Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-51 Pesta topeng ( part 2 )


__ADS_3

Sean merasa tidak nyaman saat Lorena mengatakan kalau Henry akan menemuinya. Dia tidak ingin gadisnya berkenalan dengan pria lain.


Terdengar suara MC yang mengumumkan Vera bertunangan dan akan bertukar cincin.


“Ternyata dia bertunangan malam ini,” kata Lorena melihat kearah Vera yang sedang diberi cincin oleh tunangannya. Sean mengalihan pandangannya kearah acara.


 Terdengar tepuk riuh yang hadir setelah mereka bertukar cincin. Apalagi diakhiri dengan sebuah ciuman, membuat suasana semakin hingar bingar. Lorena ikut tersenyum melihatnya, dia senang temannya sudah mendapatkan pasangan hidupnya. Tidak disadarinya pria disampingnya yang menatapnya. Dalam hatinya Sean, dia juga ingin menyematkan cincin dijari gadis disampingnya itu.


Sean merasakannya kondisi badannya mulai tidak nyaman, harusnya dia istirahat tapi memaksakan diri untuk mendampingi gadisnya supaya tidak berkenalan dengan Henry.


“Kau juga ingin seperti temanmu?” tanya Sean.


“Semua wanita menginginkannya, tentu saja sebuah cincin dari pria yang mencintainya,” jawab Lorena, tanpa menoleh pada Sean.


Lorena  masih tersenyum melihat kearah acara, pasangan yang bertunangan itu mulai berdansa dilantai dansa, hanya mereka berdua yang disorot lampu lighting, sedangkan diseluruh ruangan itu dibuat termaram, membuat semua mata tertuju pada pasangan yang sedang berdansa itu.


Sean terdiam, dia berfikir entah kapan dia bisa memberikan sebuah cincin buat Lorena. Mungkin disaat pengumuman perayaan hasil kontes menjad istri Presdir, dia akan melakukannya.


“Kau suka berdansa?” tanya Sean.


“Tidak,” jawab Lorena sambil tersenyum.


Merekapun kembali melihat pasangan yang bertunangan itu berdansa. Sekarang beberapa pasang yang hadirpun ikut berdansa.


Seorang pria baru memasuki ruangan, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Karena cahaya ruangan temaram dan hanya menyorot lantai dansa, dia tampak kesulitan mencari seseorang yang kata sepupunya akan hadir di acara pesta topeng itu. Sepupunya hanya memberinya kabar gadis yang akan ditemuinya memakai gaun berwarna biru. Dicarinya gadis yang memakai gaun  biru.


Sean melihat minuman di gelas Lorena sudah habis. Diapun berinisatif mengambilkan minuman buat Lorena.


“Maaf aku tinggal sebentar,” kata Sean, tanpa menunggu jawaba Lorena, Sean meninggalkannya dan menju meja jamuan.


Saat berada di meja jamuan, dia memilih minuman yang tadi Lorena minum. Diambilnya satu gelas buat Lorena dan satu gelas lagi untuknya.


Terdengar tidak jauh darinya, suara seorang pria berbicara dengan seorang gadis bergaun biru.


“Apa kau Lorena?” tanya pria  yang juga memakai topeng itu.


“Maaf, bukan, kau siapa?” jawab gadis bergaun biru itu.


“Maaf salah orang, aku mencari gadis yang bernama Lorena,” kata pria itu, lalu diapun pergi dan kembali mencari-cari keberadaan Lorena.


Sean yang mendengar pria itu menyebut nama Lorena, menjadi gelisah, sepertinya pria itu yang bernama Henry. Dia harus mencegah Henry supaya tidak bertemu dengan Lorena, tapi bagaimana caranya?


Buru-buru Sean pergi menghampiri Lorena, tidak jadi membawakan minuman itu.


Dilihatnya Henry semakin mendekati keberadaan Lorena, Sean terus berfikir untuk membawa Lorena jauh dari Henry.


“Apa kau mau berdansa denganku?” tanya Sean, membuat Lorena terkejut. Dia yang sedang asyik melihat kelantai dansa yang semakin ramai pasangan yang melantai, jadi menoleh pada Sean.


“Kau mengajakku berdansa?” tanya Lorena dengan ragu, dia tidak begitu mengenal pria yang dianggapnya Henry itu.


Sean melihat Henry semakin mendekati mereka. Seorang pelayan pesta melewati mereka dengan sebuah nampan yang berisi minuman. Sean mengambil gelas dari tangan Lorena dan disimpan dinampan pelayan itu.


Setelah itu Sean cepat-cepat mengulurkan tangannya pada Lorena mengajaknya berdansa. Sejenak Lorena ragu-ragu hanya menatap tangan Sean, lalu menatap wajah bertopeng itu.

__ADS_1


Sean menganggukan kepalanya, mengajaknya kembali. Akhirnya Lorena mengulurkan tangannya menyambut tangannya Sean. Pria itu tersenyum. Sejenak Lorena tertegun, kenapa dia merasa pernah melihat senyum dibibir itu? Sean melihat lagi kearah Henry yang semakin dekat, pria itu mengedarkan pandangannya ke sekitarnya mencari gadis berbaju biru yang bernama Lorena.


Sean menarik tangan Lorena manuju lantai dansa, melewati beberapa orang yang hanya berdiri mengobrol sambil melihat ke arah lantai dansa.


Berada di lantai dansa yang disorot lampu itu, terasa membuat Lorena canggung. Apalagi dengan Pria bertopeng yang baru dikenalnya. Terdengar music kembali mengalun dengan lagu baru.


Sean meraih pinggang Lorena dengan tangan kirinya, dia menariknya supaya lebih dekat ketubuhnya. Lagi-lagi Lorena merasa sesuatu yang berbeda saat tubuhnya dekat dengan pria bertopeng itu. Apakah dia terpesona dengan pria itu? Pria yang baru dikenalnya? Apa benar baru dikenalnya? Kenapa dia merasa seperti mengenal pria ini?


Tangan kanannya digenggam pria yang disangkanya bernama Henry itu. Genggaman pria itu terasa begitu kuat tapi lembut terasa di jemari tangannya. Kenapa baru bertemu dengan pria ini rasanya begitu intim?


Mereka mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan mengikuti irama, begitu juga dengan yang lain, music terus mengalun dance romantic.


Sean menatap wajah cantik didepannya yang sedikit menengadah kearahnya karena dia lebih tinggi dari gadis itu. Lorena merasakan pelukan tangan pria itu terasa erat. Tapi dia tidak merasa kalau pria itu agresif, dia merasa pelukan yang berbeda dari cara pria itu memeluk pinggangnya. Tidak ada yang mereka ucapkan hanya saling tatap dan fikiran mereka yang berbicara masing-masing.


“Kau suka berdansa?” tanya Sean, akhirnya bicara.


“Tidak, aku hanya sesekali saja belajar, aku lebih suka music,” jawab Lorena.


Sean memutar pegangan tangannya, menyusupkan jemarinya di antara jari-jari tangannya Lorena, terasa jemari gadis itu begitu halus dan lembut.


Lorena menatap mata pria yang sepertinya tidak berkedip menatapnya. Sepasang mata dibalik topeng itu, dia merasa sering melihat mata itu, apakah dia mengenal pria ini? Tidak mungkin.


Henry yang merasa lelah mencari-cari Lorena, matanya beralih ke lantai dansa, dan dia melihat seorang gadis bergaun biru yang sedang berdansa dengan seorang pria.


Diapun mengerutkan keningnya, apa mungkin yang bernama Lorena itu gadis yang sedang berdansa itu? Siapa pria itu? Kata sepupunya Lorena tidak memiliki pacar dan sedang mencari pendamping, sepertinya itu temannya Lorena saja yang diundang juga oleh sepupunya, fikirnya. Henry menghentikan langkahnya dan melihat kearah lantai dansa.


“Kenapa Vera ingin mengenalkanmu padaku?”tanya Lorena pada Sean.


“Apa benar kau sedang mencari seorang wanita untuk kau jadikan istri?” tanya Lorena lagi.


Ditanya begitu, bukan seorang Henry yang bicara tapi Sean yang menjawab.


“Iya, aku mencari seorang wanita untuk menjadi istriku,” jawab Sean dengan jujur, dari lubuk hatinya.


Lorena tidak menjawab, kenapa hatinya manjadi gelisah begini? Kenapa dia merasa Sean yang sedang bicara dengannya? Tangan pria itu juga terasa lebih hangat.


“Bagaimana denganmu?” tanya Sean. Dia ingin tahu jawaban Lorena kalau seandainya ada pria lain yang bertanya seperti itu.


“Aku..ah tidak, aku tidak terlalu ngotot harus mendapatkan seorang suami secepatnya,” jawab Lorena.


Ada rasa senang dihati Sean, berarti kalau seandainya dia adalah Henry, Lorena secara halus tidak memberi harapan pada Henry. Hatinya sedikit lega.


“Kenapa kau bicara begitu? Apa karena kau sudah menyukai oranglain? Apa kau sudah punya pacar?” tanya Sean. Pelukannya terasa begitu erat bagi Lorena, sampai tubuhnya menempel ditubuh pria itu.


“Entahlah, aku tidak tahu,” jawab Lorena, kini gerakan dansanya menjauhkan tubuhnya dari Sean dan dia memutar tubuhnya, tangannya masih dipegang oleh Sean.


Sepasang mata itu tidak berkedip menatapnya. Dia tersenyum, dia langsung saja merasa yakin kalau gadis itu adalah Lorena, dan ternyata Lorena itu sangat cantik, dia merasa yakin kalau gadis itu lebih cantik saat topengnya dibuka nanti.


“Henry!” panggil seseorang menepuk bahunya Henry.


“Kau baru datang?” tanya pria yang menepuk bahunya Henry itu.


“Iya Roy,” jawab Henry melirik sebentar pada pria yang mendekatinya itu lalu matanya kembali memperhatikan Lorena. Dia merasa tertarik untuk mengajak Lorena berdansa.

__ADS_1


“Kau suka pada gadis itu?” tanya Roy.


“Dia sangat cantik, bukan?” tanya Henry, matanya tidak berkedip saat melihat Lorena kembali dipeluk Sean.


“Apa itu pacarnya?” tanya Roy.


“Aku rasa bukan. Aku datang kesini karena aku akan dikenalkan dengannya oleh Vera,” jawab Henry.


“Kau benar, dia sangat cantik,” ucap Roy saat melihat Lorena kembali memutar tubuhnya didepan Sean.


Gaun birunya Lorena terlihat memutar, memperlihatkan kakinya yang indah dengan sepatu talinya yang semakin mepercantik kakinya. Henry tidak melepaskan pandangannya, dia juga ingin berdansa dengan gadis cantik itu.


Roy menyodorkan segelas minuman kepada Henry.


Henry menatap gelas minuman itu.


“Apa ini?” tanya Henry.


“Sebagai pertanda pertemuan kita,” kata Roy, sambil tersenyum.


“Aku tidak boleh mabuk, aku tidak mau mulutku bau alcohol saat bicara dengan gadis itu,” kata Henry.


“Hanya sedikit saja, kau jangan menolak, ini tidak akan membuatmu mabuk,” kata Roy.


Henry menatap gelas yang disodorkan oleh Roy itu.


“Ayolah, kau kan baru datang,” kata Roy lagi, akhirnya Henry mengambil gelas itu, Roypun tertawa.


“Minumlah, aku akan keluar sebentar,” kata Roy, sambil meninggalkan Henry.


Henry masih menatap gadis yang sedang bedansa itu, semakin lama dia semakin tertarik pada Lorena, gadis itu terlihat begitu cantik saat berdansa. Di minumnya sedikit minuman digelas itu. Diapun kembali melihat ke lantai dansa. Dia melihat Sean memeluk pinggang Lorena dengan erat.


Kini music dansa sangat slow. Beberapa pasangan yang berdansa berpelukan. Henry kembali minum minumannaya, tidak terasa saat mataya terus tertuju pada kecantikanya Lorena seteguk demi seteguk minuman dalam gelasnya habis.


Lorena tampak ragu dengan gerekan slow seperti ini. Itu artinya dia akan semakin dipeluk pria itu dan kepalanya berada disamping pria itu. Sean seperti mengerti apa yang difikirikan Lorena.


 Dengan lembut dia menyusuri punggung Lorena perlahan meraih pinggangnya, membuat tubuh gadis itu semakin dekat padanya. Perlahan tubuhnya Lorena berada di pelukannya. Ada perasaan yang berbeda  yang Lorena rasakan saat berada dalam pelukan pria itu. Jantungnya mendadak berdetak lebih kencang, apa ini? Kenapa dia merasakan seperti itu pada pria asing yang baru ditemuinya.


Lorenapun seakan bisa merasakan detak jantung pria yang sedang memeluknya. Rasanya risih berdansa dengan gerakan seperti ini, seharusnya gerakan memeluk begini hanya untuk pasangan yang sedang jatuh cinta.


Sean merasa bahagia dia bisa memeluk gadis ini meskipun hanya sebuah tarian dansa. Inginnya dia bisa memeluknya sebagai kekasih yang dicintainya. Ingin rasanya dia mengungkapkan perasaannya kalau dia mencintainya, tapi bibirnya benar-benar tidak kuasa untuk mengatakannya.


Lorena merasakan pelukannya Sean lebih erat. Dia merasa bingung, kenapa dia merasa tidak asing berada dalam pelukan pria itu? Kenapa dia merasa nyaman dipeluk pria yang baru dikenalnya? Apa dia menyukai prai ini? Kenapa dia merasa dia seperti mengenal pria ini?  Ada yang berbeda yang membuat Lorena mengerutkan keningnya, dia merasa tubuh pria ini lebih hangat dari ukuran kehangatan normal seseorang. Apa pria ini sedang sakit?


*********************


Readers, covernya ganti lagi, dibuatin sama manga, ada tulisan Noveltoon nya dibawah.


My Secretary juga covernya dibuatkan manga saal awat kontrak dulu.


Editornya tahu kalau RR Maesa tidak sempat nyari cover bagus hehehe…


Maaf ya baru up, authornya ada perjalanan keluar kota.

__ADS_1


__ADS_2