
Pagi itu Lorena keluar dari kamar mandi. Suaminya langsung memberondong dengan pertanyaan.
“Positif?” tayanya dengan wajah yang berharap sangat.
Lorena menggeleg dengan lesu menyimpan tespack itu diatas meja rias.
“Jangan khawatir, masih ada hari esok. Kita juga nanti sore ada jadwal dengan Dokter Ramli, nanti aku jemput. Aku berangkat dulu bekerja,” kata Sean.
Lorena tidak menjawab, dia membuka lemari pakaiannya, tiba-tiba dia teringat sesuatu.
“Sayang, hari ini aku keluar bolehkah?” tanya Lorena, sambil menoleh pada Sean.
“Kau mau kemana?” tanya Sean.
“Aku ingin mengembalikan baju pengantin milik Bella. Sepertinya bajunya masih ada di ruamh kontrakanmu,” jawab Lorena.
“Bella?” tanya Sean mengerutkan keningnya.
“Iya, yang meminjamkan baju pengantin saat kontes itu,” jawab Lorena.
“Baiklah,” jawab Sean. Lorena tersenyum menatap suaminya.
“Ayo antar aku ke depan, aku mau berangkat,” ajak Sean sambil mengulurkan tangannya pada Lorena yang langsung meraih tangannya.
Merekapun keluar dari kamar itu. Sesampainya diruang tengah mereka bertemu dengan ibunya Sean, yang akan lewat keruang kejanya dengan beberapa orang tamu.
Sean tidak bicara apa-apa, dia tidak mengenal siapa tamu-tamu itu.
“Sayang, aku berangkat dulu, nati sore bersiap-siap saja, kita ke Dokter Ramli,” kata Sean. Lorena mengangguk.
Setelah Sean pergi, Lorena mencoba menghubungi Bella. Dia mencari-cari nomor Bella bertanya pada Sam yang menyambungkannya dengan panitia kontes.
“Kau mau bertemu denganku? Boleh. Kita bertemu di loby kantorku saja,” kata Bella.
“Kau bekerja sekarang? Apa aku tidak mengganggumu?” tanya Lorena.
“Tidak, datanglah! Ini alamat kantorku,” jawab Bella sambil menyebutkan sebuah alamat, Lorena segera mencatatnya.
Setelah mendapat alamat dari Bella, Lorena segera berangkat diantar supir keluarganya Sean, ke rumah kontrakannya dulu untuk mengambil bajaunya Bella setelah itu mencari alamat Bella bekerja.
Alamat yang diberikan Bella cepat ditemukan karena supir mengetahui lokasi jalanan dikota dan ternyata lokasinya tidak jauh dari kantornya Sean.
“Ini arah ke kantornya Pak Sean Bu,” kata Pak Supir.
“Benarkah? Mana kantornya?” tanya Lorena, terkejut.
“Itu kantornya Pak Sean, gedung yang didepan sana,” jawab supir.
__ADS_1
“Nanti setelah bertemu dengan temanku, antar aku ke kantornya Pak Sean,” kata Lorena.
Setelah mobil parkir di depan Loby, Lorena turun, sedangkan Pak supir memarkir mobilnya yang diarahkan oleh Pak Satpam ke lokasi parkiran.
Lorena masuk kedalam gedung dan berbicara dengan receptionis. Diapun menunggu Bella di ruang tunggu di loby. Ruangan itu begitu ramai hilir mudik karyawan yang keluar masuk, mereka terlihat sangat sibuk.
“Halo!” tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Lorena menoleh pada arah suara, ternyata Bella sudah berdiri menatapnya.
“Kau menunggu lama?” tanya Bella, sambil duduk disalah satu sofa itu.
“Kau bekeja disini?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Bella.
Lorena mengambil kantong yang ada di sampingnya lalu diberikan pada Bella.
“Aku mengembalikan baju pengantinmu itu, terimakasih kau sudah meninjamkannya. Aku minta maaf baru mengembalikannya,” kata Lorena.
“Tidak apa-apa, aku senang aku bisa membantumu. Aku dengar kau sudah menikah dengan Pak Sean,” kata Bella, sambil menerima kantong itu tapi dia simpan lagi diatas meja didepannya.
“Iya, sekitar dua bulan yang lalu,” jawab Lorena.
Bella menatapnya lekat-lekat, membuat Lorena keheranan.
“Ada apa? Apa aku terlihat berbeda?” tanya Lorena.
“Oh ya kau tahu dari mana aku sudah menikah dengan Sean? Padahal aku tidak mengadakan resepsi di kota ini?” tanya Lorena, keheranan.
“Dari Nisa,” jawab Bella. Tapi dia masih menatap Lorena seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Lorena.
Bella terdiam sebentar, barulah bicara.
“Aku tidak tahu apakah ini baik atau tidak, cuma yang pasti Nisa kalau tahu aku membocorkannya, dia tidak mau berteman denganku lagi,” kata Bella. Membuat Lorena terkejut dan menatap Bella.
“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Lorena.
Bella masih menatap Lorena.
“Baiklah aku akan cerita, aku merasa kasihan padamu,” kata Bella.
“Soal apa?” tanya Lorena, tidak sabar.
“Nisa membuat kecurangan lagi,” jawab Bella.
“Curang? Apalagi?” tanya Lorena.
__ADS_1
“Ayahnya Nisa meminta Dokter untuk memalsukan hasil tes kesuburanmu, dia sengaja ingin Pak Sean meninggalkanmu,” jawab Bella, membuat Lorena terkejut.
“Apa? Ayahnya memalsukan hasil tesku?” tanya Lorena terkejut.
“Iya, ayahnya berkerja sama dengan Dokter yang ada dirumah sakit yang bekerjasama dengan keluarganya Pak Sean,” jawab Bella.
Lorena benar-benar merasa tidak percaya ternyata Nisa dan ayahnya bisa berbuat sejahat itu padanya. Dia terbengong saking kagetnya.
“Jadi Nisa dan ayahnya sampai melakukan sejahat itu demi menikah dengan Sean?”tanya Lorena masih tidak percaya.
“Ayahnya Nisa itu dendam karena Pak Sean yang mengeluarkannya dari tim pengacara keluarganya, membaut namanya tercoreng dan kesulitan dapat kasus besar, jadi berencana untuk menikahkan Nisa dengan Pak Sean,” jawab Bella.
Entah harus mengucapkan terimakasih pada Bella bagaimana lagi, kabar ini sungguh membahagiakannya.
“Ternyata surat tes itu palsu? Dan aku bisa punya anak?” gumam Lorena dengan mata yang berkaca-kaca, seketika dia merasa bersemangat lagi. Dia memegang perutnya sambil menatap Bella.
“Kau tahu, aku sangat sedih mendapatkan hasil itu, aku hampir meninggalkan Sean, tapi Sean sangat mencintaiku, dia mau menerimaku apa adanya. Hanya saja ibunya masih mengharapkan wanita yang bisa memberinya cucu secepatnya,” kata Lorena.
“Maaf aku baru memberitahumu sekarang, karena tadinya aku tidak akan ikut campur urusannya Nisa. Ya walau bagaimanapun dia temanku,” kata Bella.
“Ya aku mengerti. Aku sangat berterimakasih kau sudah memberitahuku,” jawab Lorena sambil memegang tangannya Bella.
“Kau tidak sedang hamil sekarang?” tanya Bella.
“Belum, aku belum hamil,” jawab Lorena.
“Tapi setidaknya kau tahu kalau kau baik-baik saja, kau bisa mempunyai anak. Hasil tesmu dipalsukan Dokter itu,” kata Bella.
Lorena menatap Bella lagi.
“Aku sangat berterimakasih Bella. Sebenarnya aku sudah putus asa, saat ibu mertuaku memaksa Sean untuk menikah dengan Nisa. Meskipun sekarang aku belum hamil, setidaknya aku tahu aku ada harapan memberikan keturunan buat Sean,” ucap Lorena. Diapun melirik jam di dinding yang ada diruangan yang luas itu.
“Aku sudah mengganggu waktumu, sebaiknya aku pulang,” kata Lorena.
“Tidak, aku senang bisa bertemu denganmu lagi,” ucap Bella.
“Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, aku benar-benar berterimakasih. Sepulang dari sini aku akan menemui suamiku, aku ingin memberitahukan kabar ini, aku sangat senang,” kata Lorena bersemangat.
“Iya, tapi tolong jangan beritahu Nisa soal informasi ini dariku,” pinta Bella.
“Kau tenang saja. Aku tidak akan melibatkanmu, yang penting aku merasa tenang sekarang dan tidak ketakutan Sean dipaksa menikah dengan wanita lain lagi,” jawab Lorena.
Bella hanya mengangguk sambil tersenyum, dia juga senang melihat Lorena bahagia. Kalau seandainya Nisa tahu dia yang membocorkannya, dia tidak peduli, mungkin ini saatnya juga pertemanannya dengan Nisa berakhir.
Setelah dari kantornya Bella, Lorena meminta supirnya untuk mengantarnya ke kantornya Sean. Dia tidak bisa menunggu lama lagi untuk menyampaikan kabar ini pada Sean.
************
__ADS_1