
Valerie terlelap dalam tidurnya , berbaring kesamping membelakangi kursi tunggu dikamar itu karena pegal sedari tadi terlentang terus. Dia tidak menyadari saat pintu itu terbuka. Lorena yang masih asyik dengan bacaannya menoleh kearah pintu, ternyata Earlangga yang datang.
“Apa ayah sudah kesini?” tanya Earlangga.
“Belum sayang, ayahmu sedang ada diluar kota, mungkin sorean,” jawab Lorena, menatap wajah putranya yang terlihat kusut.
Pria itu duduk disamping ibunya. Lorena segera menutup majalahnya, sedangkan Earlangga melihat kearah Valerie yang sedang tidur, lalu menoleh pada ibunya yang langsung tersenyum dan menyentuh kepalanya.
“Kau terlihat lelah, sayang,” ucap Lorena.
“Tidak, aku baik-baik saja,” ucap Earlangga.
Lorena menatap Earlangga yang menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Sayang!” panggil Lorena.
“Ya Bu,” ucap Earlangga, memiringkan kepalanya menatap ibunya.
“Ada yang ingin ibu tanyakan, apa kau mau jujur pada ibu?” tanya Lorena, membuat Earlangga bertanya-tanya karena ibunya terlihat serius.
“Soal apa bu?” tanya Earlangga.
“Soal bayi itu,” jawab Lorena.
“Ada apa dengan bayi itu?” Kini Earlangga merubah posisi duduknya menjadi duduk tegak menyamping menghadap ibunya.
Valerie yang sedang tertidur, terbangun mendengar suara Earlangga, diapun akan membalikkan tubuhnya tapi mendengar ibu dan anak itu berbicara soal bayinya, dia tidak jadi merobah posisi tidurnya, dia jadi ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
“Bayi yang dikandung Valerie itu bayimu atau bukan?” tanya Lorena.
Mendengar pertanyaan ibu mertuanya, Valerie menahan nafas, dia ingin tahu apa jawaban dari Earlangga.
Earlangga menatap ibunya keheranan.
“Kenapa ibu tiba-tiba bertanya begitu?” tanya Earlangga.
“Kau jawab saja. Itu bayimu atau bukan?” jawab Lorena.
Earlangga menghela nafas sebentar, matanya menoleh kearah Valerie yang masih terlihat tidak bergerak dalam tidurnya.
“Bagaimana kalau ternyata bayi itu bayiku?” Earlangga malah mengajukan pertanyaan dan kembali menatap ibunya.
Deg! Jantung Valerie seakan berhenti berdetak. Kenapa Earlangga bicara begitu? Apa Earlangga mengira bayi yang dikandungnya adalah bayinya?
“Tentu saja tidak apa-apa sayang, Ibu sangat senang, kau tidak perlu ragu atau malu jujur pada ibu. Meskipun kehamilan Valerie diluar nikah, tapi sekarang kalian sudah menikah,” jawab Lorena, tangannya meraih tangan Earlangga dan diusapnya perlahan.
“Dengarkan Ibu Nak, jadilah pria yang bertanggung jawab atas kesalahan yang telah kau lakukan. Semua orang pernah melakukan kesalahan tinggal kau berjanji untuk memperbaiki kesalahan itu dan jangan melakukannya lagi,” kata Lorena.
Earlangga menatap ibunya, apakah dia harus jujur soal masalahnya dengan Valerie? Dilihatnya lagi Valerie tertidur lelap, diapun kembali menatap ibunya, dia tidak mau Valerie sampai mendengar percakapan mereka.
“Terkadang aku merasa kalau bayi itu bayiku tapi aku juga masih ragu kalau belum tes DNA,” kata Earlaangga.
Jantung Valerie sekanag berdebar kencang, Earlangga merasa bayi yang dikandungnya adalah bayinya?
“Valerie tadi bilang kalau kalian memang tidak ada hubungan apa-apa. Bagaimana kau bisa merasa kalau itu bayimu?” tanya Lorena.
__ADS_1
Earlangga menatap bola mata ibunya.
“Ibu, aku akan jujur sekarang. Sebenarnya aku sudah melakukan kesalahan besar saat pertama datang ke sini,” jawab Earlangga.
“Kesalahan?” tanya Lorena, mengerutkan dahinya.
“Iya Bu. Saat aku dan teman-temanku le club, aku tidak sengaja menodai seorang gadis di club itu,” jawab Earlangga, membuat Lorena terkejut.
Bukan saja Lorena, tapi Valerie. Berbagai macam perasaan timbul dihatinya. Apa dia tidak salah dengar? Jadi Earlangga menodai seorang gadis? Apakah..apakah yang Earlangga nodai adalah dirinya? Apakah sikap baiknya Earlangga selama ini bukan karena mencintainya? Tapi dia merasa bersalah karena sudah menodainya?
“Kau menodai seorang gadis? Siapa?” tanya Lorena.
“Benar Bu, aku mencari gadis itu, dan aku merasa gadis itu adalah Valerie,” jawab Earlangga, membuat Lorena terkejut, begitu juga dengan Valerie.
Jemari tangann Valerie meremas selimut, berusaha menahan diri untuk tidak membalikkan badan dan membuat mereka tahu kalau dia mendengarkan perbincangan ini.
“Apa? Kau menodai gadis yang sekarang jadi istrimu? Jadi kalian memang sudah mengenal sebelumnya? Kenapa Valerie bilang kalian tidak ada hubungan apa-apa? Ibu tidak mengerti,” tanya Lorena menahan suaranya jangan sampai Valerie terbangun.
“Aku melakukannya saat gadis itu tidak sadarkan diri,” ucap Ealangga.
“Sayang, itu perbuatan criminal namanya, kau memperkosa orang!” kata Lorena, sangat terkejut dengan pengakuan Earlangga.
“Aku tahu Bu, aku salah,” ucap Earlangga menunduk.
Valerie semakin erat meremas selimutnya. Airmata menitik di pelupuk matanya. Berapa orang gadis yang akan mengalami kejadian yang sama seperti ini? Apakah yang dimaksud Earlangga adalah benar-benar dirinya?
“Jadi karena kejadian itu makanya Valerie membencimu dan tidak mengakui bayi itu bayimu begitu?” tanya Lorena, dengan nada yang agak marah pada Earlangga.
“Kau sudah menghancurkan hidup orang lain, sayang!” lanjut Lorena , menggeleng-gelengkan kepalanya merasa kecewa dengan kelakuan putranya.
“Tidak tahu? Ko bisa?” tanya Lorena semakin bingung.
“Saat aku bangun gadis itu sudah tidak ada, aku mabuk Bu, aku tidak begitu jelas siapa gadis itu. Dan selama ini Valerie juga tidak bersikap kalau dia mengenaliku,” jawab Earlangga.
“Gadis itu tidak melihat wajahmu waktu itu? Atau memang gadis itu bukan Valerie makanya dia tidak mengenalimu?” tanya Lorena.
“Aku mencari tahu pada orang-orang di club itu, ada kemungkinan Valerie, tapi aku belum pernah menanyakannya langsung,” jawab Earlangga.
“Kau harus bertanya, supaya semua jadi clear. Mau dia atau gadis lain, setidaknya sudah pasti, kau akan terkungkung rasa bersalah seumur hidupmu kalau begini,” kata Lorena.
“Iya Bu, aku merasa bersalah,” ucap Earlangga.
“Bagaimana kalau gadis itu bukan Valerie dan ada gadis lain yang mengaku telah kau nodai? Lebih baik kau pastikan secepatnya,” kata Lorena.
“Aku merasa gadis itu Valerie dari parfum yang dia pakai, tapi tadi ada pria yang mengaku kalau dia yang menghamili Valerie, aku sangat bingung,” ucap Earlangga.
“Apa? Dia pacarnya?” tanya Lorena.
“Entahlah!” jawab Earlangga.
Valerie terkejut mendengarnya, ternyata ada yang mengaku telah menghamilinya? Siapa? Jelas-jelas itu sebuah kebohongan! Dia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun selain pria yang menodainya malam itu.
“Kalau begitu kau memang harus bicara pada Valerie. Tanyakan apa dia mengalami hal seperti yang kau alami? Dan tanyakan juga apa dia pernah melakukan hubungan dengan pria lain? Kalau benar gadis itu adalah Valerie, tanyakan ayahnya kau atau pria lain,” kata Lorena.
“Aku takut hal ini berpengaruh pada janinnya Bu. Aku ingin dia bisa melahirkan dengan lancar dan selamat, ibu dan bayinya. Meskipun kalau ternyata bayi itu belum tentu bayiku,” ucap Earlangga.
__ADS_1
“Kita benar-benar harus menunggu tes DNA,” ucap Lorena sambil menoleh pada Valerie yang masih tidur membelakangi mereka.
“Hanya untuk memastikan saja apakah itu bayimu atau bukan. Yang harus kau lakukan sekarang adalah kau harus memastikan bahwa gadis itu Valerie atau bukan. Kau tidak perlu takut, berbicara hal buruk masala lalu, karena Valerie juga punya masalalu yang buruk dengan kehamilannya. Kalau kau siap menerima Valerie dalam keaadan hamil maka Valerie juga harus menerima kalau kau memang pernah menodai gadis lain,” ucap Lorena.
“Aku takut kalau ternyata benar gadis itu adalah Valerie, dia akan membenciku, aku tidak mau membuatnya stress,” jawab Ealrangga.
“Tapi itu artinya kau harus menunggu bayi itu lahir, baru kau akan cerita? Ibu rasa Valerie juga gadis yang kuat dan bisa menerima hal buruk apapun. Sekarang dia bisa menerima bayinya yang tidak jelas ayahnya, apalagi hanya soal menanyakan apakah dia gadis yang kau nodai itu atau bukan?” kata Lorena.
“Tapi bagaiman jika dia marah, membenciku lalu pergi, apalagi bayi itu bayiku, aku tidak mau itu terjadi,” jawab Earlangga, menggeleng-gelengan kepalanya.
“Jangan biarkan semua jadi berlarut-larut sayang. Sebaiknya kau pastikan pada Valerie dia mengalami hal itu atu tidak. Jila iya, minta maaflah dan bertanggung jawablah, ibu yakin Valerie pasti mengerti,” kata Lorena, terus memberi semangat pada Earlangga.
Butiran airmata menetes dipipinya Valerie. Jadi pria yang bersamanya itu ada kemungkinan Earlangga? Earlangga mengenali parfum yang dipakainya. Jadi selama ini Ealrangga memang mencurigai kalau gadis itu dirinya?
“Kalau kau mempunyai itikad baik, ibu rasa Valerie akan memaafkanmu. Pastikan hal itu pada Valerie, kalau semuanya terungkap hatimu akan lebih tenang, apalagi dengan ada yang mengaku-ngaku segala. Bicara dengan Valerie itu akan lebih baik,” ucap Lorena.
“Iya Bu, aku harus bicara berdua dengan Valerie,” kata Earlangga.
Dia juga berfikir daripada Darren yang memberikan informasi yang tidak jelas lebih baik dia menanyakan langsung pada Valerie, tapi dia harus yakin kalau masalah ini tidak aka berpengaruh pada janinnya apalagi kalau sampai Valerie jadi membencinya dan pergi meninggalkannya.
Lorena menatap putranya yang tampak berfikir keras.
“Apa kau tidak terfikirkan kalau apa yang kau khawatirkan mungkin saja berbeda dengan kenyataannya,” kata Lorena.
“Maksud Ibu apa?” tanya Earlangga.
“Ada kemungkinan kalau kau jujur padanya mungkin itu akan memberikan rasa tenang buat Valerie menjalani kehamilannya,” jawab Lorena.
Earlangga menatap wajah ibunya.
“Maksud ibu?” tanya Earlangga lagi.
“Maksud ibu bisa jadi Valerie akan senang tahu siapa ayah dari bayinya, dan itu bagus untuk perkembangan bayinya,” jawab Lorena.
“Apa menurut ibu begitu?” tanya Earlangga.
“Iya, hanya kau harus mencari waktu yang tepat untuk bicara padanya. Kalau ternyata Valerie itu bukan wanita yang kau nodai juga itu tidak masalah. Kalian kan sudah menikah asalkan dia mau menerima masa lalumu semua akan baik-baik saja karena Valerie juga mempunyai masa lalu, menurut ibu begitu,” jawab Lorena.
Earlangga menatap wajah ibunya, yang sedang menatapnya tidak berkedip.
“Ibu hanya ingin kau bahagia, Nak,” kata Lorena.
Ada butiran bening dikelopak matanya saat mengatakannya, mengingat betapa berat perjuangannya untuk melahirkan Earlangga.
“Baiklah Bu, aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan Valerie,secepatnya,” jawab Earlangga.
Lorenapun tersenyum dan mengangguk.
Earlangga mengulurkan tangannya memeluk ibunya dan mencium rambut Lorena karena memang tubuhnya lebih tinggi dari ibunya.
“Aku sayang pada ibu,” ucapnya, memeluk ibunya dengan erat.
“Ibu juga menyayangimu Nak,” ucap Lorena, mengusap-usap lengannya Earlangga.
Mungkin Lorena bersedih karena mengingat masa lalunya, tapi berbeda dengan wanita hamil yang berbaring itu. Airmata terus deras membasahi pipinya. Apa artinya ini? Apakah dia harus senang atau bersedih? Senang karena pria itu adalah Earlangga dan bersedih karena Earlangga masih ragu kalau bayi ini bukan bayinya karena ada pria yang mengaku-ngaku ayah dari bayinya?
__ADS_1
***********