Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-43 Hasutan Jeni


__ADS_3

Jeni mengajak Earlangga duduk di kursi- kursi tanpa meja bahkan ada kursi kursi yang ditumpuk sepertinya kursi untuk cadangan jika ternyata banyak tamu yang datang melebihi kapasitas.


“Kau mau bicara apa?” tanya Earlangga, menatap Jeni.


Melihat pria itu menatapnya membuat Jeni senang, apalagi dia bisa melihat dengan dekat wajah si bayi kaya itu.


“Kau tahu kalau Valerie dulu bekerja dirumahku?” tanya Jeni.


“Di rumahmu? Yang tadi kau katakan itu?” tanya Earlangga.


“Benar,” jawab Jeni.


Earlangga tidak menjawab, dia menatap Jeni dia ingin tahu paa yang akan di katakan oleh Jeni.


“Aku dengar kau belum lama tinggal disini,” kata Jeni.


“Iya,” jawab Earlangga masih menatap Jeni.


“Sebenarnya aku kaget saat mendengar kalau Valerie sedang hamil,” ucap Jeni.


Earlangga megerutkan dahinya, dia mencoba menyimak apa yang akan disampaikan oleh jeni.


“Ada masalah apa?” tanya Earlangga.


“Karena dia bekerja dirumahku sudah bertahun-tahun, jadi aku tahu seperti apa Valerie itu,” kata Jeni.


“Memangnya dia seperti apa?” tanya Earlngga.


“Dia itu sering gonta ganti pacar. Makanya aku agak kaget saat kau bilang dia sedang hamil, apa kau yakin bayi itu bayimu? Pacarnya sangat banyak, kau jangan mau di bohonginya. Kau harus tes DNA,” kata Jeni dengan serius, dia mencoba menghasut Earlangga.


Earlanggapun diam, apa benar begitu? Tiba-tiba dia ingat kalau dia tidak tahu siapa ayah bayi itu.


“Menurutmu bayi siapa? Ada pria yang paling dekat dengannya?” tanya Erlangga.


Jeni tampak berfikir dia memutar otak, kira-kira siapa yang akan dijadikan kambing hitam olehnya.


“Ada yang dekat dengannya, tapi aku tidak tahu dia bukan ayah dari bayi itu karena pacarnya banyak ganti- ganti,” kata Jeni.


“Siapa?” tanya Earlangga, dia juga sekalian ingin tahu kira-kira dia bisa tidak menemukun siapa  ayah bayi itu.


“Namanya Dokter Dandy, dia Dokter di rumah sakit tempat Valerie magang dulu,” kata Jeni, sok tahu.


Dia ingat nama Dokter itu karena dia pernah berobat sakit gigi ditangani oleh Dokter yang tampan yang masih muda dan berkaca mata.


Earlangga mengerutkan dahinya.


“Rumahsakit apa?” tanya Earlangga.


“Rumah sakit Graha Medis,” jawab Jeni.


“Dimana itu?” tanya Earlangga lagi


Jeni menyebutkan nama alamat rumah sakit itu.


“Kalau aku ingin tahu letak rumah sakitnya, aku bisa mengantarmu,” kata Jeni menawarkan diri.


“Tidak usah, pakai GPS juga bisa,” jawab Earlangga, membuat Jeni cemberut.


“Tapi kau butuhh bantuanku untuk mengetahui Dokter Dandy itu,” kata Jeni.


“Aku kan tinggal bertanya pada receptionisnya,” kata Earlangga.


“Memangnya kau akan langsung menemui Dokter Dandy?” tanya Jeni,


“Tentu saja kenapa tidak?” jawab Earlangga.


“Dia pasti tidak akan ngaku,” kata Jeni.


“Aku kan punya cara supaya dia mengaku,” ucap Earlangga, lagi-lagi Jeni cemberut, padahal dia ingin Earlangga membutuhkan tenaganya untuk menemaninya.


“Adalagi pria yang dekat dengan Valerie?” tanya Earlangga.


“Banyak sih, tapi aku fikir- fikir dulu kira- kira yang paling sering mengantar jemputnya yang mana,” kata Jeni, beralasan.


Earlangga diam sejenak lalu dia berdiri.


“Baiklah, terimakasih atas informasinya, nanti aku temui Dokter Dandy itu,” kata Earlangga lalu pergi begitu saja meningalkan Jeni. Jeni merasa kesak karena dia mengompori begitu pria itu diam saja, bahkan tidak ada tanda-tanda marah atau cemburu, sangat aneh.


Earlangga melihat Valerie yang sedangkan makan buah-buahan yang dia pesankan itu, diapun tersenyum, dia senang melihat Valerie makan selahap itu, pipinya juag terlihat tidak terlalu pucat, tida seperti sebelumnya yang selalu pucat dan sering pingsan.

__ADS_1


“Enak buahnya?” tanyanya, sambil tersenyum.


Valerie menoleh padanya dan langsung bersemu merah, malu karena makan buah begitu lahapnya.


“Iya,” jawabnya.


Jeni juga kembali ke kumpulan itu, dia terus saja cemberut, sebal melihat Earlangga masih perhatian saja pada Valerie.


Tiba tiba Earlangga membuka jasnya dan dipakaikan pada Valerie. Valerie yang sedang makan buahnya terkejut dia  menatap Earlangga dengan mulut dan bibirnya yang membuat berisi buah, matanya mengerjap- ngerjap saking kagetnya.


“AC nya terlalu dingin,” kata Earlangga sambil melirik pada AC yang ada diatas tembok tempat mereka duduk.


 Valerie juga melihat AC itu, diapun tersenyum dengan wajahnya yang bersemu merah.


“Terimakasih,” ucap Valerie.


Jeni cemberut saja, kenapa sih Valerie begitu beruntung punya suami sebaik itu? Tapi lihat saja nanti, sebentar lagi pasti Earlangga akan marah karena hasutannya, batin Jeni tapi kemudian cemberut lagi, bisa saja tidak marah ,karena sekarang saja malah perhatian pada Valerie, huh!


Setelah agak lama berada di pesta itu mengobrol dan bercanda sambil menikmati makanan disana, Earlangga mengajak Valerie pulang.


“Kita pulang, sudah malam, nanti kau masuk angin,” kata Earlangga.


Valeriepun mengangguk, dia bersma Valerie berpamitan , begitu juga dengan tamu-tamu yang lain. Earlangga  dan Velerie menuju halaman parkir. Jeni juga menuju mobil ayahnya. Diapun melihat mobil apa yang dipakai Earlangga.


Ya ampun kerennya mobil Earlangga, sangat keren. Hatinya semakin tidak suka sja saat melihat Valerie masuk ke mobil itu yang terus melaju meninggalkan halaman itu.


“Kenapa?” tanya Brian tiba-tiba mengejutkan Jeni.


“Mobilnya sangat bagus,” jawab Jeni.


“Tentu saja, perawat itu pandai mencari sumai,” kata Brian sambil masuk kedalam mobil.  Mendengar perkataan ayahnya Jeni semakin kasal saja pada Valerie, masa dia kalah  oleh perawat kakeknya.


Diapun segera masuk kemobil ayahnya juga meninggalkan tempat itu.


Sesampainya dihalaman rumah keluarga Joris, Valerie melihat ada mobil terparkir didepan teras.


“Siapa yang datang?” tanya Valerie.


“Itu mobil nenek,” jawab Earlangga, mendengarnya langsung saja seperti mau turun hujan.


Valerie tidak suka neneknya Earlangga itu ada dirumah karena selalu menghardiknya.


“Ayo turun!” ajak Earlangga karena Valerie malah diam saja. Diapun turun diikuti Valerie.


“Nanek sudah pulang?” tanya Earlangga.


“Iya,” jawab Ny,Grace.


“Dengan ayah ibu tidak?” tanya Earlangga.


“Tidak, mereka sibuk disana,” jawab Ny,Grace, matanya langsung melirik pada Valeri yang langsung menunduk,tatapan Ny ,Grace itu selalu membuatnya takut, karene begitu tajam seakan ingin mengulitinya karena melibatkan cucunya dalam kehamilannya.


“Kau sudah darimana?” tanya Ny.Grace pada Earlangga.


“Anaknya Pak Roby bertunangan,” jawab Earlangga.


Ny.Grace hanya mengangguk.


“Aku naik dulu nek,” kata Earlangga, sambil menoleh pada Valerie, mengisyaratkan untuk mengikutinya. Valerie menoleh pada Ny.Grace.


“Kami naik dulu nek,” kata Valerie.


 Ny.Grace tidak menjawab, dia melihat Earlangga menurunkan tangannya memegang punggungnya Valerie. Dia tidak suka, Earlangga perhatian pada Valerie.


 Valerie itu gadis yang cantik, tiap hari tidur satu kamar dengan Earlangga, bias saja Earlangg sudah mulai menyukainya, lihat saja cara dia mengajak isrinya itu naik.


Tidak tidak, Earlangga tidak boleh menyukai Valerie, dia punya banyak kesempatan mendapatka gadis yang lebih baik dari Valerie. Soal bayi? Dia akan mencari tahu apa benar wanita yang bermalam bersama Earlangga itu Valerie? Dia harus tahu.


Didalam kamarnya, Valerie duduk dipinggir tempat tidur.


“Kau kenapa?” tanya Earlangga.


“Tidak apa-apa,” jawab Valerie.


“Kau takut pada nenek?” tanya Earlangga.


“Ah tidak,” jawab Valerie, berbohong.


“Nenek memang seperti itu, tidak perlu difikirkan,” kata Earlangga.

__ADS_1


Memang tidak perlu diifikirkan tapi kenapa rasanya tatapan itu begitu tajam padanya, begitu menusuk -nusuk hatinya.


Valerie memang merasa sangat tidak nyaman jika ada Ny.Grace, terlihat sakali Ny,Grace paling tidak menyukainya dibanding keluarga yang lain.


Hingga esok paginya saat sarapan.


“Jam berapa kau berangkat? Kau sudah mulai bekerja di rumah sakit kan?”tanya Ny.Grace.


“Iya Nyonya. Sebentar lagi saya berangkat,” kata Valerie.


“Sebelum berangkat, temui aku di ruang kerjaku, ada yang ingin aku bicarakan,” kata Ny.Grace.


 Deg! Jantung Valerie serasa berhenti berdetak saja mendengarnya, ada apa lagi yang akan dibicarakan oleh Ny. Grace. Rasanya ingin pindah saja ke rumahnya Bu Asni daripda tinggal disini meskipun rumahnya sangat megah tapi serasa tertekan dan tidak bebas.


“Earl, bagaimana Pekerjaanmu?” tanya Ny.Grace.


“Baik Nek,” jawab Earlangga.


Ny. Grace tidak bicara lagi.


“Bagaimana kabar ayah dan ibu? Kapan mereka pulang?” tanya Earlangga.


“Mereka sedang sibuk,” jawab Ny.Grace.


“Aku pulang karena ada sedikit urusan, “ ucap Ny,Grace  sambil menatap Valerie dengan tajam.


Valerie cepat-cepat menundukkan kepalanya, dia tidak tahu apa yang ada dalam benaknya Ny.Grace.


“Nenek duluan, “ ucap Ny.Grace, lalu menoleh pada Valerie.


“Ingat, sebelum berangkat, kau temui aku dulu diruang kerja,” kata Ny.Grace.


“Baik Nyonya,” jawab Valerie.


Earlangga juga menghabiskan makannya. Valerie menyiapkan obat yang harus di minum Ealangga, diapun menatap pria itu.


“Apa Bapak sudah mulai merasa terbiasa dengan iklim disini?” tanya Valerie.


“Sepertinya begitu. Kulitku sudah tidak sering ruam lagi,” jawab Earlangga.


“Valerie mengangguk angguk kemudian dia menatap Earlangga.


“Ada apa?” tanya Earlangga.


“Kira-kira Ny Grace mau bicara apa?” tanya Valerie.


“Entahlah, aku juga tidak tahu,” jawab Earlangga.


Valeriepun diam.


“Siang kau


suruh orang saja menyiapkan makan dan obat,” kata Earlangga.


“Kenapa?”tanya Valerie.


“Soalnya aku ada acara keluar dan telat makannya,” jawab Earlangga.


“Baiklah,”jawab Valerie, mengangguk.


 Earlangga bangun dari kursinya dan meninggalkan ruang makan itu.


Valerie mencoba menenangkan dirinya, merapihkan botol obat Earlangga.


“Makannya sudah selesai?” tanya Bu Asni tiba-tiba muncul.


“Iya Bu,” jawab Valerie., menoleh pada Bu Asni dan menatapnya.


“Kenapa? Ada apa?” tanya Bu Asni.


“Ny.Grace ingin bicara denganku Bu, aku takut,” jawab Valerie.


“Mau bicara?” tanya Bu Asni.


“Iya, kira-kira Ny.Grace akan bicara apa ya Bu?” tanya Valerie meneba-nebak.


“ Tidak tahu juga, kau tenang saja, tidak perlu takut, kau harus percaya diri semua akan baik-baik saja,” kata Bu Asni.


“Iya Bu,” Valerie mengangguk, diapun meninggalkan ruang makan itu, bersiap-siap akan berangkat bekerja ke rumah sakit, tapi sebelum itu dia akan menemui Ny,Grace dulu di ruang kerja.

__ADS_1


Earlangga sudah siap berangkat ke kantornya, dia sudah berada didalam mobilnya. Dia melarang Valerie datang ke kantornya, karena dia ingin menemui Dokter Dandy, dia ingin tahu siapa ayah bayinya Valerie itu.


*************


__ADS_2