
Sean dan Sam sudah mengunjungi rumah Bidan lain yang dikatakan oleh Bidan Eno, tentu saja disana juga tidak ada data Lorena melahirkan. Semangat Sean semakin pupus saja, dia semakin putus asa.
“Sekarang sudah malam Sean, apa kita akan pulang?” tanya Sam.
“Iya kita pulang saja. Kau kerahkan orang untuk mencari Lorena di perkebunan karet ini, mungkin ada petunjuk,” jawab Sean.
“Baiklah, bagaimana dengan Pak Tedi? Apa kita tetap akan minta informasi darinya?” tanya Sam.
“Entahlah, aku tidak mempercayainya,” jawab Sean,
Sam segera menjalankan mobilnya dengan kencang meninggalkan daerah perkebunan karet itu.
“Aku bingung apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara aku mengatakan pada orang tuany Lorena? Sebagai suami aku sudah gagal. Aku tidak bisa menjaga putrinya. Orang tuanya pasti tidak memaafkanku,” keluh Sean.
Sam tidak menjawab, dia focus ke arah jalan raya.
“Aku akan ke London besok, aku harus bertemu dengan orang tua Lorena,”ucap Sean kemudian.
“Iya, aku aku siapkan keberangkatanmu,” kata Sam.
***********
Di London…
Sudah bisa ditebak sebelumnya, bagaimana reaksi orang tuanya Lorena saat Sean mengatakan soal penculikan itu. Mommynya Lorena terus saja menangis, mengkhawatirkan keselamatan putrinya apalagi putrinya masuk masa-masa melahirkan, hatinya benar-benar cemas.
“Kau benar-benar tidak bisa menjaga putriku!” Maki Mr.Julian dengan kesal.
Ayahnya Lorena itu berdiri di dekat jendela membelakangi Sean, dengan hati yang menahan marah yang amat sangat. Marah pada Sean yang dianggap tidak becus menjadi suami putrinya juga cemas karena khawatir dengan keselamatannya Lorena.
“Apa saja yang kau lakukan selama ini?” tanya Mr.Julian, dengan masa ketus.
“Aku sudah melaporkannya ke kepolisian, aku juga mengerahkan orang untuk mencarinya,” jawab Sean, sambil menunduk. Dia sangat malu pada mertuanya karena tidak bisa menjaga Lorena meskipun semua ini bukan keinginannya.
“Kalau Lorena ditemukan, aku ingin kalian bercerai!” tiba-tiba Mommynya Lorena bicara sambil menatap Sean dengan tatapan kesal.
Mendengar ucapan Mommynya Lorena membuat Sean terkejut, dia balik menatap ibu mertuanya.
“Mommy jangan bicara seperti itu, aku sangat mencintai Lorena,” kata Sean.
“Tapi kau malah membuatnya dalam kesulitan! Sangat keterlaluan istrimu hamil besar, sebentar lagi melahirkan sampai mengalami diculik segala! Kalau bukan minta tebusan, pasti kau mempunyai musuh kan? Putriku tidak akan aman bersamamu,” kata Mommynya Lorena itu.
“Aku tidak tahu akan seperti ini. Aku juga sangat kehilangannya,” ucap Sean, menatap ibunya Lorena dengan bingung. Dia takut orang tuanya Lorena tidak mengijinkan lagi dia bersama Lorena kalau Lorena sudah ditemukan.
“Putriku, aku tidak membayangkan bagaimana kondisi putriku sekarang, apa dia masih hidup atau..huu…”Mommynya Lorena kembali menangis, terduduk dikursi sambil mengusap airmatanya.
__ADS_1
Sean terdiam menatapnya, dia merasa bersalah tidak bisa menjaga Lorena dan bayinya dengan baik.
“Aku tidak mau keselamatan putriku terancam,” kata Mrs.Julian, berjalan dengan lemah mendekati Sean.
“Penculik itu tidak menghubungimu untuk minta tebusan?” tanya Mr.Julian sambil duduk di kursi.
“Tidak,” jawab Sean.
Mommynya Lorena kembali menatap Sean.
“Apa lagi begitu? Berarti motifnya dendam padamu atau keluargamu. Aku tidak menyangka kau akan memiliki musuh dan mencelakai putriku! Aku tidak mau putriku bersuamikan orang yang mempunyai musuh, aku tidak mau putriku selalu terancam dalam hidupnya. Kalian harus bercerai,” kata Mommynya Lorena.
“Kau punya musuh?” tanya Mr.Julian.
“Sebenarnya aku tidak merasa membuat permusuhan pada orang lain. Hanya saja saat ini aku mencurigai seseorang yang aku jebloskan dalam penjara karena dia sudah membuat keterangan palsu tentang kondisi kesehatannya Lorena,” jawab Sean.
“Apa? Jadi hasil tes itu juga dipalsukun? Seharusnya aku tidak mengijinkan Lorena menikah denganmu! Putriku terseret dalam masalah gara-gara menikah denganmu,” kata Mommynya Lorena.
“Aku tidak mengerti kenapa aku harus mengalami berurusan dengan orang itu. Dia pengacara keluargaku, dia tahu aku akan mendapatkan seluruh warisan kakekku setelah aku menikah dan punya anak. Dia sakit hati aku keluarkan dari Tim pengacara keluargaku karena dia tidak bisa menjaga rahasia wasiat kakekku, dia juga ingin aku menikahi putrinya, aku tidak mau,” jawab Sean.
“Jadi dia masih dipenjara sekarang?” tanya Mr.Julian.
“Iya,”jawab Sean.
“Kau yakin dia yang merencanakan penculikan putriku?” tanya Mr.Julian
“Apa keterangan yang kau dapat darinya?” tanya Mr.Julian.
“Dia mengatakan…” Sean menghentikan perkataannya, membuat orangtua Lorena menjadi tegang.
“Mengatakan apa?” tanya Mommynya Lorena, menatap Sean dengan hati berdebar-debar.
“Mengatakan kalau Lorena sudah dihabisi orang-orangnya,” jawab Sean.
“A..apa?” tanya Mommy Lorena semakin shock, dia terduduk dengan lemas. Mr. Julian segera berlari memeluknya, Mommynya Lorena pun jatuh pingsan membuat suaminya panik begitu juga Sean.
Mr. Julian segera membawa istrinya ke lantai atas menuju kamarnya. Sean juga mengikutinya bersama kepala pelayan juga seorang pelayan wanita.
“Istriku, bangunlah,” kata Mr. Julian, setelah membaringkan istrinya di tempat tidur.
Pelayan wanita itu membantu Mommynya Lorena supaya cepat siuman.
Sean hanya melihatnya dengan perasaan yang besalah amat sangat. Sungguh sebenarnya dia adalah yang orang paling menderita, bukan satu orang yang hilang tapi dua orang yang sangat dicintainya.
“Apa perkataan orang itu bisa dipercarya?” tanya Mr. Julian menoleh pada Sean, dia mencoba untuk tenang.
__ADS_1
“Entahlah. Aku memintanya untuk memberitahukan dimana jasad Lorena,” ucap Sean.
Mr.Julian terdiam, matanya sudah berkaca-kaca. Apa benar purtiya meninggal?
“Aku akan mengirim orang untuk memastikan kebenaran keterangan napi itu, setelah itu kita cari orang-orang suruhannya,” kata Mr.Julian.
Sean mengangguk tanpa bicara apa-apa. Dia juga bingung karena harus mencari Lorena.
Tiba-tiba terdengar tangisannya Mommynya Lorena yang baru siuman. Mr.Julian langsung menghampiri.
“Sayang, kau harus tenang,” kata Mr.Julian sambil memeluknya.
“Bagaimana aku bisa tenang, putrku diculik dan dihabisi penculik itu?” teriak Mommynya Lorena disela isak tangisnya.
“Selama kita belum menemukan jasadnya, kemungkinan putri kita masih hidup, kau bersabarlah, berdoa untuk keselamatan putri dan cucu kita,” kata Mr. Julian.
Mommynya Lorena menoleh pada Sean.
“Semua karena kesalahanmu! Aku tidak terima! Aku tidak akan mengijinkan Lorena bersamu lagi! Tidak akan!” teriaknya dengan marah.
Dimaki-maki begitu Sean hanya terdiam, hatinya sangat sedih, bukan keinginannya membuat Lorena dalam kesulitan. Diapun tidak bisa memaafkan dirinya jika terjadi hal buruk yang menimpa Lorena dan bayinya.
Mommynya Lorena menatap suaminya.
“Temukan putriku bagaimanapun caranya, bawa dia pulang ke London, dia tidak boleh tinggal disana lagi!” kata Mommynya Lorena.
Mendengar perkataan ibu mertuanya Sean ingin menyela tapi Mr,Julian mengangkat tangannya supaya Sean diam, akhirnya Seanpun diam.
Mr.Julian menatap istrinya yang terus menangis.
“Aku akan ikut bersama Julian mencari Lorena. Kau tinggal saja disini, jangan banyak fikiran, kau harus yakin putri kita baik-baik saja,” hibur Mr.Julian. Mommynya Lorena menoleh lagi pada Sean.
“Seharusnya aku tidak menginjinkannya menikah denganmu! Dari awal kau sudah banyak membawa masalah pada putriku!” makinya lagi.
“Aku minta maaf,” ucap Sean.
“Aku tidak akan memaafkanmu kalau terjadi apa-apa dengan putri dan cucuku! Kau harus berpisah dengan putriku!” kata Momynya Lorena.
“Jangan begitu Mommy, aku sangat mencintai putrimu, apalagi kami akan memiliki anak. Aku akan berusaha mencarinya sampai ketemu,” ucap Sean, dengan hati yang gelisah. Tidak bisa terbayangkan kalau dia harus berpisah dengan Lorena dan anaknya.
Mommynya Lorena tidak bicara lagi, dia kembali menangisi putrinya.
Mr. Julian menolah pada Sean.
“Aku ikut denganmu, kita cari putriku,” ucap Mr. Julian.
__ADS_1
Sean hanya mengangguk.
**************