
Nisa pulang kerumah sambil marah-marah. Dia menyimpan tasnya di sofa lalu duduk dengan malas.
“Kau kenapa?” tanya ayahnya yang sedang duduk bersantai menonton televisi.
“Aku kalah kontes,”jawab Nisa.
“Kalah kontes?” tanya ayahnya.
“Iya, ternyata Sean keburu jatuh cinta pada Lorena sebelum kontes usai,” jawab Nisa.
Ayahnya yang tadi menonton televisi menoleh pada Nisa.
“Kesempatan aku mendapatkan pria kaya raya gagal total,” keluh Nisa.
“Memangnya sudah diumumkan pemenangnya?” tanya Pak Tedi, ayahnya Nisa.
“Belum, tapi tadi Sean melamar gadis itu,” jawab Nisa.
“Jadi Sean sudah mendapatkan calon istrinya?” gumam Pak Tedi.
“Iya, Lorena namanya,” ucap Nisa.
“Keputusannya kapan?” tanya ayahnya.
“Dua hari lagi,” jawab Nisa.
“Apa gadis itu memiliki poin lebih dari hasil kontes?” tanya ayahnya lagi.
“Aku tidak tahu, tapi aku sudah yakin dia pemenangnya, yang punya acara kan Sean sendiri, dia bisa membuat cara seakan-akan Lorena yang menang, tapi lihat saja nanti kalau ternyata Lorena yang menang, akan ku buat dia terpaksa menikah dengan Sam, akan kusiapkan wartawan untuk meliputnya, Sean tidak akan bisa bekutik,”ucap Nisa lalu tertawa, diapun beranjak meninggalkan ayahnya di sana.
*************
Sarapan pagi ini terasa berbeda, ada kebahagiaan diruang makan ini, terutama Sean, karena sekarang dia ditemani calon istrinya.
“Sayang, kau belum bercerita soal baju yang kau pakai itu, itu bukan baju dari butik yang kita kunjungi kemarin kan?” tanya Sean,menatap Lorena yang dudu disebrangnya.
“Itu baju ibunya Bela,” jawab Lorena.
“Bela? Aku perhatikan kau tidak punya teman bernama Bela,” Tanya Sean, keheranan.
“Memang tidak, dia temannya Nisa yang masuk 5 besar itu. Nisa sangat terobsesi dengan kemenangannya. Sebenarnya aku tahu kau Presdir di kontes inipun dari Bela, Bela tahunya dari Nisa, makanya dia sengaja menumpahkan minuman pada bajuku supaya aku gugur, dia ingin dia yang menang dan menikah denganmu,” kata Lorena.
“Kenapa Nisa bisa tahu soal itu?” tanya Sean, dia mengerutkan dahinya.
“ Aku tidak tahu,” jawab Lorena menggelengkan kepalanya.
Sean tidak bicara lagi, tapi kepalanya berfikir siapa kira-kira yang mengetahui identitasnya. Sepertinya orang dalam, dan sepertinya dia harus lebih berhati-hati sekarang. Ternyata ada yang mulai main-main dengannya, dia harus bicara dengan Sam.
Sesampainya di kantor, Sean langsung memanggil Sam.
“Ada apa kau memanggilku? Semangat sekali,” tanya Sam.
“Ada masalah,” jawab Sean.
“Masalah apa?” tanya Sam.
“Ada peserta yang tahu identitasku,” jawab Sean, dia duduk dikursi kerjanya.
“Siapa? Padahal aku tidak menerima peserta mantan pacarmu,” kata Sam, agak terkejut, dia duduk di kursi didepan Sean.
__ADS_1
“Namanya Nisa, malam tadi dia sengaja menumpahkan minuman ke gaunnya Loena, dia mau Lorena kalah,” kata Sean.
“Coba kau tanya panitia,” ucap Sam, diapun menelpon panitia minta mengecek datanya Nisa. Setelah agak lama barulah panitia mendapat hasilnya dan melaporkannya pada Sam.
“Ayahnya pengacara,” kata Sam, pada Sean yang sedang sibuk menulis.
“Pengacara? Siapa namanya? Jangan-jangan salah satu tim pengacara kakekku?” tanya Sean, menghentikan menulisnya dan menatap Sam.
“Pak Tedi namanya,” jawab Sam.
Sean langsung menelpoan Pak Deni, menanyakan nama Pak Tedi itu, dan dia mendapat jawaban kalau Pak Tedy itu benar tim pengacara kakeknya.
“Pantasan dia tahu,” gumam Sean.
“Bagaimana?” tanya Sam.
“Nisa itu putri salah satu pengacara kakekku tentu saja dia tahu soal persyaratan warisan itu,” jawab Sean.
“Pantas saja dia tahu, dia tahu sebenarnya ini kontes untuk mencari calon istri buatmu,” ucap Sam, diangguki Sean.
“Kalau begitu kita harus berhati- hati, pengacara itu harus diberhentikan,” kata Sean.
Diapun langsung memanggil Pak Deni, meminta Pak Deni untuk mengeluarkan Pak Tedy, ayahnya Nisa. Pak Deni pun langsung menghubungi kepala kantor pengacara kakeknya Sean untuk menyampaikan perintahnya Sean.
Saat itu di ruang kepala sebuah kantor pengacara…
“Pak Tedy, maaf kami terpaksa harus mengeluarkanmu dari tim,” kata Pak Angga, kepala kantor pengacara itu. Didalam sana ada juga pria yang seumuran dengannya, duduk tidak jauh darinya.
“Maksudnya apa ini? Aku tidak mengerti,” ucap Pak Tedy.
“Kami dapat pengaduan kalau kau telah membocorkan rahasia klien kita. Dan klien kita keberatan jadi terpaksa kau dikeluarkan dari tim keluarga Bapak Joris,” kata Pak Angga.
Sudah bertahun-tahun dia ikut Tim ini, dan sudah begitu banyak uang yang dia dapatkan dari mengurus kekayaannya keluarga Bapak Joris, dan sekarang dia dikeluarkan? Dia benar-benar sangat marah. Dia tidak bisa terima dengan semua ini, dia sakit hati, timbul rasa dendam dihatinya, Sean tidak akan dengan mudah mendapatkan warisan kakeknya, dan dipastikan Sean tidak akan mendapatkan warisan itu. Diapun keluar dari kantor itu dengan rasa kecewa.
***************
Dua hari kemudian…
Ini adalah hari penentuan pemenang kontes, gedung itu sudah ramai oleh seluruh peserta juga tamu-tamu undangan. Panitia sudah bersiap-siap di kursinya masing-masing.
Sam memarkir mobilnya bersama Sean, sedangkan Lorena sudah berangkat lebih awal dijemput oleh Indri.
Baru masuk ruangan saja, Sean sudah celingukan mencari calon istrinya itu.
“Dia duduk dimana?” tanyanya pada Sam.
“Dia siapa?” tanya Sam.
“Siapa lagi kalau bukan calon istriku,” semprot Sean.
“Lagian kau sudah tinggal serumah juga masih dicari-cari saja,” kata Sam.
“Tinggal serumah juga tidak tiap hari bersama, aku bertemu dengannya hanya saat sarapan dan makan malam saja,” ucap Sean, sambil duduk ditempatnya diikuti oleh Sam.
“Tuh paling juga di deretan peserta, ingat sekarang dia peserta, bukan calon istrimu,” kata Sam.
“Tentu saja calon istriku, kau ini bagaimana sih,” gerutu Sean.
Sam tidak bicara lagi, dia mengedarkan pandangannya ke deretan kursi peserta.
“Sam, kau melihat banyak wartawan kan?” tanya Sean.
__ADS_1
“Iya aku tahu,” jawab Sam.
“Itu wartawan kita bukan?” tanya Sean.
“Bukan, aku bahkan tidak mengundang wartawan,” kata Sam.
“Sudah aku duga,” ucap Sean.
Terdengar suara MC akan memulaa acara. Sean kembali melihat ke deretan kursi peseta. Peserta yang masih diluar mulai memasuki ruangan dan duduk di kursinya masing masing.
Sean melihat pujaan hatinya itu duduk bersama teman-temannya yang saat berkemah itu. Tapi sayang Lorena tidak menoleh juga padanya, hatinya jadi lesu. Lehernya begitu pegal mencarinya, eh gadis itu sama sekali tidak melihat kearahnya. Huh, dia mengeluh. Kenapa Lorena tidak seperti gadis-gadis lain yang mengejar-ngejarnya, menempel padanya? Kenapa gadis itu hanya diam-diam saja, menjaga jarak padanya, padahal dia sudah melamarnya.
“Kau kenapa?” tanya Sam.
“Aku heran, kenapa Lorena tidak seperti gadis yang lain?” tanya Sean.
“Memangnya dia kenapa?” tanya Sam.
“Dia tidak seperti gadis yang lain, dia cuek-cuek saja padaku, menoleh padaku juga tidak, dia sibuk dengan temannya,” jawab Sean.
“Kau jangan lupa, kalau Lorena genit-genit padamu, kau tidak akan menyukainya, karena dia cuek padamu makanya kau tertarik padanya,” kata Sam.
“Kau benar dia memang beda dari yang lain,” ucap Sean sambil tersenyum, lalu kepalanya menoleh lagi pada deretan peserta kontes, dan deg jantungnya serasa berhenti berdetak saat matanya bertemu dengan tatapannya Lorena. Gadis itu sedang menatap kearahnya. Ternyata Lorena mencarinya juga, fikir Sean, diapun tersenyum dan spontan melambaikan tangannya. Eh bukannya Lorena yang membalas lambaian tangannya, malah peserta lain yang membalas lambaian tangannya.
“Hai asisten Sean!” seru mereka begitu heboh dan tersenyum lebar, membuat Sean yang tadi tersenyum langsung memberengut, diapun kembali memalingkan muka. Sam hanya tertawa di sampingnya.
Terdengar lagi suara MC mengumumkan kalau acara dimulai, lalu memanggil Presdir Sam untuk memberikan sambutan. Akhirnya Sam nai ke atas panggung diikuti tepuk tangan riuh yang hadir. Para peserta terutama, banyak yang kecewa karena mereka gagal menjadi istri Presdir Sam, hanya tersisa 5 orang yang akan memenangkan kontes ini dan menikah dengan Presdir Sam.
Tidak banyak yang disampaikan Sam, ini hanya formalitas dan basa-basi biasa saja, karena Presdir sesungguhnya yang sedang duduk dideretan kursi tamu-tamu. Setelah memberi sambutan beberapa menit, Sam kembali ke kursinya disamping Sean.
“Bukankah seharusnya kau yang memberikan sambutan,” ucap Sam.
“Dalam kontes kau kan Presdirnya,” jawa Sean sambil menepuk bahunya Sam.
“Kau lihat banyak peserta yang mengagumimu, seharusnya kau memilih mereka salah satu,” kata Sean lagi.
“Terlambat, aku tidak sempat menyeleksi mereka untukku, karena aku sibuk dengan aturanmu,” ucap Sam. Sean langsung tertawa mendengarnya.
MC mulai memanggil 5 besar peserta yang tersisa di lomba fashion show kemarain. Lorena, Nisa, Indri, Evi dan Salsa.
Sean tersenyum saat melihat Lorena naik keatas panggung, tangan Sam langsung menutupnya dengan telapak tangannya. Sean segera menepisnya, Sam malah tertawa.
“Kau menggangguku,” keluh Sean.
“Cepatlah menikah, kau bisa seharian melihatnya,” kata Sam.
“Tentu saja, segera aku bicara dengan ibuku,” jawab Sean.
Lorena tidak tahu apakah sekarang yang akan diumumkan pemenangnya akan memenangkan dirinya? Entahlah.
“Lorena, kau tidak mungkin menang kan? Kau kan sudah dilamar oleh asisten Sean, masa kau menikah dengan Pak Sam?” bisik Indri.
“Belum tentu aku juga yang menang,” kata Lorena.
Nisa melirik mereka yang berbisik-bisik.
“Lihat saja jika kau yang menang, akan ku buat kau menikah dengan Presdir Sam,” batin Nisa tersenyum sinis.
MC kembali akan mengumumkan pemenang kontes ini, membuat semua orang tidak sabar menunggu hasilnya.
****************
__ADS_1