Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-67 Rencana membeli cincin dan baju pengantin


__ADS_3

Keesokan harinya Lorena sudah bersiap-siap, banyak yang akan dikerjakannya hari ini. Dia akan mengambil mobilnya di kantor polisi lalu menelpon Indri barangkali dia tahu perusahaan tempat bekerjanaya Presdir Sam. Atau dia akan mengikuti Sean? Tapi akan ketahuan kalau sama-sama keluar dari rumah ini. Atau dia pura-pura nebeng saja ya? Pasti Sean tidak mau dan pastinya nyari-nyari alasan.


Saat membuka pintu dia terkejut karena pria di sebelah kamarnya itu sudah berdiri disana.


“Kau mengagetkanku,” kata Lorena, menatap Sean yang juga sudah rapih.


“Maaf, aku hanya mau mengajakmu sarapan saja sebelum aku berangkat kerja,”  ucap Sean. Lorena tersenyum mendengarnya.


“Ayo, aku juga mau turun,” jawab Lorena, sambil menutup pintu kamarnya.


Merekapun menuju ruang makan.


“Kau akan ke butik hari ini?” tanya Sean, saat mereka sudah duduk menghadapi menu sarapan mereka.


“Iya,” jawab Lorena.


Sean mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya lalu disodorkan ke depan Lorena.


“Apa ini?” tanya Lorena.


“Ini kartu member sebuah butik ada alamatnya disitu. Dengan kartu itu kau tidak perlu membayar,” jawab Sean.


Lorena membaca kartu itu.


“Inikan punyamu, aku punya uang sendiri,” ucap Lorena mengembalikan kartu itu.


“Kenapa? Pacar-pacarku dulu suka berbelanda dan minta diskon,” kata Sean.


“Itu kan pacarmu, aku tidak begitu, lagipula aku punya uang sendiri,” ucap Lorena.


“Kau juga pacarku, kau boleh menggunakannya,” kata Sean memaksa.


Lorena menatap Sean yang terlihat serius juga menatapnya.


“Baiklah, tapi aku hanya akan membeli yang kubutuhkan saja buat kontes. Pakaian daerah,” Jawab Lorena.


“Terserah kau saja,” kata Sean, dia mulai makan sarapannya.


“Bagusnya aku pakai baju apa ya?” tanya Lorena, dia juga mulai makan.


“Baju pengantin saja!” seru Sean tiba-tiba, membuat Lorena kembali menatapnya.


“Baju Pengantin? Baju daerah bukan baju pengantin!” sanggah Lorena.


“Baju daerah juga ada baju pengantinnya, nanti bersamaku saja membelinya,” ucap Sean.


Lorena langsung tertawa mendengarnya.


“Ini bukan buat acara pernikahan, Sean. Ini mau lomba!” ucap Lorena.


Sean akhirnya diam. Dia membayangkan Lorena memakai baju pengantin, kenapa Lorena malah tidak mau? Ha! Dia ada ide! Tinggal bilang saja pada Sam fashion shownya baju pengantin saja jangan baju daerah, fikir Sean.


“Kalau tidak salah dengar, Sam bilang fashion show baju pengantin, bukan baju tradisional. Tradisional tapi baju pengantin,” kata Sean.


“Masa sih? Ko aku tidak tahu kalau fashion shownya dirubah temanya?” Lorena mengerutkan keningnya.


“Coba aku telpon Sam ya,” ucap Sean, dia bangun dari tempat duduknya lalu meninggalkan ruang makan itu


Lorena makan sarapannya dengan kebingungan. Kenapa tema lomba itu sela berganti-ganti mendadak? Sangat aneh.


Sean langsung menelpon Sam.


“Ada apa? Aku baru sampai kantor,” kata Sam, sambil duduk di kursi kerjanya.


“Sam tema fashion show apa?” tanya Sean.

__ADS_1


“Baju traditsional, baju daerah. Memangnya kenapa?” jawab Sam.


“Rubah kalau begitu,” kata Sean.


“Rubah? Rubah gimana maksudnya? Panggungnya sudah dibuat ini, mau dirubah lagi gimana? Akan merepotan,” keluh Sam.


“Maksudnya ganti tema bajunya jadi baju pengantin saja, terserah mau baju pengantin daerah atau dari luar, asal baju pengantin,” kata Sean.


“Kau ini sangat membingungkan, kau mengganti-ganti acara dadakan terus,” keluh Sam.


“Jangan rewel, ikutin saja,” kata Sean.


“Peserta pasti sudah banyak yang sudah membeli baju,” ucap Sam.


“Ya biarkan saja, mereka tidak ikut ya tinggal disikualifikasi, beres! Bukanlah itu bagus, jadi kandidat semakin sedikit,” kata Sean tidak mau tahu.


“Huh, baiklaaaah! Baiiiik! Baju pengantin,” ucap Sam, akhirnya mengalah, dia tidak bisa melawan keinginannya Sean. Pria itu dari kecil apapun yang dia mau selalu ada jadi sudah dewasa ya begini, semaunya saja, segala harus dituruti, batin Sam.


“Terus sekarang kau kirim pesan kepada semua peserta kalau temanya berubah baju pengantin, aku mau mengajak Lorena  memilih baju pengantin!” kata Sean.


“Apa? Kau mau mengantar Lorena membeli baju pengantin? Ya ampun Sean, kenapa tidak kau lamar saja sekalian, tanggung amat!” gerutu Sam.


“Sudah, Lorena sudah aku lamar!” kata Sean.


“Apa? Kau serius?” tanya Sam, dia sangat terkejut atasannya itu melamar Lorena. Untuk mengatakan aku cinta padamu saja begitu susahnya apalagi kalau mengajak menikah? Rasanya dia tidak percaya Sean bisa melakukannya.


“Serius!” ujar Sean.


“Terus Lorena bilang iya?” tanya Sam, penasaran. Kalau tadi duduknya bersandar, sekarang duduknya menjadi tegak saking seriusnya.


“Tidak, dia butuh waktu,” jawab Sean.


“Ha? Butuh watu? Kau ditolak? Pasti ada yang salah nih,” seru Sam.


“Aku tidak ditolak, hanya dia kaget saja dan butuh waktu untuk memikirkannya,” jawab Sean.


“Apa benar itu artinya penolakan? Sepertinya tidak,” ucap Sean,tidak percaya.


“Kau ditolak Sean! Kau kan tampan, kaya, meskipun dia taunya kau asisten tapi kau asisten yang kaya, mobilmu saja mewah, semua wanita pasti mau menikah denganmu!” kata Sam.


“Apa benar itu artinya Lorena menolakku?” tanya Sean lagi, hatinya jadi menciut.


Sam tampak terdiam dan berfikir.


“Padahal aku sudah melakukan segalanya untuknya, apa yang harus aku lakukan lagi supaya Lorena mau menikah denganku?” keluh  Sean.


“Pasti ada yang salah ini, kapan kau melamarnya?” tanya Sam.


“Tadi malam sambil nanton bioskop,” Jawab Sean.


“Ya ampun melamar ko di bioskop,  lagian tumben sekali kau tidak memintaku untuk membeli cincinnya, kau beli sendiri cincinnya?” tanya Sam.


“Aku tidak memberi cincin, tadinya cuma mau nonton saja, tapi aku tidak tahan untuk melamarnya,” kata Sean.


“Ya itu masalahnya,” ucap Sam.


“Masalah apa?” tanya Sean tidak mengerti.


“Kau melamarnya tidak pakai cincin,” jawab Sam.


“Tapi aku sudah menawarinya mau cincin atau mau perhiasan apa,” kata Sean.


“Harusnya kau melamarnya sambil memberinya cincin, pasti dia mau, kalau melamar dibioskop tanpa cincin ya dia miir-mikir lah!” jawab Sam.


“Tapi Lorena tidak begitu, dia hanya butuh waktu,” bela Sean. Dalam penilaiannya Lorena bukanlah gadis yang matrealistis yang tidak jelas.

__ADS_1


“Kau harus melamarnya dengan cincin, supaya dia tersentuh hatinya dan menerima lamaranmu saat itu juga,” kata Sam.


Seanpun berfikir, apa memang harus seperti itu? Dia sudah menawari Lorena cincin atau perhiasan lain tapi Lorena tidak mau, apa artinya dia ditolak?


“Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanya Sean.


“Beli cincin, lamar yang benar, dia pasti menerimanya,” jawab Sam.


“Baiklah kalau begitu aku akan membeli cincin,” jawab Sean.


“Kau mau cincin apa? Nanti aku tanya ke tokonya,” kata Sam.


“Jangan, “ potong Sean.


“Kenapa? Biasanya kau menyuruhku membeli perhiasan buat pacar-pacarmu,” kata Sam.


“Tidak dengan Lorena, aku yang akan mengajak Lorena untuk memilihnya,” kata Sean.


“Ya terserah kau saja, Jadi tema berubah nih? Baju pengantin?” tanya Sam.


“Iya,” jawab Sean.


Tidak berapa lama telponpun ditutup.


Lorena mendengar handphone-nya yang tergeletak diatas meja itu berdering.


Dilihatnya ada pesan muncul lalu dibacanya.


Diapun mengerutkan keningnya. Ternyata benar kata Sean, fashion shownya baju pengantin bebas, untung dia belum beli baju daerah.


Sean masuk keruang makan itu, sambil memasukkan handphone-nya ke sakunya.


Lorena menoleh pada Sean yang duduk di kursinya  lagi.


“Kau benar, tema lombanya ganti jadi baju pengantin, untung aku belum beli baju daerah ya,” kata Lorena.


“Benarkan kataku, baju pengantin. Aku akan mengantarmu ya,” kata Sean.


“Ah tidak usah, itu sangat merepotkanmu,” tolak Lorena.


“Tidak, aku punya kenalan butik khusus baju pengantin yang bagus, aku akan mengajakmu kesana,” kata Sean.


Lorena pun terdiam, dia sebenarnya tidak mau merepotkan Sean, tapi pria itu sepertinya serius ingin mengantarnya.


“Baiklah kalau begitu,” ucap Lorena.


“Tapi kita  ke toko perhiasan dulu,” kata Sean.


“Mau apa?” tanya Lorena.


“Mengukur jarimu, aku mau membelikanmu cincin,” jawab Sean.


“Cincin? Buat apa?” tanya Lorena.


“Aku kan belum melamarmu dengan resmi. Kata Sam kau belum menerima lamaranku karena aku belum membelikanmu cincin” jawab Sean.


Lorena langsung tertawa. Ditatapnya pria di depannya itu.


“Kenapa kau malah tertawa?” tanya Sean, tidak mengerti sikapnya Lorena.


“Baiklah kita ke toko perhiasan sekarang,” jawab Lorena, sambil tersenyum.


Sean langsung tersenyum senang,  tidak terbayangkan betapa bahagia hatinya.


“Cepat habiskan makanmu,” kata Sean.

__ADS_1


Lorena mengangguk. Dia merasa lucu pada pria yang ada di depannya itu, padahal awal-awal dia pria yang paling menjengkelkan di dunia, tapi sekarang dia adalah pria yang paling manis di dunia.


****************


__ADS_2