Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-91 Pengakuan Earlangga


__ADS_3

Mr.Philip langsung menyediakan kursi roda yang sudah disediakan untuk digunakan dilantai bawah. Earlangga langsung mendudukkan Valerie disana dengan hati-hati, lalu berdiri menatap teman-temannya.


“Teman-teman, perkenalkan, ini istriku,” ucap Earlangga pada teman-temannya.


“Maaf, waktu malam itu aku tidak memperkenalkan istriku karena dia harus istirahat,” lanjut Earlangga, lalu membungkukkan badannya sambil meraih wajahnya Valerie supaya menghadapnya dan langsung mencium bibirnya dengan lembut.


Valerie terkejut dengan sikap Earlangga itu, apalagi dia menciumnya bukan dikening lagi tapi dibibirnya


disaksikan teman-temannya, rasanya wajahnya sudah merah dadu.


Teman-teman Earlangga tersenyum melihatnya.


Salah satu gadis cantik itu menghampiri Valerie.


“Hai, aku Prili, aku turut berduka cita,” ucap Prili, sambil mengulurkan tangannya.


Valerie menatap gadis cantik itu, yang dia irikan karena kecantikannya membuatnya minder, diapun membalas uluran tangannya Prili.


“Valerie,” jawabnya.


“Aku Jessica,” kata Jessica mengikuti apa yang dilakukan Prili, semua teman Earlangga menyalaminya satu satu.


Ada haru dihatinya Valerie. Dia tidak menyangka Earlangga akan berani memperkenalkannya pada teman-temannya itu.


“Aku sangat mencintai istriku,” ucap Earlangga, kembali menundukkan kepalanya dan mencium pipinya Valerie. Kemudian dirasanya tangan suaminya itu memeluk bahunya.


Bahagia rasanya Earlangga menunjukkan sayangnya di depan teman-temannya. Meskipun dia kalah cantik dari temannya itu tapi Earlangga tidak merasa minder ataupun malu.


“Kami semua turut berduka cita atas meninggalnya putra kalian,” kata salah satu temannya Earlangga.


“Terimakasih,” jawab Valerie, matanya kembali berkaca-kaca mengingat bayinya yang meninggal, rasanya hatinya  begitu hampa.


Tidak banyak yang dikatakan teman-temannya Earlangga, tidak lama mereka berbincang merekapun pulang.


Ny.Grace yang sedang duduk disofa yang lainnya sedang bercakap-cakap dengan tamunya Sean, merasa kesal karena Earlangga malah memperkenalkan Valerie pada teman-temannya.


Tidak berapa lama Earlangga masuk lagi setelah mengantar temannya pulang sampai teras. Diapun menghampiri Valerie lalu berjongkok didepannya.


“Teman-temanku baikkan?” tanya Earlangga sambil memegang tangannya Valerie dan menatapnya.


“Iya,” jawab Valerie, mengangguk.


“Aku tahu kau sangat sedih kehilangan Jordan, begitu juga denganku” jawab Earlangga.


“Tapi kita juga harus bisa menerima kenyataan,” ucap Earlangga.

__ADS_1


Valerie masih menatap pria yang ada didepannya itu.


“Sekarang Jordan sudah meninggal, apa kau akan meninggalkanaku?” tanyanya tiba-tiba.


“Kau ini bicara apa? Tentu saja tidak, sayang. Kau istriku, selamanya akan jadi istriku, kenapa aku harus meningggalkanmu?” ujar Earlangga membuat Valerie merasa bahagia mendengarnya.


“Tidak ada lagi pengikat antara kita,” ucap Valerie.


“Kau salah, bukan bayi yang jadi pengikat kita, tapi pernikahan kita,” kata Earlangga.


“Kenapa kita harus memikirkan berpisah?” tanya Earlangga.


“Jadi…kau tidak akan meninggalkanku meskipun Jordan sudah tidak ada?” tanya Valerie.


“Tentu saja tidak, terkadang kau ini berfikirnya yang aneh-aneh saja. Tentu saja sekali istriku ya tetap istriku,” kata Earlanga, kembali mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya Valerie yang terasa dingin.


“Aku mencintaimu,” ucap Earlangga, menatapnya dengan tulus.


Valirie balas menatap pria itu.


“Kau tidak pernah mengatakan mencintaiku, apa kau tidak ingin mengatakannya?” tanya Earlangga. Jemarinya menyentuh bibirnya Valerie, mengusapnya dengan lembut.


 Valeriepun menggerakkan bibirnya untuk tersenyum, Earlangga sangat senang melihat istrinya sudah mau tersenyum.


Sekarang Earlangga yang tersenyum.


“Aku juga. Aku sangat mencintaimu,” jawab Earlangga sambil menyentuh pipi Valerie.


“Bagaimana kalau kita jalan-jalan dihalaman depan? Diluar udaranya sangat segar. Aku akan minta Dokter untuk menunggumu sebentar,” kata Earlangga, sambil menoleh kearah sofa yang lain.


Ternyata Dokter yang  akan memeriksa Valerie sudah menunggunya. Dokter itu langsung mengangguk, dia sedang ditemani mengobrol oleh Lorena.


Earlangga langsung berdiri dan mendorong kursi rodanya Valerie.


Ny.Grace menggeremet dalam hati melihat kemesraan mereka. Kenapa begitu sulit memisahkan Earlangga dari gadis itu. Apanya yang dilihatnya sih?


Diapun menoleh pada Sean.


“Sean, Ibu ada perlu keluar,” kata Ny.Grace.


“Baik Bu,” jawab Sean.


Ny.Gracepun segera bangun dari duduknya lalu keluar dari rumah itu. Dilihatnya Earlangga sedang menemani Valerie jalan jalan ditaman halaman rumah. Hatinya sangat tidak suka melihatnya. Padahal Jordan sudah meninggal tapi mereka masih saja bersama. Dia tidak rela kalau Earlangga punya anak lagi dari Valerie.


“Seperti tidak ada wanita lain saja,” gerutunya, lalu memanggil supir.

__ADS_1


“Kita akan kemana Nyonya?” tanya supir.


“Kita ke rumah sakit tempat Valerie melahirkan, kau tahukan tempatnya?” jawab Ny.Grace.


“Tahu Nyonya,” jawab supir itu.


Ny.Grace segera menaiki mobilnya, merekapun keluar dari rumah itu.


Pria yang sedang duduk di dalam mobil itu memperhatikan rumahnya Earlangga. Dia langsung melirik tajam pada mobil yang keluar dari rumahnya Earlangga itu. Meskipun mobile itu kacanya gelap, dia masih bisa melihat kalau penumpang yang duduk dibelakang itu seorang wanita yang duduk sendirian.


Diapun melajukan mobilnya mengikuti mobil itu.


“Nenek tua, aku yakin kau pasti sudah melakukan sesuatu,” gumamnya, terus mengikuti mobil itu.


Ny.Grace duduk sendiri dijok belakang supir. Hatinya benar-benar tidak nyaman, melihat Earlangga malah memperlakukan Valerie semesra itu didepan teman-temannya. Padahal dia sudah memperlihatkan pada Valerie soal status sosialnya mereka dan ternyata Earlangga malah tidak memperdulikan hal itu.


Tentu saja perhatian Earlangga itu akan semakin membuatnya susah menekan Valerie untuk meninggalkan Earlangga. Ternyata memisahkan mereka tidak semudah yang dibayangkan, bahkan Earlangga malah terlihat lebih perhatian bukannya menjadi marah karena kematian bayinya.


Dia fikir semuanya akan berjalan lancar setelah menunggu waktu melahirkan, ternyata dia masih harus berjuang. Ini langkah terakhirnya yang terpaksa ditempuhnya.


Mobil yang ditumpangi Ny,Grace itu memasuki rumah sakit bersalin. Tidak jauh dibelakangnya mobil pria itu mengikuti masuk kehalaman parkir rumah sakit dan memarkir mobilnya agak jauh dari mobilnya Ny.Grace.


Ny.Grace menyusuri  lorong rumah sakit itu, begitu juga pria dibelakangnya yang mengendap-endap mengikutinya.


Saat melewati ruang bayi yang telah lahir, Ny.Grace berhenti. Disana banyak pasangan pria wanita yang sedang melihat kearah kaca, melihat bayi-bayi mereka. Ny.Grace juga  berhenti dibalik kaca itu, dilihatnya banyak bayi-bayi di keranjang itu. Dia lalu melanjutkan lagi perjalanannya.


Pria yang mengikutinya tadi melewati ruangan bayi yang telah lahir, diapun melongokkan kepalanya melihat kedalam ruangan itu seperti pasangan yang lain.


Dia melihat didalam ruangan itu tidak ada yang aneh. Itu bayi bayi dalam incubator yang memilki berbagai macam keluhan saat dilahirkan.


Tiba-tiba ada yang terisak disampingnya. Pria itu melirik ibu itu.


“Bayimu didalam?” tanya pria itu.


“Tidak, bayiku meninggal kemarin, aku kesini hanya ingin melihat bayi-bayi itu saja, untuk mengobati kerinduanku,” kata wanita itu.


“Kalau rindu bayimu kau datang saja ke kuburannya, kenapa kesini? Ini kan bayi-bayi orang lain,” tanya pria itu, keheranan.


“Aku ini tuna wisma, kemarin bayiku meninggal, aku menyerahkannya kepada rumah sakit untuk penguburannya, aku tidak punya biaya, jadi aku tidak tahu bayiku dikuburkan dimana,” kata wanita itu.


Pria itu menatap wanita itu, memang benar terlihat wanita itu sangat lusuh, ternyata seorang tunawisma.


Tiba-tiba pria itu teringat Nyonya Grace, diapun segera pergi menuju arah perginya Ny.Grace. Sedangkan wanita tunawisma itu mendekatkan wajahnya ke kaca melihat bayi-bayi di dalam ruangan itu.


*************

__ADS_1


__ADS_2