
Sean menatap Lorena, dengan hati harap-harap cemas karena Lorena hanya diam saja menatapnya. Lorena heran kenapa Sean melamarnya saat pemenang kontes belum diumumkan? Apa maksudnya? Apa Sean takut dia kalah? Kalau dia kalah terus bagaimana dengan pemenangnya? Pemenangnya akan menikah dengan Sean bukan? Maksudnya apa ini?
“Sean, sebenarnya..” Lorena akan bicara banyak, tapi dia tidak mungkin bicara di atas panggung seperti ini. Apalagi yang hadir sudah begitu ramai memberi dukungan supaya dia menerima cintanya Sean.
Nisa yang melihat Sean melamar Lorena semakin terbakar hatinya. Dia benar-benar kesal usahanya gagal. Sudah jelas-jelas pemenangnya adalah Lorena. Belum diumumkan saja, Sean sudah berani melamarnya.
“Terima! Terima!” terdengar suara hadirin berteriak teriak.
“Maukah kau menikah denganku?” ulang Sean, kini keningnya berkeringat, hatinya sangat gelisah, karena Lorena belum juga menjawab iya.
“Apa kau ingin aku menolakmu?” tanya Lorena.
“Jangan!” ucap Sean, terkejut dengan pernyataan Lorena.
“Jangan menolakku,” ucap Sean. Terdengar suara hadirin yang semakin riuh. Lorena terdiam, kini ruangan mendadak hening saat MC 1 mengacungkan tangannya keatas supaya hadirin jangan berisik.
Sean menetap Lorena, penuh harap.
“Aku akan menjawabnya tapi setelah ini aku butuh penjelasan darimu,” kata Lorena.
Sean agak terkejut mendengar perkataan Lorena.
“Kalau kau bersedia menjawab pertanyaanku setelah ini di backstage, aku akan menjawab lamaranmu sekarang atau aku tidak akan menjawabnya,” kata Lorena.
Sontak saja hati Sean gelisah, kenapa Lorena menjawab lamarannya harus ada syarat segala?
“Baiklah, aku bersedia dengan syaratmu asal kau jangan menggantung diriku, aku butuh jawabannya sakarang,” ucap Sean
Terdengar lagi hiruk pikuk penonton.
“Terima! Terima! Terima!” teriak yang hadir.
“Baiklah aku akan menjawab sekarang,” ucap Lorena, terdiam sejenak. Sean menahan nafasnya, jantungnya berdebar semakin kencang tidak sabar dengan jawabannya Lorena.
“Aku menerima lamaranmu!” ucap Lorena.
Senyum bahagia mengembang di bibirnya Sean, diapun cepat-cepat berdiri, semua hadirin bertepuk tangan dengan bahagianya.
Sean melangkah lebih dekat pada Lorena.
“Sayang, aku sangat mencintaimu, aku senang kau mau menerima lamaranku,” ucap Sean.
Tiba-tiba MC bicara di micnya.
“Cepat pasang cincinnya!” serunya, diikuti riuh suara penonton.
Sean menatap Lorena lagi yang juga menatapnya. Diambilnya cincin didalam kotak itu dan menyimpan kotaknya dalam sakunya. Tangan kirinya meraih tangan kirinya Lorena lalu memasukkan cincin itu dijari manisnya. Penonton bersok sorak gembira.
“Aku mencintaimu,” ucap Sean, setelah cincin itu terpasang dijari manisnya Lorena.
Tangannya mengulur memeluk Lorena lalu mencium keningnya. Dia sangat bahagia sekali malam ini. Segala usahanya ternyata tidak sia-sia, akhirnya dia mendapakan pujaan hatinya.
Setelah mencium kening Lorena, Sean tidak mau melepas pelukannya lagi, seakan-akan dia takut Lorena akan pergi jauh darinya.
Sam tampak tersenyum bahagia, dia ikut senang melihat Sean bahagia dan tidak galau lagi dengan jodohnya, tinggal dirinya, diapun belum mendapat jodoh. Kira-kira siapa yang akan jadi jodohnya? Apa dia mau pedekate pada salah satu peserta? Terlalu sibuk memikirkan jodohnya Sean, jodohnya sendiri tidak terfikirkan, diapun baru tersadar kalau dia sekarang adalah jomblo.
Terdengar lagi sorak sorai penonton, mereka ikut bahagia dengan diterimanya lamaran Sean. Akhirnya MC mengumumkan acara sudah selesai dilanjut dengan hiburan dari artis-artis ibukota.
__ADS_1
Indri dan teman-temannya menghampri Lorena dan Sean untuk memberi selamat.
“Berarti kau jangan menang besok karena Presdir Sam jatah untukku,” kata Indri.
Evi dan Salsa langsung protes. Mereka malah memperebutkan Sam.
Lorena hanya tertawa melihat mereka, tiba-tiba Sean menarik tangannya menjauh dari stage karena artis artis akan tampil sekarang.
Nisa marah-marah sambil meninggalkan panggung. Bela hanya diam saja mengikuti langkahnya.
“Aku heran, kenapa wanita itu bisa mendapatkan baju ganti? Aku kesal, Sean malah melamarnya padahal kontes belum usai, tapi lihat saja, perjuanganku belum selesai, ada hari terakhir yang semuanya akan berubah,” kata Nisa.
Bela tidak menjawab, dia terus mengikuti Nisa masuk keruangan peserta tadi untuk mengambil tasnya.
Sean dan Lorenapun masuk keruang peserta. Tiba-tiba terdengar teriakan dari peserta yang begitu heboh.
“Laki-laki tidak boleh kesini!” teriak mereka. Karena sebagian ada yang akan berganti pakaian. Wajah Sean langsung saja merah mendapat makian dari gadis-gadis.
“Cepatlah kau berganti pakaian, atau mereka akan membunuhku,” ucap Sean, sambil buru-buru keluar dari ruangan itu, dijawab anggukan Lorena.
Lorena melihat Nisa dan bela juga keluar ruangan sambil marah-marah. Diapun melihat pada baju yang dipakainya, mungkin akan ada waktu nanti dia akan mengembalikannya pada Bela.
Setelah berganti pakaian, Lorena keluar ruangan peserta itu, ternyata Sean sudah menunggunya diluar, di depan ruangan yang digunakan acara music yang masih berlangsung.
“Kau sudah selesai?” tanya Sean, saat Lorena menghampirinya. Dia langsung mengambil tasnya Lorena, merekpun berjalan menuju mobilnya Sean.
“Kita akan kemana sekarang?” tanya Sean, sambil membuka bagasi menyimpan tasnya Lorena.
Lorena masih berdiri menatapnya. Sean menutup bagasi lalu melangkah mendekatinya.
“Terserah kau saja,” jawab Lorena.
Sean bertanya-tanya dalam hati apa yang akan ditanyakan Lorena di backstage. Kenapa harus ada pertanyaan setelah lamarannya?
Saat melewati taman kota yang terlihat tidak terlalu ramai, tampak muda mudi ada yang sedang berdua-duaan, Sean membelokkan mobilnya kearah sana.
Menghentikan mobilnya tidak jauh dari sebuah kursi taman dipinggiran jalan taman itu. Diapun turun diikuti Lorena.
Ternyata pemandangan ditaman itu lumayan indah, pohon-pohon dihias dengan lampu-lampu kecil berkeliling.
Lorena duduk dikursi taman itu diikuti oleh Sean. Belum ada yang bicara. Semuanya diam. Angin malam itu berhembus kencang terasa sangat dingin.
Sean membuka jasnya, dipakaikan pada Lorena.
“Jasmu akan habis jika selalu kau pakaikan padaku,” kata Lorena.
“Aku punya lebih banyak lagi jas, kau jangan khawatir,” jawab Sean menatap gadis pujaan hatinya itu. Lorenapun menatapnya.
“Ada yang ingin kau tanyakan padaku?” tanya Sean.
“Ya, aku harap kau menjawabnya dengan jujur,” jawab Lorena.
“Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Sean.
“Apa yang kau sembunyikan dariku?” tanya Lorena, membuat sean terkejut, belum mengerti arah dari pertanyaannya Lorena.
“Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Sean.
__ADS_1
“Kau hanya perlu menjawabnya,” jawab Lorena, matanya masih menatap matanya Sean.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu,” ucap Sean.
“Aku hanya bertanya apa ada yang kau sembunyikan dariku? Aku ingin kau jujur. Kau malam ini melamarku tapi kau tidak jujur padaku maka aku akan melepas cincin ini,” kata Lorena, merentangkan jari tangannya. Sean buru-buru menggenggam tangannya Lorena.
“Jangan, jangan membuatku patah hati,” kata Sean. Matanya kini menatap Lorena.
“Ada yang aku sembunyikan,” ucap Sean. Lorena menatapnya tanpa bicara.
“Sebenarnya kontes itu aku yang menyelenggarakan, aku yang sedang mencari calon istri, Presdir yang dimaksud dalam kontes itu adalah aku, bukan Sam,” ucap Sean. Lorena terdiam, masih menatap matanya Sean, dia tidak terkejut kaena dia sudah tahu dari Bela.
Sean menggenggam kedua tangan Lorena, ditempelkan didadanya.
“Aku tidak bermaksud membohongimu, sedari awal memang aku merencanakan ini, karena aku ingin menemukan cinta sejatiku lewat kontes ini. Dan aku sudah jatuh cinta padamu,” lanjut Sean.
“Aku benar-benar mencintaimu,” ucap Sean lagi, kemudian mencium tangannya Lorena. Lalu menatap cincin yang ada dijari manisnya Lorena.
“Jangan pernah melepas cincin ini, aku tulus mencintaimu,” lanjut Sean.
Lorena masih diam.
“Aku ingin menikah denganmu, secepatnya,” kata Sean lagi. Lalu diapun diam.
“Hanya itu?” tanya Lorena, masih menatap Sean. Pria tampan itu mengangguk.
“Jadi itu alasanmu aku harus tetap ikut kotes?” tanya Lorena.
“Ya, karena aku ingin kau menang, aku ingin menikah denganmu,” jawab Sean.
“Kau mengikutiku pulang kampung, berpura-pura ada bisnis dengan temanmu, itu semua bohong?” tanya Lorena.
“Iya aku minta maaf, aku mengikutimu pulang kampung, aku mengikutimu ke pesta, aku takut kau tidak kembali ke ibukota dan tidak mengikuti kontes lagi,” jawab Sean.
Lorenapun terdiam lagi.
“Kau mau memaafkanku kan? Aku tidak berniat buruk padamu, aku hanya tidak mau kehilanganmu,” kata Sean.
Lorena masih diam.
“Kau marah padaku?” tanya Sean, hatinya benar-benar gelisah, dia takut Lorena marah dan melepas cincin yang tadi dipasangnya.
“Sebenarnya aku tidak suka kau bohongi,” jawab Lorena.
Sean tambah cemas saja, dia gelisah bukan main. Matanya tidak lepas dari menatap Lorena.
“Tapi, mengingat kau sangat baik padaku, dan sepertinya kau juga tulus mencintaiku, aku mau menikah denganmu,” kata Lorena. Hati Sean berbunga-bunga mendengarnya.
“Bukan karena kau Presdir, tapi karena aku melihat ketulusan dihatimu,” lanjut Lorena. Sudah tidak bisa digambarkan bagaimana bahagianya Sean.
Dia langsung memeluk Lorena dengan erat, mencium keningnya.
“Aku tidak mau kehilanganmu,”ucap Sean.
Lorena balas memeluk Sean.
“Aku akan secepatnya melamar pada orang tuamu,”lanjut Sean.
__ADS_1
Lorena hanya mengangguk dalam pelukannya Sean. Angin yang berhembus dingin tidak dirasakannya lagi tergantikan rasa hangat dari tubuhnya Sean.
***********