Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-72 Pernyataan Darren ( Part 2)


__ADS_3

Earlangga menatap tajam Darren.


“Aku tidak percaya, kau pasti berbohong!” kata Earlangga.


“Sebenarnya itu alasan kenapa aku akan datang kerumahmu, karena aku ingin membawa Valerie pergi,” jawab Darren.


“Kau berbohong kan?” bentak Earlangga, entah kanapa ada berita seperti itu membuat hatinya merasa tidak rela, dia sudah merasa yakin kalau wanita yang bersamanya itu adalah Valerie.


“Seandainya kau lepaskan Valerie sekarang, aku akan membawanya,” kata Darren.


Earlangga menatap Darren semakin tajam, sort matanya terlihat menahan marah.


“Membawanya? Untuk apa? Dia istriku!” ujar Earlangga dengan nada tinggi.


“Tapi dia hamil olehku, aku ingin bertanggung jawab. Memangnya kau akan membesarkan bayi yang bukan anakmu?” kata Darren.


Earlangga berjalan lebih dekat pada Darren, mereka berdiri berhadapan dengan tatapan penuh permusuhan.


“Aku tidak percaya padamu,” ucap Earlangga dengan tegas.


“Kau tidak percaya padaku? Oke kemarin aku berbohong, tapi sekarang aku bicara jujur, aku yang menghamili Valerie. Tolonglah, biarkan aku bertanggung jawab atas perbuatanku padanya. Aku sadar sekarang!” kata Darren, mencoba meyakinkan Earlangga.


“ Kau harus percaya padaku, aku akan menjaga Valerie dan bayi kami dengan baik, aku akan belajar menjadi ayah dan suami yang baik untuk Valerie,” lanjut Darren.


“Apa maksudmu suami?” tanya Earlangga.


“Tentu saja aku akan menikahinya, aku dan Valerie akan bersama-sama membesarkan  anak kami,” kata Darren, membuat suasana hati Earlangga semakin mendidih.


“Sudah aku katakan,  dia itu istriku! Apa kau tidak dengar?” bentak Earlangga.


“Itu yang sebenarnya, aku tidak tahu kalau Valerie sedang hamil. Aku sadar sekarang. Aku akan membawanya pergi bersamaku, aku akan bertanggung jawab, jadi kau harus melepaskannya, kau ceraikan dia,” ucap Darren.


“Aku tidak akan menyerahkan Valerie begitu saja padamu!” ujar Earlangga dengan nada tinggi.


“Tapi dia lebih berhak bersamaku daripada denganmu! Kau cari saja gadis yang bersamamu malam itu. Yang jelas bukan Valerie, karena aku yang bersama Valerie malam itu,” ucap Darren.


Tiba-tiba sebuah tinjuan mendarat di wajahnya Darren, sampai pria itu jatuh tersungkur.


“Aku tidak suka kau mempermainkanku!” maki Earlangga.


Darren mengusap darah segar yang keluar dari mulutnya akibat pukulan itu, diapun mencoba berdiri.


“Kenapa kau malah memukulku? Aku bicara sebenarnya!” teriak Darren.


“Jangan sekali-kali mempermainkanku! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan Valerie!” kata Earlangga, meskipun hatinya jadi kacau mendengar informasi dari Darren itu. Apa benar Valerie bukan wanita yang bersamanya?


“Buat apa kau bersamanya, sedangkan bayi itu adalah bayiku?” kata Darren dengan nada yang mulai lirih.


“Karena aku mencintainya!” kata Earlangga, membuaat Darren terdiam.


“Aku mencintainya meskipun kalau ternyata bayi itu bukan bayiku. Tapi aku yakin Valerie yang bersamaku malam itu,” lanjut Earlangga.


“Aku minta maaf aku telah berbohong padamu sampai akhirnya kau sekarang menyukai Valerie,” kata Darren.


Earlanggapun terdiam, dia menimbang nimbang apa yang ada dibalik semua ini? Apakah Darren jujur atau tidak. Tapi Darren melakukan semua ini bukan karena uang.

__ADS_1


Earlangga kembali menatap Darren.


“Jika kau berbohong, jujur padaku, aku akan memberikanmu uang yang banyak. Atau kau ingin mobil sport keluaran terbaru? Aku akan memberikannya!” kata Earlangga. Hatinya tetap tidak bisa menerima kalau ternyata dugaannya salah selama ini.


Mendengar itu Darren agak terpengaruh. Mobil Sport keluaran terbaru? Itu pasti harganya bermilyar-milyar. Gila! Pria ini berani mengeluarkan uang dalam jumlah besar hanya untuk seorang perawat biasa?


“Bagaimana?” tanya Earlagga.


“Mmm,” Darren tampak memikirkan lagi. Tapi kalau difikir-fikir, dia juga bisa memeras Ny.Grace, apalagi dia dalang semua ini. Ny Grace yang menyuruhnya melakukan ini. Kalau dia melawan Ny Grace bisa-bisa Ny.Grace mencelakainya atau memasukkannya ke penjara.


“Tidak, aku tidak butuh itu. Aku hanya ingin bertanggung jawab pada Valerie dan bayi kami, jadi tolong lepaskan Valerie,” kata Darren, tidak tergoda rayuannya Earlangga.


“Valerie sudah menikah denganku, itu artinya dia dan bayinya adalah milikku,” ujar Earangga.


Hati Darren semakin kesal saja, ternyata Earlangga tidak semudah itu dipengaruhi.


Earlangga melangkah mendekati Darren.


“Sebaiknya kau pergi jauh-jauh dariku dan Valerie. Sekali lagi kau menganggu istriku, aku tidak akan melepaskanmu!” ancam Earlangga.


“Kau fikir aku menyerah? Aku tetap akan membawa Valerie darimu, lihat saja,” kata Darren, sambil membetulkan letak jaketnya lalu beranjak meninggalkan Earlangga.


Earlangga terdiam cukup lama ditempat itu. Dia merasa bingung, ada apa lagi ini? Kenapa Darren bisa memberikan informasi yang berubah-ubah? Apa benar gadis itu bukan Valerie? Tapi dia sudah merasa yakin kalau gadis itu Valerie. Dia juga sudah jatuh cinta padanya juga menyayangi bayinya.


Earlangga melihat jam tangan di tangannya, dia akan kembali ke rumah sakit, dia berjanji pada ibunya tidak akan lama pergi. Diapun segera bergegas meninggalkan tempat itu.


Valerie berada di rumah sakit dengan gelisah. Meskipun Dokter menyarankannya untuk istirahat tapi hatinya tidak bisa tenang. Kejadian itu membuatnya merasa takut apakah ada yang ingin mencelakai mereka? Apakah ini suatu kebetulan atau kesengajaan? Diusapnya perutnya berkali-kali.


“Sayang kau baik-baik ya, ibu menyayngimu,” gumam Valerie.


Ucapannya terdengar oleh Lorena yang sedang duduk di sofa tunggu sambil membuka-buka majalah biar tidak jenuh.


“Seharusnya kau istirahat, kau tidak boleh banyak fikiran,” ucap Lorena.


Valerie menatap ibu mertuanya.


“Aku hanya masih shock dengan kejadian tadi, apakah itu memang kecelakaan atau ada yang sengaja melakukannya?” tanya Valerie.


“Kau ini bicara apa?Memangnya siapa yang ingin mencelaki kalian? Itu hanya kecelakaan saja, kau tidak perlu memikirkannya, yang penting kau dan bayimu baik-biak saja,” jawab Lorena.


“Tidak Bu, bayiku belum baikbaik saja, aku ahurs menunggu Dokter menyatakan benar-benar pulih dan bisa pulang,” ucap Valerie.


“Kau harus yakin bayimu baik-baik saja, pasti baik-baik saja,” kata Lorena, masih terus mengusap-usap perutnya Valerie, membuat Valerie merasa terharu dengan perhatiannya.


“Bu!” panggil Valerie.


“Iya,” jawab Lorena menatap menantunya itu.


“Bagaimana jika bayiku lahir nanti hasil tes DNAnya ternyata bukan bayinya  Earlangga?” tanya Valerie.


“Kau masih ragu kalau bayi ini bukan bayinya Earlangga?” tanya Lorena, terkejut dengan perkataannya Valerie. Selama ini dia hanya berfikir kalau Valeri takut pada Earlangga makanya tidak mau menyebutkan siapa ayah bayi itu.


“Karena aku dan Earlangga memang tidak pernah melakukan apa-apa,” jawab Valerie, meskipun dalam hati dia merasa Earlangga mirip dengan pria itu.


Lorena terdiam sejenak, tenyata Valerie masih tetap mengatakan hal itu, itu artinya memang Valerie dan Earlangga tidak ada hubungan apa-apa.

__ADS_1


“Tidak masalah, kau kan sudah menikah dengan Earlangga, itu artinya bayimu bayi Earlangga juga, jadi aku pasti akan menganggapnya cucuku juga,” ucap Lorena sambil tersenyum. Dia senang kalau dirumah ada banyak anak-anak.


Ada butiran bening muncul di pelupuk mata Valerie, dia merasa terharu mendengarnya.


“Terimakasih Bu, sudah mau menerimaku dan bayiku,” ucap Valerie.


Lorena hanya mengangguk sambil tersenyum. Menatap wajah pucat itu. Dari kalangan manapun asal menantunya, hanya satu yang diharapkannya, wanita itu harus bisa membawa kebahagiaan untuk Earlangga, hanya itu yang diinginkannya.


“Aku mau pulang!” terdengar suara Ny.Grace berjalan mendekati mereka.


“Ibu mau pulang?” tanya Lorena sambil turun dari tempat tidur, menatap mertuanya.


Valerie juga menatap Ny.Grace. Entah kenapa dia merasa Ny.Grace tahu sesuatu.


Terdengar ponsel Lorena yang ada didalam tasnaa berbunyi. Diapun pergi menuju sofa dan mengambil ponselnya, lalu keluar dari ruangan itu.


“Sayang, kau akan kesini?” tanyanya sambil terus berjalan keluar ruangan itu, menjawab telpon dari Sean.


Ny.Grace menatap Valerie yang terus menatapnya dengan tajam.


“Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Ny.Grace.


“Apa Nyonya tahu semua ini?” Valerie balik bertanya.


“Kau ini bicara apa?” tanya Ny.Grace.


“Aku merasa kecelakaan ini disengaja, ada yang tidak menyukai kepergianku dengan Pak Earlangga,” jawab Valerie.


“Huh, maksudmu apa bicara begitu padaku?” tanya Ny.Grace.


Valerie mencoba bangun dari tidurnya lalu duduk dengan berselonjor kaki menatap Ny.Grace.


“Apa Nyonya dibalik semua ini?” tanya Valerie.


“Apa? Berani-beraninya kau menuduhku?” bentak Ny.Grace dengan kesal.


“Hanya Nyonya yang tidak menyukaiku dan bayiku,” ucap Valerie.


“Kau bicara sembarangan! Bagaimana mungkin aku mencelakai cicitku sendiri?” bentak Ny.Grace.


Valerie terkejut mendengarnya, kenapa Ny.Grace mengatakan cicitnya?


“Bu! “ terdengar suara Lorena masuk kedalam ruangan, dia mendengar suara berisik dari dalam kamar.


“Aku sudah minta supir bersiap-siap mengatar ibu pulang. Sean juga sebentar lagi akan kesini,” kata Lorena, matanya menatap ibu mertuanya.


 Tadi dia mendengar nada tinggi mertuanya, entah apa yang mereka bicarakan itu, mertuanya memang tidak menyukai istri dari putranya.


“Iya, aku pulang sekarang!” kata Ny.Grace, lalu berjalan keluar dari ruangan itu tanpa bicara apa-apa lagi pada Valerie.


“Kau baik-baik saja?” tanya Lorena, melihat Valerie yang duduk tidak berbaring lagi.


“Apa ada yang ingin kau ambil?” tanya Lorena.


“Tidak Bu,” jawab Valerie, dia mencoba berbaring lagi. Lorenapun membantunya berbaring.

__ADS_1


Lorena merasa bingung, tadi selintas terdengar ibu mertuanya menyebut bayi itu dengan cicitku, ada apa ini? Valerie bilang dia tidak ada hubungan dengan Earlangga tapi ibu mertuanya menyebut bayi itu cicitnya, sungguh membuatnya bingung.


********


__ADS_2