharusnya kau berbaring saja, jangan berjalan-jalan terus,” kata Bu Yati.


“Aku sangat berterima kasih,” ucap Lorena.


Bu Yati hanya mengangguk dan tersenyum. Lorena berjanji kalau dia sudah pulih nanti dan bisa kembali ke kota atau dia akan pergi ke London, dia ingin membantu Bu Yati dan Pak Aping supaya mereka tidak bekerja serabutan lagi.


*************

__ADS_1


__ADS_2