
Siang itu Nisa menemui ayahnya di penjara. Dia langsusng saja menangis begitu bertemu dengan ayahnya diruangan untuk berkunjung para napi itu.
“Kau kenapa?” tanya Pak Tedi, merasa kaget melihat putrinya menangis.
“Aku kesal, gara-gara ayah dipenjara, aku dijauhi teman-temanku, aku juga dicemooh karena tidak jadi menikah dengan Sean. Nasibku benar-benar sangat buruk,” keluh Nisa, sambil menghapus airmatanya.
“Ini semua gara-gara Sean, keluargaku jadi hancur!” gerutu Pak Tedi.
“Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah tidak lagi populer didepan teman-temanku, bahkan si Bella berani menghianatiku. Ternyata dia yang membocorkan rahasia pemalsuan hasil tes itu pada Lorena,” kata Nisa.
“Siapa? Jadi temanmu itu yang membocorkan semua ini?” Pak Tedi tampak terkejut.
Nisa mengangguk.
“Kenapa kau harus biara hal yang sangat rahasia pada temanmu itu?” bentak Pak Tedi, menjadi kesal pada anaknya.
“Ya aku fikir dia tidak akan membocorkannya, selama ini dia teman yang paling menurut,” kata Nisa.
“Kau benar-benar ceroboh! Lihat ayahmu sekarang! Walaupun aku bisa keluar dari penjara reputasiku sudah buruk, aku tidak bisa mendirikan firma hukum lagi! Mana ada yang percaya pada pengacara bekas narapidana?” maki Pak Tedi.
Nisa menatap ayahnya yang terlihat lebih kurus dan kotor sekarang. Tidak ada lagi pengacara terkenal yang memakai pakaian bagus dan penampilannya yang mentereng.
“Apa artinya kita akan jatuh miskin? Aku tidak mau miskin!” kata NIsa.
Pak Tedi tidak bicara lagi, dia hanya terdiam, memendam rasa marahnya yang meluap-luap.
“Aku bertemu dengan Nyonya Grace, aku memintanya untuk membebaskan ayah tapi dia malah menghardikku! Dia juga mengatakan kalau Lorena sedang hamil sekarang,” kata Nisa.
“Apa? Lorena hamil?” tanya Pak Tedi, sangat terkejut.
Nisa menganggauk.
Pak Tedi langsung menggebrak meja dengan kesal.
“Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! Aku tidak mau Sean mendapatkan warisan itu, setelaha apa yang dia lalukan padaku!”gerutu Pak Tedi.
“Aku juga tidak jadi menikah dengan Sean, pahal aku sudah memberitahu teman-temanku kalau aku akan menikah dengannya. Ternyata ada orangtua temanku yang datang ke resepsinya Sean dan Lorena, benar-benar membuatku malu,” keluh Nisa.
“Ada yang bisa kita lakukan,” kata Pak Tedi tiba-tia, membuat Nisa menatap ayahnya.
“Apa?” tanya Nisa.
“Buat bayi itu tidak pernah lahir,” jawab Pak Tedi.
“Apa maksud ayah?” tanya NIsa.
__ADS_1
“Istrinya Sean itu hamil muda kan?” tanya Pak Tedi.
“Aku tidak tahu pasti berapa usia kandungannya,” jawab Nisa.
“Buat dia keguguran!” kata Pak Tedi membuat Nisa terkejut.
“Apa? Membuatnya keguguran?” tanya Nisa.
“Iya, sekarang usia Sean masuk ke usia 29. Jadi saat usia 30 tahun bayi itu sudah lahir. Jadi buat istrinya keguguran, dia tidak akan bisa langsung hamil lagi. Kalaupun dia hamil lagi semuanya sudah terlambat,” kata Pak Tedi. Nisa tersenyum senang mendengar perkataan ayahnya.
“Tapi bagaimana caranya supaya bisa membuat Lorena keguguran?” tanya Nisa.
“Kau bisa menemui seseorang untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan. Tugasmu harus memastikan kalau Lorena memimum ramuan itu,” jawab Pak Tedi.
Nisa berfikir sejenak, sepertinya dia memang harus melakukan itu. Dia tidak mau melihat Lorena bersenang-senang bahagia dengan Sean. Seharusnya dari awal dia yang bisa menikah dengan Sean. Rencananya benar-benar berantakan gara-gara Lorena ikut dalam kontes itu.
Kalau Lorena keguguran bukankah itu bagus buatnya? Ny.Grace pasti akan membenci Lorena karena tidak bisa menjaga bayinya dan pastinya akan memikirkan untuk menikahkan Sean lagi, karena Lorena tidak akan bisa hamil secepatnya. Semua itu akan sangat meguntungkannya. Itulah masa-masanya gencar mendekati Ny.Grace lagi. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk menghindari kemiskinan orangtuanya selain berusaha menikah dengan Sean.
“Baiklah, aku akan menemui orang itu, aku juga akan memastikan Lorena meminumnya. Aku tidak sabar ingin melihat dia ditendang dari rumah itu. Semua usahaku sia-sia karena kedatangannya,” jawab Nisa, menatap ayahnya.
Pak Tedi hanya tersenyum dan mengangguk. Dia benar-benar merasa tanggung melakukan ini semu. Dia tidak mungkin membiarkan jalan Sean berjalan mulus sedangkan dia dipenjara dan masadepan keluarganya hancur.
************
Pagi-pagi Sean sudah mandi dan berpakaian rapih, dilihatnya istrinya masih saja berbaring.
Lorena yang berbaring hanya melirik dengan sudut matanya. Benar saja suaminya itu sudah berdandan rapih.
“Kalau mau berangkat-berangkat saja, aku tidak bisa mengantarmu ke teras,” kata Lorena.
“Kau kenapa? Apa kau sakit?” tanya Sean, mendekati istrinya, duduk dipinggir tepat tidur, disamping Lorena.
“Kepalaku hanya pusing saja dan aku merasa mual,” jawab Lorena.
Sean menyentuh tubuh istrinya yang berselimut.
“Apa kau ingin sesuatu?” tanya Sean.
“Entahlah aku tidak tahu, mulutku rasanya pahit dan sebal,” keluh Lorena.
“Semua buah-bauhan yang kau butuhkan sudah ada, aku panggilkan pelayan untuk membawakannya kesini,”kata Sean, dia akan bangun tapi Lorena menahannya dengan memegang tangannya Sean.
“Tidak, tidak usah, aku sudah melihat buah-buahn itu tapi aku tidak suka,” kata Lorena.
“Jadi kau mau apa? Aku jadi khawatir kalau begini. Aku baru mengalami punya istri yang hamil, aku bingung harus berbuat apa?” ucap Sean, mencondongkan tubuhnya mendekati tubuh istrinya yang masih berbaring. Kedua sikunya menahan tubuhnya diantara tubuhnya Lorena. Jemarinya membelai rambut Lorena.
__ADS_1
“Aku mandi tidak memakai sabun, apa kau masih menyebutku bau? Bahkan aku tidak memakai parfum,” ucap Sean, setelah wajahnya hanya beberapa senti diatas wajahnya Lorena yang menatap suaminya mendekatinya.
Lorena tertawa mendengar perkataan suaminya.
“Aku minta maaf kau harus melakukan itu,” ucap Lorena, tangannya mengusap wajahnya Sean, yang dibalas Sean dengan mencium tangannya saat jari itu menyentuh bibirnya.
“Daripada kau menjauhiku, aku memilih berbau-bau ria,” jawab Sean, diapun jadi tertawa. Seumur hidupnya tidak pernah membayangkan kalau dia akan mangalami mandi tanpa sabun juga tanpa parfum. Entah sampai kapan dia harus melakukan itu?
“Tapi kau sangat harum sekarang,” ucap Lorena, membuat Sean tersenyum menanggai sikap aneh istrinya.
“Bagaimana kabar bayi kita hari ini?” tanya Sean, sambil mencium bibir istrinya dengan lembut kemudian tangannya menyentuh perutnya Lorena.
“Dia baik-baik saja, hanya membuat ibunya sangat mual,” jawab Lorena, tangannya kembali menyentuh wajah suaminya.
“Kau pulang tidak terlambat kan?” tanya Lorena.
“Sebenarnya aku banyak pekerjaan, tapi demi istri dan bayiku, aku akan pulang cepat,” jawab Sean, kini mencium perut istrinya.
“Aku tidak sabar ingin melihat bayi kita lahir,” ucapnya, kembali mengusap-usap perut istrinya.
“Masih berbulan bulan lagi, masih lama,” jawab Lorena.
Sean kembali menatap Lorena.
“Kau ingin sesuatu? Katakan saja,” kata Sean.
“Entahlah, aku ingin sesuatu tapi aku juga tidak tahu apa,” jawab Lorena.
“Baiklah kalau begitu, kalau kau sudah ingat, telpon aku,” kata Sean, kembali mencium bibirnya Lorena juga perutnya.
“Aku berangkat, kau istirahat saja,”lanjutnya, mencium istrinya lagi kemudian bangun menjauh dari tubuh Lorena. Istrinya hanya membalasnya dengan anggukan.
Lorena kembali menarik selimutnya, mencoba beristirahat dengan tenang, mencoba menahan rasa mualnya yang semakin menjadi.
Hari semakin siang saat ada ketukan dipintu kamarnya.
“Non, ada tamu dibawah,” terdengar suara seorang pelayan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
“Tamu siapa?” tanya Lorena dengan malas.
“Non Nisa, katanya ada perlu,” jawab suara dibalik pintu itu.
Mendengar nama Nisa membuat Lorena terkejut, diapun langsung bangun. Ada apa Nisa menemuinya?
“Baiklah tunggu sebentar, nanti aku turun,” jawab Lorena. Dengan malas dia terpaksa bangun, karena dia penasaran untuk apa Nisa menemuinya? Diambilnya sweater yang menggantung di kapstok, lalu dipakainya. Setelah merapihkan rambutnya, Lorena segera keluar dari kamarnya, menuruni tangga lantai itu menuju ruang tamu.
__ADS_1
*************