Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-108 Haruskah melahirkan disini?


__ADS_3

Di dalam sebuah perkebunan karet yang sepi, yang letaknya berjam-jam jauhnya dari kota, mobil hitam itu berhenti.


“Kurasa disini cukup aman dan sangat jauh dari kota,” kata si Pengemudi yang sudah membuka tutup kepalanya.


“Iya, wanita itu tidak sadarkan diri sudah berjam-jam,” ucap temannya sambil melihat kebelakang. Lorena masih tidak sadarkan diri meringkuk di kursi belakang.


“Baiklah, sekarang turunkan wanita itu,” kata si Pengemudi.


Temannya turun dari mobil membuka pintu belakang dan menarik Lorena dengan susah payah karena sedang berbadan dua, tubuh wanita itu terasa begitu berat. Digeletakkannya tubuh Lorena dibawah pohon karet.


“Apa kita benar-benar akan menghabisi wanita ini?” tanya orang yang membawa Lorena itu sambil menoleh pada si Pengemudi yang keluar dari mobil.


“Tidak masalah, instruksinya begitu, sekali letusan di kepalanya sudah cukup,” kata si Pengemudi sambil menghampiri.


Temannya malah memperhatikan Lorena yang masih terkulai di rerumputan yang lembab.


“Aku merasa kasihan melihat wanita ini,” kata temannya itu.


“Kita bekerja professional, kita dibayar untuk menghabisinya,” ucap si Pengemudi, dia mengeluarkan senjata apinya dan membuka jaket yang dikenakannya, lalu jaket itu digunakannya untuk membuntal ujung senjata api yang ada ditangannya gunanya mengurangi suara letusan dari tembakannya.


Si temannya itu menghela nafas panjang, wajahnya terlihat mulai pucat.


“Kau kenapa?” tanya pengemudi itu.


“Aku ingat istriku dirumah, istriku sedang hamil,” jawab temannya.


“Dia belum sadar, tembakan dikepalanya tidak akan begitu menyakitkannya,” kata si Pengemudi.


“Aku tidak tega melihatnya,” kata temannya lagi.


“Kau benar-benar tidak professional,” gerutu si Pengemudi.


Pengemudi itu mulai mengangkat tangannya mengarahkan senjata api itu kearah Lorena yang tergeletak di atas rumput. Dia mulai menarik pelatuknya. Tiba-tiba dilihatnya Lorena mulai bergerak, bersamaan dengan temannya menepuk bahunya.


“Dia sadar!” seru temannya, membuat konsentrasi si Pengemudi itu terganggu dan menurunkan tangannya.


“Aku dimana ini?” gumam Lorena merasakan kepalanya yang sangat pusing, pandangannya berputar-putar, sambil memegang kepalanya dia mencoba bangun. Dalam pandangannya ada dua orang pria yang gambarnya bergoyang goyang tidak jelas.

__ADS_1


“Si siapa kalian?” tanya Lorena dalam pandangannya yang kabur, diapun duduk dengan kebingungan dan mencoba menetralkan ingatannya.


“Si siapa kalian? Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian membawaku kesini?” tanya Lorena.


Lewat pandangannya yang buram itu dia melihat sekeliling kebun karet dengan pohonnya yang tinggi-tinggi dan daunnya yang rimbun membuat hutan karet itu kurang disinari sinar matahari dan agak gelap.


“Bagaimana ini?” tanya pria teman si Pengemudi itu.


“Kita harus menyelesaikan tugas ini,” jawab si Pengemudi.


Tiba-tiba Lorena menjerit, merasakan ada sesuatu yang sangat sakit dipinggangnya, sesuatu yang mencubitnya dengan keras.


“Aduh!” Jeritnya.


“Kau kenapa?” tanya teman si Pengemudi itu.


“Aduh!” Jerit Lorena lagi, dia merasakan sekitar pinggangnya teramat sakit.


“Aku..sepertinya aku akan melahirkan!” teriak Lorena, membuat dua orang itu terkejut.


“Kau serius akan melahirkan?” tanya teman si Pengemdi itu, lalu menoleh pada si Pengemudi.


“Ya kita tetap harus menghabisinya,” jawab si Pengemudi.


“Tapi kasihan dia,” kata temannya, sambil menoleh lagi pada Lorena yang mulai terus meringis kesakitan.


“Kita tetap harus menghabisinya!” kata si Pengemudi.


“Jangan, aku tidak tega melihatnya! Dia akan melahirkan!” cegahnya.


“Terus bagaimana dengan pekerjaan kita?” tanya si Pengemudi dengan kesal.


“Tinggalkan saja dia, aku merasa melihat istriku akan melahirkan, sebaiknya tinggalkan saja dia!” kata teman si Pengemudi itu sambil menarik tangan si Pengemudi.


“Jangan, jangan tinggalkan aku, tolong aku, aku mau melahirikan!” Teriak Lorena sambil memegang pinggangnya yang mulai terasa ingin buang air besar yang amat sangat.


“Ayo kita tinggalkan saja!” ajak teman si Pengemudi itu sambil menarik tangan si Pegemudi.  Karena tarikannya sangat keras, jaket yang membungkus senjata apinya itu terlepas dan terjatuh ke rumput.

__ADS_1


“Tapi…”


“Sudah, kita tinggalkan saja!” kata temannya, sambil terus menarik temannya menuju mobil dan membuka pintu mobil depan sebelah stir.


“Kau ini bagaimana? Kita sudah mendapat bayaran 50 persen!” kata si Pengemudi.


“Aku tidak tega melihatnya, sudah tinggalkan saja, bilang saja kita sudah menghabisinya kan beres,” kata teman si Pengemudi itu, membuat si Pengemudi tidak bicara lagi, dia masuk ke mobilnya dan menyalakan mobilnya.


“Jangan pergi! Tolong aku! Aku akan melahirkan!” teriak Lorena, sambil menahan rasa sakit yang menjalar dipunggungnya.


Tapi teriakannya tidak didengar dua orang itu, mobil itu melaju meninggalkan kebun karet itu.


Lorena tidak kuasa menahan tangisnya, dilihatnya sekeliling hanya pohon-pohon karet yang tinggi dengan pencahayaan yang temaram. Apakah dia benar-benar akan melahirikan disini? Dikebun karet yang hanya beralaskan rumput? Apakah dia benar-benar harus melahirkan bayinya dalam keadan darurat seperti ini?


Lorena mulai berteriak minta tolong, barangkali ada petani karet yang mendengarnya.


“Tolooong!Toloooong!” teriaknya.


Sama sekali tidak ada jawaban, sunyi senyap, hanya suara burung-burung kecil yang beterbangan dari dedaunan karet.


Merasa tidak ada yang mendengar teriakannya, Lorenapun menangis, meratapi nasibnya yang seperti ini. Dia kembali melihat ke sekeliling sambil menghapus airmatanya, mencoba untuk bangun dengan susah payah, melihat ke sekeliling lagi, mencari-cari cara keluar dari kebun karet ini.


Tiba-tiba sebuah cubitan lagi dirasa dipinggangnya, diapun meringis menahan sakit sambil memegang pohon karet itu.


Celekit lagi, cubitan itu semakin keras dirasanya, kakinya sudah gemetaran menahan rasa sakit yang muncul semakin sering. Lorena berusaha tabah dan berharap ada petani karet yang lewat, diapun kembali berteriak meminta tolong, sambil bersandar dipohon karet dan memegang erat pohon itu serta kakinya yang gemetaran menahan sakit. Saking menahan rasa sakit disekitar pinggang pinggul dan perutnya, dia mulai merasakan ingin buang air besar yang teramat sangat.


Airmata terus menetas dipipinya, bayangan bayinya yang tidur dalam ranjang bayi didalam kamar yang indah sudah hilang musnah, yang ada dirinya berada dalam kebun karet dengan rasa mulas yang luar biasa.


Rasa itu terus semakin kencang dan dia sudah tidak bisa menahan lagi, dia sudah tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus terpaksa melahirkan disini? Di hutan karet ini? Sendirian? Kakinya benar-benar tidak kuat lagi melangkah.


“Sean, aku akan melahirkan,” gumamnya ditengah isaknya. Tapi kata-kata itu tidak bisa diberitahukan pada suaminya yang berkali-kali memintanya untuk memberitahunya jika akan melahirkan.


Tangan Lorena terus memegang pohon karet dengan kuat, dia sudah tidak kuat lagi berdiri. Sakit yang dirasanya semakin kuat, pandangannya nanar, diapun terpaksa duduk kembali dirumput sambil terus memegang pohon karet itu.


Lorena kembali berteriak minta tolong, masih seperti tadi, sunyi senyap tidak ada jawaban apapun. Diapun segera mengatur napasnya, mencoba mengatasi rasa sakit itu, dia harus kuat, dia harus kuat, tapi ternyata dia sama sekali tidak bisa mengatasi rasa sakitnya dan dorongan bayi yang semakin tidak mau menunggu lagi.


Dilihatnya lagi ke sekeliling sepertinya dia benar-benar akan melahirkan disini, karena dia benar-benar sudah tidak kuat untuk menahan rasa sakit dari dorongan bayi yang ingin keluar.

__ADS_1


************


Up pukul 12.34 dini hari. Makasih bagi pembaca pertama di jam jam segini.


__ADS_2